
Tiga murid yang menghilang itu datang di waktu bersamaan. Pak Bram memeluk haru mereka dan segera menyuruh ketiganya untuk beristirahat.
“Sebentar, Kei. Bapak perlu bicara.” Kei yang mendengar namanya dipanggil memastikan Aileen baik-baik saja sebelum berbalik dan mendekat pada gurunya tersebut.
Aileen yang melihat pembicaraan keduanya cukup serius memilih untuk berjalan ke arah lift lebih dulu.
“Perbaikan,” gumam Liam melihat sebuah tanda bahwa lift di tutup karena sedang perbaikan. Matanya melirik Aileen yang sudah berjalan menuju tangga. Ia hendak mengambil tangga lain yang lebih dekat dengan kamarnya, namun melihat gadis itu kesusahan saat menaiki tangga membuat ia mengurungkan niatnya dan segera menyusul Aileen.
“Perlu bantuan?” tanya Liam yang berdiri satu tangga di bawah Aileen.
Gadis itu melirik lelaki yang ada di belakangnya. "Aku bisa melakukannya sendiri," ucapnya.
Liam mengedikkan bahunya, ia memainkan ponsel sambil menaiki tangga tepat di belakang Aileen.
"Apa kakimu masih sakit?” tanya Liam sambil memperhatikan kaki Aileen.
Aileen menghentikan langkahnya dan menatap lelaki yang tetap berada di belakangnya. Tiba-tiba lelaki itu menaruh ponsel ke telinganya.
"Halo, oh ya, syukurlah. Kuharap kau baik-baik saja. Ada sesuatu yang harus kukerjakan, sampai nanti ya," ucap Liam sambil pura-pura mematikan teleponnya.
Aileen dibuat bingung oleh sikap Liam yang seakan membuntuti langkahnya yang lambat. Ia menatap curiga lelaki yang baru saja memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Liam membalas tatapan tersebut dengan santai.
“Kau pikir aku bodoh?” sarkas Aileen.
Liam berpura-pura berpikir sembari melipat tangannya, “Bukankah kau memang bodoh?” balasnya.
“Apa?!”
“Kau bodoh. Apa kau juga kehilangan fungsi pendengaran?” Aileen hampir saja kembali turun beberapa anak tangga untuk memukul Liam yang menurutnya menyebalkan.
“Sedang apa kalian?” tanya Kei yang tiba-tiba saja muncul. Liam dan Aileen menatap Kei yang tengah menaiki tangga.
Liam menyeringai, “Sepertinya pacarmu sudah datang,” ucapnya pada Aileen. Ia berjalan melewati gadis itu, meninggalkan Aileen bersama Kei.
“Aku bukan pacarnya! Kau, kembali sini!” teriak Aileen.
“Diamlah, kau benar-benar berisik,” ucap Kei yang berdiri di samping Aileen. Keduanya menaiki anak tangga perlahan hingga sampai di lantai dua, tepat di depan kamar Aileen. Saat pintu terbuka terlihat wajah Ara yang sembab karena menangisi Aileen.
Tanpa banyak bicara Ara menarik Aileen untuk segera masuk ke dalam kamar. Gadis itu melihat lutut Aileen terluka. Ia segera mengambil kotak P3K dan mengobati sahabatnya tersebut. Aileen melihat sekeliling kamar, “Auris kemana?” tanyanya.
“Aku tidak yakin,” jawab Ara.
Aileen menatap bingung gadis yang sedang mengobati lukanya. Seketika ia menjerit karena Ara terlalu banyak menggunakan obat merah pada lukanya itu. “Maaf,” ucap Ara sambil tersenyum lebar.
Disisi lain Kei berbaring di atas sofa, ruam pada perutnya mulai terasa menyakitkan. Lelaki yang baru saja memasuki kamar hotel melemparkan botol air mineral beserta kompresan pada Kei. Ia menatap curiga lelaki yang mulai menyalakan televisi tersebut.
“Apa tujuan mu memberikan ini?” tanya Kei pada lelaki yang sekarang berada di sampingnya.
Liam menatap Kei, “Tidak ada,” balasnya sambil memainkan PS Evin dan melemparkan topi yang ia kenakan ke atas meja.
Sekilas Kei merasa tidak asing dengan topi itu, ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Ia menatap Liam yang tampak serius dengan permainannya, menyadari bahwa dirinya mengenal sorot mata murid baru tersebut. Tiba-tiba saja perutnya terasa semakin sakit saat duduk, Kei tidak menghiraukan Liam lagi. Ia segera menyandarkan tubuh ke sofa dan mengompres perutnya.
“Kau terlihat dekat dengan Aileen. Jika kau ingin dia tetap selamat, jadilah lebih kuat,” ucap Liam sambil bergegas ke tempat tidur.
“Apa masalahmu?”
Liam menutupi kepalanya dengan selimut tanpa menghiraukan pertanyaan Kei.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Aileen terbangun dari tidurnya, suasana cahaya kemerahan pada langit menjelang matahari terbit begitu indah. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya untuk kembali menikmati suasana itu. Gadis itu mengenakan jaket yang ada di sampingnya dan menutup pintu kamar dengan hati-hati.
“Mah, pah. Aileen kembali lagi,” ucap Aileen sambil memegang kalung yang selalu ia kenakan.
Langit timur itu seakan memberi harapan baru. Ia muncul untuk memulai hari yang baru, memberikan semangat tanpa harus berkata, namun semesta tahu bahwa ia sedang berusaha menyapa. Aileen menarik nafas lega, ia menutup mata dan merasakan kehadiran kedua orang paling berharga di hidupnya. Beberapa saat itu, ia kembali merasakan bahagia. Namun, air matanya kembali mengalir. Luka itu masih tetap bernyawa. “Kapan ini akan berakhir?” rintihan batinnya.
Seorang lelaki tiba-tiba datang dan berdiri di samping Aileen, ia menguap dengan kencang sambil meregangkan badannya membuat gadis itu segera menghapus air matanya dan menatap lelaki tersebut. Ia melambaikan tangannya pada Aileen dengan muka bantal dan rambut yang berantakan membuat lelaki tampan dengan sikap yang tengil tersebut tampak menggemaskan.
“Apa yang kau lakukan disini?,” tanya Aileen.
“Dengan pakaian seperti itu?” Aileen memperhatikan Liam yang hanya mengenakan kaos polos dengan celana pendek dan sendal.
Liam menghentikan gerakannya dan menatap Aileen. “Apa aku perlu mengenakan jas?” tanyanya.
“Aku tidak mengerti dengan pikiran orang mesum.”
“Berhenti mengucapkan kata itu lagi.”
Aileen tak menghiraukan Liam dan segera pergi, namun lelaki itu menahannya. “Lain kali, berhati-hatilah,” ucapnya sebelum kemudian berlari mendahului Aileen.
“Terserah kau saja.” Aileen berucap sambil berlalu.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Sore itu, hujan turun dengan deras, membuat rencana study tour tertunda. Masing-masing murid mulai meninggalkan pendopo dan berjalan dengan payungnya menuju kamar hotel. Hingga tersisa beberapa orang disana, Aileen memanggil Auris. Namun gadis itu tetap mengacuhkan Aileen. Aileen merasa aneh sekaligus kesal dengan perlakuan sahabatnya itu. Ia kemudian berusaha menghampiri Auris sekedar memastikan kesalahan yang telah ia perbuat.
"Auris!" panggil Aileen sambil berusaha menyamakan ritme berjalan sahabatnya.
Auris sempat melihat gadis yang memanggilnya sebelum akhirnya mempercepat langkahnya dan menghindari Aileen.
Aileen tidak ingin melepaskan kesempatan untuk berbicara dengan Auris, mengingat sahabatnya itu kini sudah tidak satu kamar dengannya dan Ara lagi. Entah untuk alasan apa, sahabatnya itu seketika berubah. Gadis itu berlari menerjang hujan dan menghiraukan perih pada luka di kedua lututnya yang mulai terguyur air hujan.
Perjuangannya tidak sia-sia, ia berhasil menarik tangan Auris dan membuat gadis yang kini berdiri di hadapannya berhenti sejenak dan memayungi Aileen.
"Ada apa denganmu?" tanya Aileen, berusaha berbicara dengan nada bicara yang tenang. Auris menepis genggaman tangan gadis itu dan berjalan pergi menjauh setelah memberikan payungnya pada Aileen. Namun gadis itu tidak menyerah, ia kembali berlari mengejar sahabatnya.
"Katakan, apa salahku?!" bentak Aileen sambil memayungi gadis yang kini ada di hadapannya. Auris menepis payung tersebut hingga terlepas dari genggaman Aileen, keduanya saling bertatapan. Auris dengan amarahnya dan Aileen yang tidak mengerti dimana letak kesalahannya.
"Kau bahkan tidak mengetahui apa salahmu selama ini. Apa ini yang kau sebut dengan sahabat?!!" Auris berkata dengan intonasi yang semakin meninggi. Aileen menatap Auris tidak mengerti. Ia mencengkram salah satu tangan Auris, mencegah agar gadis itu tidak pergi.
“Bagaimana aku bisa tau jika kau tidak pernah mengatakannya?”
“Aku?” Auris tertawa miris. Ia melepas paksa cengkraman tangan Aileen pada pergelangan tangannya. “Aileen. Selama ini hanya aku yang mendengarkan masalahmu! Apa kamu pernah bertanya tentang ku? Nggak pernah!”
“Kamu bisa cerita, Auris. Aku akan mendengarkanmu,” ucap Aileen. Tampak sorot mata gadis itu khawatir.
“Lupakan. Kau tidak akan pernah punya waktu untuk itu.” Auris menepis tangan Aileen yang hendak mencegahnya pergi lagi. “Kau disukai banyak orang, banyak yang ingin berteman denganmu. Kau tidak akan mengerti apapun tentangku dengan pikiranmu yang dangkal itu. Berhenti bertingkah seolah kau sahabatku dan orang-orang akan mendekatiku untuk itu. Berhenti bersikap bodoh dan menjauhlah dariku." Auris segera pergi meninggalkan Aileen yang masih menetap disana.
Aileen menatap punggung Auris yang semakin menjauh. Rasanya sesak, ketakutannya kini menjadi kenyataan. Cuplikan kenangan manis masa lalu seakan menjadi nyata kembali hadir di benak Aileen.
"Leen, kamu nggak apa-apa kan? Apa ada sesuatu yang buruk?" tanya Auris.
Aileen menggeleng, namun matanya tidak bisa berbohong. Auris menatap dalam mata gadis yang duduk di sampingnya. "Kalo kamu ada masalah, panggil aku ya. Aku akan selalu ada disampingmu," ucapnya sambil tersenyum dan memeluk Aileen.
Aileen tersenyum, "Apa kau tidak akan pernah meninggalkanku, sedikitpun?" tanyanya polos.
Auris terkekeh dan menunjukan jari kelingkingnya, "Baiklah, aku akan berjanji." Dua gadis itu saling mengaitkan jari kelingkingnya dan membiarkan rasa nyaman menyelimuti keduanya.
"Apa yang kau khawatirkan sekarang?" tanya Auris.
"Aku takut tidak tumbuh kembali, padahal masih hidup." jawabnya.
"Lalu?" tanya Auris sambil memperhatikan Aileen dengan serius.
"Sebenarnya aku tidak pernah memberitahu ini pada siapapun, tapi ketakutan terbesarku adalah kehilangan orang yang aku percaya untuk kesekian kali, rasanya terlalu menyakitkan. Maka, tepati janjimu itu ya!" ucapnya sambil mengambil kulit ayam kesukaan Auris yang sengaja disisakan sebagai penutup dan segera berlari.
Auris kesal dan segera mengejar Aileen untuk menggelitiki sahabatnya tersebut.
"Bodoh."
Liam memayungi Aileen dengan payung yang tergeletak di bawah. Aileen berbalik dan menatap lelaki yang ada di belakangnya. Tepat saat ini, air mata kembali terjatuh. Selalu ada orang disana, bersinggah untuk menguatkan, pergi dengan menyisakan tangisan. Namun Tuhan menciptakan makhluknya dengan sempurna. Rencana-Nya selalu hadir untuk membuatnya tumbuh menjadi manusia kuat sesungguhnya.
Liam mengusap air mata gadis di hadapannya dan menyelimutinya dengan jaket jeans yang ia kenakan.
"Bodoh." Lelaki itu mengatakan kata itu lagi.