
Meja makan sudah tertata rapi dengan makanan dan lilin di atasnya yang telah dipersiapkan Kei untuk Aileen. Untuk kesekian kali, Kei mampu membuat senyum indah terukir di wajah cantik Aileen, setelah lelaki tersebut membuka kain hitam yang menutupi mata gadis di hadapannya.
“Apa kau menyukainya?”
Aileen mengangguk yakin, “Tentu.”
Perkataan itu membuat senyum semakin menerkah di wajah tampan Kei.
“Apa kau selalu membawa gadis kesini, huh?”
“Hanya kau.”
“Aku tau kamu pasti berbohong.”
"Aku bersungguh-sungguh"
Aileen menyipitkan kedua matanya membuat Kei gemas, "Kenapa?."
"Tidak, aku hanya memastikan"
“Tunggu sebentar.”
Kei kembali meminta Aileen menutup mata untuk memberi waktu baginya mengeluarkan rangkaian bunga matahari yang telah dipersiapkan untuk Aileen.
“Untuk mu.”
“Terima kasih.” Aileen mengambil bunga tersebut dari tangan Kei.
"Bunganya sama sepertimu, cantik dan ceria."
Rona di pipi Aileen kembali hadir, "Apa ada yang salah dari otakmu?"
"Mungkin organ yang lain."
"Apa?"
"Hati."
Kei mempersilahkan Aileen untuk duduk setelah mengacak rambut gadis itu, gemas. Malam ini, Aileen diperlakukan seperti seorang putri oleh pangerannya. Ternyata benar, seorang perempuan akan bahagia dan merasa terhormat di tangan laki-laki yang tepat. Jika Aileen akan melabuhkan hatinya, itu pasti Kei.
“Apa kau mempersiapkan semua ini dalam semalam?”
Kei menyipitkan matanya, “Kau tidak perlu tahu tentang itu”
“Kenapa?”
Kei hanya tersenyum dan mengacak rambut Aileen, seperti kebiasaannya. “Sebaiknya kita makan.”
Aileen menatap lama Kei sebelum memulai makan, membuat lelaki itu mengangkat kedua alisnya. “Jangan khawatir, semua makanan dan minuman ini tidak akan membuat pipimu semakin tembem.”
“Ya! apa maksudmu?!” ucap Aileen hingga membuat pelayan memperhatikan dua insan tersebut.
“Hahahaha.”
Mereka pun memakan makanan yang dihidangkan dengan lahap, terlebih Aileen karena belum makan bahkan satu suap pun. Kei tersenyum melihat Aileen, atensinya kini berpusat pada noda kari di pinggir bibir mungil gadis itu.
"Sebentar." Kei mengusap noda tersebut dengan jempolnya dan menjilat kari tersebut dengan lembut.
Aileen terkejut dengan perlakuan Kei, ia menelan ludah dan segera mengambil tisu untuk mengelap bibirnya.
“Maaf,” ucap Kei; menyesal membuat gadis itu tidak nyaman.
Waktu sudah menunjukan tengah malam, namun kedua insan tersebut tampak tidak ingin mengakhiri hari berharganya.
“Apa kau mengantuk?”
“Tidak.”
“Kita harus pulang.”
“Kenapa?”
“Bukankah tidak baik untuk seorang gadis belum pulang selarut ini?”
Aileen menggeleng, “Beri aku waktu, 2 jam lagi.”
“Untuk apa?”
“Bersamamu.”
“Huh?”
Keheningan tercipta diantara keduanya.
“Mau ikut aku ke satu tempat lain?”
“Tentu,” ucap Aileen yakin.
Aileen pun terus mengikuti arah Kei berjalan. Sudah 5 menit berjalan, namun mereka belum kunjung sampai.
"Apa masih lama?" tanya Aileen yang mulai kelelahan.
"Apa kau lelah?"
"Ah tidak, lanjutkan"
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya, hanya saja, jangan habiskan energiku untuk menjawabmu berbicara!"
Kei terkekeh dengan perkataan gadis tersebut, seketika ia mengangkat tubuh Aileen dengan kedua tangannya.
"Ya! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!"
"Kau menyukainya, kan?"
"Huh?"
Aileen menyadari bahwa perasaan itu nyata. Cukup melihat lelaki itu saja mampu membuatnya bahagia. Kalau boleh jujur, iya, Aileen menyukai ketika lelaki itu berada di dekatnya.
"Mukamu memerah," ucap Kei sambil menatap gadis yang ada di pangkuannya.
"Berhenti menggodaku." Aileen menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kei.
"I love you," bisik Kei pelan.
"Huh?"
"I hate you."
Kei segera mengganti kalimatnya saat melihat tatapan dari Aileen.
"Nyebelin."
"Kamu mau aku bilang hal yang awal?"
"Bilang apa? Itu terlalu pelan, aku nggak denger."
"Baguslah."
"Kenapa?"
"Biar kamu penasaran."
15 menit kemudian, mereka sampai pada tempat yang dituju. Tenda hangat dengan pemandangan pantai yang asri di depannya. Suasana terasa begitu damai dengan deburan ombak di pipir pantai, dan burung terlihat terbang meskipun hari sudah malam.
"Wah, keren banget pemandangannya!”
"Kau suka?"
"Tentu, ini sangat mengagumkan. kenapa kau mengajakku kesini?", tanya Aileen sambil duduk dan mengatur nafasnya lelah.
"Aku hanya ingin di tempat ini bersamamu." Kei duduk di sampingnya.
"Kau tau? Jika gadis lain diperlakukan seperti ini mungkin mereka akan jatuh cinta padamu. Kau harus hati-hati."
Kei menaikan alisnya, "Apa kau tidak?"
"Aku tahu aku ini cantik dan banyak yang menyukaiku. Tapi, teman gadismu juga sering kamu ajak kesini kan?"
"Aku hanya tidak percaya jika kau bersikap seperti ini hanya untukku."
Kei menatap tulus Aileen, Aku memang melakukan ini hanya untukmu, batinnya. Kei menopang dagu dan menatap lekat wajah Aileen.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Cantik." ucap Kei yang mampu membuat rona merah dipipi Aileen kembali hadir.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Malam itu, Aileen dapat tidur dengan nyenyak. Meskipun hanya sebentar, rasa lelah itu tidak menampakan batang hidungnya, hanya kebahagiaan yang menemani hari-harinya saat ini. Kehadiran Kei memang sebuah anugrah yang dipersiapkan Tuhan baginya. Beberapa saat kemudian, notifikasi masuk pada ponsel Aileen. Tertera nama Kei disana, membuat gadis itu segera beranjak dari tempat tidur dan membalas pesan tersebut dengan senyuman di wajahnya.
Kei
Apa tidurmu nyenyak?
^^^Aileen^^^
^^^Ya, bagaimana denganmu?^^^
Kei
Kau bisa menebaknya saat membukakan pintu.
Aileen terkejut mendengar bunyi bel apartemennya. Ia segera merapikan tampilan dan mengenakan lip balm merah agar wajahnya tidak terlalu pucat. Setelah itu, ia membukakan pintu. Namun bukan Kei yang ia temui disana, namun seorang penjaga apartemen yang memberikannya sandwich, beserta dengan salad buah dan susu.
Kei
Kau sudah menerimanya?
^^^Aileen^^^
^^^Iya. Terima kasih :)^^^
^^^Apa kau menyiapkan ini sendiri?^^^
Kei
Jika aku melakukannya, bukankah akan meracunimu?
^^^Aileen^^^
^^^><^^^
^^^Aku nggak mau nyicipin masakan kamu lagi.^^^
^^^Sekali aja udah cukup ko!^^^
^^^Serius.^^^
Kei
Masakan kita!
Bahkan dia masih dibuli sampai saat ini.
^^^Aileen^^^
^^^Maafkan aku, makanan.^^^
Kei
Mau ikut aku ke suatu tempat lagi?
^^^Aileen^^^
^^^Kemana?^^^
Kei
Kau akan tau.
Pada akhirnya, Aileen menyetujui untuk pergi bersama Kei ke suatu tempat, yang ia ketahui saat ini, tempat itu adalah pelabuhan.
"Anginnya besar banget!", ucap Aileen
"Apa kau lelah?", ucap Taehyung
"Apa?! Nggak kedengeran, anginnya kencang!"
"Duduk disini, jangan berpindah satu inci pun."
Aileen duduk di tempat yang Kei tunjukan, sementara Kei berjalan mundur tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu.
"Aileen Ramesha!! Aku tau kau tidak bisa mendengarku! Aku hanya ingin mengatakan Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri!
Aku takut kau akan menjauh, itu alasanku tidak mengatakannya langsung!
Aku takut kau membenciku!
Tapi setidaknya aku sudah mengatakannya sekarang di hadapanmu
AKU MENCINTAIMU!" Teriak Kei, kemudian ia mengatur nafasnya.
"Apa yang kau katakan?!", teriak Rachel.
Kei segera berlari menghampiri Aileen dan berlutut di hadapannya.
"Bukan apa-apa, apa kau lelah?"
Aileen menggeleng.
"Ikuti aku, ada tempat yang bagus disini."
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Benar, tempat itu indah. Cafe dengan arsitektur klasik dan nilai seni yang tinggi. Aileen benar-benar kembali menyukai setiap tempat yang ditunjukan oleh lelaki itu.
Karena merasa gerah, Aileen mengikat rambutnya, beberapa orang pria memandangi gadis itu. Dengan sigap, Kei segera menghalangi pandangan pria-pria tersebut dengan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Jangan mengikat rambut disembarang tempat."
"Kenapa?"
Kei tidak menjawabnya dan duduk setelah pria itu pergi. Aileen masih berdiri dan memperhatikan payung di sampingnya yang unik yaitu berlukiskan langit. Seketika ia mengingat pemotretan yang pernah ia lakukan saat sekolah dasar. Ia menceritakannya pada Kei sambil memperagakannya.
"Kau tau tidak?"
"Apa?"
"Dulu, waktu aku kecil, aku pernah ditawari menjadi model majalah anak. Saat itu, keluargaku yang antusias menerima tawaran itu.
Aku mengenakan payung seperti ini, terus aku membuka mulut seperti ini, dan mereka (para staf) menyemprotkan tinta yang pahit", ucap Aileen sambil memperagakannya.
Kei tertawa melihat Aileen yang bertingkah lucu tanpa usaha lebih.
"Seperti apa?", tanya Kei ingin melihat ekspresi Aileen lagi.
Aileen memperagakannya lagi, dengan payung yang ia genggam dan mulut yang menganga, kemudian ia melanjutkan ceritanya.
"Setelah tinta itu mengenai mulutku, aku benar-benar ingin menangis. Tapi syukurlah itu memang saatnya aku menangis. Tapi aku benar-benar tidak bisa melupakan itu"
"Benarkah?"
Aileen mengangguk yakin.
"Kemarilah, duduk disampingku"
Kei mencubit gemas pipi gadis itu, sebelum makanan yang mereka pesan sampai.
"Aish"
"Maaf."