HIAMOE

HIAMOE
PUREST HEART



Aileen menarik perhatian banyak orang dengan parasnya yang cantik. Ia menuai banyak pujian dari guru maupun murid lain hingga dijuluki princess sekolah. Berbagai cara dilakukan oleh beberapa murid demi mendekati gadis itu, mulai dari menawarinya kegiatan ekstrakurikuler, organisasi, sampai menawarkan main dan belajar bersama. Semua tawaran itu ditolak Aileen secara halus. 


Auris merasa terusik oleh hal tersebut, pasalnya banyak yang mendekatinya hanya untuk dekat dengan Aileen. Pikirannya geram, kejadian di masa SMP terulang kembali. Namun kali ini, tanpa sepengetahuan Aileen, Auris akan selalu mengatakan bahwa Aileen hanya akan berteman dengan orang yang satu level dengannya kepada orang-orang yang mendekati Aileen melalui dirinya. 


Gosip itu semakin cepat menyebar dan cenderung dilebih-lebihkan. Beberapa orang bahkan menatap sinis Aileen sekarang. Lingkup pertemanan Aileen yang hanya dekat dengan Ara, Auris, dan Kei yang notabenenya adalah murid terkaya di sekolah semakin memperkuat argumen Auris.


“Lihat kan, dia cuma mau temenan dan akrab sama yang selevel sama dia.”


“Iya, sombong banget.”


Ara melirik sinis siswi yang membicarakan Aileen. Ia merangkul lengan Aileen dan Auris yang berada disamping kanan dan kirinya, "Ada apa sih sama orang-orang?" sewot Ara.


Auris hanya mengedikkan bahu tidak tertarik dengan percakapan tersebut. Ia melepas rangkulan tangan Ara dan berjalan ke arah siswi lain yang sedang berkumpul dan meninggalkan keduanya.


Aileen sedikit terkejut melihat sikap sahabatnya. Namun ia tidak berbicara banyak dan tetap bersama Ara yang juga menatap Auris bingung.


"Auris kenapa?" tanya Ara


"Aku mau ke toilet," ucap Aileen tanpa menjawab pertanyaan Ara.


Tidak ingin membiarkan Aileen sendirian, Ara memilih untuk ikut dengan gadis itu ke toilet. Namun sebelum keduanya sampai, seseorang menabrak bahu Aileen hingga tubuhnya sedikit terdorong ke belakang.


"Ups, maaf ya," ucap seseorang yang menabrak itu. Aileen menatap sekilas wajah orang yang menabraknya. Tidak ingin memperpanjang masalah, ia memilih untuk melanjutkan langkahnya ke toilet.


"Bukankah dia memang sombong?"


"Jika dilihat dari dekat ia tidak secantik itu."


Ara melepaskan rangkulan tangannya dan berbalik menatap beberapa siswi yang sibuk membicarakan Aileen. Gadis dengan rambut pendek itu berjalan menghampiri siswi yang menurutnya menyebalkan. 


"Apa? Apa? Coba ulangi?"


Aileen menatap punggung Ara. Dalam hati ia bingung dengan Ara yang seakan menantang siswi yang bahkan Aileen sendiri pun tidak kenal.


"Si Aileen itu biasa aja. Tau?".


"Apa? Biasa aja? Kamu tau gak kalau kamu itu jelek?" balas Ara.


Siswi itu tidak terima dengan perkataan Ara. Tiba-tiba saja ia menarik rambut Ara dengan kuat. Hingga terjadi aksi jambak-jambakan di antara keduanya. Aileen yang terkejut segera menghampiri dan berusaha melerai keduanya, namun ia terpancing emosi dan turut serta dalam perkelahian tersebut. 


Perkelahian tak kunjung berhenti sampai murid lain yang melihat kejadian tersebut berdatangan dan menonton. Tidak ada yang berusaha melerai, bahkan beberapa murid mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam aksi saling jambak antara geng ketua OSIS dan adik kelas.


Pak Bram yang berhasil menyeret tiga anak muridnya harus dibuat terkejut melihat keributan yang terjadi di luar. Ia meninggalkan Kei, Liam, dan Evin untuk berlari mendekat ke arah keributan.


"Berhenti!!" teriak pak Bram untuk menghentikan keributan yang terjadi. 


“Dasar singa janda!” Teriak Aileen spontan melebihi volume suara pak Bram, setelah melihat rambut si ketua OSIS yang terlihat sudah lama diwarnai coklat-jingga tampak berantakan. 


Kehadiran pak Bram, terlebih perkataan Aileen sontak membuat riuh kerumunan menjadi terdiam seketika. Ara yang masih mematung pun menarik kaku tangan Aileen agar berhenti bertengkar. Ia menatap Auris yang berada di antara kerumunan murid, Aileen berharap sahabatnya itu akan menghampiri dirinya dan Ara. Namun nyatanya Auris berbalik dan meninggalkan tempat itu, tanpa menatap dirinya sama sekali. 


Pak Bram geram dengan tingkah murid-murid yang menghancurkan suasana hatinya di pagi hari dengan membuat masalah. Kedelapan murid tersebut akhirnya dihukum untuk mengambil alih tugas panitia dalam menyiapkan kebutuhan lomba.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Rombongan sekolah tiba di tepi pantai. Murid-murid yang telah diberi arahan segera berpencar untuk menikmati suasana pantai. Namun berbeda dengan delapan murid lain yang tengah sibuk menyiapkan peralatan lomba.


"Ck, yang benar saja aku disuruh melakukan ini."


Sang ketua osis tak henti mengomel saat menyusun beberapa ember untuk kebutuhan lomba. Tak jarang gadis itu terlihat menendang pasir karena kesal.


"Makanya jadi ketua itu kerja juga, jangan bisanya ngomel-ngomel," celetuk Evin.


Akibat ucapannya sebuah ember menghantam bahu Evin dan membuat lelaki itu menjerit kesakitan. "Argh! Sakit tau, kak!" Ia segera berlindung dibalik tubuh Liam.


Liam mendorong Evin hingga terjatuh ke pasir. Matanya tertuju pada interaksi Aileen dan Kei yang terlihat dekat karena meributkan suatu hal. Gadis itu tampak menjauh dari Kei yang sedang memasang net voli. Ia mengambil beberapa bakiak dengan tangan mungilnya. Melihat itu, Liam tersenyum dan segera berlari untuk mengambil alih benda itu dari Aileen.


"Akan lebih cepat jika aku yang melakukannya," ucapnya sambil membawa beberapa bakiak lain dan menatap Aileen dengan wajah tengilnya. 


"Apa maksudmu? Akan ku buktikan ucapanmu itu sama sekali tidak benar," bentak Aileen.


Liam melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan gadis di sampingnya. Hal itu membuat Aileen geram dan mengambil lebih banyak bakiak hingga menutupi sebagian badannya.


Merasa kelelahan, gadis itu menjatuhkan bakiak tersebut di tempat tujuannya. Namun tumpukan kayu itu tepat mengenai kaki Liam dan berhasil membuat lelaki itu merintih kesakitan.


"Ow, maaf,"ucap Aileen sambil menepukan sisa debu yang ada di tangannya tepat di depan wajah Liam dan segera pergi.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Seluruh murid mengikuti lomba. Mulai dari membangun istana pasir, tarik tambang, dan banyak lainnya.


Tiba saatnya kelompok Evin, Kei, dan Liam mengikuti lomba bakiak. Sorakan semangat dari para siswi terdengar sangat ramai, terutama untuk Kei dan Liam.


"Siapa yang menciptakan lomba seperti ini di atas pasir?!" teriak Evin frustasi. Bahkan untuk berdiri tegak pun dirinya harus mengeluarkan tenaga ekstra. Pak Bram mengabaikan pertanyaan Evin dan segera memulai lomba tersebut.


Ketika hendak melangkah, kaki ketiganya tidak seirama sehingga membuat mereka terjatuh dan saling menyalahkan.


"Cepat bangun!" ucap Evin yang tertimpa tubuh Kei dibelakangnya.


"Kanan dulu, brengsek!" maki Liam.


"Hanya kau yang melangkah menggunakan kaki itu, bodoh!" balas Kei.


Ketiganya terus saling menyalahkan sebelumnya berhasil menyamakan irama langkah mereka. Bahkan kelompok mereka berhasil menyusul kelompok lain dan menjadi pemenang.


Pak Bram meniup peluit dan membacakan skor akhir. Kei, Evin, dan Liam saling menyalahkan dan beradu argumen lagi karena memiliki nilai paling kecil. Ketiganya dihukum untuk mengambil sampah yang ada di sekitar pantai. Evin bekerja keras untuk itu, Liam yang sengaja berada di belakangnya terus memungut sampah dari keranjang Evin tanpa sepengetahuan lelaki tersebut. Merasa bosan, Liam terduduk di tepi pantai sambil menatap kedua temannya memungut sampah. Bahkan Kei mendapatkan lebih dari satu keranjang, hal itu membuat Liam menukar keranjangnya dengan keranjang Kei yang sudah terisi penuh dan tersimpan tidak jauh dari posisinya, kemudian kembali bersantai sambil mengelus kucing berkalung yang entah milik siapa.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Acara api unggun berlangsung meriah, ditambah dengan penampilan band sekolah menambah suasana menjadi semakin hangat. Aileen perlahan menutup matanya, Ara yang menyadari itu segera menyandarkan kepala gadis di sampingnya itu pada pundaknya sambil tetap mengikuti lantunan musik.


Kei yang berada di seberangnya memperhatikan Aileen. Wajahnya terlihat lebih manis, pikirnya. Liam mengikuti arah pandang lelaki di sampingnya. Menyadari lelaki itu menatap Aileen, Liam menendang Kei.


"Anggap saja itu balasan pagi tadi," ucap Liam sambil menyeruput minumannya.


Keduanya beradu argumen, disamping itu, Evin tetap menikmati musik tanpa menghiraukan perdebatan kedua temannya itu. Tiba-tiba terdengar suara peluru ditembakan beberapa kali membuat murid-murid berlari terbirit-birit mencari tempat yang aman. Seorang pria yang tidak dikenal menarik tangan Kei dengan kuat mengajaknya mengikuti rombongan.


Semua murid berkumpul pada tempat yang diinstruksikan oleh para guru. Masing-masing wali murid mulai mengabsen muridnya. Pak Bram mulai mengangkat suara saat dua anak walinya yaitu Aileen dan Liam tidak ada di tempat tersebut. 


Kei menghiraukan himbauan guru untuk tetap diam. Ia lari mencari Aileen, kepanikan dan kekhawatiran tampak jelas pada wajahnya. Ara dengan detail menjelaskan bahwa ada seseorang yang memisahkan mereka, Ia bahkan tidak bisa melihat sahabatnya setelah itu. Ara mulai panik, bahkan ia memarahi Auris yang seakan tidak peduli pada keadaan Aileen.


"Apa kau ini benar sahabatnya?" teriak Ara pada Auris.


Auris hanya terdiam, dari sekian banyak orang yang mencoba mencari tahu keberadaan Aileen, dia adalah satu-satunya orang yang lebih mengetahui bagaimana permasalahan yang dihadapi Aileen. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen memanfaatkan sisa energinya untuk terus berlari menghindari pria yang terus mengejarnya. Hari sudah malam, bahkan ia tidak bisa dengan jelas memandang jalanan. ‘Berlari dengan cepat dan jangan sampai terluka.’ Perkataan mendiang ayahnya itu terus melekat dalam benaknya. Ia terus berlari, namun ia menginjak dasar yang salah, dan terjatuh.


Aileen ingin menangis, namun ia tidak ingin tenaganya terbuang sia-sia. Ia berusaha bangkit. Tiba-tiba sebuah tangan berhasil mencengkram lengannya. Tidak hanya satu orang, ada dua orang lainnya yang berdiri di sana, menatap Aileen dengan tatapan tajam.


"Lepas!" teriak Aileen sambil berusaha melepaskan cengkraman tersebut. Tubuh gadis itu ditarik paksa agar mengikuti lelaki yang mengenakan topi hitam dan masker yang menutupi wajahnya. Gadis itu semakin ketakutan, namun ia tidak ingin menyerah dan terus memberontak sambil berteriak. Berharap seseorang akan mendengar dan menyelamatkan dirinya.


Teriakan yang ia lontarkan untuk mencari bantuan seakan sia-sia. Gadis itu semakin ketakutan, ia merasa tubuhnya benar-benar lemas. Siapapun, tolong aku, batinnya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Kei berlari di sekitar pertokoan yang sudah mulai tutup di dekat pantai. "Aileen!" teriaknya.


Kekhawatiran tampak jelas di wajah tampannya. Ia mengusap wajahnya gusar, lelaki itu mengingat bagaimana polos dan cerobohnya gadis itu. Disisi lain ia teringat ancaman tante Nia yang mengharuskan dirinya untuk selalu menjaga Aileen. Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, ia mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang sebelum segera memutuskan untuk kembali mencari Aileen.


"Aileen!" teriaknya lagi, ia berjalan sembari memperhatikan sekitar. Berharap menemukan sosok yang sedang dicarinya. Kei hendak berbalik untuk mencari di tempat lain sebelum mendengar teriakan seseorang yang tidak asing baginya.


"Lepaskan aku!" Aileen yakin lengannya pasti memar karena dicengkram kuat oleh pria asing itu. Pria itu tidak banyak bicara selama menyeretnya ke tempat sepi, dua orang di belakangnya lah yang terus menyuruhnya diam dan mengancam dirinya.


"Diamlah, atau kami akan membuangmu ke laut," bisik pria itu.


Kei menghampiri suara tersebut; bersembunyi di balik tembok untuk memastikan bahwa yang ia dengar adalah suara Aileen. Matanya melebar mendapati gadis itu sedang di tarik paksa oleh tiga pria yang menggunakan pakaian serba hitam.


Tanpa menunggu, Kei segera berlari dan menerjang salah satu dari mereka dengan tendangan tepat di punggung.


Aileen terkejut melihat tubuh salah satu pria asing itu tersungkur ke tanah. Ia melihat Kei yang tengah memukul pria asing lainnya. Melihat Kei tengah menolongnya, gadis itu berusaha dengan kuat mendorong pria bertopi yang berada disisinya. Kei bertatapan dengan pria itu dan merasa bahwa pria tersebut tidak asing baginya.


Salah satu dari tiga pria asing itu mengarahkan pisau pada Kei, namun tiba-tiba peluru mengenai kepala pria tersebut sebelum berhasil menusuk Kei. Terlihat dua orang muncul dari balik tembok dengan mengacungkan pistol ke arah para penjahat. Jelas saja, anak buah tante Nia datang di waktu yang tepat.


Lelaki itu tersimpuh lemas mengingat kejadian 11 tahun lalu. Ia menatap kosong pria di hadapannya yang terjatuh berlumuran darah dengan pisau terlepas dari tangannya. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.


Cengkraman pada tangan Aileen terlepas. Bukan karena pria asing itu kalah oleh tenaga Aileen, namun ia sengaja melepaskannya membiarkan gadis itu untuk berlari menghampiri Kei dan segera memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.


Aileen berusaha menyadarkan Kei, namun pandangan pria itu bahkan tidak berpaling sama sekali. Gadis itu mengangkat tubuh Kei sekuat tenaga dan menariknya berlari menuju sebuah tempat yang ia kenal.


“Mereka bersenjata, sebaiknya kita segera pergi.” Dua orang penjahat yang tersisa memilih untuk melarikan diri. Namun baru beberapa langkah salah seorang dari mereka terkena tembakan di bagian kaki.


Satu-satunya penjahat yang tersisa sekuat tenaga melarikan diri, ia tak menghiraukan teriakan temannya yang kesakitan saat ditangkap dan diseret paksa. “Sial!” umpatnya sembari terus berlari menghindari tembakan yang diarahkan padanya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Kedua remaja itu sampai di suatu tempat. Suara deburan ombak di malam hari seakan menerbangkan kekhawatiran mereka. Aileen duduk memeluk lutut menikmati angin malam yang menerpa wajahnya dengan Kei berada di sampingnya.


“Siapapun orang-orang yang membantu kita tadi, aku berterima kasih pada mereka,” gumam Aileen. Kei melirik Aileen melalui ekor matanya. Ia memejamkan mata untuk menenangkan diri.


Kei tentu tahu bahwa orang-orang yang menyelamatkan mereka berdua adalah orang suruhan tante Nia. Karena ialah yang mengirim pesan pada mereka untuk mencari Aileen yang menghilang. Selain itu, ia merasa bodoh karena terdiam kaku di depan Aileen akibat seorang penjahat yang tertembak.


“Apa kejadian seperti ini selalu terjadi padamu?” tanya Kei setelah merasa dirinya cukup tenang. Aileen menoleh, menatap lelaki itu dengan raut wajah bingung. “Seberapa sering kau dikejar oleh orang-orang seperti tadi?”


Aileen menggeleng lalu terdiam sejenak. Pertanyaan Kei membuatnya berpikir mengapa ia harus menjalani hidup dengan kejaran orang-orang yang bahkan ia tidak tahu apa yang diincar dari dirinya. Gadis itu memainkan jemarinya yang saling bertaut. "Semua yang ada di hidupku sudah berakhir. Kebahagiaan itu nggak akan pernah ada lagi," gumam Aileen.


Kei menatap gadis yang berada di sampingnya, ia mendengar gumaman Aileen. Ia juga bisa melihat kesedihan yang terpancar dari mata cantik itu. "Apa yang kau khawatirkan dari hidupmu?" tanya Kei.


"Tidak tumbuh kembali, padahal aku masih hidup."


"Layaknya sebuah biji yang mengalami dormansi, itu bukan akhir dari kebahagianmu."


Aileen berusaha mencerna perkataan lelaki di sampingnya. Menyadari raut wajah kebingungan dari lawan bicaranya, Kei menyentil lembut kening Aileen dan memberinya sebuah gelang dari kerang yang telah ia rangkai sedari tadi. 


Gadis itu menatap pemberian Kei dengan dengusan dan senyum tipis, tidak pernah terpikir olehnya jika lelaki di sampingnya itu bisa bersikap hangat. Kei yang melihat ekspresi wajah Aileen menjadi salah tingkah dan segera berdiri sambil mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan.


“Kita harus kembali, orang-orang pasti mencarimu.”


Aileen mengangguk dan menerima uluran tangan tersebut. Namun saat berdiri nyeri di lututnya tiba-tiba saja terasa. Melihat gadis itu meringis kesakitan, Kei berinisiatif untuk segera berjongkok di depan gadis itu.


“Cepat naik.” Kei menunduk menunggu gadis di belakangnya untuk segera naik ke punggungnya.


“Kau sedang apa? Ayo cepat!” Aileen berjalan lebih dulu meninggalkan Kei yang masih berjongkok dan menatap punggung  gadis itu dengan tatapan datar.


Memalukan, batinnya dan segera berdiri untuk menyusul Aileen.