HIAMOE

HIAMOE
DESERT



Gambaran kebahagiaan terasa nyata tercipta dalam benak lelaki yang sedang terlelap dalam tidurnya. Tidak seperti biasanya, sosok orangtua dalam mimpi itu tersenyum tulus ke arahnya. Hamparan langit dihiasi dominansi awan putih tanpa membatasi sinar mentari pagi turut menghiasi tempat ketiga insan itu berada. Tawa canda yang sudah lama menghilang seakan kembali. Lelaki itu tersenyum bahagia.


Seketika hempasan badai kuat datang, menghancurkan mimpi indah itu. Lelaki itu berteriak mencari orang tuanya, kakinya bergetar menahan deburan angin yang berusaha menerjang. Ia tersesat, kesepian, dan mencari perlindungan, tidak ada siapapun disana. "Ayah," ucap rintih lelaki itu setelah berusaha berlari namun ia seakan sedang berada dalam area tanpa gravitasi. Lelaki itu membiarkan badannya jatuh tersimpuh dan membiarkan ketakutan menguasai dirinya. Air matanya mengalir dengan deras menyadari semuanya sudah hilang.


"Pergilah, kau menghalangi jalanku," ucap seorang gadis bergaya tomboy dengan lolipop memenuhi tangannya.


Lelaki itu membuka matanya, menatap sendu gadis yang ada di hadapannya. "Aish, kau mau ini?." Gadis itu menghela nafas malas dan memberikan lolipopnya. "Namaku Richelle," sambung gadis itu sambil mengulurkan tangannya. 


"Terima kasih," ucap lelaki itu.


"Mau kuperlihatkan suatu tempat yang indah?" tanya gadis itu.


Perlahan Kei membuka matanya, mimpi itu seakan ingin memberitahukan sesuatu padanya, memori itu kembali terbuka. Ia mengingat dengan jelas masa-masa dimana ia terpuruk sendiri setelah kehilangan ibunya. Kei merasa diasingkan, Ayahnya bahkan tidak ingin melihatnya lagi dan mengusir Kei dari rumah. Hidup tampak tidak adil bagi lelaki itu, ia selalu dituntut untuk berprestasi namun tidak terapresiasi. Ia dipaksa hidup sendiri dalam apartemen yang sama sekali tidak pernah tampak kehangatan di dalamnya. Hanya kenangan dan kerinduan pada mendiang ibunya yang seakan terus menemani.


Kei memiliki segudang prestasi, ia bahkan telah sukses menjalankan usahanya sebagai pemilik cafe, di usia muda. Kendati demikian, ayahnya selalu tampak tak menghiraukannya. Menyadari itu, ia tidak ingin meminta lebih lagi. Cukup bagi Kei mendapat kabar bahwa ayahnya dari asisten sang ayah. Kei berjanji pada mendiang ibunya bahwa ia akan terus bahagia, janji itu terus melekat dalam hatinya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen melangkahkan kakinya menuju sebuah danau dengan hamparan gunung yang masih asri untuk melenyapkan semua yang mengganggu pikirannya. Seorang gadis yang samar ia kenali berdiri tidak jauh dari tempatnya berada, gadis itu melemparkan batu ke danau dengan teknik yang menarik sehingga batu tersebut tampak enggan menyentuh dasar danau. 


Aileen terpukau dan mencoba melakukannya, namun hal itu gagal. Ia kembali mencoba beberapa kali dan tidak ada yang berhasil. Gadis dengan celana jeans robek dan rambut yang diikat seadanya itu melihat Aileen dan mendekatinya saat menyadari bahwa gadis itu adalah orang yang menolongnya saat membawa tumpukan buku ke perpustakaan dan berbicara padanya di rooftop sekolah.


Aileen terdiam malu saat sosok profesional dalam melempar batu itu berdiri di sampingnya. 


“Aileen?,”


“Kau mengenalku?”


“Apa ingatanmu juga dangkal?” 


Gadis bernama Richelle itu memantulkan batu kecil kembali ke permukaan danau, sedangkan Aileen menatapnya heran.


“Bagaimana kau melakukannya?,”


“Pegang ini,” ucap Richelle sambil menyodorkan batu yang pipih dan bundar dari dalam sakunya.


“Kau menyimpannya?,”


Richelle mengangguk, “Apa kau pernah bermain softball?”


“Ya,”


“Jika kau ingin memantulkan batu ini, kau harus berdiri menyamping dari arah air dan posisikan kakimu seperti ini, kemudian lakukan ayunan seperti bermain softball ketika melempar, cobalah,” Richelle memperagakan suatu teknik pada Aileen. 


Aileen mengikuti gerakan Richelle dan berhasil memantulkan batu yang Richelle berikan. Hal tersebut membuat Aileen terkejut sekaligus puas dan tersenyum bangga pada gadis disampingnya. Gadis itu membalas senyuman Aileen dan menatap ke arah danau.


“Wah, aku memang berbakat dalam segala hal.” Aileen membanggakan dirinya.


Richelle menyunggingkan senyumnya menyadari gadis yang berada di sampingnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi.


“Kau sudah lebih baik sekarang?”


“Huh?”


“Aku tidak menolak untuk itu, lalu bagaimana denganmu?”


“Aku tidak tahu,”


“Kenapa?”


“Aku bahkan tidak bisa membedakan saat keadaanku baik-baik saja ataupun tidak. Kau mungkin bisa tersenyum pada dunia, tapi dibalik itu, hatimu tidak. Kau mungkin tertawa sejenak, tapi semuanya hanya untuk membuat orang disekitarmu tidak khawatir.”


“Sebentar, sepertinya aku pernah melihatmu.”


“Kau benar.”


“Oh, siswi perut sixpack itu kan?”


Richelle hanya menatap Aileen dingin. Seketika awan mendung mulai menurunkan rintik hujan dan mengharuskan mereka untuk berteduh. Kedua gadis itu memutuskan untuk mengunjungi cafe yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


Suasana cafe begitu ramai dengan orang yang sengaja berkunjung ataupun sekedar berteduh. Kedua insan tersebut terduduk di bangku yang menawarkan keindahan danau dengan batas kaca yang dihiasi butiran air hujan yang terus bergantian singgah dan jatuh terkalahkan gravitasi.


“Aku mendengar semua tentangmu di sekolah. Jangan terlalu dipikirkan, terkadang orang membencimu hanya karena mereka tidak bisa sepertimu.”


“Meskipun berusaha menolak untuk memikirkannya, pendengaran dan penglihatan itu nyata, semua itu perlahan menyayat pikiran dan perasaanku. Terlebih orang yang membenciku adalah orang yang awalnya sangat dekat,”


“Percayalah, semesta telah menunjukan bahwa dia bukan orang yang cukup baik untukmu.”


“Mungkin.”


Richelle Alexander, seorang gadis berkulit sawo matang yang tampak serasi dengan rambutnya yang hitam. Ia merupakan gadis berhati lembut, bergaya tomboy yang hidup sederhana bersama kedua orang tuanya. Gadis itu merupakan anak gadis satu-satunya, meskipun demikian, kata manja sangat jauh mendeskripsikan sosok Richelle. Ia tumbuh dengan baik menjadi gadis pemberani, bahkan ia pernah dijuluki preman sekolah. Dari sekian banyak siswi yang ia temui di SMA, hanya Aileen yang berhasil membuatnya ingin melindungi gadis itu. Entah untuk alasan apa, mungkin karena gadis itu terlalu ceroboh dan polos.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Suasana sekolah yang ramai tampak menjengkelkan bagi Kei. Lelaki itu hanya terduduk sambil membaca buku dan mendengarkan musik yang ia nikmati sendiri. Seorang gadis membungkukan badan di sampingnya dan mengambil sebelah earphone Kei. 


"Selera lagumu boleh juga." Aileen menarik bangku dan duduk di depan Kei sambil menopang dagu melihat lelaki di hadapannya tampak setia membaca buku.


Aileen tersenyum melihat wajah Kei yang tampak lebih tampan dari dekat. Menyadari hal itu, Kei segera menutup buku dan membalas dingin tatapan gadis di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Kei.


Aileen menggeleng, namun sikapnya seperti ingin menyampaikan sesuatu. 


"Kenapa?" 


"Mm, Kei. Minggu depan ujian. Bisa nggak kamu sedikit aja ngajarin aku?"


Kei tertawa tipis gemas melihat gadis yang sedang memelas di hadapannya. 


"Biasanya Auris yang ngajarin, tapi.." Ucapan gadis itu segera dipotong oleh Kei. "Ok, mungkin sulit untuk mengajarkanmu. Tapi akan kucoba."


Aileen tersenyum lebar mendengar jawaban dari Kei membuat detak jantung lelaki itu lebih cepat dari biasanya. Ia segera memalingkan wajahnya dan menyadari Liam sedang memperhatikan interaksinya dengan Aileen. Entah telepati apa yang sedang terjadi, mata mereka seakan sedang bergelut. 


Aileen menatap bingung interaksi antara Kei dan Liam. Ia memutuskan untuk berjalan kikuk menuju bangkunya yang berada tepat di tengah-tengah dua lelaki tersebut. Alih-alih berhenti saling menatap, dua lelaki tersebut tambah menajamkan pandangannya sampai pelajaran dimulai.