
Mimpi, sebuah kata yang sering didengar manusia, bahkan ketika gigi susunya belum siap menunjukan pertumbuhan. Makna kata itu seolah perlahan menjadi tabu di pikiran sebagian manusia yang telah menginjak masa dewasa. Realita kehidupan dan ekspektasi bagai sepasang kutub magnet yang saling bertahan dengan egonya, entah dipandang dari sudut mana. Namun realita memang tidak semanis ekspektasi.
MIMPI, apa yang diharapkan dari hal itu?
Seorang gadis yang kehilangan mimpi berusaha tetap bertahan untuk hidup dengan berbagai rintangan yang silih berdatangan. Dia, Aileen Ramesha, gadis berparas cantik, pemilik hati berlian.
Hidup Aileen bagai sebutir biji yang dorman, masih hidup dan berusaha mencari tempat yang sesuai untuk tumbuh. Namun “waktu” tidak mengizinkannya mencari tempat yang sesuai terlebih dahulu untuk tumbuh. Berbagai ujian, tekanan, dan air mata menemani dengan harap perlahan merubah cara pandangnya akan kehidupan dan membiarkannya tumbuh menjadi tanaman cantik yang tersenyum tiap kali terkena cahaya matahari. Tidak apa jika tidak berbunga atau berbuah sehingga dikagumi orang dalam waktu relatif singkat, namun ia berharap dapat perlahan tumbuh secara konsisten menjadi tempat berteduh dengan ayunan kayu di cabang batangnya yang telah tumbuh kuat dan kokoh.
Seperti pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya pula. Aileen tidak mengetahui seberapa jauh ia telah bertumbuh, namun berbagai rintangan memaksanya memilih dan mengambil setiap tanggung jawab yang harus ia selesaikan. Tanggung jawab itu layaknya sebuah misi kehidupan, dimana jika ia berhasil, maka ia akan mendapatkan hadiah dari misi tersebut, namun jika gagal, ia menanggung konsekuensi dengan pengalaman dan pembelajaran yang mengajaknya berpikir mengenai strategi baru.
Gadis itu menatap langit gelap berhiaskan ribuan bintang dari kaca kamarnya. Setidaknya itulah cara satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk menenangkan hatinya. Hitam dan putih seakan tetap setia menemani hari-harinya setelah warna-warni yang indah melebihi pelangi sirna dalam seketika. Terkadang hidup ini lucu, sedetik tertawa, sedetik kemudian bersedih. Sebut saja dipermainkan oleh waktu yang terus berjalan, tidak berhenti, walaupun keluhan terus menjadi. Sederhana saja, ia hanya berusaha menunjukan performanya. Jika diperhatikan, ia terus mengukir kemajuan meskipun hanya sedetik, namun usahanya perlahan menyuratkan peristiwa atau keajaiban.
Gadis itu tersenyum tipis, dan menghela nafas dalam. Kejadian itu sudah lama terjadi, ia tidak ingin menjadi seorang pengecut yang terus menerus menangis meratapi nasibnya. Air mata yang berhasil tertahan, ia telan dengan kasar.
Dari jauh, terdengar bunyi langkah kaki yang semakin mendekat. Gadis itu segera beranjak ke tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut. Seorang wanita dengan jas putih yang masih ia kenakan membuka pintu kamar Aileen dan mendekat pada si gadis dengan mata yang terlihat sembab, bahkan ketika sedang memejamkan mata.
“Selamat ulang tahun,” bisik lembut wanita yang ia kenal sebagai tante Nia.
Hati gadis itu melemah, tutur kata lembut yang jarang kali terdengar tepat masuk ke dalam telinga dan perlahan menyentuh sanubarinya. Aileen ingin sekali memeluk wanita yang kini berada disampingnya itu, namun rasa gengsi tetap menguasai diri gadis itu.
Nia segera melangkahkan kakinya keluar kamar setelah mengusap lembut ubun-ubun keponakan satu-satunya itu. Sehelai kanvas berlukiskan ketenangan malam yang indah karya Aileen mencuri atensinya saat ini. Sepucuk kertas dengan tulisan turut menemani sapa hangat lukisan tersebut.
Malam yang indah, ia terdiam sama sepertiku. Gelap, hanya berbekal pantulan cahaya matahari dari bulan dan bintang, tersenyum layaknya seorang yang bahagia dengan kesunyian di dalamnya. Terima kasih telah menciptakan malam yang indah, setidaknya itulah yang mampu menghibur jiwa yang lelah. Walaupun benalu masih menancap, keajaiban itu akan segera datang. Aku akan selalu percaya itu.
Seiring dengan langkah Tante Nia yang semakin jauh, kesadaran Aileen pun perlahan-lahan hilang memasuki alam bawah sadar. Hembusan nafas terdengar berat dengan raga yang terus mencoba untuk terbangun. Mimpi itu kembali mengulang memori menyakitkan yang berhasil mengubah hidupnya dalam seketika.
"Telah terjadi kecelakaan pesawat pribadi milik salah satu pengusaha tersukses di dunia. Belum diketahui apa yang menyebabkan..."
Seorang gadis terduduk lesu di lantai. Remote TV yang semula ia genggam terlepas karena tubuhnya yang terasa semakin lemas, bahkan gemetar. Gadis itu menggeleng kuat, meyakinkan dirinya bahwa berita itu tidak benar. Ia menangis dalam diam dengan tatapan kosong ke arah TV yang menayangkan video amatir para warga yang mengumpulkan puing-puing pesawat di pesisir pantai. Ia menyadari betul bahwa pesawat itu mengantarkan kedua orangtuanya pulang. Tidak ada satupun kata yang berhasil gadis itu ucapkan, ia hanya bisa merasakan sakit dan sesak dalam dadanya. Kekhawatiran itu semakin menjadi, ia menghela nafasnya yang sesak Senyuman tulus dua orang paling berharga di hidupnya beserta kepingan memori yang singgah turut andil dalam menguji ketahanan gadis itu untuk menahan rasa takut kehilangan dan derasnya air mata.
Pintu ruang keluarga terbuka dan perlahan menghancurkan lamunan Aileen. Seorang wanita berbaju serba hitam dengan perasaan yang tidak jauh berbeda dari gadis itu berlari untuk memeluk Aileen. Tangan mungil gadis itu melemah dan tangisan pun akhirnya pecah menyadari ketakutan yang ia rasakan benar-benar terjadi. Isakan terdengar begitu menyakitkan membuat siapa saja turut merasakan kesedihan mendalam. Gadis itu hanya berharap peristiwa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi, dan sebentar lagi ia akan terbangun dengan senyuman kedua orang tua yang menyambutnya damai dan memecah semua rasa takut.
Kapan ia akan terbangun?
Rasanya berat dan menyakitkan untuk menyadari bahwa kehidupan nyata itu bukan kehidupan alam bawah sadar yang belum kunjung selesai. Wanita itu menghapus air matanya dan segera menatap lekat pada si gadis kecil setelah menguatkan perasaannya sendiri di hadapan keponakan satu-satunya itu.
"Tenanglah Aileen, tante mohon. Tante disini."
Aileen seketika membuka matanya, "Gak!!", gadis itu mengatur nafas gusar.
Pusing seketika menghampiri, ia pun memejamkan mata sambil tetap mengatur nafasnya. Mimpi itu selalu datang berulang kali seperti kaset rusak. Mimpi yang sangat ia benci, datang sehari sebelum kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya, seakan pertanda yang seharusnya bisa dicegah, namun ia tak bisa mengartikannya dengan cepat, dan pada akhirnya gagal. Rasa sesal itu tetap ada dalam hidupnya dan tidak kunjung pergi.
Warna dunia yang beragam seketika berubah menjadi hitam dan putih saja, tepat sekali menggambarkan kehidupannya saat ini. Semua kebahagiaan seolah lenyap dan hanya tersisa dua perasaan, sedih dan hampa di antara abu-abu, mempertanyakan kapan semuanya akan berakhir.
Lelah, kalau boleh jujur, itulah yang dirasakan Aileen saat ini. Gadis itu harus tetap menerima kenyataan yang sama sekali tidak ia inginkan. Hanya dengan memejamkan mata dan bermain dengan imajinasilah yang mampu sedikitnya mengobati luka tak kasat mata yang ia rasakan. Setidaknya itulah cara satu-satunya yang membuatnya kembali melihat kedua orangtuanya meski air mata seringkali bersikukuh menemani.
Katakanlah tertidur adalah aktivitas yang paling disenangi Aileen. Namun buah tidur, merupakan suatu hal diluar kendalinya. Jika gadis itu boleh mengatur sendiri mimpi apa yang tampil di setiap tidur, ia mau membayar berapapun biayanya. Rasanya sakit, jika di dalam mimpinya pun ia tak bisa tenang.
Seperti biasa, menghela nafas dalam adalah cara gadis itu menghilangkan rasa sesak di dada. Ia tidak ingin ada lagi air mata kesedihan yang jatuh dari kedua bola matanya. Hidup harus terus berjalan, kedua orang tuanya pasti tidak ingin melihatnya seperti ini.
Langit malam yang pekat pun pasti akan ditemani rembulan dan gemerlap bintang yang senantiasa menyinari kegelapannya. Aileen yakin hidupnya pun begitu, suatu saat nanti pasti akan ada cahaya di kegelapan hidupnya yang bisa membuat ia kembali bahagia. Perlahan gadis itu tersenyum dengan mata yang masih senantiasa menutup, meresapi kehadiran kedua orang tuanya melalui memori yang tidak akan pernah ia lupakan. Kali ini tidak ada lagi kata lelah, ia harus menata kembali hidupnya, menjadi Aileen yang baru.
Kehadiran seseorang di kamar Aileen sama sekali tidak membuat gadis itu membuka matanya.
“Aileen?”, ucapnya dengan khawatir.
Aileen merasa otaknya tidak beres, ia yakin sudah keluar dari mimpi buruknya tapi suara khawatir Tante Nia masih terngiang di kedua telinganya. Gadis itu membulatkan mata dan mengerutkan kening saat menyadari tante Nia sedang meletakan telapak tangan pada keningnya.
“Suhu badanmu normal.”
Aileen meruncingkan tatapannya dan menunjukan ekspresi heran.
“Kenapa?,” ucap tante Nia, dingin.
Aileen hanya mengedikkan bahu untuk merespon keluarga dekat satu-satunya itu. Seketika ponsel Aileen berdering, tertera nama Auris disana. Gadis itu segera mengangkat telepon setelah bertemu pandang dengan tante Nia dan mengisyaratkan wanita itu untuk pergi. Tante Nia mengangkat alisnya dan segera berlalu keluar kamar, tanpa sepatah kata pun.
Atensi gadis itu beralih ke ponsel yang belum lama ini berdering. Suara familiar sahabatnya menggelegar karena tombol pengeras suara yang tidak sengaja ia tekan. Sontak, gadis itu terkejut dengan tindakannya sendiri.
“Leen? Halo?!” suara itu kembali terdengar jelas dari sambungan telepon, membuat Aileen segera menjauhkan ponselnya. Tidak tanggung-tanggung, gadis itu meletakkan ponsel di meja belajar yang berada sekitar 5 meter dari posisinya saat ini.
“Halo, kenapa!?” teriak Aileen mencoba menyamai volume suara Auris.
Disisi lain, Auris menatap ponselnya heran. Ia dengan jelas menyadari sikap unik dari sahabatnya itu, namun mengira-ngira bukan pilihan yang tepat saat ini. Ia menggelengkan kepalanya; meruntuhkan lamunan setelah mendengar kembali teriakan Aileen.
“Le-leen?”
“Iya! Kenapa?!”
“Kamu udah siap kan?”
“Siap apa?!”
“Hari pertama sekolah, jangan bilang kamu lupa?!”
“Huh!?”
Tanpa berpikir panjang, Aileen meninggalkan ponselnya dan membiarkan sambungan telepon tetap menyala. Gadis itu meraih handuk dan segera bergegas ke kamar mandi. Namun, ia segera kembali dan membawa ponselnya setelah menyadari sambungan telepon belum ia matikan.
“Halo, Ris!?”
“Ya?”
“Aku matiin ya, mandi dulu!”
Kehebohan terpancar jelas dari pagi Aileen saat ini. Tidak ada orang yang membantunya menyiapkan pakaian atau buku-buku pelajaran. Semuanya ia siapkan sendiri secara mendadak. Meja makan mewah di rumahnya dengan jejeran makanan tampak tidak berarti bagi gadis itu. Sekilas ia melihat mobil tante Nia yang melaju pergi, sontak Aileen melipatkan kedua tangan dan memutar bola matanya dengan sikat gigi yang masih tetap setia di mulutnya.
“Apakah seorang dokter spesialis bedah sesibuk itu?! Bisakah dia memberiku sedikit waktunya untuk sarapan bersama?!” Aileen melangkahkan kaki kasar ke meja makan sambil terus menggerutu.
Sambil mengoleskan roti dengan selai, gadis itu berpikir tentang pengalaman pertamanya di SMA. Senyum bangga terpancar dari wajah cantiknya. Aileen bersikeras ingin menunjukan dirinya yang baru, seorang gadis dengan kharisma dan wibawa yang terpancar dan tidak akan pernah sirna. Bukan tanpa alasan, saat duduk di bangku SMP, ia terlalu polos dan mengira semua orang tulus dan berhati baik, semua yang ingin menjadi temannya selalu ia disambut dengan pelukan hangat dan genggaman tangan yang erat.
Pada saat itu temannya lebih dari hitungan jari, Aileen yang lugu tidak menyangka bahwa dirinya akan diperalat oleh mereka yang mengaku menjadi temannya. Setiap pergi bermain yang selalu mengeluarkan uang adalah Aileen, apapun yang teman-temannya mau pasti ia belikan. Tidak apa-apa, pikir Aileen, yang penting mereka mau terus berada di sisinya dan menjadi temannya.
Keadaan berjalan dengan baik hingga pada saat gadis itu terpuruk karena kehilangan kedua orang tuanya, semua ‘teman-teman’ yang ia anggap tulus mulai berpaling darinya. Aileen tidak paham, semuanya sudah ia berikan pada mereka, namun disaat ia sedang dalam titik terendahnya tak ada lagi yang mau menemaninya.
Kalau ibu dan ayahnya meninggal, dia tidak punya uang lagi dong untuk traktir kita?
Aku tidak mau punya teman yatim piatu, nanti aku ketularan.
Hey lihat, Aileen mendekat. Ayo kita pergi!
Kalimat-kalimat itu sempat gadis itu dengan dari teman, ya mungkin sekarang bisa dibilang mantan teman yang hanya memanfaatkan uangnya. Hanya Auris lah satu-satunya teman yang tetap menemani dikala itu. Mulai dari situ Aileen tak lagi bisa menerima orang baru masuk ke dalam hidupnya. Gadis itu sudah merasa cukup, rasa sakit hati yang dideritanya karena pengkhianatan tidak ingin ia ulangi lagi. Kali ini hanya ada Auris yang bisa dipercaya untuk masuk ke dalam hidupnya.
Lamunan Aileen teruntuhkan dengan suara bel dan ketukan pintu yang cukup kencang. Beberapa detik kemudian, penjaga rumah membukakan pintu dan membiarkan Auris berlari menarik tangan Aileen untuk segera bergegas pergi ke sekolah.
“Sebentar,” ucap Aileen menghentikan langkah keduanya.
“Aish, nggak ada waktu lagi Leen. Pake mobil aku aja.”
Auris hendak menarik tangan Aileen kembali sebelum gadis itu melepaskan tangannya dan merogoh tas ransel yang ia kenakan dan mengeluarkan sepasang kacamata hitam.
“Kau sedang sakit mata?”
Senyum Aileen merekah saat memakai kacamata hitam tersebut di atas kepalanya.
“Ini yang disebut berjalan dengan gaya,” ucap Aileen sambil mengedipkan sebelah matanya dan berjalan penuh percaya diri sambil memainkan kunci mobilnya.
Auris hanya bisa melongo dan menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya mengikuti langkah kaki sahabatnya itu menuju mobil sedan merah yang terparkir pada halaman rumah yang luas yang telah disiapkan oleh anak buah tante Nia.
Aileen melajukan mobil dengan kecepatan sedang sebelum lampu merah menghentikan laju kendaraannya. Gadis itu kembali membuka laci dashboard mobil dan menyerahkan kacamata hitam lain pada Auris.
“Pake ini, kita harus membuat citra baru di sekolah baru,” ucap Aileen dengan gerakan tangan dan penuh penegasan.
“Huh? Jangan gila deh Leen.”
“Kemarin ulang tahun aku, kamu lupa?”
“Terus?”
Aileen menopang dagunya dan menatap dalam sahabatnya tersebut.
“Kenapa?!” tanya Auris, heran.
“Kamu janji mau kasih hadiah apapun yang aku mau.”
Lampu hijau dan suara klakson kendaraan menghentikan perbincangan mereka. Auris hanya bisa menarik nafas dalam-dalam mengiyakan permintaan Aileen. Gadis itu sadar bahwa Aileen tidak pernah meminta. Permintaan Aileen kali ini adalah pertama kali, Auris tidak ingin mengecewakannya. Dengan berat hati, ia mengenakan kacamata pemberian Aileen.