
Apartemen Kei yang sepi berubah seketika karena kedatangan Evin. Remaja lelaki berambut pirang itu mengikuti Kei sembari membujuknya agar ikut liburan sekolah. Semua tawaran ditolak mentah oleh Kei. Namun Evin tetaplah orang yang tidak mudah menyerah.
“Jika kau ikut, aku akan membelikanmu ini,” ucap Evin sambil menunjukan ponselnya.
“Menarik,” jawab Kei datar sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Mendengar jawaban tersebut, Evin mendekatkan wajahnya ke wajah Kei dan memegang kedua bahu lelaki di hadapannya itu. “Apa itu artinya kau ikut?”
Kei mengedip-ngedipkan kedua matanya dan segera mendorong badan Evin. “Tidak sama sekali.”
Merasa kecewa, Evin cemberut dengan memeluk kedua lututnya. Tiba-tiba sebuah ide brilian muncul, lelaki itu menawarkan untuk mengerjakan tugas Kei selama 1 tahun jika temannya tersebut ikut liburan. Seketika Kei beranjak dari tidurnya, “tawaran diterima.”
Evin bersorak, energinya seakan terkumpul kembali. Ia segera menarik Kei ke parkiran mobil apartemen. Mereka sempat berdebat sebelum akhirnya Kei mengalah dan mengikuti lelaki itu.
“Baiklah, mana kunci mobilnya?” tanya Evin.
Kei mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”
“Kunci mobilmu,” jawab Evin ragu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kaku.
“Apa kau gila menarikku kesini tanpa memberitahuku apapun padahal kau membutuhkannya?” bentak Kei pada lelaki di depannya.
“Pasti tertinggal di apartemenmu kan. Biar aku ambilkan,” Ucap Evin ragu.
“Tidak perlu, kau tunggu disini.” jawab Kei sambil mengangkat badan mungil Evin dengan kedua tangannya dan menyimpannya di atas tong besar.
“Jangan khawatir, aku akan menunggumu dengan tenang disini" teriak Evin sambil menggerak-gerakan kakinya yang tidak bisa menyentuh permukaan lantai.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Kedua remaja lelaki itu sudah sampai di tujuan mereka. Dengan percaya diri, Evin melangkahkan kaki di lantai sebuah mall yang berada di pusat kota. Pintu lift yang berada di depan mereka terbuka.
“Permisi, orang ganteng mau lewat.” ucap Evin sambil memasuki lift, lagi-lagi tingkahnya membuat Kei harus menjauh dan menahan malu.
“Kau tau Kei? semua orang di Mall ini pasti mengenalku. Kau tau kenapa? Karena ketampananku pastinya,” bisiknya dengan percaya diri kepada remaja lelaki di sampingnya.
“Cukup tutup saja mulutmu,” balas Kei tanpa menatap lawan bicaranya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Ketiga gadis itu duduk di sebuah cafe dengan makanan dan minuman yang telah mereka pesan. Tumpukan tas belanja yang memenuhi dua kursi pengunjung sudah cukup menandakan kelelahan mereka. Ponsel mereka berdering bersamaan, notifikasi grup kelas muncul di layar ponsel masing-masing. Mereka sempat saling bertatapan sebelum membaca pesan yang disampaikan wali kelasnya tersebut.
“Hello kawan, bapak mengabarkan, liburan ini bersifat WAJIB. Jika ada yang tidak mengikuti, artinya kalian dianggap membolos. Sekian.” pesan pak Bram diikuti dengan gif stiker.
Aileen menghela nafas, gadis yang berada di depannya tersenyum penuh harap. “Itu artinya kamu jadi ikut kan Leen?” tanya gadis itu.
“Entahlah.” jawab datar Aileen sambil menyeruput minuman yang ada di depannya.
Ara seakan sudah kehabisan energi untuk membujuk teman keras kepalanya itu. Dia terduduk lesu sambil memakan makanan yang ada di depannya sedikit demi sedikit.
Ponsel Aileen berdering, ia segera mengangkat telepon itu.
“Leen, tante dalem apartemen kamu. Tolong segera kesini,” ucap tante Nia dalam telepon.
“Oke.”
“Kenapa Leen?” tanya Auris.
“Aku duluan ya, ditunggu tante Nia.” ucapnya sambil menunjukan ponselnya.
Mata gadis itu berfokus pada satu nama di riwayat panggilan ponsel Aileen. Melihat itu, keduanya segera mempersilahkan temannya itu untuk pergi duluan.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Pandangan Evin terpusat pada perlengkapan diving yang dijual di salah satu toko sebuah mall. Ia sibuk memilih baju diving dan membiarkan Kei sibuk dengan dunianya sendiri. Lelaki bertubuh tinggi itu lebih memilih untuk melihat-lihat pajangan aquarium di toko tersebut. Seketika pandangannya tertuju pada Aileen yang sedang berjalan cepat menuju lift. Ia terkejut mendapati ada seseorang dengan jelas mengikuti gadis itu dari belakang.
Kei segera mengejar Aileen dengan arah yang lebih dekat menuju lift. Ia menahan pintu lift yang akan tertutup dan segera masuk ke dalam lift tersebut.
Menyadari kehadiran lelaki itu, Aileen mencurigai Kei. Gadis itu melirik lelaki yang ada di sampingnya dari ujung kepala hingga kaki. Merasa tidak nyaman, Kei menatap Aileen dan mengerutkan dahinya.
“Apa kau mengikutiku?” tanya Aileen.
Kei tersenyum sinis mendengar pertanyaan gadis itu. “Kau kira mall ini rumahmu?” jawabnya sambil menatap gadis di depannya yang tampak geram.
Keheningan dalam lift terjadi setelah percakapan tersebut.
“Apa bertemu dengannya kali ini kebetulan lagi? Aku rasa tidak, dia memang mengikutiku. Dari awal aku sudah merasa, dia jatuh hati padaku,” batin Aileen
“Orang itu, aku melihatnya di depan apartemenku. Di saat yang sama, Aileen menangis. Dia mungkin mengincar mobil Aileen saat kehilangan jejak,” batin Kei
Pintu lift terbuka, Aileen berjalan keluar namun Kei segera menahannya dan menutup pintu lift. Mereka saling bertatapan sebelum gadis itu melontarkan amarahnya. Kei yang merasa telinganya panas akan celotehan Aileen menutup mulut gadis itu.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” ucap Kei.
Sontak Aileen terkejut akan perkataan Kei, jantungnya berdebar disertai dengan pipinya yang memerah. Kei yang menyadari perubahan pada pipi gadis itu segera menurunkan tangannya. Kecanggungan muncul diantara mereka. Lift itu seakan menjadi sebuah sauna. Angka merah yang tertera dari dalam lift terus berubah, namun Kei belum juga mengajak Aileen untuk keluar.
“Apa kau akan mengatakan perasaanmu di dalam lift?,” ucap Aileen pada lelaki yang ada di sampingnya yang mampu membuat Kei terkejut sekaligus tersedak.
Lelaki itu segera menatap tak percaya gadis yang menatapnya polos dan segera memalingkan wajahnya sambil menarik nafas dalam.
Pintu lift terbuka, Kei segera menarik tangan Aileen keluar lift.
“Aish, apa begini perlakuanmu pada gadis yang kau sukai?!” teriak Aileen.
Kei melepaskan cengkraman tangannya dan menyerahkan kunci mobilnya pada gadis tersebut.
“Gunakan mobilku,” ucapnya sambil menunjuk mobil yang berada di dekatnya dan berjalan melewati Aileen.
Aileen yang kebingungan mengejar Kei dan mengembalikan kunci mobil itu.
“Apa maksudmu?”
Kei mendapati orang asing itu berdiri tidak jauh dari posisi mereka. Ia segera berbalik dan menghalangi tubuh mungil gadis itu dengan badannya.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau ini gila? Apa kau ingin aku berteriak?,” bentak Aileen.
Kei menutup mulut Aileen dan membawanya ke balik dinding. Aileen menatap bingung lelaki di sampingnya yang sedang berusaha memotret pria asing tersebut. Namun, pria asing itu melihat Kei dan mendekat ke arahnya. Kei segera mengajak Aileen bersembunyi, pria asing itu segera menjauh saat melihat sekumpulan orang mendekat.
Kei memastikan keadaan gadis di sampingnya, pria asing itu mungkin saja berniat jahat pada Aileen atau mungkin saja ia tidak selamat beberapa waktu yang lalu. Tapi bahkan gadis itu tidak tampak khawatir sama sekali. Aileen melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Kei. Lelaki itu menghela nafas dan segera merapikan bajunya.
Ponsel gadis itu berdering, dua pesan masuk di waktu bersamaan.
“Aileen, 10 menit!” -Pesan tante Nia.
“Aku pulang naik kendaraan lain. Titip kunci mobilnya ya.” balas Aileen pada sahabatnya itu tanpa berpikir dua kali.
Aileen segera menarik tangan lelaki di sampingnya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
“Tawaran diterima, berikan aku kunci mobilnya,” ucap Aileen.
Kei menunjukan kunci mobilnya pada gadis di depannya. “Tawaran dibatalkan,” ucapnya sambil melemparkan kunci mobil tersebut dan menangkapnya.
Lelaki itu berjalan masuk ke mobil, Aileen yang tidak terima akan perlakuan Kei membuka pintu mobil Kei yang tidak terkunci dan segera duduk di kursi penumpang tanpa persetujuan Kei.
“Terima kasih, aku memang tidak bisa mengendarai mobil ini,” ucap Aileen sambil menutupkan pintu mobil dan mengenakan sabuk pengaman, diikuti dengan tatapan sinis dari Kei.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Kondisi jalan yang semakin ramai ditambah ada kecelakaan memaksa kedua remaja tersebut bergelut dengan kemacetan. Hari semakin larut, matahari sudah hampir tenggelam seluruhnya, membuat Aileen hampir menyerah. Ponsel gadis itu terus berdering, tertera nama tante Nia disana. Gadis itu menghela nafasnya dalam-dalam.
“Aish, bisakah kau mengambil jalan pintas dan melaju lebih kencang?” ucap Aileen dengan raut wajah panik.
Kei menatap Aileen, “Apakah kau melihat sedikit saja jarak di antara masing-masing mobil?”
Aileen terdiam sambil menggerakan jarinya gugup, ia mungkin akan dimarahi oleh tantenya nanti. Namun tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain bersabar dan membiarkan matanya terpejam beberapa saat hingga mimpi datang dibenaknya untuk melupakan sejenak semua hal yang sedang ia khawatirkan.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...
Hari sudah semakin malam. Gadis itu melupakan satu hal terpenting dalam situasi tersebut, dan membiarkan tante Nia menunggu dengan cemas di apartemennya. Mobil yang mereka kendarai terparkir dengan apik di lokasi tujuan, sementara ponsel gadis itu masih terus berdering, membuat telinga Kei seakan memerah dan akan meledak. Ia menatap gadis yang ada di sampingnya tertidur dengan nyenyak dan memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut.
“Ini sudah larut malam, dan kau belum sampai. Harus berapa lama lagi aku menunggumu!? setidaknya, bisakah kau mengangkat teleponku lebih cepat dari ini!?” Tegas tante Nia setelah teleponnya terangkat
“Ma-af,” Jawab Kei ragu.
Tante Nia mengerutkan keningnya, “Kenapa ponsel Aileen ada di tanganmu? Jangan macam-macam dengannya, atau kau akan tau akibatnya.” ucap tegas tante Nia.
Kei berusaha membangunkan gadis disampingnya, namun entah obat tidur apa yang baru saja diminumnya. Gadis itu tidak kunjung bangun.
“Aku tunggu Aileen pulang di apartemennya dalam waktu tidak lebih dari 5 menit atau kau, lelaki berusia 18 tahun dengan mobil klasik merah plat 512530 atas nama Kei Kendrick, tidak akan selamat,” ucap tante Nia sebelum menutup telponnya.
Kei terkejut dengan ucapan tante Nia yang seakan mengetahui identitasnya tanpa bertemu sebelumnya. Lelaki itu berusaha mencerna perkataan wanita itu.
“Jangan pergi.. kumohon..” igauan Aileen.
“Apa? 5 menit? Jangan pergi apanya? kita harus pergi sekarang,” ucap Kei panik, namun gadis itu tetap terlelap dalam tidurnya.
Satu menit sudah berlalu, Kei tidak ingin kehabisan akal, dia segera membuka pintu mobil dan menggendong Aileen menuju lokasi tujuannya sambil berusaha membangunkan gadis bertubuh mungil itu.
“Leen, apa kau masih hidup?!” teriak Kei.
Dua anak buah tante Nia ditugaskan untuk memantau mereka, wanita itu selalu dapat melacak keadaan Aileen untuk memastikan bahwa keponakannya itu tetap dalam kondisi yang aman. Bahkan tante Nia memasang chip pelacak lokasi di gigi Aileen tanpa sepengetahuan gadis tersebut.
Satu menit tersisa, pintu lift itu terbuka di lantai 4 apartemen. Aileen masih belum terbangun dari tidurnya. Suasana lorong begitu sepi membuat nafas Kei yang terengah-engah terdengar jelas. Dengan penuh kehati-hatian ia membunyikan bel apartemen Aileen.
Pintu apartemen Aileen terbuka, adrenalin Kei seakan tertantang. Wanita berpostur tinggi menatap tajam Kei dan mengisyaratkan kepadanya untuk mengantarkan gadis itu masuk ke dalam apartemen.
"Pah.. Mah.. Aileen Sendiri..” Igauan gadis itu saat Kei membaringkannya di sofa.
Kei menatap bingung gadis itu. “Sampai kapan kau akan tertidur?” gumam Kei.
“Ekhm, bisakah kau keluar,” ucap tante Nia pelan.
Kei mengangguk dan segera berjalan keluar, namun dua orang anak buah tante Nia tengah menunggunya dan membawa paksa Kei menuju rooftop apartemen. Tenaga Kei seakan tidak cukup untuk melawan cengkraman dari dua pria dewasa dengan otot-ototnya itu. Namun, laki-laki itu semakin memberontak dan membuat tante Nia mengambil langkah untuk membiusnya. Langkah yang mau tidak mau harus dilakukan. agar tidak membuat keributan yang bisa memancing banyak pasang mata menyaksikan mereka.
Waktu sudah menunjukan tengah malam, Kei membuka matanya perlahan. Ikatan tali yang melekat kuat pada tubuh lelaki itu membuatnya bahkan tidak bisa menggerakan tangan.
“Hai, apa kau sudah sadar? namaku Andi.” ucap salah satu anak buah tante Nia sambil tersenyum ke arah Kei.
“Biarkan dulu dia beberapa menit,” ucap tante Nia.
“Tentu, aku mengenal Aileen dengan baik. Anak itu tidak mudah berteman dengan seseorang, terlebih lelaki. Jika itu terjadi, lelaki ini spesial baginya. Aileen tidak pernah membuat masalah di sekolah, tapi lelaki ini, membuatnya demikian. Aku harus memastikan lelaki ini benar-benar aman bagi Aileen,” batin tante Nia.
“Apa yang akan kalian lakukan padaku?,” bentak Kei.
Tante Nia menarik rahang Kei dan menatapnya dengan tajam. “Ada hubungan apa kau dengan Aileen?,” tanya tante Nia.
“Teman,” jawab Kei ragu.
Wanita itu berjalan perlahan memutari Kei sambil tersenyum sinis. “Tapi kau sudah membuat kesalahan besar, dan aku tidak akan pernah membuatmu berhasil menyakiti hatinya,” ucap tante Nia.
"Apa maksudmu?" tanya Kei yang kebingungan dengan ucapan wanita tersebut.
Tante Nia kemudian menginstruksikan kedua anak buahnya untuk menggantung Kei dengan tali dari rooftop apartemen tersebut. Beberapa tindakan Kei untuk memberontak seperti sia-sia, kini seluruh darah di tubuh Kei seakan berpindah ke kepalanya.
“AAA...Apa yang akan kalian lakukan padaku?” teriak Kei ketakutan.
Wanita itu menjawab pertanyaan Kei dengan santai, “Memperingatkanmu.”
“Apa kesalahanku?!” ucap Kei yang berusaha mengatur suaranya.
“Membiarkan keponakanku satu-satunya jatuh hati padamu dan kau hanya menganggapnya sebagai teman.”
Kei kebingungan dengan pernyataan tante Nia, nafasnya seakan sudah sesak. Lelaki itu melihat ke bawah.
Ketinggian, gelap, akhir dari hidup, pikirnya.
Melihat tidak ada respon dari Kei, tante Nia meminta anak buahnya untuk mengulur tali yang mengikat tubuh Kei. Lelaki itu berteriak, “Apa yang kau inginkan dariku?!,” ucapnya.
Wanita itu tersenyum licik, “Tugasmu sederhana, pastikan keponakanku itu selalu baik-baik saja baik fisik maupun psikisnya. Mengerti?"
"Kenapa harus aku?!"
Mendengar itu membuat tante Nia geram, ia segera menginstruksikan anak buahnya untuk mengulur lagi tali tersebut lebih cepat, sontak Kei terkejut dan menyetujui permintaan dari tante Nia.
“Baik, akan kulakukan. Kumohon, selamatkan aku,” ucapan Kei yang membuat tante Nia tersenyum puas.
Tali yang mengikat kedua tangan Kei sudah terlepas. Ancaman tante Nia sanggup membuat Kei tidak bisa berkata-kata, lelaki itu segera menandatangani perjanjian bermaterai setelah mendapati wanita di depannya mengarahkan sebuah pistol tepat ke kepalanya.
“Kau sudah tau isi dari perjanjian ini, jika salah satu dari itu gagal. Kau akan tau akibatnya.” ucap tante Nia sambil menembakan peluru ke atas.
Suara tembakan itu membuat Kei semakin tidak habis pikir. Lelaki itu mengatur nafasnya ketika tiga orang dewasa yang hampir membuatnya kehilangan nyawa pergi menjauh darinya.