HIAMOE

HIAMOE
DEW ON THE GLASS



Melihat Aileen keluar dari mobil itu, membuat Kei mematung dan tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia meniup poninya dan berbalik arah menjauhi gadis yang sudah dua kali membuat kekacauan di hidupnya itu. Namun gadis itu tidak menyerah, dia mengikuti Kei sambil berusaha mengajak ngobrol lelaki di depannya yang berjalan dengan cepat.


“Apa malam turun hujan ya? Aku nggak menyadari apa-apa deh, hehe. Oh ada kamu, kok terlihat basah ya.. hehe,” ucapnya sambil tersenyum kaku.


Mendengar ucapan itu, sontak Kei menghentikan langkahnya dan berbalik arah menatap tajam gadis yang mengikutinya. 


“Mmm, mungkin sebaiknya aku pergi? Sebelum terlambat?” ucap Aileen sambil buru-buru berbalik arah.


Kei menghiraukan ucapan Aileen dan segera melanjutkan perjalanannya untuk mengganti bajunya.


Aileen berteriak dalam mobil dan menyesali apa yang telah ia lakukan. Namun ia tidak kehabisan akal, ia mengibas rambutnya dengan percaya diri dan bergumam.


“Aku tau, dia pasti akan terlambat dan dihukum. Tapi dia pasti suka dihukum berdua denganku kan?” ucapnya sambil memangku dagu dan menaikan alisnya. 


“Cepat atau lambat dia pasti akan memaafkanku,” sambungnya diakhiri dengan meniup poninya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen memutuskan untuk memantau Kei di parkiran sekolah melalui kaca mobilnya. Menyadari kedatangan Kei yang berlari begitu cepat membuatnya gelagapan mengambil tas dan meninggalkan mobilnya dalam keadaan aman. Ia seperti warga biasa yang sedang berlari maraton dengan seorang atlet. Napasnya tidak karuan namun tetap mengikuti ritme berlari Kei hingga jantungnya seperti akan copot.


Pelajaran sudah dimulai, pak Bram tengah mengabsen murid di kelasnya. Ia sudah melewati nama Aileen. Kei datang dengan nafas yang terengah-engah diikuti oleh kedatangan Aileen yang sudah hampir pingsan. Melihat itu, pak Bram mempersilakan dua murid uniknya itu untuk duduk, kemudian menegurnya.


“Kalian lagi, kalian lagi. Apa tidak ada nominasi murid lain yang harus membuat masalah? Kenapa harus kalian?! Baiklah. Karena kalian sudah menandatangani perjanjian saat masuk sekolah ini, kalian harus menanggung konsekuensinya, kalian harus merapikan buku perpustakaan setelah pulang sekolah. Mengerti?” 


Dua murid itu mengatur nafasnya dan mengangguk mengerti. Mereka saling menatap. Aileen melambaikan tangan sambil berusaha tersenyum pada Kei dengan nafas yang masih tidak karuan, namun Kei tetap menghiraukan gadis itu.


Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid merapikan bukunya dan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Pak Bram mengintip melalui jendela kelas dan berteriak.


"Kei dan Aileen, jangan lupa untuk membersihkan perpustakaan!” ucapnya yang mampu mengejutkan seisi kelas.


“Baik pak.” jawab Aileen.


Aileen melihat ke arah Kei yang sedang membereskan barangnya dan bergumam pelan. “Apa dia semarah itu? Sepertinya tidak. Lagipula dia akan membereskan perpustakaan denganku. Seperti kebanyakan cowok, dia pasti sangat bersyukur. Aku penasaran, apa setelah ini dia akan menyukaiku?”


Aileen hendak menghampiri Kei dan mengajak lelaki itu pergi ke perpustakaan bersama; dengan langkah kaki yang dibuat seolah-olah anggun. Namun belum sempat langkahnya mencapai dimana Kei berdiri, Kei lebih dulu berjalan pergi meninggalkannya. Bahkan ketika melewatinya pun lelaki itu sama sekali tidak melihat ke arahnya.


Apa-apaan dia? Sepertinya otak lelaki itu benar-benar mengalami pendarahan yang parah, batin Aileen mengomel. Meski begitu ia tetap berjalan untuk menyusul Kei, bahkan meneriakkan namanya hingga mengundang atensi dari murid lain.


Kei yang merasa risih dengan tingkah konyol Aileen mempercepat langkahnya. Sedangkan Aileen yang ditinggal merasa kesal dengan sikap dingin siswa itu. Tanpa basa-basi, Aileen melepas sepatu talinya dengan paksa dan melemparnya tepat mengenai kepala Kei.


Merasakan hantaman yang cukup keras dikepala -untuk kedua kalinya- membuat Kei berhenti melangkah hingga gadis yang berlari di belakangnya itu menabrak punggungnya. “Apa kau seorang psikopat?!”


Aileen tertegun mendapat bentakan dari Kei. Keduanya saling memandang dengan tatapan kesal.


Kei berdecak lalu menendang sepatu milik Aileen yang mengenai kepalanya hingga hilang entah kemana. Hal tersebut tentu semakin membuat Aileen kesal bahkan meneriakkan sumpah serapah pada lelaki itu sembari mencari sepatunya diantara orang-orang yang berada di koridor.


“Psi.. psi, apa katanya tadi? Yang benar saja! Bukankah dia yang psikolog? Bersikap dingin dan mengerikan!” Gadis itu memelototi murid yang menatapnya aneh sembari terus mencari sepatunya yang entah ada dimana.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Dinding perpustakaan setelah bel pulang sekolah berbunyi bagai sebuah batas antara dua suasana. Murid-murid dengan wajah yang tidak asing pada bor apresiasi murid berprestasi tampak keluar-masuk perpustakaan dengan buku yang dipeluk dengan erat. Sedangkan di luar perpustakaan tampak canda tawa murid lain dengan tas di punggungnya dan semangat melangkahkan kakinya untuk pulang. 


Aileen dan Kei terpaksa memasuki perpustakaan setelah bel pulang sekolah berbunyi. Pak Bram dengan senyuman yang khas menyambut kedatangan dua muridnya tersebut, sedangkan dua insan itu menatap aneh gurunya, “Selamat datang dua murid unikku,” sambutnya.


Guru tersebut memberikan gestur menggunakan gerakan tangan agar Kei dan Aileen mendekatkan kepala mereka ke arahnya.


“Seluruh buku-buku di perpustakaan sudah dibereskan oleh petugas,” bisiknya.


“Jadi bapak berinisiatif untuk membaca semua buku di rak 20, dan semuanya masih tergeletak di meja sana. HA HA HA.” Pak Bram menunjuk ke arah meja besar dengan tumpukan buku-buku yang berantakan. Aileen menutupi wajahnya menggunakan tangan dari tatapan heran murid lain yang berada di perpustakaan, sedangkan Kei hanya memalingkan wajah.


“Tidak perlu sungkan muridku. Sama-sama.” Pak Bram menepuk pundak Kei dua kali lalu mengedipkan sebelah matanya pada Aileen.


“Terima kasih, pak.” Aileen menyikut lengan Kei yang hanya terdiam tanpa mengucapkan apapun pada guru mereka. Kei memutar bola mata malas lalu mengucapkan terima kasih pada gurunya itu.


“Sebaiknya kalian mengerjakan ini dengan hati-hati.”


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen dan Kei sudah membawa tumpukan buku yang berada di meja tepat di depan rak 20 yang sialnya berada di lantai dua perpustakaan tersebut. Keduanya harus dikejutkan lagi dengan keadaan rak yang juga sama berantakannya. Beberapa buku tergeletak di bawah begitu saja.


“Apa yang dilakukan guru aneh itu?” keluh Aileen. Kei melirik gadis itu sebentar namun segera merapikan buku-buku yang berantakan sesuai dengan urutan. Ia hanya ingin segera pergi dari sana untuk menghindari gadis aneh itu, kupingnya bisa meledak mendengar ocehan Aileen terlalu lama.


“Sekolah ini benar-benar membuatku gila. Murid hingga gurunya semuanya aneh!” Aileen meletakkan buku di rak dengan kasar hingga menimbulkan bunyi-bunyi yang cukup berisik. Persis seperti seorang anak ketika disuruh oleh ibunya untuk mencuci piring, piring-piring itu seolah dibanting ketika diletakkan ke rak dapur.


Aileen merasa lelah terus berbicara seorang diri. Ia berhenti merapikan buku-buku lalu mendekat ke arah Kei. “Apa aku berada di ruangan ini sendirian, huh?,” tidak ada respon dari lelaki itu, bahkan Kei dengan sengaja menepukkan debu yang ada di sebuah buku tepat ke wajah Aileen. Tanpa merasa bersalah lelaki itu segera melanjutkan pekerjaannya lagi.


Yang benar saja.. lelaki ini, batin Aileen kesal.


“Mmm, Kei. Tentang kejadian itu..” Aileen melirik ke arah Kei yang terlihat dengan sengaja sedikit berjalan ke sisi lain untuk merapikan buku. Gadis itu merasa sangat jengkel dengan lelaki itu sekarang. 


“Sepertinya kau ingin cepat selesai ya!?” sindirnya. Tidak ada respon. “Baiklah! Aku akan membereskan bagian atas,” ucapnya sembari menunjuk bagian atas rak.


Matanya mengedar mencari sesuatu yang ia butuhkan untuk mencapai posisi rak tersebut. Begitu ia mendapatkannya gadis itu segera berlari kecil mendekati benda tersebut.


“Aku membutuhkan kursi ini!” Ia sengaja mengencangkan suaranya agar lelaki itu mau membawakan kursi kayu itu untuknya. Sayang sekali Kei masih bergeming ditempat. Aileen menyerah, lelaki itu pasti jelmaan tembok bernyawa.


Kei melirik Aileen yang menyeret kursi tersebut hingga menimbulkan bunyi berisik. Bahkan lelaki itu tetap memperhatikan gadis berisik itu hingga berdiri di atas kursi dan mulai meletakkan buku-buku. Ia tersenyum tipis melihat tingkah Aileen. Namun begitu mengingat sikap barbar gadis itu ia segera menggeleng untuk menyadarkan dirinya sendiri, bahkan ia bisa merasakan kepalanya masih berdenyut akibat hantaman sepatu.


Aileen tenggelam dalam pikirannya. Ia memikirkan lelaki itu, Kei. Berpikir bahwa kejadian dimana ia memukul kepala Kei berakibat parah hingga lelaki itu menjadi pendiam dan bersikap dingin terhadap dirinya.


“Kau tau, Kei? Aku tidak pernah membereskan sesuatu sendiri. Ini pertama kalinya.” Aileen tidak kecewa begitu ucapannya tidak mendapatkan respon, terbiasa mungkin. Di sisi lain Kei menatap datar Aileen yang membersihkan debu pada setiap buku menggunakan tisu, membuat pekerjaannya menjadi lebih lama selesai.


“Dari mana ia mendapatkan tisu sebanyak itu?” batin Kei.


Beberapa waktu kemudian, Kei menatap rak bagiannya sudah rapi. Ia berjalan sedikit lebih dekat ke arah Aileen yang belum juga menyelesaikan bagiannya.


Gadis itu menguap beberapa kali hingga tidak sanggup menahan rasa kantuk. Ia memejamkan mata sebentar berniat untuk mengusir rasa kantuk tersebut. Namun tiba-tiba saja tubuhnya limbung dan terjatuh dari kursi hingga membentur lantai perpustakaan.


Aileen membuka mata dan mendapati Kei berdiri dihadapannya dengan tatapan datar. Memalukan sekali, pikirnya. Bukannya segera bangkit untuk berdiri, Aileen hanya menutup wajahnya menggunakan tangan dan masih berada di posisi bagaimana ia terjatuh.


Kei lagi-lagi harus dibuat lelah dengan kelakuan gadis aneh -menurutnya- itu. Ia berjalan melewati Aileen dan membenarkan posisi kursi, “Duduklah!”


Aileen dengan sengaja menyilangkan kaki sambil meletakkan lengannya di bawah kepala. “Wah, perpustakaan tampak lebih indah dari sudut ini,” alibinya.


Kei menaikkan sebelah alis, “Kau tidak akan bisa membantuku jika terus seperti itu.”


“Kau meremehkanku? Aku bisa melakukan apa saja dengan kondisi apapun!” Aileen langsung bangun dari jatuhnya yang sayangnya membuat pergelangan kakinya terasa nyeri hingga ia merintih kesakitan.


Kei menghela napas, “Apa kau selalu keras kepala seperti ini?”


Aileen menyerah dan memilih untuk duduk dikursi yang sudah Kei benarkan posisinya. Ia melirik Kei sekilas sambil menghela napas. “Jangan begitu, kau tampak aneh jika sedang khawatir,” komentar Aileen.


Kei mengabaikan komentar Aileen. Ia berlutut dengan satu kaki lalu melihat kaki Aileen yang sepertinya terkilir.