
Liam mengalihkan perhatiannya pada papan catur yang ada di dekatnya dan menaruh papan catur tersebut di atas meja. “Kau tidak ahli dalam ini kan?,” ucap Liam pada Kei yang seolah merendahkan.
“Cih, bersiap-siaplah untuk menangis,” balas Kei sambil membantu Liam menata catur yang ada di depannya.
Kedua lelaki itu tampak serius memainkan catur hingga membuat gadis yang ada di sampingnya bosan. Hanya dengan melihat tumpukan buku membuat Aileen lelah, namun daripada memperhatikan permainan catur yang tidak ia mengerti sama sekali, gadis itu perlahan menggerakan jari-jari lentiknya untuk membuka buku yang direkomendasikan oleh Kei.
Kalimat demi kalimat perlahan ia baca, isi buku tersebut berhasil menarik perhatian Aileen. Pertama kali dalam hidupnya Aileen merasa kecewa saat berhasil mencapai halaman terakhir, namun ia kembali bersemangat saat melihat buku tersebut tersedia dalam tiga versi di perpustakaan sekolahnya. Dengan penuh semangat, gadis itu menggapai buku yang tersusun rapi pada rak dan mulai membaca sambil berjalan mondar-mandir. Gadis itu menghiraukan anggapan orang-orang terhadap kebiasaannya yang sesekali membaca buku dengan suara kencang.
Tanpa sadar waktu berlalu dengan cepat, langit mulai menggelap. Murid-murid dan civitas akademik mulai mengosongkan sekolah. Dua lelaki masih sibuk dengan permainan caturnya, memperebutkan siapa yang pantas disebut sebagai pemenang. Gadis dengan dasi terikat di kepalanya masih berusaha menamatkan kalimat demi kalimat yang ia baca.
Satpam yang bertugas sedang mengecek dan mengunci satu persatu ruangan. Penjaga perpustakaan tampak terburu-buru meninggalkan tempat kerjanya dan menitipkan perpustakaan pada satpam itu.
"Pak Agus, semua murid-murid yang terdaftar berkunjung di perpustakaan sudah menscan kembali kartunya. Bisa dikunci sekarang." Penjaga perpustakaan tersebut berjalan cepat melewati satpam setelah menitipkan pesan dan disepakati oleh satpam tersebut.
Satpam yang bernama Agus tersebut berjalan dengan penuh gaya dan percaya diri menuju pintu perpustakaan. Tidak ada masalah yang berarti karena pencahayaan sekolah membuat suasana tampak tidak menyeramkan, bahkan saat malam hari. Namun bulu kuduknya seketika terangkat saat mendengar suara permainan catur terdengar jelas di lantai 2 perpustakaan. Rumor sekolah mengenai misteri perpustakaan mengganggu pikirannya. Kakinya bergetar, dengan keadaan tremor, ia mengunci pintu perpustakaan dan segera berlari.
Kei menghentikan tangan Liam yang sedang memindahkan pion saat mendengar suara. Mata kedua insan itu saling bertatapan dan tangan mereka saling bersentuhan, tepat seperti pasangan kekasih yang sedang menyatakan perasaannya di kencan pertama. Seketika, kedua lelaki itu dengan cepat menjauhkan tangannya dan merubah raut wajah jijik.
"Sial, apa yang kau lakukan? Apa memegang tangan gadismu saja tidak cukup?" ucap Liam sambil mengusap-usap kasar punggung tangannya yang di pegang Kei.
"Tutup mulutmu, kita terkunci di tempat ini."
"Huh?" Tanpa berpikir panjang, Liam berlari menuruni tangga menuju pintu perpustakaan disusul dengan Kei. Aileen yang masih membaca buku merasa ditinggalkan dan segera menyusul dua lelaki tersebut dengan buku yang ia genggam dengan setia.
Liam membuka pintu perpustakaan, namun pintu itu telah terkunci. Kei tidak ingin penasaran, dia berusaha lebih untuk membuka paksa pintu itu, namun tetap tidak bisa.
“Argh.”
"Apa boleh buat?" ucap Liam santai sambil meninggalkan Kei dan Aileen.
Mata Aileen membulat menyadari bahwa ia terkunci bersama dengan dua lelaki di perpustakaan sekolah. Gadis itu segera mencari CCTV yang menyala dan diam di depannya. Kei hanya bisa menghela nafas melihat sikap dua temannya itu dan mencari cara agar bisa keluar dari perpustakaan tersebut.
"Jendela perpustakaan," ucap Liam dengan jelas.
"Apa yang kau pikirkan?" jawab Kei.
Aileen tertawa paksa menyadari maksud dari perkataan Liam. "Hahaha, kau pasti bercanda kan?"
"Ide bagus," ucap Kei saat menyadari jendela atas perpustakaan terbuka.
"Apa kalian gila? Bagaimana jika aku terjatuh? Apa kalian akan menanggung asuransiku?”
"Apa sebaiknya kita tinggalkan saja gadis ini disini?" ucap Liam untuk menggoda Aileen.
“Apa kau berencana untuk mati dalam waktu dekat?”
"Stt, diamlah, lagipula, jendela ini tidak terlalu tinggi," ucap Kei sambil memberikan jaket yang ia kenakan pada Aileen.
"Tidak tinggi kau bilang?" Aileen terus menggerutu sambil melilitkan jaket Kei di pinggangnya.
Liam berdecih dan segera menaiki bangku untuk melompat keluar dari perpustakaan melalui jendela. Kei mempersilahkan Aileen untuk terlebih dahulu naik dan melompat. Namun gadis itu ketakutan, tangannya tidak terlepas menggenggam tangan Kei.
"Kita tidak punya banyak waktu, lompatlah," ucap Liam gemas.
Aileen melihat ke arah Kei yang tampak meyakinkan gadis itu. Setelah memberanikan diri, gadis itu melompat. Menyadari Aileen akan terjatuh, Liam segera berlari dan menangkap tubuh mungil Aileen yang masih ketakutan dengan menutup kedua matanya. Dalam beberapa saat, Aileen berhasil membuat laju ritme jantung Liam lebih cepat dari sebelumnya.
"Buka matamu," bisik Liam.
Aileen yang menyadari posisinya segera mendorong tubuh Liam dan membuat lelaki itu menurunkan Aileen.
“Mesum!” Aileen memukul tubuh Liam.
“A.. aish, yang benar saja.” Liam menghentikan tangan Aileen dan membiarkan kecanggungan terjadi sampai Kei melompat menyusul mereka berdua.
Ketiga insan tersebut keluar dari perpustakaan dengan selamat, meskipun dengan keadaan seragam yang berantakan.
Kei segera melihat kondisi Aileen dan memalingkan pandangannya pada Liam. "Terima kasih," ucap Kei kepada lelaki di hadapannya.
Liam menaikan alisnya dan segera berjalan pergi meninggalkan Aileen dan Kei sambil mengangkat satu tangan menunjukan punggung tangannya.
Cahaya senter menyorot wajah tampan Liam yang tampak datar. Tidak lama, teriakan seorang pria bergema memenuhi seluruh sudut sekolah. Kei dan Aileen segera mendekati sumber suara dan mendapati satpam tergeletak pingsan di koridor sekolah. Kepanikan tercipta di tengah-tengah sekolah yang sepi.
"Apa yang kau lakukan pada satpam ini? Kau.. kau benar-benar gila! Jika terjadi sesuatu, aku terlalu muda untuk masuk penjara. Dan juga, aku dengar satpam ini memiliki banyak anak," ucap Aileen.
"Kita harus membawanya ke UKS." Kei segera mengecek keadaan satpam tersebut dan mengambil kumpulan kunci pada saku satpam.
"Ambil ini, cari kunci UKS," ucap Kei sambil menyerahkan kumpulan kunci pada Aileen.
Liam hanya berdiri mematung memperhatikan Kei, "Apa yang kau lakukan?" tanya Kei. Liam menelan ludahnya menyadari tubuh besar satpam dan segera membantu Kei untuk membawa satpam menuju ruang UKS.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Pintu UKS tertutup dengan rapat, suara kunci-kunci terdengar jelas di tengah keheningan. Aileen terus mencocokan kunci-kunci tersebut untuk membuka pintu. Di sisi lain, keluhan kedua lelaki yang kelelahan menggotong tubuh besar satpam berdatangan. Urat kedua lelaki tersebut terlihat semakin jelas, muka merah dan keringat yang bercucuran sudah menunjukan seberapa berat perjuangan mereka.
Aileen hilang arah, tidak ada satupun kunci yang cocok. Gadis itu berusaha membuka paksa pintu, namun ternyata pintu tidak terkunci. Tenaga Kei dan Liam semakin melemas, hingga hampir menjatuhkan satpam tersebut. Aileen tersenyum lebar dan mempersilahkan kedua lelaki itu masuk.