HIAMOE

HIAMOE
AT LEAST, ALL GOOD



Rumah mewah berdebu yang dulu tersimpan canda tawa di dalamnya menunjukkan atmosfer yang jauh berbeda bagi Liam. Kali ini, lelaki itu tidak bisa sekedar masuk ke dalam rumah tersebut, ia hanya membawa barang-barang yang sudah tersimpan di depan pagar rumah yang dingin dengan garis polisi menjulang di sekeliling rumah. Bukan barang berharga, hanya mobil-mobilan besar yang telah usang, pemberian dari sang ayah yang kini ia anggap sebagai pengecut. Seorang pria paruh baya menepuk bahu Liam, ia mengenal dengan jelas itu adalah penjaga rumahnya dulu. 


    Pria paruh baya tersebut memberikan kotak abu kecil berisi kartu memori. Liam sempat bertanya kepemilikan kartu tersebut sebelum mengambilnya karena mendapat informasi bahwa penjaga rumah tersebut pernah melihat mendiang ayahnya dan pak om Barack berdebat tentang benda tersebut. Ia mengamankan benda itu saat rumah disita karena khawatir itu bernilai penting dan akan semakin menyengsarakan keluarga Liam.


    “Terima kasih, pak,” ucap Liam sebelum memacu motornya meninggalkan tempat tersebut.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Sesampainya di rumah, lelaki itu segera membuka kartu memori itu, terdapat file audio disana. Ia mendengarkan semua dengan hati-hati.


    Kau harus menyabotase pesawat yang ditumpangi Eljaz, sialan!.


    Audio berhenti. Liam segera membuka file audio yang lain yang terdapat di dalam kartu memori tersebut. Namun tidak ada bisa terbuka, satu hal yang ia sadari tentang hal itu adalah suara om Barack. Ia segera memutar otak untuk kembali mendapatkan rekaman audio tersebut secara utuh, namun hasilnya nihil. Sontak iapun menggeram. 


    Aileen. Nama gadis itu seketika melintas di benaknya. Kemudian ia mencari informasi mengenai kecelakaan pesawat yang menewaskan kedua orang tua Aileen. Dugaannya benar, data dari black box tidak berhasil terbaca sedikitpun oleh investigator karena semuanya rusak. Hal tersebut menjadi tidak masuk akal bagi Liam karena kejanggalan jelas terlihat, dimulai dari lokasi penemuan bangkai pesawat yang tidak selaras dengan rute pesawat. Semua itu ditutupi dengan alasan pilot ingin menyelamatkan awak kapal namun tidak berhasil. Beberapa kejanggalan lain terlihat jelas namun kasus pencarian dan penyelidikan ditutup rapat dalam kurun waktu singkat.


Tidak adil. Mungkin itulah yang dirasakan Aileen selama ini. Ia masih tidak percaya akan kematian kedua orangtuanya dan sulit menerima kepergian orang yang paling disayangi, terlebih karena kecelakaan itu tidak wajar dan tidak diadili.    


“Apa ayah terlibat dalam hal ini?” lirih Liam.


Liam menghela nafasnya dan menyandarkan punggung ke kursi tempatnya duduk saat ini.  


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...


    Pak Daniel terdiam di sebuah cafe untuk sekedar minum kopi dan menenangkan pikirannya yang tidak pernah tenang. Tidak jauh dari sana, tante Nia mengamati figur Daniel secara seksama. 


    Frustrasi, depresi, dan stres. Itulah kata yang terlintas di pikiran tante Nia saat melihat pria itu. Awalnya ia tidak peduli, namun ia kembali mengingat perkataan pria itu yang seolah mengatakan bahwa dirinya lah penyebab dari kekacauan yang terjadi di hidupnya. Tante Nia pun tersenyum licik, ia berencana menjadikan pria itu sebagai objek dari risetnya tentang kesehatan mental setelah ditinggalkan pacar.


    Penolakan akan kehadiran wanita itu ditunjukan Daniel dengan setengah mengacungkan tangannya tepat di hadapan tante Nia. 


    “Apa yang-”


    “Stt-”


    Tante Nia duduk di kursi kosong yang berada di sampingnya; menghadap Daniel.


    “Kirania Marva,” ucap tante Nia sambil mengulurkan tangannya.


    Pria tersebut hanya melirik tangan itu, “Bukan muhrim.”


    “Najis. Maksudku, oh ya.”


    “Apa yang membuatmu pikir aku harus mengetahui namamu?”


    “Karena kau membutuhkanku untuk membicarakan semuanya dengan baik-baik pada pacar dan calon mertuamu.”


    “Apa untungnya untukmu?”


    “Kebaikan.”


    Pak Daniel tersenyum sinis dihadapan wanita itu. “Mana mungkin wanita sepertimu melakukan sesuatu tanpa mencari keuntungan.”


    “Aku hanya ingin menebus kesalahanku.”


    Pak Daniel memerincingkan pandangannya pada wanita di depannya. “Hubungi aku lain kali. Sekarang aku sedang tidak ingin membahas ini.” ucapnya sambil menyerahkan kartu nama.


    “Terkadang, kita harus memaafkan diri sendiri dulu untuk kembali menjalankan hidup setelah kesalahan besar yang telah kita perbuat. Tidak apa-apa jika terlanjur berbuat salah.. Jika penyesalan itu masih ada, maka hatimu sebenarnya tidak benar-benar buta, dan kebaikan itu masih tetap ada.”


    Pak Daniel menatap dingin tante Nia. Ia sungguh tidak paham akan maksud dari perkataan wanita itu. Namun disisi lain, itulah yang dibaca tante Nia dalam sebuah artikel. Jika orang sedang terganggu mentalnya, ia akan membutuhkan kata-kata motivasi sebagai obat. Kata-kata motivasi itu juga yang terbesit di pikirannya setelah melihat bait kalimat pada sebuah truk besar yang menghalangi laju mobilnya tadi. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...


    Laju mobil Aileen tiba-tiba berhenti di tengah teriknya matahari menjelang tengah hari. Ia menghela nafas menyadari mobilnya tidak pernah di service lagi. Suara motor terdengar berhenti tepat di sampingnya.


    “Liam?”


    Liam mengetuk kaca mobil Aileen dan membuat wanita itu membuka kaca tersebut.


    “Kalo mau berhenti, jangan disini,” ucap Liam sambil menunjuk palang dengan simbol dilarang berhenti.


    “Emangnya apa yang aku lakukan disini? Mengunjungi semak-semak? Mogok tau ga!”


    “Oh, duluan ya!” ucap Liam sambil memacu motornya.


    “RESE!!” teriak Aileen diikuti dengan suara klakson di belakangnya.


    Gadis itu membuka kap mobil dan menahannya sendiri sebelum tangan seorang lelaki membantunya dan memeriksa mesin mobil itu.


    “Kenapa balik lagi?!”


    Aileen hanya bisa merengut karena ia memang tidak mengerti apa-apa soal mesin mobil. Kedua insan tersebut mendorong mobil itu ke pinggir jalan yang cukup aman. Liam mengecek lampu indikator dan dashboard mobil. Ia mengecek terminal aki, namun tidak ada masalah pada aki. Ia kemudian mengecek alternator dengan menempelkan kabel distributor.


    “Coba nyalakan mesinnya.”


    “Caranya?”


    “Nyalain mobilnya.”


    “Bilang dong dari tadi.” Liam hanya bisa menghela nafas.


    Percikan api tidak muncul, Liam segera membersihkan alternator dan memeriksa benda tersebut. 


    “Rotornya perlu diganti.”


    “Huh?”


    Kedua insan itu pun memutuskan untuk berboncengan menggunakan motor. Lelaki itu mencari jalan pintas diluar aturan lalu lintas karena tidak mengenakan helm. Aileen terdiam karena helm hitam milik Liam yang dikenakannya itu sangat berat. Setidaknya itulah alibi yang dibuat oleh Liam agar gadis itu mengenakan helm miliknya, meskipun ia harus menahan tawa karena Aileen tampak seperti tauge. 


    Sesampainya di kantor pak Daniel, dua insan tersebut diminta untuk membantu memetik buah yang tengah panen di kebun belakang kantor. Suatu hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Menenangkan pikiran di tengah kesibukan, katanya. 


    “Kau tau? Kita perlu menjalin kerjasama yang baik,” ucap Aileen sambil mengambil keranjang buah dan memberikannya pada Liam.


    Liam hanya mengambil keranjang tersebut tanpa sepatah katapun membuat Aileen geram.


    “Apa kau tidak ingin memperbaiki hubungan kita menjadi normal?”


    Liam tidak menghiraukan Aileen, ia malah memetik buah jeruk di hadapannya.


    “Baiklah. Ku harap kau tidak akan menyesal!”


    Mereka terus memetik buah-buahan di tengah teriknya matahari. Aileen membidik buah apel merah yang tersisa satu-satunya di salah satu pohon. Namun, bukan Liam namanya jika tidak berbuat usil, ia menyadari itu dan memetik buah apel tersebut dengan tangan jenjangnya.


    “Kembalikan buah itu, aku melihatnya duluan dan dengan jelas kau sengaja mengambilnya. Kau tau istilah pencuri?!”


    “Yang berhak mendapatkannya adalah siapa yang cepat bertindak bukan cepat melihat.”


    “Apa kau tidak ingin mengalah kepada gadis manis sepertiku?” ucap Aileen dengan nada memelas.


    Liam mendatarkan pandangannya, “Aku tidak peduli.”


    “Ya! Kau benar-benar mengujiku,” ucap Aileen sambil berusaha merebut buah apel dari tangan Liam. Namun lelaki itu menaikan apel tersebut dengan tangan jenjangnya sehingga gadis itu kesulitan mengambilnya.


    “Ambil jika kau bisa,” ucap Liam seakan menyombongkan tinggi badannya.


    Tidak kehilangan akal, Aileen melilitkan tangannya di leher Liam dan menatap lelaki tersebut dengan jarak yang dekat hingga membuat Liam terdiam dan perlahan menurunkan tangannya. Aileen segera mengambil apel tersebut dari tangan Liam dan tersenyum bangga.


    "Meskipun tinggiku hanya 165.5, tapi aku cerdas. Jangan main-main denganku", ucap Aileen sambil menjulurkan lidahnya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...


    Saung besar dan minuman dingin yang terletak tidak jauh dari kebun tampak menyambut kedatangan dua insan tersebut setelah bergulat dengan teriknya matahari.


    “Kita perlu menjalin kerjasama yang baik, benar kan?” tanya Liam setelah minum.


    “Aku tarik perkataanku tadi.”


    “Kenapa?”


    “Pikir aja sendiri!”


    “Oke, maaf kalo aku salah, tapi kita perlu nyelesain proyek ini dengan cepat kan?”


    “Kenapa?”


    “Kenapa..?”


    “Huh? Maksudku, ya, kita memang perlu nyelesain proyek ini dengan cepat.”


    “Jadi?”


    “Aku setuju.”


    “Beberapa hari kedepan tanpa berantem dan fokus sama kerjaan.”


    “Deal!”