
Jam pelajaran dimulai, wali kelas dengan rambut rapi yang khas memulai bimbingan pertama dengan ceria dan penuh percaya diri.
“What’s up friends?” Ia meletakkan tangannya pada meja guru dan menyilangkan kakinya diikuti dengan perkenalan.
“Perkenalkan, Bram. Sebagai wali kelas kalian satu tahun kedepan.”
Wali kelas itu mengedipkan satu matanya dan berhasil membuat para siswa tidak sanggup untuk berkata-kata. Suasana hening seketika sebelum satu siswa yang dikenal sebagai Evin bertepuk tangan dan diikuti oleh siswa lainnya dengan kaku.
“Kemarin bapak beli obat tidur, tapi setelah dipikir-pikir bapak nggak bisa tidur, takut obatnya bangun. HAHAHAHAHAH”
“HAHAHAHAH,” tawa Evin yang mendominasi di tengah-tengah siswa yang hanya tertawa seadanya.
“Ada lagi, ada lagi. Bapak makan permen karet, tapi kok pedes, ternyata karetnya dua. HAHAHAHAHAHA.”
“Terus liburan tahun kemarin bapak mau pulang ke kampung halaman, tapi lupa halaman berapa. HAHAHAHAH.”
Sesi bimbingan diisi oleh candaan dari pak Bram yang terasa sangat lama dan membosankan. Detik waktu yang berjalan seakan dimainkan oleh seekor siput tua dengan cangkangnya yang besar. Semua siswa terkecuali Evin mulai menopang dagunya dan ingin memejamkan mata. Namun mereka terpaksa untuk tertawa dan menahan haus pada tenggorokannya yang mulai mengering. Beberapa siswa bahkan mulai membicarakan Evin yang memiliki selera humor rendah.
“Bagaimana bisa dia tertawa nyaring dengan candaan seperti itu?”
Bel istirahat yang mereka tunggu akhirnya berbunyi. Dengan sukar hati wali kelas mengakhiri sesi bimbingan mereka dan disambut meriah oleh para siswa.
"Pertemuan ini dicukupkan sekian, sampai jumpa minggu depan. Jangan lupa makan makanan bergizi kawan. Selamat siang."
Setelah Pak Bram keluar kelas seluruh murid langsung disibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Siswi bertubuh ideal dengan rambut panjang yang berada di samping Aileen berdiri sambil mengantongi sebuah pulpen ke saku seragamnya.
“Leen, aku harus ke ruang organisasi untuk daftar PMR. Mau ikut?,” tawarnya.
Aileen menggeleng. “Lagipula, kamu meledek atau apa? kau tau betapa sulitnya aku terlibat dalam organisasi.”
Auris tersenyum tipis mendengar jawaban sahabatnya. Ia sangat memahami bahwa Aileen tidak menyukai kegiatan yang mengharuskan dirinya terlibat dengan banyak orang.
“Kamu belum berubah ya. Aku pergi dulu, deh. Jaga diri ya!”
Aileen sempat memukul pelan bokong Auris karena menganggapnya seperti anak kecil yang akan hilang jika ditinggalkan sebentar. Tapi ia cukup senang memiliki sahabat yang benar-benar memahaminya.
Setelah Auris benar-benar hilang dari pandangannya, kini atensi gadis itu tertuju pada siswa yang duduk tidak jauh dari bangkunya berada.
“Apa dia baik-baik saja? Apa itu sakit?” lirih Aileen. Pikirannya kembali tertuju pada kejadian di perpustakaan saat lelaki itu benar-benar terjatuh ke lantai akibat pukulannya yang sangat keras.
“Leen, Aileen, Hai, Hello, Halo, hola, annyeong?”
Aileen tersadar dari lamunannya dan mendapati seorang siswi duduk di hadapannya dengan senyuman lebar. Bahkan Aileen merasa khawatir mulut gadis itu akan robek. “Ya..?”
“Kita sekelas lagi!” Gadis itu mengucapkannya dengan bersemangat, namun Aileen tampak bingung. Gadis dengan rambut pendek dan tubuh mungil yang merasa dilupakan itu merengut kecewa. “Kamu tidak melupakanku kan?” tanyanya.
Aileen semakin dibuat bingung. Ia berusaha untuk membuat otaknya yang ia sebut sebagai Brainaileen bekerja lebih keras untuk mengingat nama gadis yang berada di hadapannya itu.
“Kamu lupa ya? Nggak apa-apa kok. Itu normal, aku juga sering gitu, hehe..” gadis itu menatap Aileen kecewa.
“Padahal pernah satu kelompok, pergi ke kantin bareng, ketawa bareng.. tapi dia tidak mengingatku sama sekali.” batinnya.
“Naura?”
Gadis itu sempat akan beranjak dari duduknya namun segera mengurungkan niat setelah mendengar Aileen mengucapkan sebuah nama. Ia mengedipkan mata beberapa kali disertai senyuman lebar.
“Iya, iya! Meskipun sedikit salah, tidak apa. Namaku Nayara. Kamu bisa memanggilku Ara.”
Aileen tersenyum tipis ke arah Ara dan segera memalingkan pandangannya pada siswa dengan plester di pelipisnya.
“Dia nggak marah kan? kenapa dia nggak makan siang? Apa ada pendarahan di otaknya sampai dia kehilangan tenaga untuk berjalan dan lebih memilih membaca buku? Aish, tapi membaca buku lebih menguras tenaga kan? Bagaimanapun, sebaiknya aku membelikan sesuatu untuknya,” batin Aileen.
Sementara itu, Ara sibuk mencari pulpen dan berniat untuk menuliskan namanya pada buku pelajaran favorit Aileen agar gadis yang sudah ia kenal sejak SMP itu tidak melupakannya lagi.
“Leen, boleh pinjam buku pelajaran favoritmu?”
Aileen menoleh pada gadis di depannya dan segera memberikan sembarang buku yang ada di tasnya pada gadis itu dan berlari.
“Aku pergi dulu ya Nara!”
Mendengar panggilan yang salah dari Aileen membuat Ara menarik napas dalam-dalam namun berusaha tetap tersenyum. Beberapa siswi yang tidak ia kenal tiba-tiba datang dan menepuk-nepuk punggung Ara.
“Apa dia memang seperti itu?” tanya salah satu siswi. Ara hanya tersenyum miris sambil menatap kepergian Aileen diikuti dengan menatap siswi yang tidak dikenalnya itu dengan tatapan yang sama.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Aileen berjalan keluar dari kantin sekolah dengan membawa makanan dalam kantong kresek hitam. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat Auris berbincang dan bercanda dengan teman organisasinya, hal itu mampu membuatnya cemburu sekaligus bahagia. Namun seketika, gadis itu segera melangkahkan kakinya dengan cepat setelah melihat jarum jam yang ia kenakan terus berdetik.
Suasana kelas begitu sepi, hanya ada satu siswa dengan posisi yang sama, membaca buku. Sebuah momen yang tepat bagi Aileen untuk memberikan makanan itu. Namun, terdengar suara kerumunan siswa mulai mendekat. Gadis itu mengecek jam pada tangannya, tersisa satu menit sebelum jam pelajaran selanjutnya dimulai. Ia mulai berpikir dengan lebih keras, terlebih ia tidak pernah memberikan sesuatu pada orang yang tidak dikenalnya.
“Bagaimana caraku memberikan ini padanya? Terakhir aku memberikan hadiah ulang tahun pada Auris..”
Tik-tok-tik-tok, suara detik semakin menekannya untuk berpikir. Kerumunan siswa semakin mendekat, tanpa berpikir panjang lagi ia berlari dan meletakan kantong plastik hitam berisi makanan di atas meja siswa itu dan segera berlari menuju bangkunya. Namun, seorang siswa menghalangi langkahnya dan membuat Aileen menabrak siswa tersebut.
“Aduh, awas deh!”
“Weis, tenang-tenang. Delvin Lyman, kamu bisa memanggilku Evin” Ia mengulurkan tangannya pada gadis di depannya itu dan tersenyum. Aileen membalas uluran tangan tersebut sambil tersenyum tak ikhlas.
Selama siswa itu berbicara, Aileen sesekali melihat ke arah bangku dimana kantong plastik berisi makanan itu ia simpan. Namun sial sekali baginya harus bertatapan untuk kedua kalinya dengan siswa yang duduk disana.
Keduanya terdiam sebelum Aileen memutuskan kontak mata lebih dulu tanpa tau lelaki itu menatap was-was dirinya dan kantong plastik yang tergeletak di atas mejanya.
Seorang guru pria memasuki ruangan kelas lagi.
“Selamat sore, hahahahha, kalian terkena tipu kan? ternyata sekarang kalian bertemu bapak lagi? Hahaha.” ucap seorang guru tersebut disertai dengan gerakan alisnya.
Seluruh murid menatap datar seorang guru pria yang tertawa sendiri. Merasa tidak ada yang menanggapi candaannya guru itu berhenti tertawa dan melonggarkan dasinya yang membuatnya seolah tercekik.
“Ekhm, Maksudnya tadi bapak bilang sampai jumpa minggu depan kan? yaa? Hahahaha.” Ucap guru itu berusaha menenangkan suasana.
“Apa dia selalu seperti itu?” gumam seorang siswa dengan plester di dahi, menatap aneh gurunya yang kembali mengeluarkan lelucon garing.
“HAHAHAHA. Kau tidak punya selera humor, Kei.” Evin melirik teman di belakangnya itu. Kei hanya mendengus sambil menatap malas gurunya, seperti tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan.
“Ekhm, baiklah kita mulai pelajarannya.” Guru tersebut menyerah untuk mengatakan berbagai lelucon yang ia punya dan sudah ia persiapkan untuk hari pertama mengajarnya ini. Ia merasa anak-anak sekarang memiliki humor yang berbeda dengan dirinya.
Sembari memikirkan cara untuk menghibur anak muridnya, Pak Bram mulai membuka buku sambil menerangkan materi.
“Ilmu sains memiliki empat ciri yaitu, empiris, akumulatif, rasional, dan objektif. Adakah yang bisa menjelaskan apa yang dimaksud dengan empiris?”
Aileen memainkan jari-jarinya tanpa memperhatikan penjelasan Pak Bram. Ia sesekali melirik Kei dan kantong plastik yang hanya tergeletak di kolong bangku milik lelaki itu, ia menjadi overthinking karena lelaki itu bahkan tidak memakan satupun makanan yang ia belikan.
Disisi lain Kei masih menatap kantong plastik yang ia simpan di bawah bangkunya. Tidak ada yang salah dengan makanan-makanan itu, hanya gadis yang memberikan makanan itu yang salah. Ia masih merinding jika mengingat telinganya berdengung akibat hantaman keras dari buku tebal yang dipukulkan oleh gadis aneh itu.
“Aileen, coba jawab pertanyaan B--”
“Tidak! Tidak, tidak..” Aileen melirih sambil menggigit jarinya, namun cukup untuk didengar oleh sang guru dan Auris yang duduk disampingnya. Pak Bram terkejut, ia merapikan rambutnya lalu menggeleng sembari mencari murid lainnya untuk ia tanya.
“Kei Kendrick, mungkin kamu bisa jawab?” Tidak ada jawaban dari Kei, lelaki itu sibuk tenggelam dalam pikirannya. Pak Bram menghela napas sembari mengusap wajahnya kasar lalu kembali menunjukkan senyum menawannya. “Baiklah, bapak jawab sendiri saja.”
“Empiris berarti ilmu sains yang berasal dari eksperimen. Tidak ada suatu kebohongan dalam ilmu sains, tidak ada hasil yang salah dari suatu eksperimen. Jika ditemukan hasil yang berbeda nantinya, itu bukan masalah. Karena tugas kita adalah mengkaji ulang.”
Waktu berlalu, dua remaja yang terlibat dalam sebuah insiden mengejutkan di perpustakaan seperti memiliki dunianya sendiri untuk berpikir diluar diskusi kelas. Tidak ada satupun perkataan yang berhasil mereka cermati, hanya insiden perpustakaan yang melekat dalam pikiran mereka. Perasaan bersalah dari Aileen dan perasaan was-was dari Kei seakan menjadi boomerang yang terus ditangkap dan dilambungkan oleh kedua pihak.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Berbeda dengan keadaan kelas lain yang terdengar ribut oleh ocehan muridnya, kelas Pak Bram harus kembali mendengarkan ocehan gurunya yang benar-benar bisa membuat mood memburuk.
“Baiklah, tidak terasa bel kemerdekaan bagi kalian sudah berkumandang. Bapak akhiri pelajaran hari ini, karena jika tidak diakhiri kalian akan terkena diabetes melihat guru kalian yang manis ini. HA HA HA.”
“Bukankah Tuhan adil?”
“Apa maksudmu?”
“Pak Bram memang cerdas dan tampan, tapi lihat selera humor dan tingkahnya..”
Auris hampir tertawa mendengar ucapan teman kelasnya. Ia melirik Aileen yang sedang membereskan barang-barangnya juga.
“Leen,” panggilnya. Aileen menjawab dengan gumaman sambil menatap sahabatnya.
“Kamu pulang sendiri gapapa kan? Aku ada acara pengenalan gitu di PMR.” Aileen sedikit kecewa mendengar ucapan Auris. Terlebih, ketika sahabatnya itu harus disibukkan dengan acara organisasi dan tidak bisa bersama dengannya.
“Padahal aku mau ajak kamu makan dulu, tapi bukan masalah kok.”
Auris tersenyum sambil mengusap bahu Aileen dan segera pamit untuk pergi lebih dulu. Namun belum sempat melangkah keluar kelas, gadis itu dibuat terkejut oleh gurunya yang tiba-tiba kembali dan muncul di depan pintu.
“Bapak lupa. Apa Aileen Rameesha dan Kei Kendrick masih ada di kelas?”