
Rumah bergaya klasik yang sudah lama tidak dikunjungi Kei kembali menariknya untuk berkunjung. Tidak ada kehangatan di dalamnya, jelas saja, rumah itu kosong dan hanya diisi oleh beberapa penjaga rumah yang senantiasa memotong rumput. Tidak heran jika debu-debu dan sarang laba-laba menghuni tiap sudut ruangan yang jarang tersentuh, termasuk ruang kerja Tuan Kendrick.
Kei menelusuri tempat kerja ayahnya dan merubah ekspresi seketika saat melihat fotonya masih terpajang di sana, bukan hanya satu, tapi perkembangannya dari bayi hingga SMA. Ia semakin menyadari bahwa mendiang ayahnya sama sekali tidak membuangnya selama ini. Tiba-tiba saja ia menyenggol sebuah vas bunga, terdapat kunci kecil disana. Rasa penasaran Kei semakin menjadi. Ia mencocokan laci demi laci kecil yang terdapat di ruangan tersebut hingga berhasil membuka laci berisikan buku dan benda-benda mencurigakan, masing-masing tersimpan rapi di dalam ziplock plastik.
Kei membuka buku tersebut, ia terkejut menyadari bahwa itu adalah hasil investigasi ayahnya soal kematian sang ibu. Rasa penasarannya semakin bertambah, helai demi helai kertas terus ia baca dan pahami isinya. Hanya butuh waktu sebentar bagi Kei memahami semua yang tertulis di buku tersebut dan cukup membuat urat pada tubuhnya terlihat dengan jelas. Namun ada teka-teki yang masih menjadi tanda tanya.
Gambar sudut runcing pesawat yang berlumuran darah hanya pada bagian itu, sketsa sayatan luka lengan dan kecelakaan pesawat 10 oktober.
Kei segera membuka laptopnya untuk mencari tahu lebih detail mengenai kecelakaan pesawat yang terjadi 11 tahun yang lalu itu. Ia terkejut menyadari bahwa pesawat yang jatuh merupakan pesawat keluarga Eljaz, yang merupakan ayah dari Aileen. Lelaki itu kembali dikejutkan saat melihat satu foto yang terselip di balik sampul buku tersebut. Terlihat kedekatan antara Ayahnya dengan om Barack. Ia tidak berhak berasumsi, namun Aileen, ia takut selama ini ayahnyalah yang menyebabkan kesedihan mendalam gadis itu. Sebab peristiwa penusukan ibu Kei, merupakan bentuk balas dendam.
Apa yang dilakukan tuan Kendrick saat itu, hingga ia harus membayarnya dengan nyawa sang istri?
Terlihat dengan jelas bahwa sebelum kejadian itu, ada saham perusahaan yang sedang diperebutkan dua pihak, dan Kendrick memperoleh keuntungan terbesar setelah kematian Eljaz. Kei tidak memungkiri bahwa ayahnya sangat gila kerja, ia akan melakukan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan. Namun ia kembali menutup prasangka jika ayahnya dalang di balik semua itu. Kei mengusap kasar wajahnya, ia tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi dan memutuskan untuk berhenti menggali semuanya. Karena terkadang, tidak mengetahui semuanya jauh lebih baik.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Tabir surya membalur wajah dan tubuh kedua gadis yang sedang santai di pinggir kolam renang. Rasa lelah perlahan sirna tergantikan tenangnya pikiran di sore hari. Kacamata hitam yang dikenakan kedua insan tersebut mencolok karena ukurannya yang mampu menutupi wajah mungil mereka. Sore yang indah dengan matahari tenggelam yang sebentar lagi akan terlihat.
Suara ponsel Aileen yang berdering di tengah kehikmatan tersebut membuatnya menghela nafas, namun harinya terlalu baik untuk kata marah.
“Halo, Aileen disini.”
“Halo.”
Suara wanita tersebut asing di telinganya, ia mengecek layar ponsel, namun ia hanya bisa melihat nomor tidak dikenal.
“Hai, siapa ya?”
“Selamat siang, perkenalkan, saya Mira. Asisten pak Daniel, beliau mengundangmu dalam sebuah proyek pembuatan aplikasi untuk anak-anak di panti asuhan.”
“Kenapa aku?”
“Untuk alasan pastinya, aku tidak tau. Yang aku tau, dia tidak akan melibatkan sembarang orang terlibat dalam proyeknya.”
“Oh jelas, itu sebabnya dia mengundangku. Ha ha ha. Mungkin nanti aku hubungi lagi jika sedikit tidak sibuk?”
“Kau sedang sibuk atau takut tidak mampu?”
“Apa yang kau bicarakan tadi? Jelas aku MAMPU. Hanya saja aku sedang sibuk.”
“Ikut proyek pak Daniel artinya kau akan mendapatkan nilai A+ tanpa peduli hasil ujianmu.”
“Aku terima tawaran itu!”
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Aileen menatap serius wajahnya di cermin dengan handuk mandi masih membalut tubuhnya, sementara Ara sedari tadi memperhatikan gadis itu.
“Aku harus tampil penuh wibawa!”
“Kenapa?”
“Asisten itu, bisa-bisanya merendahkanku bahkan sebelum bertemu denganku. Akan ku tunjukkan padanya bahwa aku jauh lebih spektakuler dari apa yang dipikirkannya saat ini.”
“Benarkah? Dia merendahkanmu?’
Aileen mengangguk yakin.
“Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Sini, biar aku yang membuat penampilanmu menjadi, Ber-wi-ba-wa.”
Aileen ragu akan hal tersebut namun ia tidak punya pilihan lain karena harus menyiapkan dialog terbaiknya di hadapan pak Bram dan asistennya yang menurutnya menyebalkan itu.
Aileen segera mengganti pakaiannya dengan dress hitam yang dipilihkan oleh Ara. Terjadi perdebatan sebelumnya, namun Aileen menurut saja apa yang dikatakan oleh gadis yang kini tengah menata rambutnya, karena soal fashion dan kecantikan, Ara merupakan orang yang ahli di dalamnya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Balutan make-up sederhana di wajah cantik Aileen serta penampilannya yang terlihat elegan mampu menyihir siapapun yang melihatnya. Setiap langkah kaki gadis itu menjadi perhatian tiap pengunjung restoran yang telah direservasi salah satu mejanya oleh pak Daniel untuk membicarakan proyek antara mereka.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tawar pelayan restoran pada Aileen.
“Meja atas nama tuan Daniel.”
Pelayan itu pun segera mengantarkan Aileen pada meja mewah yang berada di lantai 2. Ia terkejut mendapati Liam berada di sana, di ruangan yang sama dengannya, dan duduk di meja yang seharusnya ia tempati.
Liam seolah tersihir oleh paras Aileen yang terlihat lebih cantik dari biasanya, namun seketika jelmaan nenek sihir dari Aileen meruntuhkan semuanya.
“Mesum?!” ucap Aileen dengan intonasi yang tinggi sehingga membuat refleks Liam untuk menutup mulut gadis itu.
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Lepaskan tanganmu!” Aileen mencubit kencang perut Liam sehingga membuat lelaki itu menjerit kesakitan.
“Yang seharusnya bertanya adalah AKU. Kenapa kau disini?!”
“Nggak ada larangan yang menyatakan kehadiranku dilarang disini.”
“Oh yah? Kalau begitu, ada pernyataan bahwa KAU tidak boleh ada di dekatku.”
“Lakukan apa maumu, aku tidak peduli.” Liam meletakkan tangannya pada senderan sofa restoran dan mengangkat kakinya hingga hampir mengenai wajah Aileen.
“RESE!” Aileen menjambak rambut Liam dan mengeluarkan sumpah serapah, sedangkan Liam berusaha menahan tangan gadis itu. Aileen berhenti saat menyadari kehadiran Pak Daniel dan Asistennya menghentikan itu.
Citra Aileen yang ia akan bangun susah-susah akhirnya rusak juga, ia terpaksa duduk di samping Liam dan terus bergelut kaki dengan lelaki itu.
Liam dan Aileen saling menatap tajam.
“Tentu.” ucap Liam tanpa mengalihkan pandangannya dari Aileen.
“Baiklah, kalian akan terlibat dalam satu proyek besar-”
“APA?!” sangkal keduanya.
“Pak, yang bener aja dong. Masa partnernya nenek sihir ini? Nggak ada yang lain apa?”
Aileen menginjak kaki Liam sekuat tenaga hingga membuat Liam menjerit untuk kesekian kali. Pak Daniel menjadi bersyukur mereservasi satu lantai restoran, karena jika hanya satu meja, mungkin kini mereka telah diusir satpam.
“Pak, saya lebih baik mengundurkan diri daripada harus satu tim dengan cowok slengean, kasar, dan ga jelas ini!”
“Saya melihat potensi dari kalian berdua. Tidak masalah jika tidak mengikuti proyek ini. Tidak ada satu paksaan pun. Tapi mungkin, kau, Aileen, akan kehilangan kesempatan mendapatkan nilai A+, dan kau, Liam, kau menginginkan imbalan besarnya bukan?’
“TIDAK LAGI!” ucap keduanya.
Pak Daniel terkekeh akan hal itu, “Tanpa dibiasakan pun kalian sudah kompak, pasti jadi tim yang baik. Tapi, kalian sudah menandatangani kontraknya, jika dibatalkan mungkin kalian akan menanggung kerugian besar ya. Terancam nilai D dan membayar kerugian.”
“Baiklah, akan ku coba. Tapi mungkin, Aileen tidak siap bekerja sama secara profesional. Ini pengalaman pertamamu kan?”
“Jelas ini pengalamanku yang ke- Mmm ya, sekian kali. Dan aku adalah sosok profesional. Sampai jumpa dan salam kerjasama, Partner.”
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
“AAAAAA” Aileen berteriak memenuhi seluruh penjuru kamarnya.
“Terus kenapa kamu setuju-setuju aja sih Leen kerja sama bareng dia?”
Aileen menggeleng sambil merengek.
“Lagipula, Liam kan baik Leen.”
“Huh!? Baik dari mananya sih?”
“Iya kan?.”
“Dia adalah cowok paling brengsek dan nyebelin yang pernah aku temui!”
Aileen menghela nafasnya dalam. “Liat aja, dia pasti akan menderita waktu kerja sama bareng aku!”
“Kenapa kamu segitu bencinya sih sama dia?”
“Karena dia.. udahlah lupain aja, intinya dia itu.. Mmm, ya, ngeselin”
“Mmm, oke.”
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Pagi yang indah untuk memulai hari, saat pertama Aileen memulai kerjasama dengan Liam. Pak Daniel dan Liam tengah duduk di ruang meeting membicarakan proyek yang akan mereka kerjakan. Pria itu mengenal Liam sejak lelaki itu berusia 10 tahun, mendiang ayah Liam adalah kerabat pak Daniel. Ia mengetahui potensi Liam dan mempercayakan proyek besar ini padanya dan Aileen sebagai murid seni berpotensi yang akan membantu Liam menyelesaikan desain dan warna yang sesuai untuk tampilan aplikasi.
Melalui aplikasi tersebut, anak panti dapat mengakses pembelajaran akademik maupun non-akademik secara virtual. Melalui aplikasi itu pula pak Daniel mengkonsepkan adanya sumbangan donatur untuk membantu anak-anak yang berada di panti asuhan, lebih jauh lagi, aplikasi ini nantinya dapat digunakan oleh anak-anak yang kekurangan secara gratis. 30 menit berjalan, Aileen tiba di ruang meeting milik pak Daniel.
“Maaf, aku datang terlambat.
“Duduklah.”
Pak Daniel pun menjelaskan konsep dan semua detail proyek yang akan mereka kerjakan. Aileen semakin tertarik, karena dengan itu ia bisa menghibur anak-anak yang bernasib sama dengannya, tidak memiliki kedua orangtua di usia dini. Rasanya menyakitkan, ia tidak ingin anak-anak itu terpuruk sepertinya.
Liam memperhatikan Aileen sedari tadi, sorot matanya begitu damai menghilangkan semua kesan negatif yang ditangkap oleh gadis itu. Namun Aileen tetaplah keras dengan pendiriannya, ia tidak ingin terpengaruh oleh sikap Liam yang tiba-tiba hangat karena ia yakin itu hanyalah sebuah tipu daya di hadapan pak Daniel.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Aileen dan Liam bekerja di ruangan yang sama, meskipun masing-masing tidak saling bertegur sapa. Liam menyadari bahwa ia terlalu keras dan kasar pada Aileen, tapi ia juga sadar, ada rasa yang harus dihilangkan. Rasa pada gadis itu yang masih terus menetap dan seharusnya tidak ada.
Maaf. Kata itulah yang tertahan oleh Liam saat ini, membiarkan gadis itu perlahan membencinya dan ia juga akan segera melupakan Aileen seutuhnya -dalam harapan lelaki itu-.
Aileen sibuk dengan spidol berwarna yang ia gunakan untuk menggambar sketsa sebelum akhirnya membuat gambar tersebut menjadi gambar digital. Sekilas, ia melihat Liam yang tampak serius mengulik layar hitam dengan kode-kode berwarna putih, jingga, biru, yang sama sekali tidak dipahami gadis itu. Hanya melihatnya saja sudah melihat Aileen pusing, ia lebih baik berkutat dengan imajinasinya daripada harus mengerahkan logikanya.
Detik waktu terus berjalan, usaha mereka pun perlahan menguakkan hasil. Ruangan berangin karena pendingin ruangan membuat Aileen bersin untuk kesekian kalinya. Tanpa sepengetahuan gadis dihadapannya, ia meninggalkan pekerjaan yang tengah ia kerjakan untuk mencari remote AC yang tidak tampak wujudnya. Ia menatap dingin Aileen saat menemukan remote itu tepat ada di hadapan Aileen.
“Bodoh.”
Aileen sontak menatap tajam lelaki di hadapannya. “Aku tidak ingin berdebat saat ini.”
Liam hanya mengedikkan bahu dan mengambil remote AC yang berada di dekat Aileen. Ia segera mematikan AC tersebut.
“Lain kali, jangan biarkan remote ini ada padamu, kau akan membuat orang mati kedinginan.”
Tidak seperti biasanya, Aileen tidak merespon kembali perkataan Liam. Wajah gadis itu memucat dan membuat kekhawatiran bagi Liam.
“Apa kau sudah makan? Maksudku, kenapa kau tidak makan siang. Mmm, aku akan makan siang, kenapa kau tidak. Jangan salah sangka, maksudku asisten pak Daniel sudah mempersiapkan makan siang untuk kita dan aku ditugaskan untuk mengambilnya. Sebenarnya aku malas, tapi tunggu disini.”
Liam segera berlari meninggalkan ruangan tersebut untuk mencari makanan. Ia tahu uangnya pas-pasan, meski hutang keluarganya sudah dibayar lunas oleh tante Nia, namun ia tetap mengangsur hutang tersebut pada wanita itu. Meskipun pernah ditolak, ia sama sekali tidak ingin berhutang budi.
Hanya tersisa sedikit uang, biasanya ia menggunakan itu untuk makan di pinggir jalan, hingga tersisa uang untuk menabung. Ia gunakan uang itu seirit mungkin. Namun kali ini, uang makan tersebut ia gunakan untuk membelikan Aileen makanan mahal yang menurutnya layak bagi gadis itu. Setelah mendapatkan makanan itu, ia berlari dengan cepat menemui Aileen yang sedang tertidur.
Liam meletakan makanan tersebut di meja kerja Aileen dan tersenyum ke arahnya. Ia meminta tolong seorang OB yang tidak jauh dari sana untuk membangunkan gadis itu dan memintanya makan sedangkan ia kembali berkutik dengan laptop di hadapannya dengan rasa lapar yang berusaha ia tahan dengan mengencangkan gesper.
Aileen terbangun dan mencoba memakan makanan yang tersedia di hadapannya, tanpa disadari senyum tipis terukir di wajah tampan lelaki itu.