HIAMOE

HIAMOE
BEAUTIFUL SEEDS ON THE OCEAN



Suasana lapangan yang semula ramai seketika berubah menjadi hening. Seluruh mata memandang dua gadis yang baru saja keluar dari mobil merah keluaran terbaru. Bagaikan iklan produk shampo, rambut panjang keduanya berkibar-kibar dengan indah terbawa angin. Kacamata hitam bertengger di masing-masing hidung lancip mereka. Seolah tersihir, semua siswa laki-laki memindai figur mereka dari atas sampai bawah dengan pandangan memuja. Di sisi lain, para siswi terus menancapkan pandangannya. Berbeda dengan lelaki, kebanyakan diantara siswi menatap dua gadis itu dengan penuh kebencian dan iri hati, terutama si ketua OSIS.


Aileen menyunggingkan senyumnya dan terus berjalan dengan penuh percaya diri di sepanjang koridor hingga membuat ketua OSIS yang bernama Angel semakin jengkel, ia mendorong seorang siswi berkacamata tebal hingga menabrak belakang tubuh Aileen sampai terjatuh. 


“Aduh!” pekik mereka bersamaan.


“Ma-af,” ucap siswi yang kini berada di samping Aileen.


Aileen meneduhkan pandangannya dan berusaha tetap cool, “Bukan masalah, ada yang luka?”


Siswi berkacamata itu segera berdiri dan berlari meninggalkan Aileen tanpa sepatah kata pun, diiringi dengan riuh tawa yang saling bersahutan. Aileen berdiri perlahan tanpa memalingkan atensinya pada punggung siswi tersebut. 


“Leen, awas!” teriak Auris melihat seorang siswi berlari membawa tumpukan buku ke arah Aileen.


Tabrakan tidak bisa dihindari lagi, Aileen kembali terjatuh untuk kedua kalinya. Keluhan rasa sakit terdengar dari keduanya, tidak sampai disitu, telinga Aileen dan seluruh murid di koridor harus tercemari dengan suara nyaring kepala sekolah yang terdengar lantang, bahkan dari jarak jauh.


“Richelle!!” teriak kepala sekolah kepada siswi yang menjatuhkan tumpukan buku itu.


Richelle segera merapikan buku tersebut dan membawanya menjauh. Aileen yang ikut panik, membantu gadis disampingnya dengan membawa buku yang tersisa di lantai. Keributan kembali datang saat bel masuk terdengar, Auris dan Aileen seakan terpisah oleh ombak manusia yang lalu lalang menuju kelasnya masing-masing. Aileen berlari mengekori Richelle, melewati kerumunan murid yang berlari pada arah berlawanan, tepat seperti polisi ketika sedang mengejar buronan di pasar, bedanya, mereka membawa setumpukan buku. 


Rintangan demi rintangan seakan mereka hadapi dengan serius, mulai dari tempat sampah yang terguling hingga memaksa mereka meloncat, hingga lantai licin yang memaksa mereka berjalan tersudut di pinggir-pinggir tembok dengan hati-hati, namun cepat. Nafas Aileen semakin tidak karuan mengikuti kecepatan langkah kaki Richelle.


“Tunggu!” teriak Aileen sambil terengah-engah.


Richelle seketika menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Aileen yang terlihat tidak baik-baik saja. Tidak heran, olahraga adalah salah satu hal yang sangat dibenci Aileen. Gadis itu terbatuk-batuk dan melambaikan tangannya pada Richelle. Melihat itu, Richelle segera menghampiri Aileen yang perlahan mulai menjatuhkan badannya. Tidak ada sepatah katapun yang terucap oleh dua gadis tersebut. Kini, Richelle hanya duduk di sebelah Aileen; menunggu gadis itu menstabilkan nafasnya. 


“Apa kau atlet marathon?,” ucap Aileen sambil tetap mengatur nafasnya. 


Richelle menaikan alisnya dan mengulurkan tangan pada gadis di hadapannya.


“Richelle Alexander.”


Aileen tersenyum angkuh tanpa membalas uluran tangan gadis itu. Richelle tampak tidak mempermasalahkan perlakuan Aileen terhadapnya.


“Aileen Ramesha?,” ucap siswi tersebut sambil melihat name-tag Aileen.


Aileen berdiri sambil menepuk-nepuk seragamnya, “Yup, itu namaku.”


Richelle tersenyum tipis dan kembali mengambil buku yang ia simpan di sebelahnya sambil sesekali menghela nafas.


“Oh wow,” ucap Aileen menghentikan aktivitas Richelle.


“Kenapa?”


Aileen memiringkan kepalanya, “Kau mengenalku? Apakah aku seterkenal itu? Aish, apa yang aku katakan? Sudah pasti aku terkenal,” ucap Aileen sambil menyelipkan rambut ke belakang telinganya. 


Richelle tidak ingin merespon perkataan Aileen dan kembali merapikan buku. Aileen sempat mengulurkan tangannya untuk membantu gadis di hadapannya berdiri, namun uluran tangan itu diabaikan oleh Richelle hingga membuat gadis itu berdiri kaku memandang punggung Richelle yang semakin menjauh.


“Wah, apa dia benar-benar mengabaikanku?!” gumam Aileen. 


Aileen terus menggerutu dengan memainkan gestur tubuh sebagai penekanan, akibat perlakuan yang ia terima dari Richelle. 


“Seorang Aileen mengulurkan tangan lalu diabaikan?! Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menunjukan wibawa, kharisma, dan citraku sebagai gadis yang..”


“Ekhm,” dekhem seorang guru disampingnya.


Aileen perlahan menatap guru tersebut dari ujung kaki hingga kepala, amarah jelas tampak dari wajah guru tersebut.


“Oh, hai,” ucap Aileen dengan nada yang santai.


Sontak guru tersebut terkejut dan menjewer telinga Aileen. 


“A-ah.”


“Apa yang kau lakukan disini ketika jam pelajaran dimulai?!”


“Ini bu,” ucap Aileen sambil menunjukan beberapa buku perpustakaan.


“Oh.. jadi, kau memanfaatkan hukuman karena telat masuk sekolah untuk bermalas-malasan dan meninggalkan jam pelajaran?!”


“Huh?”


“Huh Hoh, Huh Hoh. Cepat bawa buku-buku itu ke perpustakaan dan kembali ke kelasmu.”


Aileen segera lari dengan cepat setelah jeweran tangan guru tersebut lepas dari telinganya. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Perpustakaan yang megah, itulah yang ada di hadapan Aileen saat ini. Ia melangkahkan kakinya dengan penuh takjub menelusuri ruangan dengan fasilitas lengkap tersebut. Tangan Aileen seketika ditarik oleh seorang gadis yang baru saja ia kenal. 


“Ini pak bukunya, sudah lengkap,” ucap Richelle sambil menyerahkan buku yang berasal dari tangan Aileen.


Kedua gadis itu berdiri berhadapan seusai menyerahkan buku pada penjaga perpustakaan. Gadis yang berada di hadapan Aileen itu menepuk-nepukan kedua tangan tepat didepan wajah gadis itu meskipun tidak ada debu yang terlihat pada tumpukan buku tersebut.


“Sama-sama,” ucap Aileen dengan penuh penekanan dan kekesalan. 


Richelle tersenyum tipis, “Terlihat dari penampilanmu, kau bukan siswi yang kau tau, pintar?”


Aileen menganga dan mengedip-ngedipkan matanya terkejut dengan pernyataan Richelle. Meski ia menyetujui sepenuhnya pernyataan tersebut, gadis bermata indah itu tidak terima.


“Apa maksud perkataanmu tadi?”


“Aku hanya menebak dari penampilanmu.”


“Wah, kau benar-benar membuatku marah.”


Richelle tersenyum tipis, gadis bergaya tomboy itu segera meninggalkan Aileen tanpa sepatah kata pun.


“Aish, dia benar-benar keterlaluan.


APA KAU TIDAK MENGENAL KATA TERIMA KASIH, HUH!?” teriak Aileen seketika semua orang yang berada di perpustakan menatap sinis gadis yang sudah membuat keributan di perpustakaan sedari tadi itu.


Aileen menghela nafas dan menghiraukan tatapan orang-orang disekelilingnya, atensinya kini beralih pada jejeran buku yang berderet rapi dan lengkap. 


“Wah.. ini adalah tempat rekreasi yang tepat untuk Auris. Tapi tentu saja tidak untukku.” gumam Aileen.


Aileen seketika teringat pada sahabatnya yang meninggalkannya begitu saja. Merasa kesal, gadis itu segera mencari buku fiksi ilmiah kesukaan Auris yang selama ini sering ia bicarakan. Kalau tidak salah buku itu berwarna kuning dengan sampul yang tebal, ia akan foto bersama buku itu dan menyombongkannya pada Auris lalu menyimpannya di sela-sela rak terdalam agar sulit ditemukan oleh temannya.  


Setelah berkeliling menelusuri rak-rak yang berjejer rapi, Aileen menemukan buku yang dicarinya, ia yakin sahabatnya akan sangat murka nanti. Gadis itu segera mengambil buku tersebut dan berbalik untuk mengambil foto. Namun sesuatu yang asing berada tepat di depannya.


Seragam yang sama.. lengan yang panjang.. lalu leher.. leher?


Aileen melebarkan mata mendapati seorang siswa berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengannya. Tanpa berpikir panjang, Aileen menghantam wajah siswa itu dengan sangat keras menggunakan buku hingga menimbulkan suara nyaring. Keduanya sempat bertatapan sebelum siswa tersebut jatuh pingsan dengan darah yang mengalir dari hidung, dan saat itulah Aileen menyadari bahwa siswa itu hanya ingin mengambil buku yang berada di belakangnya.


Mendengar suara langkah banyak orang mendekat, Aileen segera bersembunyi di balik rak buku dengan raut wajah cemas. Ia menangkupkan kedua tangannya yang mulai mendingin, tidak jarang gadis itu menggigit kuku pada jari lentiknya karena rasa takut didapati sebagai pelaku kekerasan di sekolah. Sungguh cobaan di hari pertama sekolah datang bertubi-tubi. Sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak memihaknya kali ini. 


“Lihat, apa kubilang. Perpustakaan ini ada penghuninya!”


“Pasti kakak kelas yang mukul dia, secara.. dia ganteng banget!”


“Cover bukunya sampe copot.”


“Aku merinding.”


Berbagai opini tidak masuk akal semakin menjadi di antara para siswa. Aileen yang mendengar hal tersebut menutup telinga sambil menggelengkan kepala kuat. Otak gadis itu seakan menjadi sebuah roket yang akan segera meluncur, namun gagal, dan meledak. Sontak gadis itu berteriak sambil memegangi telinganya yang seakan terasa panas.


Seorang remaja lelaki menggunakan kacamata hitam yang berdiri tidak jauh dari Aileen menatap gadis itu curiga. “Apa yang kau lakukan disini?,” tanya lelaki tersebut.


Aileen terkejut, ia melirik lelaki asing yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya. “Kau terlihat mencurigakan,” sambungnya.


Tidak terima dengan perkataan tersebut, Aileen menatapnya balik dengan mata yang memicing dari atas hingga ujung sepatu.


“Bukankah kau yang terlihat mencurigakan?”


“Huh?”


“Pertama, seragammu mengatakan jelas kau bukan murid sekolah ini. Kedua, kau menggunakan kacamata hitam di perpustakaan,” 


Padahal tadi pagi pun aku dan Auris memakai kacamata hitam.


“Ketiga, kau mengenakan jaket tebal di musim panas. Apa yang kau lakukan?”


Keduanya saling pandang dengan tatapan yang tidak ramah sama sekali, sebelum Aileen memilih untuk pergi dari perpustakaan dengan mengendap-ngendap.


Lelaki itu membuka kacamata hitamnya, memperhatikan Aileen yang sudah menjauh dengan tingkah anehnya.


“Apa dia sudah gila?,” lirihnya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Para murid di sekitar koridor kelas membicarakan kejadian yang baru saja terjadi di perpustakaan. Berita itu tersebar begitu cepat membuat Aileen merasa dirinya adalah seorang buronan di tengah-tengah masyarakat dan intel yang terus menggali dan mencari keberadaannya. Merasa tidak aman, ia melangkahkan kakinya menaiki tangga darurat menuju rooftop sekolah. Sesampainya disana, ia kembali melihat siswi yang ia tau sebagai Richelle sedang meninju samsak dengan profesional.


“Ka-kau?” ucap Aileen.


Richelle hanya menatap sekilas gadis yang kini mendekat ke arahnya dan kembali berfokus pada samsak yang ada di hadapannya.


“Apa kau benar-benar siswi SMA?” ucap Aileen sambil menusuk-nusuk perut sixpack Richelle yang menjiplak dari kaos olahraga yang dikenakan. 


Richelle menyingkirkan lengan Aileen, ia segera menjauh dengan duduk di sebuah kursi dan meminum air mineral. Aileen yang semakin penasaran dengan gadis tersebut terus mendekatinya.


“Apa kau bolos jam pelajaran?”


Richelle menatap Aileen, tatapannya terlihat menyeramkan bagi gadis tersebut. Meskipun cantik, kecantikan itu seakan bersembunyi dibalik sikapnya yang kasar. 


“Apa pertanyaan itu ditujukan pada dirimu sendiri?”


“Wah, kau salah perkiraan soal aku. Aku adalah gadis yang baik, rajin, dan PINTAR. Kau harus tau itu, dan aku tidak mungkin bolos.”


“Kenapa aku harus tau?”


“Mmm, karena.. kau harus mengenalku dengan baik. Ya, itu. Kau harus mengenalku dengan lebih baik.”


“Baiklah, aku adalah gadis feminin yang selalu tepat waktu datang ke sekolah.”


“Wow, itu penipuan.”


Richelle menatap tajam gadis di sampingnya.


“Umm, maksudku. Oh ya, kau memang tampak seperti itu. Ha ha ha. Bagaimana mungkin orang tidak tau.”


“Apa kau selalu seperti ini?”


“Huh? Sudahlah, aku harus pergi.”


Richelle menatap Aileen yang semakin menjauh. Bolos jam pelajaran merupakan hal yang seringkali dilakukan oleh Richelle. Gadis itu juga sering datang terlambat dan harus memanjat pagar belakang yang tinggi untuk masuk ke gedung sekolah, sayangnya aksinya selalu ketahuan oleh seorang guru. Ia merasa bahwa sekolah itu membosankan dan lebih memilih untuk bolos jika ibunya tidak memaksa dengan menyuruhnya membuat dokumentasi pengalaman pertamanya di Sekolah Menengah Atas (SMA).


Memori kejadian tadi pagi singgah di benak Richelle. Saat itu, ia mencoba mencari alasan agar guru itu memaafkannya. Namun, kata yang terucap oleh gadis itu bertolak belakang dengan niat baiknya.


“Aduh, maaf pak, sinar mentari menusuk mataku. Aduduh mataku!” Gadis itu menatap kepala guru tersebut sambil menyipitkan kedua matanya.


Awalnya guru itu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh salah satu muridnya. Namun ia segera paham begitu menggaruk kepalanya yang terasa kosong. “A-Apa!?” Richelle tersenyum kikuk sambil berlari menjauh sebelum guru itu meluapkan amarahnya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...


Aileen menghela napas setelah berhasil menemukan ruangan kelasnya. ia berusaha untuk bersikap biasa saja, namun ia tidak bisa mengelak dari sahabatnya. Auris menghampiri Aileen dan mulai mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu. Namun, merasakan ketidaknyamanan dari Aileen, membuat gadis dengan rambut hitam tergerai itu mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih mengenai apa yang sudah terjadi. Daripada itu, ia mengajak Aileen segera masuk ke dalam kelas dan mengalihkan topik pembicaraan.


“Leen, kamu harus tau ini. Ada siswa ganteng banget di kelas kita. Tapi sayang, baru masuk udah kecelakaan di perpustakaan dan masuk UKS.”


Ucapan Auris membuat Aileen terkejut hingga tersedak. Melihat sikap aneh Aileen membuatnya semakin khawatir sekaligus penasaran.


“Leen, kamu nggak apa-apa kan? Maksud aku, kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu dari aku kan?”


“Huh?” Aileen tertawa canggung. Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga sambil menatap sembarang arah, menghindari tatapan mata sahabatnya. Auris yang merasa curiga semakin mendekatkan wajahnya untuk menatap Aileen lebih lekat dan berhasil membuatnya salah tingkah.


“Mmm? Oh itu, lupakan.”


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Siswa dengan luka di pelipis keluar dari UKS dan memasuki ruangan kelas diikuti oleh kerumunan murid yang penasaran akan kondisinya. 


“Lihat, mukanya terluka.”


“Sepertinya, seberantakan apapun penampilannya, dia akan tetap ganteng.”


Menyadari kedatangan siswa tersebut, Auris menyenggol tangan Aileen. Sekali lagi, ketidaktahuan dari Auris membuat Aileen menjerit dalam hatinya.


“Leen, itu cowok yang aku ceritakan tadi.” 


“Ahahaha, iya.”


Aileen bergegas duduk di bangkunya dan menutupi wajah dengan buku. Pikirannya semakin kacau, ia tidak sanggup membayangkan hari-harinya di sekolah bersama dengan korban dari kecerobohannya itu. Semua saraf di otaknya seakan lebih aktif mengirimkan sinyal sehingga ia tidak berhenti mengutarakan segala kemungkinan, di dalam benaknya.


“Satu sekolah dan satu kelas, aku bisa gila, tapi apa dia mengingatku, aish apa kau ini bodoh, jelas saja dia pasti mengingatmu, apa dia akan mencari dan membunuhku, apa dia..” 


“AAAAA!” Aileen berteriak.


Seketika kerumunan siswa mengalihkan perhatian padanya. Auris yang malu akan sikap Aileen segera duduk di bangkunya dan menutup muka dengan buku.


“Huaa, Leen, apa ada yang salah dengan otakmu?”