HIAMOE

HIAMOE
INFINITY IMPACT



Pengalaman pertama Aileen sebagai seorang mahasiswa seni rupa murni dimulai. Kanvas putih di hadapannya mengawali hari berharga; melepas semua rumus matematika atau berbagai materi sains yang hanya masuk hanya beberapa persen ke dalam otaknya. Saat ini, mungkin orang dapat menyebutnya gadis beruntung yang akan mengubah hobi menjadi suatu hal yang bernilai komersial. 


Sejak kecil, Aileen selalu memiliki imajinasi yang luas dan menuangkannya dalam sehelai kertas ataupun tembok sehingga menghasilkan suatu karya seni dan omelan karena berhasil mengotori tembok dan pakaian sebagai hasil sampingan. Hanya sang ayah yang membelanya saat itu, namun pembelaan itu tentunya tidak gratis. Gadis kecil itu harus berjanji kepada sang ayah untuk membayarnya dengan hasil kerja keras yang disertai dengan kebahagiaan di dalamnya.


Menjadi pelukis terkenal, itu yang dijanjikan Aileen pada sang ayah. Hal itu pula yang memotivasi gadis itu untuk terus mengembangkan potensinya. Namun sekarang, motivasi itu perlahan gugur, untuk siapa ia akan melakukan semua itu; semua usaha yang timbul karena dukungan dari orang yang paling berharga di hidupnya. 


Dukungan terbaik itu sudah pergi, lantas mungkin hanya takdir dan tekad yang membuat gadis itu berdiri tegar sampai saat ini, atau mungkin kekuatan lain yang memang ada dalam dirinya. 


“Aileen,” bisik seseorang yang tanpa gadis itu sadar, sedang duduk di sampingnya.


Aileen terkejut dan membulatkan kedua matanya. “Evin? Gila ya? Ngapain disini?” Sontak semua pasang mata menatap Aileen dan Evin. 


“Wah, kau benar-benar keterlaluan. Aku memang kuliah disini.”


“Jurusan seni rupa murni juga? Jangan bercanda deh.”


“Wah, apa kau sakit? Memangnya kenapa kalau aku kuliah disini juga?”


“Jadi bener kamu kuliah disini?”


Dekhem seorang dosen dengan gaya santai dan wajahnya yang tampan serta rambut keriting di cat coklat, turut menyempurnakan penampilan pria tersebut. Seketika pandangan semua mahasiswa teralihkan pada dosen itu.


“Leen, mana bajunya item lagi,” bisik Evin.


“Terus kenapa?”


“Jadi tambah ganteng.”


“Astaga, Vin. Kamu cowo.”


“Oh iya lupa.”


Aileen memutarkan bola matanya, disisi lain, gadis itu setuju bahwa penampilan seorang pria yang berdiri di depannya itu tampak keren. 


“Dua orang yang duduk di tengah, ada yang ingin disampaikan?” ucap dosen tersebut dengan suara beratnya seolah menyihir perkataan dingin menjadi hangat dan membuat rona di pipi siapa saja yang mendengarnya.


“Dengan siapa saya bertanya?,” tanyanya sekali lagi, menghancurkan lamunan Aileen dan Evin.


“Huh? kami? Nggak ada apa-apa pak.”


“Baik, sebelumnya perkenalkan, saya Daniel.”


“Beda jauh sama pak Bram,” bisik Aileen.


“Ya ampun, kamu harus tobat ghibah soal pak Bram, Leen.”


“Soalnya 11/12 sama kamu gitu ga sih?”


“Ekhm.”  


Dekhem dosen tersebut membuat suasana menjadi kembali kondusif. Perkuliahan dimulai dengan menggambar objek dasar yang terasa begitu membosankan bagi Aileen, namun tidak saat ia melihat dosen yang sedang memberi instruksi di hadapannya. Berbeda dengan Evin, lelaki itu selalu antusias menjalankan semua instruksi tanpa rasa beban, karena keceriaan seakan digenggam oleh lelaki tersebut. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Tante Nia dengan kemeja rapi datang menemui Aileen yang sedang duduk di kantin kampus yang megah. Mata wanita tersebut membulat menyadari semangkuk mie panas akan mengguyur tubuh keponakannya yang berada tepat di hadapannya. Dengan sigap, tante Nia menepis baki itu berlawanan arah sehingga tidak ada setetes pun kuah panas yang mengenai tubuh Aileen. 


Disamping itu, teriakan seorang pria bertubuh kekar yang Aileen kenali dengan kharismanya terdengar nyaring karena terkena mangkuk keramik yang keras serta kuah mie yang panas. Sontak, Aileen yang mengetahui bahwa pelaku adalah tantenya tersebut segera menyembunyikan muka dan mengendap-ngendap pergi, namun Evin dan kerumunan mahasiswa yang mendekat tidak memberikan jalan keluar untuk menghindar.


Tante Nia mengulum bibir dengan rasa bersalah menyelimuti pikirannya.  


“Ma-af,” ucap tante Nia dengan nada gelagapan, entah berapa lama kata itu tidak keluar dari mulut wanita tersebut. Kata itu seakan telah dikerumuni oleh laba-laba di otaknya, atau terpajang di sebuah museum otak sebagai sebuah fosil yang tidak boleh disentuh oleh siapapun. Namun, kali ini, kata itu menampakan dirinya seakan mengubah status terancam punah menjadi rentan. 


Pria itu mengerutkan dahi dan memiringkan pandangannya menatap wanita tersebut. Ia berusaha menahan amarahnya di hadapan kerumunan murid dan wanita paling ceroboh -menurutnya- yang baru saja ia temui “Bukan masalah.”


“Berapa uang yang harus aku berikan untuk menebus semuanya?”


Pria yang bernama Daniel itu tersenyum sinis, ia tidak bisa lagi menahan kekesalan dalam dirinya. “Apa kau pikir semua bisa dibayar dengan uang?!”


“Katakan apa maumu, aku tidak punya waktu untuk sekedar membicarakan hal yang tidak penting.”


“Permisi?, Mungkin ada yang salah dengan dirimu. Apa kau pikir aku punya waktu untuk membersihkan kekacauan ini?”


“Jangan memperpanjang masalah, beritahu saja nominalnya.”


Pria tersebut kembali tertawa sinis dan meninggalkan tante Nia yang masih berdiri mematung di tengah-tengah mahasiswa yang telah menyaksikan kejadian tersebut. Wanita itu tidak ingin dicap sebagai wanita tidak bertanggung jawab, lantas ia mengejar Daniel. Ia berlari dengan menahan kekesalan akan harga dirinya yang ia pertaruhkan sekedar mengejar pria yang ia yakini berwatak angkuh.


“Permisi, tuan dengan noda kuah mie, tunggu sebentar!,” teriak tante Nia pada Daniel yang semakin menjauh. 


Tante Nia terus mengejar Daniel yang berjalan semakin cepat dengan langkahnya yang panjang membuat tante Nia sulit untuk mendekatinya, terlebih karena sepatu heels yang ia kenakan. 


“Kalau bukan masalah harga diri, pasti sudah kutinggalkan dia, atau aku lempar mangkok mie untuk kedua kalinya,” pikir tante Nia.


Tante Nia berusaha mempercepat laju larinya untuk menyamai langkah Daniel, namun Daniel malah menghentikan langkahnya secara mendadak. Langkah kaki tante Nia seolah sulit dihentikan, hingga menabrak punggung Daniel  dan menimbulkan suara benturan yang terdengar cukup keras menandakan kesakitan yang dirasakan wanita itu pada kepalanya. Sontak tante Nia terjatuh dengan gaya, ia terduduk seolah bersimpuh di hadapan Daniel yang mulai menghadap ke arahnya. 


“Aduh!”


Daniel mengarahkan atensi dingin pada wanita di hadapannya. Menyadari posisi wanita tersebut, Daniel tertawa kecil yang terkesan merendahkan Tante Nia. Menyadari hal itu, wanita dengan heels dan penampilan yang seharusnya anggun itu, segera berdiri dan mengangkuhkan pandangannya pada Daniel. 


Daniel tidak menghiraukan pertanyaan wanita di hadapannya, ia melipatkan lengan dan mengangkat sebelah alisnya dengan pandangan tajam penuh kharisma. Hal tersebut membuat tante Nia semakin kebingungan dengan tingkah pria tersebut. 


“Aku seorang dokter.”


Daniel semakin menatap tajam tante Nia seolah tidak peduli dengan apapun yang ia katakan.


“Jangan salah paham, maksudku, aku bisa mengobati lukamu.”


“Terima kasih atas niat baikmu, dokter?!”


“Apa maksud nada bicaramu?”


“Aku tidak membutuhkan niat baikmu.”


Daniel berjalan menjauh dari tante Nia, sementara wanita itu menganga dan mengatur nafasnya gusar sambil sesekali meniup rambut jagungnya. Seketika ia dibuat tertawa ngakak karena pria yang bertingkah angkuh di hadapannya itu terjatuh karena menabrak pagar yang dibukakan oleh seorang Office Boy (OB) ke arah luar. Sontak wanita itu bersemangat mendekati pria tersebut.


“Pak Daniel? Aduh, mohon maaf pak, saya tidak tahu. Ya ampun pak, apa pagar besi ini ada kuah mienya juga?, saya minta maaf loh, tidak sengaja,” ucap OB tersebut.


Daniel menghentikan ucapan pria berseragam OB tersebut dan memegang kepalanya erat, ia menatap nanar tante Nia yang seolah sudah siap dengan rangkaian kata untuk memakinya. Namun, ekspresi tante Nia seketika berubah saat pria tersebut pingsan, lantas ia membawanya ke klinik yang tidak jauh dari sana. 


“Selain menjengkelkan, pria ini juga merepotkan,” gumam tante Nia.


Tante Nia segera memeriksa pria tersebut dan mengoleskan obat pada cedera di kepalanya, setelah mengetahui dokter yang bertugas sedang istirahat. Seorang office boy datang membawa baju kemeja bermerek mahal yang tante Nia pesan secara online untuk mengganti kemeja yang pria itu kenakan.


“Permisi dok, ini barang yang dipesan sudah sampai.”


“Baik, terima kasih.”


“Terima kasih kembali bu dokter.”


“Eh, mau kemana?”


“Saya ini loh dok, ada rapat office boy, harus cepat-cepat pergi.”


“Bisa tolong saya gantiin baju bapak-bapak ini nggak?”


“Aduh, maaf bu dokter, nggak bisa. Ini rapat penting, mempertaruhkan hidup dan mati saya ini loh. Saya pergi dulu ya.”


“Wah, sakit tuh orang.”


Tante Nia melihat Daniel yang terbaring lemas dengan noda kuah yang masih basah dan lengket. Ia menghela nafas dalam-dalam sebelum memutuskan menggantikan baju pada pria tersebut, khawatir ada luka lain di tubuhnya dan terinfeksi.


“Kenapa aku cemas? Dia sama seperti pasienku yang lain, bersikap profesional adalah prinsip hidupku.” 


Tante Nia segera menggunting baju yang dikenakan Daniel untuk mempermudahnya mengganti pakaian pria tersebut. Badan berototnya semakin terlihat dengan jelas. Luka sayatan pada pergelangan tangannya yang kembali berdarah, kemungkinan akibat goresan pagar, menjadi atensi tante Nia saat ini. Ia segera membersihkan luka dan tubuh Daniel dengan air kompresan yang secara kontinyu ia ganti untuk menghindari adanya infeksi.


Wanita itu bersyukur bahwa klinik menyediakan fasilitas lengkap sehingga ia dapat mentreatment luka sayatan yang telah lama itu dengan baik. Tante Nia menyadari bahwa luka tersebut terlihat sudah menahun dan seperti sayatan pisau, tapi wanita itu tidak peduli akan hal tersebut. Saat kembali mengecek benjolan pada kepala pria itu, Daniel tersadar, dengan refleksnya, ia menarik tubuh wanita yang sedang duduk disampingnya itu menjadi berada di bawahnya. 


Seorang dokter senior dengan jas putih yang hampir setiap hari ia kenakan membuka pintu dan melihat sebuah tindakan yang menurutnya merupakan tindakan tidak senonoh. Sontak dokter wanita senior tersebut menggelengkan kepalanya, tante Nia yang merasa harga dirinya hancur, menendang Daniel dan berhasil membuat pria tersebut merintih kesakitan.


Tante Nia segera memberikan kantong kertas berisi set pakaian pria pada Daniel dan berencana meninggalkan tempat tersebut. Namun, tangan seorang dokter wanita senior itu menghentikan langkahnya.


“Kita bertiga harus bicara, anak muda.”


“Permisi dok, apa yang harus dibicarakan?”


“Duduk disini,” ucap tegas dokter tersebut membuat tante Nia segera duduk membelakangi Daniel.


Daniel meraih baju kemejanya dan terkejut mendapati benda tersebut tergunting rapi dan tidak bisa dipakai sama sekali. Lantas ia segera mengenakan baju yang dibelikan wanita di sebelahnya karena tatapan mengerikan dari dokter senior itu.


Berbagai nasehat dan pepatah terus diutarakan wanita dengan usia yang dua kali lipat lebih tua dari dua insan itu. Waktu sudah menunjukan satu jam perbincangan, membuat telinga siapapun yang mendengarnya memerah dan panas. Tante Nia dengan pikirannya yang dipenuhi oleh rasa marah karena perlakuan Daniel, dan Daniel yang dipenuhi rasa emosi karena berbagai hal yang dilakukan wanita yang baru saja ia lihat. Terlebih wanita itu semena-mena merobek baju pemberian kekasihnya.


“Seberapa serius kau dengan anakku, Daniel?”


Pertanyaan itu membuat mata tante Nia membulat, kini ia menyadari mengapa dokter senior itu begitu marah dan cenderung menghakimi dirinya sebagai seorang wanita tidak baik. 


Tante Nia keluar setelah pembicaraan yang menurutnya tidak penting itu. Namun tubuh Daniel menghalangi jalannya untuk pergi.


“Apa yang kau lakukan?”


“Kau pikir apa yang kulakukan, huh? Kenapa kau menggunting bajuku?”


“Cih, sama-sama.” tante Nia melewati Daniel dan kembali ditahan oleh pria tersebut.


“Apa yang membuatmu berpikir mengatakan perkataan itu daripada maaf?”


“Kau ingin aku berteriak dan mengatakan kau seorang dosen mesum, huh?”


“Jaga mulutmu, kau yang menelanjangiku.”


Tante Nia membulatkan matanya, “Apa orang menyebutmu dosen dengan pemilihan kosa kata yang tidak sopan?”


“Tidak ada kosa kata sopan untuk wanita sepertimu.”


Sorot mata tajam dari kedua insan tersebut terpancar, namun sudut pandang mahasiswa yang melihat kejadian itu seolah mengatakan hal tersebut sangat manis dan mengabadikannya. Tidak lupa mereka membagikannya dengan hastag #dosendokterfallinlove.