HIAMOE

HIAMOE
BLACK BOX



Liam kembali mengulik file audio yang ia temukan. Kumpulan detik perlahan menenggelamkan mentari menyisakan langit indah yang didominasi warna pink dan ungu. Alam sedang menunjukan karismanya. Melewati kaca besar, Aileen memandang takjub langit itu. Langit sore yang tidak pernah mengecewakan dengan keindahan di setiap bentuknya. Langit itu tepat diciptakan untuk menyapa semua makhluk dengan semua riuh aktivitasnya. Ia datang sekedar menyemangati sebelum menampakkan gelap terhiasi rasi bintang dan bulan. 


 Saat malam itulah, Liam berhasil membuka file audio data rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR). Ia segera menduplikasi audio tersebut setelah mengunduhnya. Bulu kuduknya dibuat merinding dengan suara kapten pilot dan co pilot yang bekerjasama menstabilkan pesawat dengan susah payah karena kegagalan mesin yang sulit diidentifikasi. Akhirnya pesawat dapat diselamatkan. Meskipun bahasa silih bertumpuk dengan suara-suara lain, Liam dapat mendengar dengan jelas bahwa co pilot mengatakan penyesalan saat mereka berhasil mengendalikan pesawat dan berkomunikasi lancar dengan Air Traffic Control (ATC). Namun di tengah penerbangan, co pilot mengunci kokpit saat kapten pilot meninggalkan ruang kemudi. Terdengar suara sang pilot menggedor dan menghantam pintu kokpit, namun co pilot tidak menghiraukannya dan membuat pesawat hilang dari radar dan terjatuh pada kecepatan tinggi setelah co pilot keluar dari pintu darurat tanpa parasut ataupun alat lainnya. Sementara sang pilot yang berusaha menyelamatkan penumpang tewas bersama dengan penumpang lainnya.


Satu hal yang dipertanyakan dalam benak Liam tentang keberadaan data rekaman CVR tersebut. Mengapa media dan hukum bungkam saat bukti jelas nyata. Data pada black box benar-benar rusak dan file audio ini palsu atau memang keadilan berpihak pada orang yang salah. Jika rekaman itu benar, hal ini selaras dengan pemberitaan bahwa jasad co pilot memang tidak pernah ditemukan. Teka-teki terus bermunculan seiring dengan datangnya petunjuk.


Apakah co pilot masih tetap hidup?


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...


Rumah besar dengan gerbang yang cukup tinggi ada di hadapan kedua insan yang bahkan tidak ingin melihat muka satu sama lain. Setelah beradu argumen akhirnya pihak wanita kalah sehingga harus diseret oleh sang pria saat ia sedang menikmati waktu istirahatnya dari waktu jaga rumah sakit.


"Ini rumahnya,"


Tante Nia yang sedari tadi menatap nyalang jalanan melalui jendela mobil pun menoleh ke sebelah kanan dimana suara tadi berasal. Diteliti lebih jauh pria yang berada di sebelahnya sama sekali tidak menarik. Rambut panjang, gaya yang terlalu kasual, dilengkapi dengan muka yang masih menyisakan bekas luka lebam. Sama sekali bukan tipenya. Tapi tidak bisa dipungkiri parasnya sangat tampan.


Ah tidak! Dia pria licik, jangan tergoda dengan ketampanannya.


"Sudah selesai melihat ketampananku?"


Pak Daniel yang berada di kursi kemudi membalas tatapan Tante Nia dengan senyum angkuh, tidak terpengaruhi oleh tatapan tajam tante Nia. 


"Jika di dunia ini hanya tersisa kau dan sapi jantan, aku akan memilih sapi itu sebagai lelaki paling tampan di dunia," 


Pak Daniel tidak ambil pusing ucapan tadi, ia hanya ingin tante Nia menepati janjinya untuk menjelaskan hubungan yang sebenarnya pada pacarnya-Karen dan calon ibu mertuanya. 


"Sekarang turun, kita jelaskan semuanya" 


Sabuk pengaman sudah terlepas dari badannya dan ia sudah menyiapkan semua skenario yang mungkin akan terjadi. Bisa saja Karen menangis-nangis karena sudah salah paham dan langsung memeluknya saat itu juga, atau mungkin pacarnya- mantan pacarnya yang sangat manja itu meminta dibelikan ini itu agar mau menerimanya kembali. Itu tidak masalah menurutnya, selama ini ia memang mencari wanita yang lemah lembut dan selalu bisa ia jaga. Wanita yang selalu bisa mengandalkan dirinya, sehingga membuat ia merasa menjadi pria yang kuat. Tidak seperti wanita yang kini duduk di sebelahnya, tingkahnya bahkan tidak normal. Bagaimana bisa ia membuat kekacauan pada hidupnya hanya dalam beberapa kali pertemuan. Parasnya yang manis bahkan hampir tertutupi dengan semua tingkah lakunya yang selalu saja membuatnya naik pitam. 


Pintu disebelahnya ia coba buka, saat sesuatu yang dingin menyentuh leher kokohnya. Pak Daniel melirik tante Nia yang ternyata menempelkan pisau bedah pada urat nadi di lehernya. 


"Jika dengan ucapan kau tidak mau mendengar, kali ini aku katakan lagi padamu aku tidak mau berurusan dengan masalah percintaan yang menye-menye itu" 


Tante Nia dengan sengaja menekan lebih keras pisau bedah yang selalu ia bawa kemana-mana di sakunya. Memang sebelumnya ia menawarkan untuk membantu berbicara pada pacar dan calon tunangannya, tapi itu semua hanyalah alasan agar risetnya tentang kesehatan mental bisa selesai dengan mudah.


"Kau kira aku akan takut dengan pisau kecilmu itu? Bahkan hidupku pernah berada di ambang batas antara hidup dan mati,"


Dengan cepat pisau sudah berpindah ke tangan Pak Daniel. Tidak menunggu lama, tante Nia kembali diseret keluar dari mobil dan masuk ke dalam pelataran kediaman Karen.


Selama hidupnya ia selalu memiliki cara tersendiri dalam menyikapi segala persoalan. Jika cara halus tidak berhasil, maka mau tidak mau ia akan mengeluarkan cara yang paling gila untuk mendapatkan apa yang ia mau. Tapi tidak untuk kali ini. Bagaimana bisa sifat keras kepalanya bisa ditandingi dengan baik oleh pria itu. Tapi bukan Tante Nia namanya jika tidak punya rencana cadangan. Ia tidak akan menuruti perintah pria itu. Alih-alih menerangkan bahwa mereka bukanlah pasangan, tante Nia akan berpura pura menjadi wanita yang dijodohkan dengan Daniel sedari mereka masih duduk di bangku SD. 


Biar tau rasa! 


"Oh kalian lagi, ada perlu apa?"


Ucapnya dengan tangan yang melipat di dada hingga gelang-gelang yang ada di lengannya bergemerincing. Tatapannya menyiratkan rasa jijik saat memandang kedua insan yang berdiri di depan rumahnya.


"Ibu, saya ingin menjelaskan kesalahpahaman waktu itu. Tapi lebih baik wanita di samping saya yang menjelaskan karena kesalahpahaman ini dimulai dari dokter gila ini"


Tante Nia tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Dokter gila?


Calon mertuanya tersenyum meremehkan.


"Tidak perlu, kedatangan kau kesini sia-sia"


"Maksudnya?"


"Sedari awal kau bukanlah calon yang kami inginkan."


Bagai tersambar petir di siang bolong, penuturan calon ibu mertuanya membuat semua organ tubuhnya terasa berhenti beroperasi.


"Karen selama masih di dalam kandungan sudah saya jodohkan dengan anak pewaris rumah sakit swasta tempat saya bekerja dulu,"


Tunggu dulu, itu kan ucapan yang ingin aku keluarkan, ucap tante Nia dalam hatinya. 


Omong kosong macam apa itu, sudah menjodohkan anak dari dalam kandungan. 


"Jadi kejadian kemarin sama sekali bukan masalah. Bahkan seharusnya saya berterima kasih pada kalian berdua, akhirnya hubungan Karen dan Daniel dapat berakhir dengan cepat."


Melihat Pak Daniel yang berdiri dengan lesu membuat tante Nia tidak rela. Seharusnya ia yang membuat Pak Daniel berekspresi seperti itu, bukan ibu-ibu yang ada di depannya ini.


"Dengan penuh rasa hormat, apakah kau tidak memikirkan perasaan anakmu? Hubungan mereka sudah berlangsung lama, tentu akan sulit membuat mereka melupakan satu sama lain"


Pak Daniel tidak menyangka wanita yang ia seret paksa kesini akan membelanya, ia kira tante Nia akan menertawakan nasibnya yang malang ini. Sedikit kekuatan menjalari tubuhnya, tidak disangka kehadiran tante Nia disini benar-benar membantunya. 


"Kau tidak tau apapun tentang Karen anak muda, dia bahkan sangat senang melihat hadiah-hadiah yang dibelikan calon suaminya. Mereka bahkan akan melangsungkan pernikahan bulan depan."


Kali ini tidak hanya Pak Daniel yang kaget, tante Nia pun demikian. Hal ini sangat familiar dengan memori masa lalunya. Ditinggal menikah oleh pasangan yang dicintainya. Tak disangka rasa iba mulai menyelimuti hati tante Nia.


"Sekarang pergilah, tidak ada yang perlu dijelaskan."


Pintu tertutup dengan cepat di depan muka mereka berdua. Secepat itu pula rasa benci di antara keduanya mencair dan digantikan dengan rasa lain yang ingin mereka gali lagi lebih dalam.