HIAMOE

HIAMOE
NINETEEN



Lilin yang menyala dan teriakan kerabat Aileen di tengah malam menghentikan teka-teki mimpi yang selalu muncul homogen di tahun-tahun tepat pertambahan umurnya. Tahun ini merupakan 365 hari terakhir gadis itu terkategorikan anak belasan tahun. Detikan waktu sangat berarti berusaha meyakinkan gadis itu bahwa saat ini, obat sirup dengan alibi buah-buahan segar yang tidak sama sekali mendekati rasa buah-buahan itu bukan lagi konsumsinya. 


Aileen tersenyum tipis menyadari ia sudah tumbuh jauh, gadis itu selalu berharap kedua orang tuanya ada di saat-saat pertambahan umurnya. Namun, hal itu tidak pernah terjadi lagi. Meskipun seakan sudah terbiasa akan semuanya, rasa hampa itu, jelas masih terasa nyata. Terlebih setelah kepergian Auris, cukup meyakinkannya bahwa janji manusia itu hanya ilusi.


Disisi lain, sorot pandang hangat dan tulus dari Kei, seolah perlahan melekatkan segenggam kepercayaan kembali bagi Aileen. Hanya Kei, seorang yang diizinkan menelusuri lebih dalam ruang hampa pada hatinya yang tidak pernah ditempati oleh siapapun lagi, terkecuali kedua orangtuanya. Hanya Kei, yang bisa membuatnya yakin melangkah tanpa rasa khawatir ataupun takut akan bahaya yang mungkin terjadi. 


    Terima kasih sudah hadir, setidaknya itulah kalimat yang selalu tertahan pada mulut Aileen untuk lelaki di hadapannya yang kini sedang memegang kue tertancapkan lilin berangka 19. 


“Leen, tiup dong lilinnya. Keburu abis,” ucap Ara meruntuhkan lamunan Aileen.


Aileen hendak meniup lilin tersebut sebelum tangan Evin menutup mulut gadis itu. Sontak Aileen menggigit tangan Evin.


“AAA, Aish, sakit!”


“Lagian ngapain tuh tangan iseng banget?!”


“Make a wish dulu.”


Aileen menghela nafas dalam dan menutup kedua matanya sembari berdoa. Harapan itu singkat, cenderung sederhana, namun berarti bagi gadis tersebut.


Sedetik kemudian, api yang membuat ruangan menjadi jingga dengan cahayanya, redup. Suara tepuk tangan dari Evin dan Ara memenuhi sudut ruangan. 


“Selamat ulang tahun,” ucap Kei yang mampu membuat Aileen mengulum senyum.


“Makasih.”


Seketika Ara dan Evin saling pandang dan menyadari dengan baik yang sedang terjadi di antara Kei dan Aileen. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Coklat hangat menemani dinginnya malam dan diskusi santai empat orang remaja yang baru saja menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sofa yang nyaman membuat Evin dan Ara tidak bisa menahan rasa kantuknya dan memutuskan untuk tertidur. 


“Leen, bisa bicara?,” bisik Kei.


“Bicara aja.”


“Nggak disini.”


“Ribet deh, kenapa?.”


Kei menarik tangan Aileen keluar apartemen menuju rooftop. Sesampainya disana, Aileen menjitak kepala Kei hingga membuat lelaki tersebut mengaduh kesakitan. 


“Aish, psikopat.”


Aileen menjulurkan lidahnya tanpa sesal dengan tindakannya tersebut. Gadis itu terus menggerutu sedangkan Kei mulai memejamkan mata serta menghirup nafas dan membuangnya; seakan membiarkan semua penat dalam pikirannya sirna terbawa oleh udara yang keluar, tergantikan energi baru. Tanpa sadar, senyum terukir di pipi manis Aileen saat memandang wajah Kei dari samping. 


“Jangan liatin terus, nanti suka.”


“Dih, pede banget.”


Kei terkekeh sebelum menggandeng tangan Aileen untuk duduk di bangku dingin akibat suhu udara malam yang semakin turun. Dunia seakan merindukan mentari yang setia menghangatkannya hingga membuat bunga tersenyum memancarkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi makhluk hidup lainnya. Disisi lain, terbitnya mentari membawa kegelisahan bagi penghuni bumi dengan realita kehidupan yang tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Kalimat terakhir terjadi pada Kei, ia bahkan tidak menginginkan keduanya. 


Jika waktu adalah roda yang terus berputar searah jarum jam, lelaki itu ingin menjadi orang yang menghentikan roda itu dan memutar balik arah geraknya tanpa kehilangan memori yang tercipta sebagai navigasi perubah takdir. Lelaki itu ingin mengetahui misteri kepergian ibunya yang ia yakini terencana dengan matang. Ada dalang dibalik semua itu; semua peristiwa singkat yang mungkin mengharuskannya menanggung kesedihan dan penyesalan seumur hidup. Mulai dari detik itu, hidupnya berubah drastis. Pelangi yang bersinar dengan dengan warnanya yang indah berubah menyisakan hitam dan putih, entah hasil dilihat dari sudut pandang yang mana. 


“Mau ngomong apa?”


Kei menatap lekat mata Aileen, hanya gadis itulah yang kini tersisa di hidupnya. Hanya gadis itu, satu-satunya alasan Kei untuk bertahan. Kebahagiaan Aileen adalah hal yang ia perjuangkan, terlepas dari semua penderitaan yang ia rasakan. Begitu damai, dan tenang, itulah yang dirasakannya saat melihat Aileen. Tidak butuh waktu lama untuknya jatuh cinta pada Aileen, tapi mungkin butuh waktu seumur hidup untuk melupakannya.


Aileen memetikan jari di depan wajah Kei sehingga menghancurkan lamunan lelaki tersebut. “Mau ngomong apa? Disini dingin, kalo nggak cepet-cepet ngomong, aku timpuk kepala kamu pake sendal!”


Kei terkekeh gemas dan menggosokan kedua telapak tangannya untuk memperoleh kehangatan. Setelah itu, ia meletakan kedua tangannya pada pipi Aileen yang dingin. Hal tersebut sontak membuat kedua pipi gadis tersebut menghangat sekaligus memerah. Tatapan dalam dari Kei sanggup membuat hati siapa saja yang berada di posisi Aileen meleleh.


“Leen?”


“Hmm?”


“Terima kasih,” 


Aileen menatap lekat lelaki di sampingnya, “Untuk apa?” 


Malam itu, detak jantung Aileen lebih cepat dari biasanya. Rona pada pipinya semakin terlihat jelas, nafas yang ia atur dengan tenang tidak bisa tersingkronisasi hingga membuatnya segera melepaskan tangan Kei dan mengalihkan pandangannya ke segala arah sambil berdiri, berharap mendapatkan oksigen lebih banyak lagi. Jika boleh mendeskripsikan perasaan, gadis itu sangat senang, ingin rasanya ia berteriak kegirangan, namun tidak dihadapan Kei. 


“Wah, kamu ngerasa panas gitu nggak sih?” ucap Aileen sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangan.


Kesekian kalinya, Aileen berhasil membuat Kei tertawa. 


“Kenapa ketawa? Iya kan? Kaya panas gitu?”


Kei hanya mengedikan bahu tanpa melepas senyumnya, ia menarik tangan Aileen untuk kembali duduk di sampingnya. Menyadari baju Aileen yang tipis, ia segera membalut tubuh gadis itu dengan jaket yang ia kenakan.


“Apa perbedaan drastis suhu atmosfer bisa terjadi pada jarak sedekat ini?” bisik Kei tepat di telinga Aileen.


Aileen hanya bisa terdiam kaku dan merasakan kenyamanan di samping Kei. Lelaki itu selalu membuatnya nyaman, damai, dan aman. Perlahan, Aileen menatap lelaki disampingnya yang tengah tersenyum tulus kearahnya.


“Apa kau pernah percaya mimpi?”


“Mimpi seperti apa?”


“Mimpi dalam tidur.”


“Untuk apa?”


“Membuatmu tenang.”


“Maksudmu?”


“Entahlah.”


 “Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”


Aileen menggeleng, ia takut pembicaraannya akan membuat Kei menganggapnya gadis aneh. 


“Apapun itu, katakanlah. Aku berjanji akan mendengarkan dan memahaminya.”


“Kenapa aku harus percaya?”


“Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu percaya?”


“Tidak ada.”


“Katakan saat kau mempercayaiku. Setidaknya kau tidak akan memikirkan itu sendirian.”


Aileen mulai menceritakan tentang fantasi dan pemikiran mendalam gadis itu tentang mimpi yang seringkali ia tuliskan dalam sebuah buku. Mimpi itu terkadang menyenangkan, tidak jarang menyedihkan, namun menurutnya, itu lebih baik daripada kehidupannya saat ini. Dunia mimpi seolah mengajaknya untuk bersantai, meskipun pada akhirnya, gadis itu kebingungan dan berusaha memecahkan semua teka teki mimpi itu. 


Kebiasaan itu muncul setelah kepergian kedua orangtuanya. Tante Nia adalah satu-satunya orang yang setia mendengarkan celotehan Aileen kecil tentang mimpinya. Namun wanita itu, bersikukuh dengan realita, ia tidak ingin Aileen terus menerus tenggelam dalam mimpinya dan menceritakan seolah-olah kehidupan nyata adalah fana dan mimpinya itu akan benar-benar terjadi atau sudah terjadi, namun belum terkuak. Mimpi seorang anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya seolah menjadi tabu dan tidak berarti dipikiran orang dewasa, bahkan anak sebayanya yang masih meyakini peri gigi itu ada.


“Meski sekarang aku sadar mimpi itu hanya ilusi, ada satu hal yang terus mengganjal dibenakku.”


Kei menatap dalam mata Aileen, mempertanyakan yang akan dikatakan gadis itu selanjutnya.


“Kecelakaan pesawat yang menewaskan kedua orangtuaku.”


Aileen terus menceritakan antara keterkaitan fakta dan mimpi yang dialaminya tentang kecelakaan tersebut. Ia yakin bahwa ada dalang dibalik semua itu. Om Barack, dalam mimpinya, pria itu menyabotase pesawat pribadi yang ditumpangi kedua orangtua Aileen. Namun ia tidak memiliki bukti yang kuat akan hal tersebut. Ia hanya bisa merasakannya, ditambah saat bertemu dengannya, om Barack berkali-kali mengatakan ‘Aku yang membunuh kedua orang tuamu’. Semuanya menjadi masuk akal di benak Aileen. Rasa dendam dan marah tentu bergejolak di hati Aileen. Ia tidak ingin gegabah, namun ia sepenuhnya mempercayai hal itu.  


“Apa kamu akan berpikir semuanya berlebihan dan tidak masuk akal?”


“Jika aku boleh berpendapat, sebaiknya, kau melupakan semua itu, terlebih berhubungan kembali dengan om Barack.”


 “Memang sulit memahami imajinasiku jika pada dasarnya kau hanya mengandalkan logika.”


“Maksudku-“


“Aku ngantuk. Duluan ya Kei.”


Aileen berjalan meninggalkan lelaki yang masih mematung menatap punggung Aileen yang semakin menjauh. Ia mengusap kasar kepalanya dipenuhi oleh penyesalan. 


‘Sial, apa aku mengatakan hal yang salah?’