HIAMOE

HIAMOE
BROKEN ARROW AND FAITH



Lembaran baru kembali dibuka, namun bintang lama kembali bersinar terang menampakan wajahnya di hadapan Aileen. Amarah dan kristal air mata seketika terlihat dengan jelas dari gadis itu. Ia melangkah mundur menjauhi lelaki yang tampak lebih kurus dari biasanya. Tangisnya pecah saat si laki-laki berusaha mendekat dan memeluk erat tubuh gadis di hadapannya, membiarkan emosi itu meluap dengan sendirinya. Kata maaf seakan kaku terucap, namun badan itu, tetap setia menopang tubuh Aileen.


Pelukannya semakin erat, seakan saling tidak ingin melepas. Kepergian Kei memang suatu hal yang ia benci seumur hidupnya, dan kedatangan laki-laki itu, selalu diharapkan dalam setiap doa yang ia panjatkan. 


Detik ini, Aileen menyadari bahwa Tuhan hanya membiarkan Kei untuk tertidur, mungkin karena ia terlalu lelah selama ini. Saat lelaki itu terbangun, Liam yang melihat kembali interaksi dua insan itu pun kembali tersadar bahwa detik ini, bintang yang bersinar melebihi sinarnya itu kembali menarik perhatian Aileen, dan perlahan, mata cantik dan berbinar itu akan selalu mengarah pada sang bintang yang kembali hadir dengan kharismanya.


Liam tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan dalam dirinya. Bahkan saat ini, ia tidak bisa membedakan apakah rasa sakit itu masih ada atau tidak. Perih itu nyata, namun ia seolah mati rasa karena semuanya. Ia hanya bisa berharap Kei memang dapat menjaga Aileen dengan baik, meskipun ia yakin bahwa lelaki itu memang akan menjaga Aileen dengan semua yang ia miliki.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Kei dan Liam kembali bertemu di suatu tempat, sekedar bertanya mengenai kondisinya masing-masing saat ini. Kekakuan hadir di tengah-tengah perbincangan mereka. Namun kali ini, Kei yang mencairkan suasana dengan mengatakan bahwa ia telah sembuh pasca operasi dan terapi 3 tahun yang lalu. Liam yang geram sontak menjitak kepala Kei dan meminta maaf setelahnya karena takut akan mengenai bekas operasi.


“Seberapa jauh kini hubunganmu dengan Aileen?”


“Apa maksudmu hubunganku dengan Aileen?”


Kei menjelaskan bahwa ia melihat foto dan video kebersamaan Aileen dengan lelaki di sampingnya. Ia sadar bahwa Liam memang menyukai Aileen, begitupun sebaliknya. Namun, rasa gengsi yang terlalu tinggi dari keduanya menjadi penghalang terbesar hubungan mereka. 


"Jangan melepaskan Aileen hanya karena kehadiranku.”


"Terkadang, tau diri lebih pantas mengalahkan semua asumsi.”


“Bersainglah secara adil. Aileen tetap membutuhkanmu di hidupnya.”


“Dengan menjadi runner-up?”


Kei terkekeh karena itu, “Kita tidak tau siapa yang nantinya akan berada di posisi itu.”


Keduanya saling melontarkan senyum.


“Jangan lukai dirimu sendiri. Bego!”


“Kau juga, bajingan!”


Pada akhirnya, dua lelaki tersebut kembali bertengkar. Namun tidak benar-benar saling menyakiti. Mereka bertemu untuk saling melengkapi, mengisi kekosongan yang sama, dan membahagiakan orang yang sama, namun dengan cara yang berbeda. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Kebahagiaan itu, unik, sifatnya subjektif, dan hanya bisa diciptakan oleh diri sendiri. Sekuat apapun usaha seseorang untuk membuatmu bahagia, kebahagiaan itu dapat terkalahkan oleh benteng diri yang dengan kokoh menghalangi. Biarkan orang-orang itu hadir, biarkan setiap pengalaman yang baik ataupun buruk itu datang silih berganti bagai sebuah rintangan yang tidak kunjung berakhir. Jangan takut untuk menerimanya, karena Tuhan, tidak akan membiarkan sesuatu yang tidak baik bagi hambaNya terjadi di kehidupannya. Hanya satu hal yang mungkin bisa diusahakan saat takdir memang telah ditetapkan, selalu berdoa, tidak pernah putus asa, dan berorientasi pada kebaikan. Jangan pernah kehilangan harapan, karena keajaiban tetap menunggu dengan setia di depan. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Aileen kembali merasakan hangatnya tempat tidur yang selama ini ia tinggalkan. Padahal dulu, tempat itu adalah satu-satunya tempat kembali Aileen untuk melupakan semua masalah yang terjadi dan memilih untuk tidak pernah menerima kenyataan dan tenggelam dalam imajinasi. Namun sekarang, ia keluar dari zona nyaman tersebut dan menerima kenyataan dengan lapang dada, melewati semua rintangan dengan sekuat tenaga, tentunya tanpa melepaskan doa, dan bantuan pun akhirnya datang silih berdatangan hingga kebahagiaan seutuhnya itu kembali ia rasakan.


Aileen mengabadikan kebahagiaan dan perubahan berarti yang ia rasakan dalam sehelai kanvas putih. Catatan kecil yang sering kali ia buat, tertera disana.


Terima kasih, Tuhan


Kau tidak pernah menghilangkan warna pelangi yang selama ini aku cari


Kau hanya memindahkannya di suatu tempat yang lebih indah dan berarti


Maaf karena telah berburuk sangka dan membuat kaki ini berat untuk melangkah


Dan Terima kasih, karena telah menunjukan padaku bahwa keajaiban itu selalu ada


Aku tidak akan melupakan payung yang selama ini menemani saat air menetes ke bumi.  


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Kei, Aileen, dan Liam kembali bersama, kecanggungan sangat jelas terasa. Kei singgah lebih lama, hingga panah yang tertancap di hati gadis itu semakin dalam. Darah bercucuran, saat panah itu menghilang. Meskipun nyatanya, panah itu tidak benar-benar menghilang. Ketidakpastian dari keberadaan panah itu berhasil membuatnya benar-benar patah. Liam hadir dengan petualangan berharga dan mengobati luka itu. Namun pada akhirnya, panah itu kembali menampakkan diri. 


Harus diakui, pilihan itu berat. Jika boleh egois, ia menginginkan kedua lelaki tersebut. Namun itu gila. Ia hanya akan membiarkan waktu menunjukkan siapa yang bersamanya kelak. Hanya bersabar, dan membiarkan Tuhan membawa kita pada garis waktu yang telah di tetapkan.


Buah dari kesabaran itu pada akhirnya berhasil mengantarkan wanita dengan gaun indah berwarna putih dan parasnya yang cantik, tante Nia, menerima pengantin pria berparas tampan yang sudah diberi keringanan tahanan, pak Daniel. Memang sulit menerima masa lalu seseorang yang memberikan luka teramat mendalam, namun kebaikan itu masih tetap ada, dan tidak ada salahnya menerima dengan tulus seseorang yang ingin berubah menjadi lebih baik lagi, terlepas dari semua masa lalu kelamnya. 


Ia percaya, ada alasan mengapa Tuhan mengizinkan Daniel untuk tetap tinggal di bumi setelah berkali-kali ingin mengakhiri hidupnya, bahkan hukum sekalipun dibuat lemah karena takdir-Nya lebih kuat melebihi segalanya. Kebaikan dalam diri Daniel mungkin adalah salah satu alasan terbesar. Ia selalu mencoba lebih baik lagi dan membantu banyak orang dalam hidupnya. Tanpa dihukum oleh siapapun, Daniel telah menghukum dirinya sendiri karena penyesalan mendalam yang akan melekat seumur hidup. Berbeda dengan Barack, ia sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan dan pada akhirnya, otaknya gila karena keserakahan dan rasa tidak puas yang selalu ia lakukan di seumur hidup.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Satu tahun berlalu, Aileen memiliki seorang saudara perempuan yang cantik. Tangis haru tidak bisa ia pendam, namun ia berjanji akan menjaga saudara perempuannya itu sama seperti tante Nia menjaganya selama ini. 


^^^-THE END-^^^