HIAMOE

HIAMOE
AWARENESS



Secangkir kopi dan segelas kopi panas tampak dengan jelas mengeluarkan uapnya di tengah-tengah udara dingin. Lonceng yang terpasang di pintu tempat ngopi itu terus berbunyi menandakan pengunjung yang berangsur-angsur datang dan pergi dari tempat tersebut. Aileen menyeruput coklat panas yang dipesankan sang pemilik cafe yang berada di hadapannya. 


“Makasih.”


“Sama-sama.”


“Kenapa ngajak aku kesini?”


“Emang nggak boleh?”


“Kalo aku bilang nggak, gimana?”


“Aku culik kamu, bawa pasukan tante Nia.”


“Ko tante Nia?”


“Soalnya udah ceesan.”


Aileen terkekeh dengan perkataan Kei.


“Maaf meragukanmu tentang mimpi itu.”


“Nggak masalah. Kita memang berbeda, kamu jelas lebih memutuskan sesuatu dengan logika dan aku dengan intuisi.”


“Ada sesuatu yang aku khawatirkan, Leen.”


“Apa?”


“Awareness.”


“Huh?”


“Mau aku tunjukkan sesuatu?”


Kei meletakkan sebuah simbol wifi tepat di cermin yang berada di sebelahnya hingga timbul sebuah refleksi. 


“Jika kau melihat lebih dalam, simbol ini merefleksikan suatu makna. Kau tau apa?”


Aileen mengangguk berlagak tau dengan pandangan bengo tanda masih tidak mengerti apapun yang dibicarakan oleh lelaki di hadapannya. Kei menyadari itu dan menjitak pelan kepala Aileen.


“Lihat gerombolan orang di meja sana, apa yang bisa diamati?”


“Mereka berkumpul tapi sibuk dengan ponselnya masing-masing?”


“Ya, sebuah hal yang dianggap klise, disadari, tapi tidak diperbaiki.”


“Jadi, apa poinnya?”


“Kesadaran dan eksistensi.”


“Jangan buat otakku berpikir keras, Kei.”


Kei memberikan minuman pada gadis di hadapannya dengan sedotan tepat mengarah di depan bibir gadis itu, membuat Liam membulatkan matanya, terkejut.


“Otakmu butuh nutrisi sebelum berpikir lebih keras.”


“Tapi ini kopi, kafein!”


“Biar nggak ngantuk.”


“Sejak kapan kopi pake sedotan?”


“Dilanjut nggak nih?”


Aileen memfokuskan pandangannya pada Kei, meski bukan kata-kata yang diserap olehnya, melainkan paras lelaki itu yang semakin tampan, terutama ketika dengan sabar menjelaskan suatu hal yang sulit dimengerti otak Aileen yang dinamai dengan Brainalen.


Senyum lebar terukir di wajah manisnya, ia menatap Kei seolah sedang mencetak bayangan lelaki itu di dalam benaknya dengan kualitas yang sangat tinggi. Hingga akhirnya, lamunannya terhancurkan dengan suara kencang geng anak sekolah yang ia yakini sedang dalam masa puber.


“Disadari atau tidak, mayoritas orang yang sedang berkomunikasi dengan gadget tanpa memperdulikan sekitarnya dapat menandakan bahwa sedikit orang yang menyadari akan eksistensi dirinya sendiri di suatu tempat, bahkan mungkin eksistensinya sendiri sebagai siapa dirinya di dunia ini dan misi apa yang harus ia kerjakan.”


“Bukankah seharusnya orang yang “waras” akan sadar akan eksistensinya di suatu tempat?”


“Seharusnya.”


“Lalu apa?”


“Tapi apakah mereka benar-benar menyadari apa yang sedang dia lakukan dan menyadari apa tujuan hidup mereka di dunia ini?”


“Aku tidak tahu.”


“Beri tahu aku bunyi hukum tiga newton.”


“Apa kau berusaha meledekku?! Jelas aku tidak tahu, bahkan tidak pernah mendengar kata hukum apa tadi?. Wah, kau benar-benar.”


“Oh, itu! Jelas aku tau lah. Aku cuma lagi merendah aja. Kau tau? Merendah untuk meninggi. Hukum apa tadi? New-y-uork? Ha ha ha, jelas aku tau,” ucap Aileen sambil menyeruput minumannya. 


Kei menatap dingin Aileen. “Merendah untuk meroket.”


“Ah ya, itu.”


“Kau benar-benar menyadari keberadaanmu saat ini? Tentang siapa dirimu sesungguhnya dan alasanmu bertahan, di dunia ini?”


Aileen menggeleng, “Aku tidak yakin.”


“Itu sebabnya kau selalu ingin kembali tertidur dan bermain dengan imajinasimu?”


“Mungkin. Apa itu salah?”


“Bukan, maksudku, apa dengan itu kau bahagia?”


“Apa aku tidak terlihat bahagia?”


“Apa kau merasa bahagia?”


“Kei, alasanku untuk bahagia sudah hilang. Kedua orangtuaku, mereka sumber kebahagiaanku. Hanya dengan menutup kedua mata, tertidur, dan bermimpi aku bisa merasakan kembali kehadiran mereka. Meski aku kembali tersadar dan membenci semuanya.”


“Kau tidak benar-benar bahagia.”


“Kau benar. Aku tidak benar-benar bahagia.” 


“Pasti ada alasan Tuhan tetap mengizinkan kita tetap tinggal di dunia ini. Keberadaan kita mungkin adalah alasan orang lain untuk bertahan dan berjuang. Keberadaanmu, adalah satu-satunya alasan seseorang untuk berjuang.”


“Huh?”


 “Atau mungkin tuhan ingin melihat seberapa lama kita mampu menyelesaikan misi kehidupan, karena Tuhan tau, hambanya kuat menghadapi semua cobaan, tapi terlalu malas melakukan tindakan.”


“Atau tindakan itu terlalu menyakitkan.”


“Ya, tapi Tuhan memberi kita waktu untuk berdamai dengan keadaan.”


Aileen kembali menyeruput minumannya. Berdamai dengan keadaan dan menerima semua cobaan sebagai jalan menuju pribadi yang lebih baik lagi, itu yang ditangkap oleh Aileen dari pembicaraan panjangnya dengan Kei. Lelaki itu menyadari bahwa Aileen adalah alasannya untuk bertahan selama ini, melihat gadis itu terpuruk, jelas sangat menyakitkan bagi Kei. Lelaki itu akan melakukan berbagai cara demi membuat gadis itu bahagia. Sebut saja kebahagiaan Aileen adalah kebahagiaan sesungguhnya bagi Kei.


Hidup terus berjalan dengan diri sendiri sebagai tokoh utama. Semua makhluk memegang misinya masing-masing, tidak terkecuali bayi yang baru lahir, bahkan telur kodok pun harus melakukan adaptasi saat baru dikeluarkan. Tidak apa-apa menyingkirkan masa lalu yang mengikat menjadi siapa diri kita sesungguhnya saat ini, sejenak, lupakan peribahasa kacang lupa kulitnya, jika kita bersikap tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Potensi adalah hal yang diberikan Tuhan pada semua ciptaan-Nya, maka yakin terhadap potensi diri, berdoa,dan bekerja keras meraih mimpi adalah kuncinya. Tidak apa jika banyak rintangan lain yang menghalangi, perlahan tubuh itu akan semakin kuat dan rintangan itu akan terlihat cupu.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen dan Kei berjalan menelusuri trotoar menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. Gadis itu menghentikan langkahnya tiba-tiba membuat Kei spontan ikut terdiam.


"Apa kau juga bahagia?"


"Bisa jadi."


"Kenapa gitu?"


"Karena kebahagian bersifat subjektif."


"Huh?"


"Kita nggak bisa ngukur tingkat kebahagiaan orang, tapi saat ini, aku sedang bahagia."


"Syukurlah."


Kei tersenyum sebelum mengacak rambut Aileen dan menarik tangan gadis itu.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Langit sedang menyembunyikan kehangatan cahaya mahari di tengah-tengah taman hiburan, menyisakan udara dingin di sore hari. Payung atau jas hujan pun disiapkan oleh para pengunjung yang tetap bersemangat menikmati wahana dan fasilitas yang tersedia disana. Tidak terkecuali Aileen dan Kei, mereka turun dari mobil dengan jaket tebal.


Wahana gondala adalah tujuan mereka saat ini. Mereka segera menaiki wahana tersebut setelah mendapatkan tiket masuk. Kereta gantung itu benar-benar tidak mengecewakan penumpang dengan menyuguhkan pemandangan hamparan gunung yang terlihat lebih dekat dari biasanya. Pandangannya seketika menuju pelangi yang terbentuk bak jembatan penghubung dua bukit besar.


"Wah, keren," ucap Aileen spontan.


Kei berdiri di sampingnya Aileen dan menatap lekat gadis itu, Pemandangan jauh lebih indah ketika melihatmu. Kumohon, tetaplah seperti ini sementara waktu, batin Kei.


Aileen tidak bisa memalingkan pandangannya dari hijaunya gunung yang menyejukan matanya serta pelangi yang tercipta di tengahnya. 


"Aku harus mengabadikan ini!” ucap Aileen sambil mengeluarkan ponselnya untuk merekam. Sementara Kei masih memperhatikan gadis itu.


"Kei ayo kita foto.” 


Aileen membenarkan rambutnya, sementara lelaki di sampingnya merapikan rambut-rambut jagung gadis itu yang membuatnya lebih manis. 


"Cantik," ucap Kei yang berhasil membuat pipi Aileen memerah. Kei tersenyum tipis menyadari hal tersebut.