HIAMOE

HIAMOE
ORANGE BRIDGE



Mobil keluarga dengan kelima insan di dalamnya terparkir tidak jauh dari gerbang kecil yang membatasi kediaman pak Daniel. Mereka bersiap melancarkan aksinya setelah menyusun strategi dan menyetujuinya. Evin ditugaskan pertama untuk mengamati keadaan sekitar rumah tersebut. Tidak ada hal yang aneh ketika ia melihat-lihat halaman depan, Evin yang menunjukan keangkuhannya pun dengan percaya diri memanjat pagar tinggi tersebut dan melihat keadaan sekitar. Ia gelagapan saat melihat 3 macan mendekat dan seolah akan menerkamnya. Meskipun ia tau pagar itu terlalu tinggi untuk dipanjat oleh macan, Evin menuruni pagar tersebut dengan kaki gemetar dan lari terbirit-birit menuju mobil.


    “Ada macan di dalam!” ucap Evin dengan intonasi bergetar karena ketakutan. 


    “Masa sih, siluman kali tuh.”


    “Siluman lebih serem, bego.”


    “Kalo gitu, kita harus beralih ke rencana kedua.”


Aileen menelpon pak Daniel dan berpura-pura sakit hati karena perlakuan Liam. Tidak lupa, tangis bawang diekspresikan oleh gadis itu. Ia meminta pak Daniel untuk berbicara dengannya di kediaman beliau.


    “Pak, aku dilecehkan!”


    Liam hendak merebut ponsel tersebut secara paksa dari tangan Aileen sebelum Kei dan Evin menghentikannya dan menutup mulut lelaki itu.


    “Harga diriku sebagai seorang gadis, ah- aku tidak bisa menjalani hidup lagi,” tangis bawang Aileen semakin menjadi.


    “Idiot!” ucap spontan Liam.


    Setelah tangisan itu, bukan suara berat yang menyahut sambungan telepon, melainkan suara tante Nia yang terdengar lantang dan emosi itu terlihat sangat nyata meski sebatas pendengaran. Tante Nia segera melakukan tindakan untuk menemui Aileen, tentunya dengan melacak keberadaan Liam juga. Dengan cepat, Liam mengambil ponsel gadis itu beserta ponselnya dan menenggelamkannya di danau.


    “Kita butuh ponsel itu, bego!”


    “Bodo amat! lebih baik di makan macan daripada berurusan sama tante Nia.”


    Liam segera mengambil alih kemudi dan melajukan mobil dalam kecepatan penuh. Namun mobil yang mengintai terus dapat mengekori jejaknya meskipun lelaki itu mengambil jalan yang tidak biasa; jalanan sempit yang jarang diketahui oleh banyak orang. Suara teriakan penumpang yang jelas terdengar begitu menggelegar cukup menandakan begitu barbarnya Liam mengendarai mobil tersebut. Namun, mobil-mobil yang mengincarnya terus dapat mencarinya.


    “SIAL!”


    Tidak jauh dari mobil mereka sekarang adalah mobil-mobil hitam yang menghadang jalan mereka. Jiwa liar Liam tertantang, ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh, melalui permukaan yang miring dan berhasil melayang melewati mobil-mobil yang menghalangi jalannya tersebut.


Liam tersenyum puas saat mobil-mobil itu tidak bisa mengejarnya. Namun, helikopter bergerak dengan kecepatan yang tidak kalah menantang. Seketika Liam menyadari bahwa Aileen memiliki chip pelacak lokasi di giginya. 


“Lepaskan chip pelacak lokasi di gigi Aileen.”


“Huh?!” bengo Aileen karena tidak mengetahui apapun soal itu. 


    Ara membuka paksa mulut Aileen dan membuang benda yang memang berada di dalam gigi gadis itu sebelum mobil kembali dipacu lebih kencang oleh Liam. Akhirnya, keberadaan mereka saat ini tidak bisa dilacak lagi oleh siapapun.


    Liam tersenyum bangga untuk dirinya sendiri, namun senyuman itu pudar saat menyadari mereka terjebak di tempat yang sama sekali tidak mereka kenal, bensin mobil yang mereka tumpangi habis dan tidak ada baterai ponsel yang tersisa untuk sekedar menghubungi orang dekat. Lelaki itu tidak memiliki alasan kuat untuk melakukan semuanya, namun jati diri sesungguhnya memaksa lelaki itu menerima setiap tantangan yang ada di hidupnya, apapun resiko yang akan dihadapi, termasuk tamparan keras dari Aileen.


    “Keterlaluan! Tujuan kita bukan untuk menghindar dari tante Nia!”


    “Maaf.”


    Aileen, Ara, dan Evin keluar dari mobil yang kini keberadaannya tidak diketahui. Bensin mobil tersebut habis dan tidak tersisa baterai ponsel untuk digunakan. Kei berdecih di samping Liam yang tampak penuh dengan penyesalan. 


    “Terkadang, fokus pada tujuan lebih penting daripada ngikutin hasrat menggebu sesaat. Good luck, bro,” ucap Kei menyusul temannya yang lain keluar dari mobil setelah menepuk pundak Liam.


    Matahari siang sudah tidak menunjukan sorot tajamnya. Suasana mendung semakin terasa di tengah-tengah tutupan pohon. Setelah hubungan mereka kembali membaik, Liam dan Kei mencari tempat peristirahatan terdekat sedangkan sisanya menunggu di dalam mobil. Usaha mereka membuahkan hasil, mereka berhasil menemukan tempat penginapan (vila) karena tidak memungkinkan kembali ke rumah.


    Kelima insan tersebut berkumpul sekedar mencairkan suasana dan berdamai dengan keadaan yang tidak bisa diputar kembali. Telepon penginapan pun mereka gunakan sekedar memberitahu keluarga bahwa mereka baik-baik saja dan akan segera pulang. Berbeda dengan Kei, ia hanya tersenyum untuk dirinya sendiri saat semua temannya memiliki orang yang menunggunya dengan khawatir di rumah, saat ia tidak ada. 


Aileen menyadari itu, ia mengklarifikasi semuanya dan menelpon tante Nia agar memberinya waktu semalam untuk membiarkan mereka beristirahat disana, menikmati liburan dalam waktu yang singkat. Kamar pada villa tersebut sangat bersih dan rapi hingga membuat mereka tertidur dengan nyenyak.


Udara malam itu begitu dingin, suara ngorok Ara membangunkan Aileen hingga membuat gadis itu memilih untuk mencari udara segar di luar. Ia tersenyum saat melihat Liam sedang berdiri di samping kolam renang, memandang langit, sendirian. Gadis itu segera menghampiri Liam dengan berdiri di samping lelaki tersebut. Liam hanya melihat ke arah gadis di sampingnya yang tengah memandang langit juga. Matanya begitu cantik dan berbinar memantulkan cahaya malam. Sudut wajahnya begitu sempurna ditambah dengan anak rambut yang tidak terikat membuatnya jauh lebih manis.


“Kau tau kenapa aku suka menatap langit malam?”


“Kenapa?”


“Karena malam sama sepertiku, ia menampakan ribuan bintang yang membuatku merasa bahwa mimpiku masih banyak dan harapan itu akan kembali hadir, meski perlahan kerasnya kenyataan menggosok habis harapan itu.”


Senyum terukir di wajah tampan Liam, “Aku akan memastikan hama itu tidak menyentuh harapanmu,” ucap Liam pelan.


“Lihat bintang itu! Aku melihatnya lebih jelas bersama Kei!” ucap Aileen yang mampu membuat Liam tertawa untuk dirinya sendiri. 


Mata Liam menghangat karena kristal air mata yang tiba-tiba muncul. Detik itu, ia semakin menyadari bahwa Aileen adalah milik Kei dan tidak bisa ia miliki. Meskipun hatinya mengatakan bahwa Aileen adalah orang yang tepat untuknya, namun ia menyangkal hal itu dengan menyebutnya egois jika gadis itu bersamanya. 


Tetesan air hujan datang bergerombol di tengah-tengah kabut seolah menemani air mata Liam yang mulai menetes. Lelaki itu segera melindungi gadis itu dari air hujan, dengan kedua tangannya. Atap villa yang didesain sempurna membuat air hujan tersebut tampak lebih indah ketika hendak jatuh ke dasar. Aileen menyentuhkan telapak tangannya pada air hujan tersebut, membiarkan tiap tetesan yang menyentuh tangannya memiliki kesempatan untuk mengudara lebih lama. Liam hanya memerhatikan Aileen dan membiarkan momen bahagia itu terjadi, setidaknya sebelum lelaki lain berada di sisinya.


“Liam?”


Liam menaikan kedua alisnya tanpa berkata apapun.


“Mukamu basah, sebentar.” Aileen mengeluarkan tisu dari sakunya dan mengelap lembut wajah lelaki itu.


Melihat kekakuan yang terjadi, Aileen tersenyum licik dan menyipratkan air hujan pada wajah Liam sehingga membuat wajahnya kembali basah. Liam membalasnya dan tertawa karena itu. Lelaki itu sempat meminta maaf sebelum Aileen tidak menjawabnya dan kembali menyipratkan air hujan lebih banyak pada lelaki di depannya. Gadis itu membiarkan jiwa anak-anaknya kembali hadir, ia berlari di tengah hujan dan menarik tangan Liam. Kedua insan tersebut tertawa bahagia dengan hal sederhana.


Disisi lain, Kei melihat semua itu, semua canda tawa yang hanya ditunjukan Aileen pada Liam. Tawa yang selalu ingin ia miliki, namun tidak pernah ia rasakan keberadaannya ketika mereka bersama. Setidaknya, gadis itu bisa tertawa lepas bersama dengan Liam. Memang menyakitkan baginya, tapi jika Aileen memang lebih bahagia dengan lelaki lain, ia merasa tidak berhak memaksa gadis itu untuk singgah. Kei pergi setelah menaruh dua handuk yang ia tempatkan tidak jauh dari tempat Aileen dan Liam berada.


Aileen tertawa sambil memeluk tubuhnya sendiri, “Aku mengalah.”


“Setidaknya balas aku sekali lagi, dan kau akan menang”


Gadis itu menyipratkan air hujan pada lelaki di hadapannya dan berlari seperti anak kecil yang sedang bermain bersama. Namun kini, mungkin tidak ada yang memarahi mereka.