
Gadis dengan penampilan yang menyegarkan setelah ujian praktek terduduk di pinggir tempat parkir, menunggu hujan berhenti dengan sendirinya. Gadis itu memainkan ponselnya dan mengecek pesan dari Ara.
Ara
Aku sudah sampai rumah, maaf duluan,
ibuku meminta membelikan terigu:((
^^^Aileen^^^
^^^Tidak perlu minta maaf. Setelah ^^^
^^^kuenya jadi, jangan lupakan aku ya!!^^^
Aileen tersenyum sembari membalas pesan dari Ara, ia memasukan kembali ponselnya pada tas dan meraba lehernya, namun ia tidak menemukan kalung disana. Gadis itu panik dan segera berlari menuju kolam renang yang telah ditutup tanpa memperdulikan seluruh benda yang ia tinggalkan. Gadis itu berusaha untuk mencari penjaga kolam renang, namun tidak ada. Ia tidak peduli lagi dengan semua spekulasi negatif, gadis itu menarik APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan memecahkan kaca pintu pembatas kolam renang.
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mencari kalung tersebut. Tanpa sadar, kakinya tertusuk dalam oleh kaca, meskipun demikian, gadis itu hanya mencabut kaca yang menancap tanpa memperdulikan rasa sakit dan darah yang bercucuran.
Mata gadis itu terus menjelajahi kolam renang tanpa membiarkan sedikitpun kata istirahat terlintas dalam benaknya. Aileen berteriak hingga menimbulkan gema.
“Bodoh, kenapa kau mengenakannya di kolam renang!” amarah Aileen pada dirinya sendiri.
Tanpa berpikir panjang, Aileen terjun ke kolam renang untuk mencari kalung itu. Namun, ia tidak bisa menginjak dasar karena rasa perih yang dirasakan, ditambah lagi ketidakahliannya untuk berenang menjadikan seolah-olah melakukan tindakan bunuh diri.
Aileen tidak ingin menghabiskan tenaganya untuk meminta bantuan, ia mengerahkan tenaganya untuk bertahan.
“Jangan panik princess, nanti tenggelam”,
Badan gadis berusia 5 tahun itu bergetar kedinginan. Meskipun kedua orang tuanya meminta gadis itu untuk berhenti, ia terus mencoba untuk berenang sampai bisa. Gadis itu sesekali merengek dan marah karena tidak kunjung dapat berenang seperti sang ayah.
“Tidak apa-apa, dengarkan instruksi papamu. Semangat Aileen, anakku, kamu bisa,” ucap sang ibu di pinggir kolam renang.
Liam segera membanting ponsel yang sedang ia gunakan untuk menelpon. Lelaki itu segera berlari dan membuka bajunya untuk terjun ke kolam renang demi menyelamatkan Aileen yang tenggelam.
“Bertahanlah,” ucapnya sambil mengangkat tubuh Aileen ke pinggir kolam dan membaringkannya dalam posisi telentang.
Liam mengangkat sedikit kepala gadis di depannya dan mendekatkan telinganya pada mulut dan hidung Aileen. Ia bersyukur masih merasakan hembusan udara dari Aileen. Namun ia terkejut melihat darah terus mengalir dari kaki gadis itu, Liam segera berusaha menghentikan pendarahan dengan membalutkan baju yang ia kenakan pada kaki Aileen. Setelah itu, ia menjepit hidung Aileen untuk memberikan nafas buatan, namun Aileen terbangun dan terkejut mendapati wajah Liam yang sangat dekat dan kondisi lelaki tersebut yang telanjang dada.
Sontak Aileen berteriak, “Aa, MESUM, KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU MARAH!!” bentak Aileen sambil menutupi badan dan matanya.
Liam melihat sekitarnya dan menyadari noda darah tercap dimana-mana.
“Bodoh!” ucap Liam dengan badan bergetar.
“Pakai bajumu dulu, baru mengatai orang! Mesum!”
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Liam dengan mata memerah karena kristal air mata, ia ketakutan saat melihat gadis itu dalam bahaya. “Apa kau melukai diri sendiri karena karena hal bodoh?!” Liam tidak bisa mengontrol intonasi suaranya yang semakin meninggi pada Aileen.
“Apa yang kau maksud hal bodoh?!” badan Aileen mulai bergetar, air mata mulai turun dari mata cantik gadis itu.
“Maaf.” Liam merasa bersalah atas apa yang ia ucapkan.
Aileen tersenyum sinis, “Benar, itu memang bodoh. Terlebih untukmu yang tidak pernah menghargai makna pemberian terakhir seseorang yang sangat berarti di hidupmu.”
“Kau benar, aku bodoh, tapi aku akan tetap bersikap bodoh demi melindungi semua hal tentang orang yang aku sayangi. Semua bisa menghancurkan dan melenyapkanku, tapi tidak dengan alasanku untuk hidup di dunia ini,” ucap Aileen dengan intonasi yang semakin meninggi dan isakan tangis yang semakin menjadi.
“Maafkan aku.”
“Pergi!”
“Tidak dengan kondisimu seperti ini, biarkan aku membantumu, kumohon.”
Aileen terdiam dan menghapus kasar air matanya, gadis itu meredakan amarah dengan lelaki yang tetap setia berada di sampingnya. Ia menyadari bahwa Liam hanya ingin membantu, dengan penyesalan gadis itu meminta maaf.
Liam tersenyum pada Aileen dan mengacak rambut gadis itu yang basah kuyup. “Apa yang bisa aku bantu?”
“Mm, aku bisa melakukannya sendiri.”
“Apa kau akan membiarkan aku telanjang dada disini sampai malam?”
“Tidak ada yang menyuruhmu.”
Liam mengarahkan pandangannya pada bajunya yang dikenakan untuk menghentikan pendarahan pada kaki Aileen.
“Maaf.”
Liam merintih kesakitan dan berpura-pura tenggelam untuk mendapatkan perhatian Aileen. Gadis itu terkejut dan berusaha meraih pelampung,
“Hei, hei. Aku bercanda!” Liam menahan tangan Aileen sembari tertawa. Bahkan ia menerima pukulan dari gadis itu karena telah menjahilinya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Liam mengambil kembali ponselnya setelah mengantarkan Aileen pulang ke apartemen. Bantingan yang cukup kuat membuat ponsel tersebut seolah hanya kepingan plastik yang berserakan. Liam mencabut kartunya dan segera membeli ponsel baru.
Setelah itu, ponsel barunya berdering, tertera nama Barack disana. Dengan malas, Liam mengangkat telepon tersebut, terdengar suara tepukan tangan dari sambungan telepon.
“Liam Malikson, Bravo! Kau sudah berani mengantarkan keponakan sekaligus targetku,” ucap seseorang dari sambungan telepon dengan nada angkuh.
“Apa maumu?”
“Kau masih ingat bagaimana adik gadismu di sandra dan hampir mati, kemudian kau memelas dengan memintaku melepaskannya?”
Badan Liam bergetar menahan amarahnya, lelaki itu mengepalkan tangan tanda gusar. “Apa yang kau inginkan, bajingan!,” teriak Liam pada sambungan telepon.
Suara tertawa meremehkan terdengar pada sambungan telepon, “Cukup tepati janjimu brengsek! Dapatkan Aileen dan bawa gadis itu kesini. Biarkan dia menandatangani kontrak dan hidupmu akan aman dari hutang mayat ayahmu!” teriak pria tersebut.
“Bajingan! Aku tidak akan pernah melakukannya!”
“Benarkah? HAHAHA, kita lihat apa yang akan terjadi pada dua wanita yang tersisa di hidupmu.”
“Brengsek! Jangan sentuh keluargaku!”
“Tepati saja janjimu, atau kau akan tau apa yang terjadi selanjutnya.”
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Liam melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sederhana yang ia tempati bersama dengan adik gadis dan ibunya.
“Liam, kau sudah pulang?”
Lelaki itu tersenyum tulus dan mengangguk seakan tidak ada suatu hal pun yang ia pikirkan. Namun, perasaan seorang ibu terlalu kuat, wanita itu menghampiri Liam untuk mengajaknya makan bersama.
Sejak kematian sang ayah akibat penipuan yang mengharuskannya menampung kerugian besar, keluarga bergelimang harta itu harus hidup seadanya dengan pikiran dan ancaman yang terus menerus hadir. Hanya Liam satu-satunya harapan agar semua keadaan kembali normal.
Tuan Malikson tertidur lesu pada ranjang rumah sakit, matanya tidak berhenti memancarkan kesedihan dan mulutnya tidak berhenti untuk minta maaf. Liam mencoba mencerna keadaan dan melangkahkan kakinya mondar-mandir untuk berpikir cara melunasi hutang dengan nominal 10 kali harga rumah mewah. Lelaki itu menyadari bahwa semua hutang bukan kesalahan ayahnya. Lelaki itu hanya tertipu dan mengharuskannya menanggung semua risiko dan meminjam pada perusahaan seorang mafia yang dipegang oleh Barack, seorang pengusaha licik yang ia tahu sebagai om dari Aileen.
Beberapa hari berlalu, tagihan rumah sakit semakin membengkak, pria yang terbaring lemas di rumah sakit itu mencabut alat bantu pernapasan yang ia kenakan untuk menunjang kehidupannya dan membiarkan nyawanya melayang. Liam, sebagai satu-satunya lelaki yang tersisa di keluarga tersebut seakan menjadi sebuah tameng yang melindungi ibu dan adik perempuannya. Ia bahkan menyetujui dijadikan sebuah alat untuk memata-matai Aileen untuk melindungi keluarganya.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya Ibu.
“Semua berjalan dengan baik,” jawab Liam tanpa menatap sang ibu.
“Syukurlah, kau mendapat peringkat pertama lagi di sekolah kan?”
Liam tersenyum lebar dan mengangguk.
“Kau tidak perlu khawatir tentang semua hutang itu. Biar ibu yang mengumpulkan semuanya dan beberapa saudaramu terus membantu kita. Jadi, fokus saja pada sekolahmu ya.”
Ekspresi Liam berubah seketika, ia menyadari nominal hutang tersebut tidak bisa dibayar dalam kurun waktu 3 bulan sesuai perjanjian hanya dengan mengandalkan penghasilan ibunya sebagai guru dan sumbangan saudaranya yang tidak seberapa. Langkahnya saat ini adalah usaha satu-satunya yang bisa menolong keluarganya dari lilitan hutang.
Besok, lelaki itu harus membawa Aileen pada Barack untuk menandatangani kontrak penyerahan seluruh kekayaan mendiang orang tua Aileen sehingga lelaki tersebut dapat menguasai salah satu perusahaan terbesar milik mendiang ayah Aileen seutuhnya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
“Wasiat sialan!” ucap Barack melihat salinan surat wasiat yang menyatakan bahwa Aileen merupakan orang yang berhak memiliki perusahaan dan seluruh kekayaan yang ditinggalkan kakaknya.
“Percuma saja menyabotase pesawat hingga si Eljaz dan istri sialannya mati jika tetap tidak bisa menduduki posisi teratas di perusahaan ini.”
“SIAL!” teriak pria tersebut sambil mengacak meja kerjanya.
Lelaki itu melangkahkan kaki dan mengambil pistolnya, dan menatap foto Aileen.
“Gadis sialan, lihat apa yang akan kulakukan padamu.”
Suara tembakan terdengar begitu nyaring mengenai foto Aileen yang masih dipajang pada sebuah lemari kaca. Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi mengatakan bahwa anak buahnya siap mengambil alih peran Liam dan membawa Aileen kepada pria tersebut. Hal itu membuatnya tersenyum puas dan memutarkan pistol yang ia pegang sebagai tanda bahagia.