HIAMOE

HIAMOE
CRUELEST BET



Seperti biasa, lonceng cafe milik Kei tidak pernah berhenti berbunyi, pengunjung datang kesana untuk sekedar menikmati kopi atau bersantai sejenak dari kehektikan dunia. Mereka bahkan tidak keberatan jika bersantai di daftar tunggu. Namun, kehadiran Liam di tempat tersebut menjadi tidak biasa. Ia mendekati Kei yang sedang mengutik laptop bersama dengan Richelle. Namun Liam tidak pernah ingin menghiraukan gadis itu.


"Connaught Bar, 08.30 malam."


Kei menatap dingin Liam.


"Jika kau masih peduli dengan Aileen," matanya mengintai Richelle. "Temui aku disana."


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


    Tamu elit tampak memenuhi bar mewah yang dikunjungi Kei. Pengunjung disana tampak mengenakan jas dan pakaian formal meski hanya sekedar duduk untuk minum dan berbincang. Pengunjung dengan tampilan berbeda menarik perhatian Kei, dari perawakannya ia dapat mengetahui bahwa itu adalah Liam. 


Liam tersenyum sinis saat menyadari Kei duduk disampingnya tanpa menyapa dan segera memesan minuman. Entah apa yang mempengaruhi hubungan mereka, atmosfer menjadi dingin dan menyeramkan saat keduanya berpapasan. Sebut saja mereka dua kucing jantan rumahan yang menyimpan energinya untuk tidak berkelahi, namun tetap berlaku dingin saat bertemu dan tampak acuh saat berkomunikasi, seakan semua tidak penting.


“Aku tau kau sedang dalam proyek bersama Aileen. Jika kau berani melukainya, akan kupastikan tulang rusukmu patah.”


Liam tertawa sarkas dengan perkataan Kei, “Kau masih mengawasiku setelah kejadian itu?”


“Katakan saja maksudmu mengundangku kesini.”


“Sederhana, aku hanya penasaran, seberapa jauh kau akan peduli dengan kecelakaan pesawat yang menewaskan orang tua Aileen.”


Kei tertawa sarkas dan meminum minuman yang ada di depannya, “Sederhana, apa aku harus mempercayai anak buah pria yang berencana melukai Aileen seumur hidupnya?”


“Kau tidak akan pernah bergerak maju jika hanya menatap masa lalu.”


“Apa rasa penasaranmu sudah terpenuhi?”


“Aku butuh bantuanmu untuk menyelidiki kasus ini.”


“Dari sekian banyak orang yang kau kenal, kenapa harus meminta bantuan orang yang kemungkinan besar tidak akan membantumu?”


“Aku butuh seseorang yang dapat diandalkan untuk mengambil alih bukti saat aku bergerak maju untuk mendapatkan bukti tersebut, dan kau salah jika menganggap aku hanya meminta bantuanmu.”


“Hai.” Suara Evin yang nyaring terdengar kembali di telinga Kei.


Kei menghela nafas, “Apa rencanamu?”


Kepercayaan jelas tidak diberikan Kei pada lelaki itu, ia hanya berniat menyelidiki apa yang akan dilakukan oleh Liam, hingga ia mengajak salah satu sahabatnya, Evin, untuk gabung dalam rencananya tersebut.


Liam menunjuk salah satu meja yang mengantarkan atensi dua laki-laki di sampingnya pada om Barack yang tengah sibuk dengan wanita-wanita yang ia permainkan.


“Pria itu, sebenarnya bodoh dan pengecut, namun licik.”


Ketiga lelaki tersebut saling menatap.


“Hal yang membuatnya kuat saat ini hanyalah harta dan anak buah pintar yang haus uang karena ancaman pria itu.”


Liam mengajak mereka ke suatu tempat sepi dan menceritakan hal-hal yang ia ketahui. Petunjuk yang didapatkan Kei tidak tampak berarti dan kepercayaannya pada Liam belum terbentuk sehingga ia hanya terdiam dan mendengarkan.


Liam sampai pada suatu kesimpulan, memata-matai pria licik itu meskipun penjagaan ketat pasti akan membahayakan mereka. 


“Apa kau gila?!” ucap Evin.


“Pastikan dulu keterlibatan ayahmu, dan om Barack sebelum melakukan tindakan lebih lanjut.”


“Kejadian itu dengan jelas menunjukkan bahwa pihak yang diuntungkan adalah keluargamu.”


“Apa maksudmu?”


“Jika kau benar-benar tidak menyembunyikan ini, biarkan aku menyelidiki rumah ayahmu.”


“Kau benar-benar sudah gila.”


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


    Tidak pernah terlintas di pikiran Kei bahwa ia akan kembali membawa teman ke rumah dengan beribu kenangan itu. Kali ini, bukan untuk bermain, tapi menyelidiki teka-teki yang muncul dan memaksa mereka untuk menguak fakta yang disembunyikan di dalamnya. Semua seakan terasa tidak nyata jika membayangkan mendiang ayah kedua lelaki tersebut terlibat dalam kasus yang menewaskan pria dan wanita hebat yang melahirkan gadis yang kini sedang mereka perjuangkan kebahagiaannya. Jika hal itu terjadi, mungkin kata maaf saja tidak cukup untuk menebus semuanya. Bahkan balas nyawa pun tidak mampu mengobati luka karena telah menghancurkan hidup seseorang. 


    Pencarian dalam waktu yang relatif lama ini tidak menemukan hasil, hingga Evin tiba-tiba nyeletuk dengan polos mengatakan bahwa ia menemukan pak Daniel dengan seragam co pilot bersama dengan empat pria lain yaitu om Barack, Tn. Kendrick, Tn. Malikson, dan satu pria yang tidak mereka kenal yang dicoret dengan spidol hitam menyisakan foto om Barack dan pak Daniel.


“Aku sering melihat foto pria ini, di apartemen Aileen.”


Petunjuk demi petunjuk dari mulai penelusuran internet sampai teka-teki yang ditemukan terus mereka gali hingga tersadar bahwa mereka sedang melanjutkan penyelidikan Tn. Kendrick mengenai hubungan antara kecelakaan pesawat dan kasus penusukan yang terjadi dalam waktu dekat. Mereka berhasil menyimpulkan bahwa dalang dari semua peristiwa itu kemungkinan besar adalah om Barack, dengan pak Daniel yang terlibat di dalamnya dan pria itu  mungkin mengganti identitasnya. 


Suatu cuitan tulisan pada selembar kertas bermaterai menguatkan asumsi mereka saat ini. Mereka membaca keseluruhan surat berlaminating dengan cap darah sebagai pengganti tanda tangan dengan seksama.


London, 10 Oktober 2008


Kerjasama tiga perusahaan semakin menguntungkan dan menghasilkan ribuan dollar setiap harinya. Diperlukan suatu usaha untuk tetap meningkatkan motivasi kerja dengan sedikit bumbu taruhan. Kolega atas nama berikut:


Eljaz Zayan, sebagai Direksi perusahaan terbesar di dunia.


Bence Kendrick, sebagai Direksi perusahaan runner up di dunia.


Davide Malikson, sebagai Direksi perusahaan menengah


Barack Zayan, sebagai Direktur utama perusahaan terbesar di dunia


Erick Alexander, sebagai anak bawang yang baru menjadi seorang co-pilot


Menyatakan siap menyerahkan masing-masing tiga per empat saham yang dimiliki jika kalah dalam taruhan. Namun, apabila menang, saya bersedia menerima saham tersebut dengan senang hati. 


Cap darah dan materai di bawah lima kolega sukses ini menunjukkan kesepakatan dan keseriusan demi meningkatkan kualitas kerja dan nama perusahaan.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Hari baru kembali dimulai, dengan petualangan yang akan segera dimulai. Entah terencana atau tidak, berbagai pengalaman itu siap mencocokan diri dengan setiap insan di muka bumi. Keseimbangan yang harmonis antara mentari yang menyapa dan senyum indah gadis yang baru saja terbangun dari tidurnya membuat suasana menjadi sempurna. Ia menutupi alasan semangatnya yang menggebu, namun gadis itu yakin bahwa hidupnya perlahan memulih. Kursi panjang yang kehilangan keseimbangan akhirnya dapat berfungsi dengan baik saat seseorang menempati sisi yang lain.


Aileen membukakan pintu apartemen saat bel berbunyi. Tidak disangka, tiga lelaki yang mengisi hari-harinya saat SMA kembali menampakan diri secara bersamaan, hal itu membuat gadis itu menyunggingkan senyumnya. Sapa hangat Aileen mampu membuat ketiga lelaki itu kebingungan karena itu terlalu manis bagi sikap gadis itu yang mereka kenal. Gadis itu sempat menatap mereka bertiga dan melarangnya masuk sebelum Evin menunjukkan Ara seperti menjinjing anak kucing yang dikeluarkan dari persembunyiannya di balik tiga majikan. Setelah masuk ke dalam apartemen Aileen, mereka menceritakan hal yang telah mereka selidiki selama ini. 


“Untuk apa kalian menyelidiki ini?”. 


“Setidaknya teka-teki mimpimu akan terjawab dan dengan kenyataan, kau benar-benar bisa menerima seutuhnya musibah yang terjadi di hidupmu itu, begitu juga dengan Kei. Karena kemungkinan besar, peristiwa ini saling berhubungan.”


 Masa lalu yang menyakitkan memang pantas untuk dilupakan. Namun saat orang yang disayangi hilang untuk selama-lamanya dalam masa lalu itu, hasrat untuk kembali menyelamatkan sosok itu tetap singgah. Terutama jika ada campur tangan manusia dalam masa lalu menyakitkan itu, tanpa mengetahui siapa dalang di balik semuanya, gadis dan lelaki itu tidak memiliki media lain selain diri sendiri untuk disalahkan. Mereka berhadapan dengan penyesalan di usia yang masih sangat muda. Kesepian  dan rasa sakit seakan telah menjadi teman masa kecilnya. 


 “Lalu, apa yang akan dilakukan setelah ini?”


“Pak Daniel.” ucap Liam dan Kei berbarengan.