
Pagi berkabut menghiasi villa yang bertempat jauh dari keramaian kota. Keheningan bukan untuk mengisi kesepian, melainkan kedamaian yang terpancar ketika melangkahkan kaki di tempat itu. Hijaunya tumbuhan dan bunga yang terawat dengan apik serta orang-orang yang ramah menyapa kedua insan yang cemas akan keberadaan kelima remaja yang baru baru menginjakan usia 19-20 tahun itu. Tante Nia segera menemui Aileen di kamarnya, membuat Ara meninggalkan kamar tersebut karena menangkap kode pembicaraan serius antara keponakan dan tantenya.
“Jadi, apa motivasi kamu melakukan hal kekanak-kanakan itu?”
Aileen tersenyum sarkas, “Karena aku memang tidak pernah tumbuh dewasa seutuhnya.”
Tante Nia menatap Aileen dan mempertanyakan maksud dari perkataan keponakan perempuannya itu tadi.
“Kenapa nggak pergi? Biasanya kan pergi sebelum aku beres bicara?”
“Kau menginginkannya?”
“Tumben juga nanya keinginan aku, kupikir semua udah nggak berarti.”
Sikap dingin tante Nia selama ini di tengah kesibukannya menyadarkan wanita tersebut. Ia sadar Aileen marah dan kecewa, dan ia tidak ingin melukai gadis itu lagi dengan perkataannya yang kasar.
“Ko diem? Biasanya kan aku yang diem. Pernah sih aku cerita panjang lebar, tapi emang nggak penting juga kan.”
“Bisa kita memperbaiki hubungan ini?”
“Emang kenapa? Baik-baik aja kan, kaya biasanya, aku selalu mengikuti keinginan tante sampai aku kehilangan petunjuk berarti saat itu.”
“Apa maksud kamu?”
Aileen menunjukkan bukti bahwa intuisinya selama ini benar, bahwa kecelakaan pesawat itu disabotase oleh pak Bram, bukan hanya itu, ia terkejut saat menyadari pak Daniel turut serta dalam kecelakaan yang menewaskan mendiang kakak perempuan satu-satunya dan kakak iparnya. Petunjuk terakhir adalah kejujuran dari pak Daniel yang akan mengantarkan mereka pada suatu kesimpulan berarti tentang dalang di balik semua yang terjadi.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Tante Nia menarik kerah kemeja Daniel dan menyudutkannya di tembok. Nafasnya ia atur dengan gusar. Pak Daniel hanya bisa terdiam tanpa niat melawan wanita tersebut. Tante Nia tidak peduli dengan pendapat orang akan hal itu, ia segera menyingsingkan lengan baju Daniel yang ia yakini terdapat sayatan disana. Wanita itu bertanya tentang asal usul luka sayatan tersebut pada pria di hadapannya, namun pria itu bungkam. Kristal air mata jelas tampak pada kedua insan tersebut. Wanita itu tersenyum sarkas dan menunjukkan foto lumuran darah pada sudut runcing pintu darurat yang telah patah. Ia juga menunjukkan sketsa yang kemungkinan besar diakibatkan karena tersayat sudut runcing tersebut saat ingin menyelamatkan diri dari pesawat. Itu sama persis seperti seperti luka sayatan yang ada di lengan pria tersebut.
“Erick Alexander.” Tante Nia tertawa sarkastik dengan linang air mata membasahi pipinya.
“Maaf.”
Tante Nia menatap pria di hadapannya, tidak percaya. Ia hancur di dalam kerapuhan yang kembali ia rasakan. Berlabuh pada kapal yang salah, jatuh hati pada seorang pembunuh dari satu-satunya keluarga yang tersisa di hidupnya saat itu. Menyesal, itu kata yang terbesit di pikiran wanita itu kini. Ia membiarkan hatinya berlabuh untuk pertama kalinya pada sebuah kapal yang mengantarkannya tenggelam tergonjang-ganjing di tengah derasnya ombak di malam hari.
Pria yang ada di hadapan tante Nia saat ini adalah pria yang seharusnya ia benci seumur hidupnya. Pria itu merupakan co-pilot yang melakukan pembunuhan pada orang yang sangat berharga di hidupnya dan berhasil memberikan penderitaan pada dirinya dan keponakan perempuannya, Aileen. Ia bekerja sama dengan om Barack setelah mendapat ancaman serius untuk kedua orang tua angkatnya. Selain itu, Barack mengancam pria tersebut atas tuduhan tindakan kriminal yang tentunya akan membuat malu keluarga angkatnya itu. Pak Daniel yang dalam kondisi tertekan saat itu, tidak bisa banyak bergerak, suara jeritan orang tua angkatnya yang disiarkan melalui earpiece nya saat penerbangan membuat pria itu melakukan aksi spontan yang ia sesali seumur hidupnya. Setelah menyabotase pesawat, ia menginginkan dirinya mati detik itu juga. Namun ia terlalu malu untuk menampakkan mukanya bahkan ketika nyawanya sudah tidak ada. Ia pun menjatuhkan dirinya sendiri dan bangkainya tidak pernah ditemukan.
Namun takdir berkata lain, ia ditemukan oleh keluarga yang merawatnya dengan baik hingga pria tersebut menjadi seorang pelukis. Saat itu, ia kehilangan memorinya dan keluarga tersebut mengganti identitasnya dengan nama Daniel Iez. Semakin hari, ingatannya semakin pulih. Ia kembali dipertemukan dengan om Barack dan pria itu semakin menyembunyikan identitas Daniel agar namanya tidak terseret dalam kasus itu lagi.
Waktu berselang, pak Bram menyerahkan semua barang bukti pada Daniel. Pria itu ketakutan jika harus menyimpan barang bukti sendiri, namun Daniel sengaja mengatur semuanya agar barang bukti itu jatuh ke tangan Liam, anak yang ia kenal sebagai pribadi yang baik dan cerdas.
‘Aku memang tidak pernah menghilangkan barang bukti. Ketika barang bukti itu telah ditemukan, itu saatnya aku untuk bertanggung jawab atas semuanya,’ batin pak Daniel.
Sejak saat itu, Barack didapati sebagai dalang dibalik semuanya (kecelakaan pesawat dan penusukan Ny. Kendrick). Sejak saat itu juga, Barack dan Daniel dijatuhi hukuman seadil-adilnya. Memang selalu ada konsekuensi ketika melakukan suatu tindakan, mengetahui sesuatu dan merasakan sakit untuk kesekian kalinya. Biarkan saja itu terjadi selama jalan itu berlandaskan kebaikan. Satu persatu rahasia hidup akan terungkap, biarkan saja suratan Tuhan itu terjadi, tidak apa jika membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya, perlahan manusia itu akan kuat dengan sendirinya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Dress pantai Aileen yang selaras dengan kemeja putih yang dikenakan Kei, terhembus angin yang sinkron dengan deburan ombak pantai. Dua insan tersebut berjalan di tepi pantai dengan tangan Kei yang menopang tubuh gadis itu yang terkadang tidak seimbang. Sore itu, mereka menikmati pengalaman manis dan berharga. Pada akhirnya, dua manusia yang saling terluka akan saling mengobati, setidaknya itulah yang tercermin saat mereka bersama.
Hanya menikmati keindahan senja dan berada di samping orang yang tepat dirasakan oleh kedua insan tersebut. Tidak perlu mencari orang lain lagi untuk melengkapi hidup jika selalu ada satu orang yang dapat dengan sabar memahami setiap kelemahan yang dihadapi. Kei bukan hanya menerima Aileen dengan segala kekurangannya, tapi juga membuat gadis itu lebih baik lagi dengan cara yang lembut. Sedangkan Aileen, cukup dengan kehadirannya di hidup Kei membuatnya selalu ingin menjadi lelaki lebih baik setiap waktunya.
Langit senja pun tersenyum melihat kehangatan yang terjalin pada hubungan Kei dan Aileen. Meskipun tanpa sebuah komitmen, kasih sayang itu sangat nyata terasa. Bukan lagi tentang memiliki, tapi lebih dari itu mereka saling menjaga.
Kei tertawa setelah berhasil menghentikan pendarahan di hidungnya, “Apa kau mengkhawatirkanku?”
Aileen memukul lengan Kei, “Nggak lucu!”
“Aku akan baik-baik saja, ini karena kecapean. Maka kau perlu memastikan dirimu baik-baik juga,” ucap lelaki tersebut sambil mengacak rambut gadis di sampingnya.
Aileen terdiam, seketika ia menatap dalam dan memeluk erat lelaki di sampingnya.
“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau meninggalkanku.”
Kei segera menjatuhkan tubuh di kasur setelah menahan rasa sakit di kepalanya. Kini, ia menyadari mengapa ayahnya tidak ingin dilihat olehnya saat kondisi memprihatinkan. Terlihat baik-baik saja di depan orang yang dicintai terasa jauh lebih baik daripada menampakan kondisi sesungguhnya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Malam itu, Liam sedang mengantarkan adiknya ke rumah sakit karena penyakit tipes. Ia berpapasan dengan Kei yang tersenyum ke arahnya dengan bibir yang terlihat pucat. Lelaki itu terjatuh di pelukan tubuh Liam dengan darah keluar dari hidungnya, membuat lelaki itu segera meminta pertolongan dan mengantarkan lelaki itu ke ruang ICU. Lelaki dengan noda darah di baju putihnya itu berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang periksa. Ia mengusap kasar kepalanya dan kekhawatiran itu nyata. Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, namun tidak ada pihak keluarga disana, hanya Liam yang berkomunikasi dengan dokter yang menangani Kei.
Mata Liam memerah karena kristal air mata saat dokter menyatakan Kei mengalami tumor otak yang kemungkinan besar adalah genetik. Tindakan operasi perlu dilakukan untuk menyelamatkan lelaki itu. Dengan nafas yang terengah-engah, Liam berlari menemui Kei di ruang perawatan, tanpa basa-basi, ia memeluk lelaki yang sedang tertidur lemas di ranjang rumah sakit.
“Kau harus tetap hidup, brengsek!”
“Pengap, sialan!”
“Jangan lemah, bajingan!”
Tiba saatnya, Kei bersyukur dengan kedatangan Liam di tengah-tengah hubungannya dengan Aileen. Setidaknya, lelaki itu bisa membuat Aileen bahagia, meskipun suatu saat ia akan pergi meninggalkan gadis itu. Ia hanya berharap, Aileen sama sekali tidak benar-benar membencinya.
“Jaga dia seperti kau menjaga adik perempuanmu.”
Liam langsung menyadari bahwa itu ditunjukkan pada Aileen. Ia segera membantah, tapi jam istirahat pasien membuat lelaki tersebut harus berpisah dengan Kei. Kei sempat berbisik sebagai penekanan untuk menjaga Aileen sebelum Liam membalas bisikan itu agar Kei tetap bertahan dengan alasan dia adalah gay. Tentu hal itu adalah alibi Liam untuk membuat lelaki itu tidak putus asa, dan Kei menyadari semua itu.
Linang air mata jelas hadir di membasahi pipi Liam. Tidak ada yang menyadarinya saat itu, helm sport hitam yang ia kenakan meskipun berada di rumah sakit, berusaha ia memanfaatkan sebagai media yang tepat mengeluarkan kesedihan yang ia rasakan. Tidak masalah orang menganggapnya aneh, karena tubuh kuatnya sedang rapuh saat ini.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Pagi itu, Aileen kehilangan satu harmoninya. Bintang paling terang yang ia tuju tampak redup dan menghilang. Ia mengetuk pintu apartemen Kei, tidak ada orang disana. Kemanapun ia mencari harmoni itu, ia tetap tidak menemukannya. Menghilang dalam sekejap, tentu, harapan itu masih tersimpan nyata. Kei memiliki kehidupannya sendiri dan privasi, itu yang dibisikan Aileen pada dirinya sendiri untuk menghilangkan pikiran berlebihan yang hanya akan menyakiti hatinya.
Terlebih gadis itu percaya, bahwa Kei, tidak akan meninggalkannya. Kei, adalah satu-satunya lelaki saat ini yang setiap kata yang diucapkannya, dapat dipegang dengan baik. Saat itu, Liam sekalipun tidak mengetahui keberadaan Kei. Memberitahu yang ia ketahui pada Aileen, tentu akan menjadi penyesalan tiada akhir, maka ia menutup rahasia yang Kei berikan untuknya.
Kafe milik Kei sepi, tidak ada lonceng yang berbunyi tiap kali pengunjung masuk. Hari demi hari terus berjalan. Aileen masih percaya bahwa Kei akan kembali. Kembali ia ketuk apartemen yang ia rindukan kehangatannya, namun nihil. Ia melangkah menuju cafe tempatnya biasa bercengkrama dengan lelaki itu, namun seperti biasa, yang berubah hanyalah kaca cafe semakin berdebu
‘Tidak apa, dia akan segera kembali,’ benak Aileen.
Tahun demi tahun berlalu, mengecek tempat Kei merupakan kebiasaan bagi gadis itu. Topi sarjana telah ia kenakan, namun lelaki itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Aileen tidak membiarkan diri untuk berpikir berlebihan, meskipun pikiran itu tetap ada dalam benaknya.
Tiba sesi foto bersama, tidak disangka, foto kebersamaan mereka di akhir masa perkuliahan hanya menyisakan empat insan.
Kemana Kei selama ini?
Liam jelas menyadari perubahan sikap Aileen yang lebih pendiam dan bersikap tegar. Tidak hanya Liam, Evin dan Ara pun merasakannya. Mereka khawatir akan keadaan sahabatnya tersebut.