HIAMOE

HIAMOE
HE HAS GONE



Suasana ruangan kelas tampak menegangkan dengan suara ketukan mouse komputer dan gerusan pensil yang digunakan murid untuk mengotret soal demi mendapatkan jawaban. Waktu berlalu bagaikan cahaya yang melintas, meninggalkan gugup dan keringat dingin yang jelas terlihat sebagai respon fisik.


Berbeda dengan murid lain yang berkutat dengan lembar kotretan, Liam dengan santai memainkan koding yang mengarahkannya pada semua jawaban benar. Dengan hati-hati, ia mengisi semua jawabannya sesuai dengan kunci jawaban yang telah didapatkan. 


Waktu terus berlalu, Liam melihat Aileen yang berada di sampingnya yang masih berkutat dengan jawaban, tidak jarang gadis itu melirihkan soal dan mengeluh, membuat lelaki disampingnya terkekeh gemas. Melihat semua itu, Liam menyadari bahwa Aileen kesusahan. Ia melihat komputer gadis itu, dan benar saja, mayoritas soal belum dijawab, ditambah lagi, soal yang telah dijawab adalah salah. 


Liam memutar otak dengan menyalin kode PC Aileen dan melakukan hack agar gadis itu mendapatkan nilai yang baik. Aileen menyadari bahwa Liam melihat ke arahnya, sontak gadis itu menutup layar komputer dan menatap tajam Liam. Lelaki itu tidak sadar alasan dibalik semua tindakan tersebut, tapi ia melakukannya dengan tulus. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen tertunduk lesu ketika kerumunan murid memenuhi papan nilai. Ia menghela nafas untuk mempersiapkan diri menerima kenyataan yang akan dihadapi. Tiba-tiba, atensi kerumunan murid tersebut tertuju pada Aileen membuat gadis itu semakin mengurungkan niat untuk melihat papan nilai. Gadis yang ia kenal sebagai sahabat menatap tajam pada Aileen seolah-olah mengatakan bahwa ia akan mati sebentar lagi.


Aileen menghiraukan tatapan Auris dan melihat papan nilai, ia terkejut saat mendapati namanya ada pada peringkat kedua setelah Liam. Gadis itu tidak bisa berkata-kata, ia mengarahkan wajah polosnya dengan mulut menganga pada papan bertuliskan namanya yang diapit oleh Liam dan Kei dan mencoba mencerna kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan. 


Tiba-tiba tubuh mungil seseorang yang akrab disapa Ara memeluk erat Aileen untuk mengucapkan selamat. Meskipun namanya berada pada peringkat kedua terakhir sebelum Evin, Ara cukup senang karena Aileen berhasil mendapatkan nilai yang sangat baik. 


“Ara, apakah ini mimpi?”


“Aish, kau ini bicara apa? tentu saja bukan”


Aileen tersenyum lebar dan mengibaskan rambutnya, “Akhirnya, aku berhasil. Kau lihat nama orang ini,” ucap Aileen sambil menunjuk nama Liam Malikson.


“Liam?”


Aileen mengangguk, “Dia mencontek ku. Aish, sekarang aku merasakan bagaimana orang pintar kesal saat orang yang mencontek memiliki nilai lebih tinggi”


“Woa, keterlaluan sekali. Apa itu benar?”


Aileen mengangguk yakin dan memangku dagu dengan satu tangannya.


“Ra?”


“Iya?”


“Apa aku harus mengenakan kacamata?”


“Apa matamu bermasalah?”


“Tidak, hanya saja, orang pintar biasanya menggunakan kacamata.”


“Wah, kau benar. Kau akan tetap cantik mengenakan kacamata.”


“Benarkah?” Ara mengangguk membayangkan wajah Aileen bagaimanapun akan tetap cantik. 


Saat keduanya sedang asyik berbincang untuk membeli kacamata seorang siswi menghampiri keduanya, lebih tepatnya untuk menyapa Aileen.


“Apa papan nilai ini membuktikan kau benar-benar pintar?”


“Richelle!”


“Selamat.”


Aileen tersenyum bangga dan mengucapkan terima kasih pada gadis itu. Ia juga mengenalkan Richelle pada Ara. Ketiganya kini sibuk berbincang di belakang kerumunan murid-murid yang melihat papan nilai. 


Kei yang baru saja selesai melihat papan nilai berjalan mendekati tiga gadis yang terlihat asik itu. “Sepertinya kau harus berterima kasih padaku,” ucap Kei yang membuat Aileen berbalik dan menatap lelaki itu dengan senyuman.


“Baiklah, terima kasih sudah mengajariku!”


Kei tersenyum tipis menanggapi ucapan terima kasih Aileen yang terdengar menggemaskan. Namun atensinya kini tertuju pada gadis lain yang tidak asing baginya.


“Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Richelle menunjuk dirinya, Kei mengiyakan. “Mungkin ya.., di sekolah,” jawab gadis itu dengan nada suara ragu. Aileen dan Ara bergantian menatap Kei dan Richelle.


“Tidak, tidak. Di tempat lain.”


Kei masih menatap Richelle meski kini gadis itu kembali asik dengan Ara dan Aileen. Aileen melirik Kei yang tak melepaskan pandangannya dari Richelle, tak dipungkiri bahwa dirinya menaruh sedikit cemburu pada gadis itu.


Apa ini tipe cewe yang selama ini Kei inginkan? Butuh berapa lama aku untuk bisa menandinginya?  


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Ujian praktek olahraga dimulai dengan olahraga berenang. Aileen dan Ara telah menyiapkan diri dengan baju renang tertutup, namun kacamata Photocromic yang mereka kenakan di tengah-tengah terik mentari yang terbatasi skylight atap memancing perhatian banyak orang, terlebih pak Bram sebagai guru olahraga.


Aileen dan Ara berjalan bak seorang model di pinggir kolam renang bertuliskan 2 meter. 


“Aileen, Ara, apa mata kalian bermasalah sekarang?”


Kedua gadis tersebut menggeleng, “Lalu apa alasan kalian mengenakan kacamata?”


“Mm, jadi pak, kita kan ga bisa berenang-”


“Jadi kalian mau berjemur disini?” sinis Auris pada kedua gadis tersebut diikuti dengan suara tawa dari murid-murid lainnya.


Ara hampir meluncurkan tangannya pada pipi Auris sebelum Aileen menahan tangan gadis itu. 


“Stt- sudah, meskipun belum bisa berenang, kalian tetap mengikuti praktek di kolam 1 meter, ganti kacamata kalian dengan kacamata renang,” ucap Pak Bram sambil berlalu menginstruksikan murid lain untuk menempati posisinya. 


“Freak,” desis Auris yang sampai di pendengaran Aileen dan Ara.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen berdiri di sebelah hand railing kolam renang ketika menunggu gilirannya untuk di panggil. 


“Semangat Ara!” teriaknya pada Ara yang tengah memperagakan gerakan renang sebagai bagian dari ujian praktek. Mata gadis itu terfokus pada Ara, berusaha mempelajari setiap detail gerakan yang akan ia lakukan nanti. 


Auris yang telah menyelesaikan prakteknya menatap sinis Aileen. Wanita itu melewati Aileen dan sengaja menarik kalung yang gadis itu kenakan hingga copot dan jatuh ke dasar kolam renang, saat ia naik keluar dari kolam renang. 


“Maaf,” ucap Auris dengan ekspresi bersalah yang dibuat-buat.


Auris mengetahui bahwa kalung yang tidak bisa lepas dari leher Aileen merupakan hadiah terakhir dari kedua orang tua gadis itu sebelum mereka pergi meninggalkan Aileen untuk selama-lamanya. Auris hanya ingin mengetahui reaksi Aileen ketika kehilangan kalung tersebut.


“Ah ya, bukan masalah,” Aileen tersenyum tanpa menyadari kalung yang ia kenakan sudah terlepas dari lehernya.


Gadis dengan tampang yang tidak bersalah itu berjalan menjauhi Aileen dengan senyuman liciknya. 


“Ailen Ramesha.”


Aileen menghela nafas dan menunjukan ekspresi takut ketika namanya dipanggil, ia berusaha mencari alibi untuk menghindari ujian praktek, namun itu tidak mempan sama sekali.


“Semangat Aileen!” teriak Ara memenuhi setiap sudut kolam renang indoor. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Kei segera melajukan mobilnya ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari asisten sang ayah. Ia membunyikan klakson dengan kencang melihat keadaan jalan macet total akibat pohon besar yang tumbang.


“Brengsek!” umpatnya. 


Lelaki itu keluar dari mobil menyadari kemacetan tidak akan selesai dengan cepat. Ia berlari menerjang kemacetan dan riuh petir yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan besar. Lelaki itu tidak memperdulikan semuanya dan terus berlari dengan kencang menuju rumah sakit tempat ayahnya berada. 


Hujan mengisyaratkannya singgah sebentar untuk berteduh, namun lelaki itu keras, ia terus berlari tanpa memperdulikan apapun lagi. Beberapa jalan yang ditutup semakin menyulitkannya untuk menaiki angkutan umum.


Sesampainya di rumah sakit dengan kondisi basah kuyup dan nafas yang terengah-engah, ia bertemu dengan asisten sang Ayah.


“Maaf.”


Satu kata, tapi sangat menusuk bagi seorang anak yang kehilangan orang tuanya untuk kedua kali. Kei menjatuhkan badannya dan membiarkan isakan tangis terdengar dengan jelas menandakan kepedihan yang ia rasakan. Suara isakan itu semakin terdengar menyakitkan dan semua kata seolah tertahan di tenggorokannya. Lelaki itu meremas dadanya dengan kuat dan beranjak untuk menemui sang ayah yang sedang terbujur kaku di dalam peti mati.


Air mata terus mengalir deras melihat kondisi orang yang paling berharga di hidupnya. Kini, Kei benar-benar sendiri, tidak ada harapan lagi untuk menemui sang ayah.