HIAMOE

HIAMOE
DEATH VALLEY



Bayangan Kei masih terlihat nyata bahkan ketika waktu telah berjalan begitu panjang dan kesibukan membuatnya, seharusnya membiaskan.


Sampai detik ini, Aileen masih mempertanyakan kenapa Tuhan membiarkan sesuatu yang ia genggam erat pergi begitu saja. gadis itu termenung kembali di bawah gelapnya malam dengan air mata yang kini tidak bisa tertahan. Rasa sakit itu sempurna. Bahkan bahu kecilnya yang kini kuat oleh berbagai beban yang ia pikul, terasa rapuh. Harmoni yang indah menyisakan kejanggalan dengan hilangnya cahaya paling bersinar di dalamnya. 


Seperti biasa, ia hanya bisa terdiam. Gadis itu kelelahan bahkan untuk sekedar menyeka air mata yang seringkali ditahan. Semuanya terasa berat baginya. Ia bisa kembali mengatur harmoni itu saat dua bintang paling bersinar menghilang dengan menambahkan bintang lain yang menunjukkan karismanya. Dengan menatap bintang itu saja, sudah berhasil membuatnya nyaman. Ia membuat senyum pada wajah cantiknya dengan linang air mata yang masih tetap ada karena menyadari bintang itu sekarang kembali redup, tanpa ia tau, apakah bintang itu akan kembali lagi atau menghilang selama-lamanya.


Saat ini, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Tidak ada lagi orang yang harus disalahkan atas kepergian ataupun kehadiran. Saat ini, ia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, setidaknya itulah yang dipesankan Kei padanya. Lelaki itu, berhasil menemani tanaman kecil tumbuh dengan baik, entah sebagai apa perannya. Tapi Aileen yakin, pasti ada alasan terbaik yang Tuhan suratkan atas semua hal yang terjadi di hidupnya. Keyakinan itulah yang membuatnya kuat hingga saat ini. Keyakinan itulah, harapan terbesar yang dengan sabar menemani perjalanan hidupnya.


Tubuh rapuh gadis itu kini ditopang oleh pelukan Liam dari belakang. Ia kembali menyeka air matanya kasar. 


“It’s ok,” bisik Liam.


Hanya satu kata yang berhasil membuat linang air mata Aileen kembali menjadi. Ia membalikan tubuhnya dan memeluk lelaki itu lebih erat. Liam mengusap punggung Aileen dan membiarkan tangis gadis itu pecah di dada bidangnya. Kini ia semakin sadar, keberadaan suatu hal di dunia ini memang tidak pernah abadi. Menggenggam dengan erat adalah cara yang salah untuk mencintai seseorang. Suatu saat, mungkin keberadaannya saat ini akan tergantikan oleh orang lain yang lebih baik. Tidak apa, setidaknya ia telah melakukan cara terbaik untuk mencintai orang itu. Jika ditakdirkan bersama, merpati sekalipun akan tetap kembali ke rumahnya; tempat paling nyaman melepas letih.


“Terima kasih.”


Liam menatap lekat mata Aileen yang ia kagumi karena binarnya yang sempurna. Ia mengusap air mata yang tertinggal di wajah cantik gadis itu. 


“Jelek,” ledek Liam pada gadis di hadapannya.


Aileen merengut dan meniup poninya untuk menahan emosi karena tidak mau bertengkar saat ini. Liam tersenyum lebar membuat siapa saja ikut tersenyum, tidak terkecuali Aileen. 


“Maaf,” ucap Liam tanpa menurunkan senyumannya dan berhasil melayangkan tangan Aileen untuk memukul lelaki itu.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Pentagon yang dihiasi oleh bintang-bintang yang tulus menyinari, kehilangan satu sudutnya. Entah benar-benar hilang, atau hanya tertutupi hal yang lain. Namun kini, hanya tersisa bangun segi dengan 4 titik dan 3 sisi. Sudut-sudut yang tersisa tidak ingin terus meratapi kepergian sudut yang hilang selama bertahun-tahun, sisi yang kosong mereka biarkan terbuka. Setidaknya, mungkin keajaiban akan hadir di dalamnya. 


Keadaan objektif setidaknya sudah lebih membaik. Mereka telah sukses meraih mimpi masing-masing, terlebih Liam yang berhasil menciptakan berbagai website dan aplikasi yang diminati banyak orang. Karyawannya saat ini juga bukan lagi hitungan jari. Aileen dengan bakat lukisnya telah berhasil menarik perhatian pelukis-pelukis terkenal dan karyanya digemari banyak orang karena pendalaman tiap detailnya. Begitu pula dengan Evin. Saat ini juga, Ara berhasil mengembangkan usahanya di bidang fashion dan kecantikan. Semuanya menjadi pasti jika kesadaran akan eksistensi hadir diiringi niat dan usaha tidak pernah lelah. Mungkin yang tersisa sekarang adalah rasa haus dengan kebahagiaan yang bersikap subjektif. 


Maka disinilah mereka saat ini, keempat karib yang tengah menginjakan kakinya di salah satu hotel mewah di California, negara bagian di pesisir barat Amerika Serikat. Senyum elegan tanpa menyombongkan diri terpancar menyapa setiap orang yang melihat ke arah mereka. Meski beberapa pandangan yang mereka dapat, menyiratkan kebencian. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Bukan lagi tanah pasir yang Aileen tapaki dengan mudah untuk sekedar melihat bintang dan bulan seperti biasanya. Namun tanah padat berbatu yang telah dibuat susah payah oleh orang sebelumnya di tengah-tengah cuaca panas yang cukup ekstrim. Energinya terkuras hanya untuk melangkahkan kaki mengikuti Liam yang menuntun langkahnya dari depan. Gadis yang berada di belakang Aileen pun tidak berhenti mengeluh. Meskipun demikian, mereka tetap berjalan dengan Evin yang berada di posisi paling belakang. Lelaki itu bahkan membawa dua tas sekaligus yang salah satunya milik Ara.


Death Valley, disinilah mereka berada saat ini. Bunga liar yang langka dan spektakuler seakan membawa kehidupan di gurun tersebut dan menyemangati perjalanan panjang keempat insan demi menikmati rasi bintang memukau di lanskap yang ditawarkan tempat tersebut. Lekukan bukit pasir yang tegas dan anggun memberikan pemandangan yang berkesan di tempat ini. Mereka beristirahat sejenak di Mesquite Flat Sand Dunes, dimana terlihat orang sedang berselancar pasir disana. Liam tidak ingin kehilangan momen, ia mengambil papan selancar yang ia bawa dan memainkannya dengan profesional. Sementara ketiga temannya yang lain beristirahat dan mengenakan tabir surya.


Aileen menghampiri lelaki yang tengah asik dengan permainannya untuk sekedar memberikan minuman. Kejahilan lelaki itu kembali, ia meluncur tepat ke arah Aileen, sontak gadis itu menutup mata dan berteriak,  namun luncuran itu tepat berhenti di sampingnya tanpa melukai sedikitpun gadis itu.


Liam tersenyum sebelum mengambil air mineral yang diberikan oleh Aileen. Keringat yang bercucuran dari wajah lelaki tersebut di usap lembut oleh Aileen dengan handuk yang telah ia siapkan. Setiap tindakan inilah yang membuat Aileen semakin memantapkan keadaannya di hati lelaki itu.


“Susah nggak main ini di atas pasir?”


“Mau coba?”


Liam akhirnya mengajari Aileen cara berselancar dengan hati-hati. Tubuhnya siaga menjaga agar gadis itu tidak terluka meskipun kecerobohan seringkali dibuat oleh seorang Aileen. Akhirnya, kecerobohan gadis itu tidak bisa lagi ditangani. Aileen menyentuh dasar yang salah dan menarik tangan lelaki di sampingnya, Liam menarik badan Aileen saat akan mengenai batu dan gadis itu terjatuh menimpa tubuh lelaki itu. Keheningan pun terjadi beberapa saat sebelum Aileen beranjak dan duduk di sampingnya dengan tatapan kosong karena menyadari jantungnya berdetak lebih cepat.


Liam menyadari itu dan tersenyum tipis. Ia menarik tangannya ke belakang kepala dan menatap lekat wajah Aileen yang tampak menggemaskan. 


“Apa kau baik-baik saja?” ucap Liam yang meruntuhkan lamunan Aileen.


“Huh?”


Liam segera berdiri dan mengulurkan angan pada Aileen untuk melanjutkan perjalanan mereka. Evin dan Ara yang melihat kejadian tersebut tentu tidak tinggal diam. Mereka mengabadikan setiap momen yang telah mereka lalui bersama, mulai dari keajaiban dan keindahan yang teramati seperti adanya ikan di perairan asin gurun tersebut sampai foto-foto kebersamaan Liam dan Aileen. 


Perjalanan mereka pun kembali dimulai, hingga kurang lebih 680 kaki, mereka berhenti di Eureka Sand Dunes atau puncak bukit pasir. Terdengar dengan seksama suara gurun menyapa mereka dengan lagu-lagu alam yang diciptakan saat pasir menuruni curamnya permukaan bukit pasir yang tinggi. 


Hingga pada akhirnya, mereka dapat menikmati keindahan langit bagian barat laut taman nasional Death Valley yang dianggap paling gelap di California. Tidak ada riuh cahaya buatan disana seperti yang biasa terlihat di langit kota. Pemandangan jelas terlihat jauh lebih baik disana. Memang benar, setelah perjalanan panjang yang ditempuh, keringat dan lelah yang menemani, ada keindahan dan keajaiban yang menunggu dengan setia di titik pencapaian. 


Meskipun dijuluki lembah kematian, lembah itu tidak benar-benar mati. Tanah yang terlihat gersang pun masih menciptakan keindahan dan kedamaian. Teriknya siang yang menguras energi lebih banyak dan kekhawatiran kerusakan kulit pun tetap menunjukkan keindahan yang nyata di malam hari. Bahkan mungkin lebih indah daripada tempat yang sejuk di siang hari. 


Disinilah, pembelajaran kembali dimulai. Pembelajaran dan pengalaman berharga yang tidak akan pernah terlupakan. Kehadiran Liam di hidup Aileen memang selalu membawa kejutan. Ia menyebalkan, namun caranya yang unik dan berbeda itu memberikan kesan yang tidak akan terlupakan. 


“Terima kasih,” ucap Aileen pada lelaki di sampingnya.


Liam mengecek kening Aileen yang ia yakini tidak beres karena mengatakan hal tersebut membuat Aileen tersenyum untuk kesekian kalinya. Namun kini, senyum itu tidak ia sembunyikan. Senyum itu, ia berikan kepada sang pemilik secara langsung di depan kedua matanya membuat Liam tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kemanisan gadis itu.


Hingga akhirnya Ara dan Evin menghentikan tatapan lekat dua insan tersebut.


“Inget, belum halal,” ucap Evin.


Liam mengisyaratkan Evin untuk mendekatkan telinganya. “Brengsek! Ganggu aja!” bisik Liam.


Keempat karib itu pun menikmati suasana langit dengan rasi bintang yang terlihat dengan jelas ditemani dengan pemandangan gunung dan lahan yang luas. Hal terpenting dari semuanya adalah, mereka bahagia.