
Malam hari tiba, Aileen tampak buru-buru meninggalkan ruangan saat menerima telepon. Tanpa alasan yang jelas, Liam merasa perlu memastikan Aileen sampai di kediamannya dengan baik. Belum sampai di apartemen Aileen, lelaki itu menyunggingkan senyum sarkas dan mengalihkan pandangannya menjauhi tempat dimana Aileen dijemput oleh Kei. Lelaki itu menyadari bahwa Aileen akan baik-baik saja bersama dengan Kei dibandingkan dengan bersama dengannya.
Liam tertawa untuk dirinya sendiri dan segera pergi memacu motor sport yang diberikan pak Daniel untuknya. Tanpa sadar, kristal air mata mulai tampak dan segera dihapus dengan kasar olehnya. Bukan karena lemah, tapi rasa sakit itu terlalu kuat.
Liam menghentikan laju motornya mendadak saat melihat om Barack.
“Bukankah pria itu tengah di penjara?!” batinnya geram.
Tanpa berpikir panjang, Liam mengikuti arah kemudi dari om Barack menuju suatu tempat yang ia kenali, Rumah pak Daniel. Lantas ia mengikuti pria tersebut sampai pada suatu pembicaraan yang cukup menegangkan.
“Kau masih menyimpan barang bukti itu?”
Daniel tertawa merendahkan, “Apa kau ketakutan jika aku menguak bukti tersebut?”
“Kau harus ingat, jika aku ditangkap dan dikenai hukuman mati, KAU, adalah orang pertama yang akan ku sered duluan.” Barack mendorong kening Daniel dengan telunjuknya.
“Lakukan! Aku cukup bertanggung jawab menerima semua konsekuensi dari semua tindakanku,” ucap Daniel dengan nada yang menyudutkan.
“BRENGSEK!” Suara pukulan begitu lancang terdengar.
Daniel segera mengusap kasar darah segar dari mulutnya dan tersenyum sinis ke arah pria di hadapannya.
“Jika aku jadi kau, aku tidak akan mau menunjukan wajahku lagi di dunia ini!”
“BAJINGAN!” Sekali lagi, Daniel harus berhadapan dengan pukulan pria di hadapannya.
Langkah kaki Barack yang semakin mendekat membuat Liam bersembunyi lebih dalam. Satu hal yang ditangkap oleh Liam saat ini, ada suatu bukti kuat yang diketahui oleh Daniel.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Rumah sakit tempat beroperasi tante Nia semakin sepi dengan pengunjung yang menyusut karena jam istirahat pasien. Tiba saatnya wanita itu mengecek satu kamar terakhir pasiennya, seorang wanita paruh baya yang akan menjalani operasi Angioplasti Koroner.
“Bagaimana keadaan saya dok?” ucap pasien tersebut sebelum tante Nia memeriksanya.
“Bagaimana dok?” ucapnya saat stetoskop baru sedetik mengenai tubuh wanita tersebut.
Tante Nia hanya bisa bersabar dan menghela nafasnya.
“Kenapa dok?”
“Hasil pemeriksaan darah, EKG, dan rontgen menunjukan bahwa tindakan operasi PCI aman dilakukan. Saat ini, nyonya bisa berpuasa sebelum nanti pagi dilakukan operasi.”
Pasien tersebut menurunkan pandangannya.
“Tidak perlu khawatir, semua akan berjalan lancar. Jika boleh tau, ada anggota keluarga yang bisa menemani nyonya saat ini?”
“Anak saya baru saja pergi tadi, anak pria itu izin membeli minuman beralkohol dan mabuk-mabukan karena baru saja tawuran hingga menimbulkan luka di wajahnya.”
“Maaf?” Emosi tante Nia terpancing mendengar perkataan pasien tersebut.
“Ya, itu karena dia memiliki badan yang kekar. Maklumlah, anak muda.”
“Dimana saya bisa menemui anak itu?”
“Anak saya?”
“Iya.”
“Di minimarket depan.”
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Tante Nia melangkahkan kakinya dengan sigap setelah melepas jas putih yang dikenakannya, matanya mengincar tiap sudut minimarket dan mendapatkan satu pria sasarannya, pria dengan penampilan berantakan layaknya orang baru tawuran, berbadan kekar, dan sedang berada di depan deretan minuman keras. Tante Nia segera menghentikan tangan pria tersebut yang akan mengambil sebotol vodka di hadapannya.
Pria itu melirik wanita di sampingnya dan dua insan tersebut saling melontarkan tatapan dingin.
“Kau?!” ucap Daniel.
‘Luka di wajah, jelas sekali orang itu adalah pria angkuh ini.’ benak tante Nia.
“Cih, sudah kuduga, orang sepertimu pasti tidak tau diri! Kau tau betapa menderitanya ibumu karena penyakit jantung yang sekarang dialaminya?! Bukannya menemani, kau malah mencari kesenanganmu sendiri. Egois!”
“Apa yang kau katakan? Ibuku sudah meninggal!”
“Kurang ajar!”
Wanita itu menampar Daniel dan menjewer telinga pria itu dan membawanya ke rumah sakit hingga menarik atensi orang-orang yang ada disana.
Sesampainya di depan kamar pasien, tante Nia mendorong tubuh Daniel hingga masuk ke dalam kamar tersebut. Dua insan yang berada disana menatap Daniel bersamaan.
“Dia siapa?”
Pasien tersebut mengedikkan bahu dan malah menyapa tante Nia.
“Dr. Nia, ini anak saya, Kevin. Sebentar lagi lulus SMA.”
Perlahan tante Nia menjauh dari ruangan tersebut dan menelusuri lorong dengan jalan cepat. Kemeja wanita tersebut ditarik dari belakang oleh Daniel sehingga menghentikan langkah tante Nia. Dengan pandangan bersalah, perlahan tante Nia berbalik arah menghadap Daniel.
“Pertama, kau mempermalukan aku di depan mahasiswa. Kedua, kau menghilangkan kepercayaan yang disimpan oleh calon mertuaku. Ketiga, kau menggunting bajuku hingga membuat hubungan yang telah terjalin selama 7 tahun kandas, dan keempat, kau mempermalukanku di depan umum yang bahkan aku tidak tau mereka mengenalku atau tidak.”
“Baguslah, setidaknya aku memecahkan sebuah rekor di hidupmu.”
Daniel mendengus kesal, wajahnya memerah karena emosi yang ditahan dan tidak bisa dikeluarkan kepada perempuan.
“Kenapa?”
Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan mencoba berpikir jernih.
“Kau harus bertanggung jawab.”
“Untuk apa?”
“Apa kau tidak menyadari kekacauan yang telah kau perbuat di hidupku, huh?!”
“Aku tidak peduli.”
“Kau hanya perlu berbicara pada mantan kekasihku bahwa tidak ada hubungan apapun diantara kita.”
“Tidak tertarik.”
Tante Nia membalikan tubuhnya, atensinya kini beralih pada wajah Daniel yang kacau, ada lebam serta luka yang terlihat tidak diobati. Ia tidak ingin peduli, tapi jam kerja panjang sebagai seorang dokter bedah memaksanya peduli pada pria tersebut. Tangannya yang lembut perlahan menyentuh pipi Daniel sampai pria itu terpekik kesakitan.
“Aku tidak peduli darimana kau mendapatkan luka lebam ini, tapi apa kau benar-benar akan melukai dirimu lagi dengan minuman keras?”
Tante Nia segera mengeluarkan tisu steril dari kantongnya dan mengelap sisa darah di sudut bibir Daniel. Pria itu menatap lekat mata wanita di hadapannya, sejenak, wajah manisnya terukir dengan jelas. Semua itu pasti tersembunyi dibalik sikapnya yang jelas seperti singa betina yang sedang datang bulan.
“Pantas saja mantan kekasihmu tidak menginginkanmu.”
“Apa maksudmu?”
“Bagaimana melindunginya jika melindungi diri sendiri saja tidak bisa.”
Tante Nia sengaja menekan luka pada wajah Daniel agar pria tersebut tidak menyangkal perkataannya.
“A-akh,” pekik Daniel.
Tante Nia tersenyum sinis dan meninggalkan Daniel setelah memastikan luka itu tidak akan menimbulkan masalah besar.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Suasana malam yang gelap dan jalanan yang kosong membuat Liam leluasa memacu motor besarnya dalam kecepatan penuh. Dengan tampilan yang serba hitam, lelaki itu membuat keheningan malam riuh dengan suara motornya. Tiba-tiba suara decitan ban mobil dan suara motor jatuh di atas aspal saling beradu dengan kencang, menyisakan rasa ngilu dan asap kendaraan yang mengabu di tengah gelapnya malam. Seorang lelaki dengan postur tinggi mendekat ke arah Liam yang tampak kesulitan untuk terbangun.
Uluran tangan lelaki itu ditolak oleh Liam, dia berdiri dengan mengandalkan kekuatan satu kaki kanannya. Ia melepaskan helm hitam yang dikenakan dan tersenyum sinis saat menyadari lelaki di hadapannya adalah Kei. Tatapan keduanya saling beradu, menampakkan kebekuan yang tidak pernah tercairkan.
“Sayang sekali kita bertemu kembali karena kejadian seperti ini,” ucap Liam.
“Beritahu aku jika kau mengalami kerugian.”
Liam tersenyum sinis, “Kau sama sekali tidak berubah.”
Liam menatap gadis yang keluar dari mobil Kei, ia dibuat terkejut karena dugaannya salah. Gadis itu bukan Aileen. Liam menatap gadis itu dingin dan segera mengalihkan pandangannya untuk membenarkan motor kesayangannya.
“Good luck, bro!” ucap Liam sebelum kembali memacu kendaraannya.
Kei menatap gadis di sampingnya, Richelle, teman kuliahnya saat ini sekaligus teman Aileen saat SMA.
“Liam, kan?”
Kei menghiraukan pertanyaan Richelle dan segera masuk ke dalam mobilnya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Sapa hangat rumah sederhana saat mesin motor dimatikan membuat Liam tersenyum. Perih yang ia rasakan akibat gesekan aspal seakan tidak berarti. Untuk kesekian kalinya, lelaki itu berhasil menyembunyikan rasa sakitnya.
“Kak Liam!”
“Udah pulang?”
Tidak ada yang lebih berarti dibandingkan dengan keberadaan dua perempuan yang berada di hadapannya. Liam melepaskan helm dan masuk ke dalam rumah setelah memeluk ibu dan adiknya. Adik perempuannya sangat bersemangat untuk dibacakan sebuah cerita pengantar tidur olehnya. Liam bukan hanya menjadi tulang punggung keluarga, melainkan menjadi pengganti ayah bagi adiknya, Celine.
Seusai mandi dan ganti baju, Liam segera menemui adiknya. Disampingnya kini, gadis polos yang susah payah ia jaga fisik dan psikisnya itu menatap Liam dengan pandangan yang berbeda. Ia mengusap pipi Liam yang sedang berbaring di sampingnya.
“Pada akhirnya, sang pangeran dengan tubuhnya yang kuat dan sikapnya yang tegar, tetap dapat merasakan rasa sakit.”
Liam menatap dalam Celine, ia menyadari itu merupakan dialog sebuah dongeng yang sering ia ceritakan pada Celine. Meskipun kini mereka hanya memiliki satu buku dongeng, Liam seringkali mengarang cerita agar adiknya itu tidak bosan. Perjuangan Liam memang berat, ia harus bertahan hidup dan melewati semua tantangan dengan posisi paling depan. Lelaki itu memegang tameng baja dengan kuat untuk melindungi orang yang ia sayangi saat teman-teman sebayanya menikmati kehidupan dan masa remaja dengan damai. Lelaki itu tersenyum dalam helaan nafas yang dikerahkan untuk menahan air mata.
“Yup, pangeran itu dapat merasakan rasa sakit.”
“Apa dia akan baik-baik saja?”
“Tentu.”
“Kapan ia akan bahagia?”
Ekspresi wajah Liam berubah seketika.
‘Sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.’
“Sampai, putri yang satu ini tertidur!” jawab Liam sambil menggelitik tubuh mungil Celine.
Tawa dan kehangatan kasih sayang keluarga kecil yang mampu mengobati rasa sakit manapun. Ibu Liam tersenyum dengan air mata bahagia sekaligus sedih. Ia jelas mengetahui luka yang dirasakan oleh anaknya, tapi ia juga memahami secara utuh sikap Liam. Meskipun terlihat baik-baik saja, sebenarnya ia tidak. Sepintar-pintarnya anak menyembunyikan perasaan, orangtua perlahan pasti mengetahuinya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Suara perkakas dari peralatan masak terdengar di dapur sederhana keluarga itu, membuat Liam mendekat ke arah sumber suara.
“Belum tidur, ma?”
“Mamah masakin masakan kesukaan kamu.”
“Rendang?”
“Seperti yang kamu lihat.”
“Makasih, tapi lain kali Liam bisa masak sendiri. Kadang seleraku memang sering berubah-ubah, jadi lebih baik lain kali-”
“Stt- udah, duduk aja.”
Liam memakan masakan tersebut dengan lahap hingga pada suapan terakhir.
“Ada yang menempati rumah kita yang dulu disita, tapi katanya ada barang kita yang tertinggal disana. Bisa kamu ambil?”
“Tentu.”
“Kalo gitu, kamu istirahat. Biar ini mamah beresin.”
Seperti biasa, Liam tidak menuruti permintaan ibunya dan segera membantu membereskan bekas makanannya, serta mencuci piring.