HIAMOE

HIAMOE
FRAKTAL



Liam Malikson, seorang lelaki tampan dengan kharisma yang mengarahkannya pada kata keren itu berjalan dengan gaya slengean layaknya mahasiswa IT (Information and Technology) yang menjelma menjadi mahasiswa seni. Jelas, menjadi mahasiswa IT di universitas terbaik merupakan impian terbesar baginya. Lelaki itu telah menentukan jejak hidupnya sejak berada di sekolah dasar dan berusaha keras meluangkan waktu dan tenaga untuk semua itu. 


Di universitas lain, Kei tampil tidak kalah menawan dengan gaya yang modis khas mahasiswa manajemen bisnis, mengantarkannya menuju sebuah pujian lelaki cool dan ganteng. Sangat jelas bahwa Kei telah merencanakan pilihannya menjadi seorang pengusaha bisnis dan memetakan kampus dengan kualitas terbaik dalam hal manajemen dan bisnis, sebagai target studinya.


Dua cerminan yang seolah berseberangan dalam hal penampilan, namun memiliki suatu kemiripan jika ditinjau lebih mendalam. Layaknya kepingan salju koch yang diperbesar tanpa batas, dengan detail baru yang datang dalam ukuran berbeda. Kepingan itu muncul dalam mimpi Aileen dan menyelipkan sebuah teka-teki yang mengarahkannya pada sebuah kepingan puzzle lain yang ingin ia selesaikan. 


Dalam mimpi itu, Aileen yang tengah menyelesaikan tugas dibuat terpukau oleh salju yang menempel pada kaca jendela. Matanya bak sebuah mikroskop stereo dengan perbesaran tak terbatas yang mampu menggali lebih dalam benda tersebut. Kepingan salju yang ia lihat itu semakin membawanya ke dalam, menjauh tanpa batas sampai menimbulkan rasa sakit di kepalanya dan membuat gadis itu terbangun. 


Aileen segera meraih buku yang sudah lama tidak ia sentuh dan menggambarkan semua hal yang muncul dalam benaknya, membiarkan tangan lihai itu mengikuti gerak imajinasi tak terbatas yang berusaha gadis itu raih. Detail gambar yang signifikan pada masing-masing skala, tertata dengan rapi menjadi sebuah seni yang membawa pada dimensi ruang yang mirip, namun dengan versi berbeda. Simbol tak hingga segera tertuang dalam selembar kertas, mengartikan semua hal yang ia lihat. Tunas yang bertumbuh dengan cepat seiring dengan perbesaran rasio dan pertambahan waktu digambarkan dengan apik oleh Aileen. 


“Apa maksud dari semua ini?,” lirih Aileen sebelum menyelesaikan gambarannya dan bersiap-siap menuju kampus.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Baju overall coklat dan rambut yang dikepang tanpa mengikat rambut-rambut jagung membuat gadis itu tampak lebih manis. Flat cap yang digunakan gadis itu turut serta dalam menyempurnakan penampilan Aileen. Namun, kanvas yang hampir setara dengan tinggi tubuh Aileen menghalangi pandangan gadis tersebut, ia membawanya dengan susah payah sambil menuruni satu persatu anak tangga.


Seorang lelaki berpostur ideal berdiri di belakangnya, merasa terhalangi oleh Aileen, lelaki itu membantu Aileen dengan membawa kanvas tersebut tanpa persetujuan Aileen dan tanpa melihat wajah gadis tersebut. Ia berjalan mendahului gadis itu dengan menuruni tangga dengan cepat. Kaki jenjang lelaki itu turut menunjang pergerakannya.


Aileen membulatkan mata karena terkejut dan memilih untuk berdiam sementara sembari memperhatikan lelaki yang membawa kanvasnya sampai pada anak tangga terakhir. Perawakan punggung dan lengan lelaki tersebut mengingatkannya pada Liam. Namun, Aileen tidak ingin gegabah, mengingat belakangan ini ia sedang sering berhalusinasi dan bertindak spontan. 


Aileen sadar dari lamunannya setelah lelaki tersebut hanya meletakan kanvas tersebut pada anak tangga terakhir dan meninggalkan gadis itu. Rasa penasaran memaksanya menuruni anak tangga lebih cepat dan menyusul lelaki tersebut. Kaki kecilnya seolah tidak mampu untuk menandingi kaki jenjang lelaki itu. Tidak kehabisan akal, Aileen meneriaki lelaki tersebut hingga berhasil membuat lelaki yang berada jauh di hadapannya berhenti tanpa sekedar menolehkan pandangannya. Hal itu cukup untuk mengulur waktu, sementara Aileen tetap berlari mendekatinya.


“Terima kasih,” ucap Aileen sambil mengatur nafas lelahnya ketika berada tepat di belakang lelaki itu. 


Lelaki itu dengan gayanya yang khas membalikan tubuh. Dua insan tersebut terkejut saat bertemu pandang dan mengenali satu sama lain dengan jelas. Lelaki dengan anting hitam di telinga kirinya itu segera membalikan badan dan hendak menjauhi Aileen, namun gadis itu menarik bajunya dengan kencang hingga membuat lelaki tersebut tidak bisa berkutik atau bajunya akan sobek. Pada akhirnya, tatapan mata itu kembali terlihat oleh Aileen.


“Liam?”


“Kau salah orang.”


“Kau pikir ingatanku rusak, huh?!”


“Lepaskan bajuku, aku harus segera pergi.”


“Tidak akan pernah.”


“Apa kau merindukanku?”


“Sudah kuduga kau tidak bisa berbohong.”


“Sudah kuduga kau merindukanku.”


“Apa kau tidak pernah mendengar kalimat jebakan?”


Liam tersenyum tipis menyadari perkembangan pemikiran Aileen yang menurutnya sedikit lebih dewasa.  “Baiklah, apa maumu?”


Aileen terdiam sejenak, banyak pertanyaan yang melintas dalam benaknya untuk lelaki tersebut. Namun, ia seakan tidak tahu harus memulai dari mana. Ia berpikir berulang, tatapan Liam seakan mengintimidasinya. Menyadari keheningan yang tercipta, lelaki itu mengetuk-ngetuk pelan kening Aileen dan menaikan satu alisnya.


“Rese,” ucap Aileen spontan yang meruntuhkan keheningan tersebut.


Liam semakin mengerutkan dahi dan menatap Aileen bingung karena raut wajah gadis tersebut berubah menjadi bete. 


“Aku harus pergi, sama-sama.”


Liam hendak melangkahkan kakinya menjauh sebelum gadis itu berbicara padanya dengan intonasi tinggi.


“Kenapa kamu ngilang semenjak kejadian itu?!”


Liam menatap dingin gadis di hadapannya, “Apa pedulimu?”


“Jahat.”


“Katakan apapun yang kau mau.”


“Aku sama sekali tidak menganggapmu buruk karena bekerja sama dengan om Barack.”


“Bagaimana keadaan keluargamu?”


“Itu bukan urusanmu.”


“Apa kau terbiasa bersikap dingin pada orang yang peduli denganmu?”


Liam hanya tersenyum sinis, “Terima kasih, tapi aku benar-benar tidak peduli. Berhenti bersikap seolah kau peduli, karena aku tidak membutuhkannya.”


Perkataan yang cukup tajam bagi hati Aileen yang terlalu lembut. Gadis itu secara spontan menampar lelaki dihadapannya.


“Ah,” pekik Liam.


“Kau pantas mendapatkan itu,” ucap Aileen sambil berjalan melewati Liam dan menginjak kaki lelaki tersebut dengan sengaja hingga membuat Liam menjerit kesakitan lagi.


Beberapa lama kemudian, Aileen kembali melewati Liam karena kanvas yang ia bawa tertinggal di anak tangga terakhir. Rasa malu tersembunyi dibalik perawakannya yang dibuat menyeramkan. Liam yang merasa tidak aman melindungi semua anggota tubuhnya dengan kedua tangan saat gadis itu lewat di depannya.


“Bodoh,” maki Aileen pada dirinya sendiri. 


Aileen berjalan menunduk dengan berbagai spekulasi memenuhi pikirannya. 


“Seharusnya aku sadar bahwa satu persatu orang dalam hidupku memang tidak akan pernah menetap, mereka hanya singgah untuk kemudian meninggalkan kenangan, dan bodohnya aku masih berharap semua itu tetap disini dan tetap peduli,” sambung Aileen sambil memejamkan mata dan menyandarkan punggung pada dinding.  


Satu persatu orang yang berharga di hidupnya pergi begitu saja, menyisakan segenggam rasa yang tetap singgah serta harap tanpa waktu untuk bersama yang terasa semakin nyata. Aileen memaksa hatinya untuk menerima semua itu dan berusaha mentoleransi setiap pertemuan dan perpisahan. Tapi ia tidak bisa membayangkan jika orang itu tante Nia atau Kei, ia mungkin tidak akan pernah bisa beradaptasi dengan baik. 


Dering ponsel gadis tersebut berdering meruntuhkan pergulatan antara pikiran dan perasaan dalam jiwanya, tertera nama Evin di layar utama ponsel tersebut. 


“Aileen, apa kau gila?” bisik Evin dalam sambungan telepon yang berusaha mengendap-ngendap untuk menelpon sahabatnya itu ditengah-tengah pra-ujian praktek. 


“Apa? Bisa kau kencangkan suaramu?”


“Ujian praktek perdana, apa kau melupakannya?”


Mata Aileen membulat, lantas ia menutup sambungan telepon dan segera membawa kanvas besar yang sudah disiapkan; berlari menuju kelas yang akan segera dimulai. Ponsel Aileen terus membunyikan notifikasi, jelas itu adalah Evin yang lebih panik daripada gadis yang akan terlambat itu.


“Apa anak ini benar-benar lupa?” lirih Evin, panik. Sementara tangannya terus mengetikan pesan untuk Aileen. 


“Cepat kesini, ujian akan segera dimulai. Apa kau benar-benar melupakan ujian praktek ini? Apa kau tau bahwa ujian ini penting? dan apa kau tidak menyadari bahwa dibalik kekecean pak Daniel, dia sangat killer? Aileen, bisa kau balas pesanku?,” pesan Evin yang meramaikan notifikasi ponsel Aileen dan menambah ketegangan yang terjadi. 


"Arght, Evin, aku akan menjitak kepalamu saat bertemu!" geram Aileen sambil terus berlari.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen memperlambat langkahnya saat mendekati ruangan kelas. Ia mengetuk pintu dengan nafas terengah-engah dengan harap pak Daniel tidak memarahinya. Gadis itu segera masuk setelah mengetuk pintu kelas yang terasa horor baginya. Ia tidak pernah melihat dosennya marah, namun hanya membayangkannya saja cukup membuat gadis itu ketakutan.


“Maaf pak, saya terlambat.”


“Duduk.”


Hanya satu kata yang terucap dan berhasil meruntuhkan pemikiran berlebihan yang gadis itu putar membentuk siklus dalam benaknya. Ia segera mengatur nafas dan menata kanvasnya dengan tangan yang gemetar melihat progress dari teman-temannya yang lain.


“Semangat,” ucap Evin.


“Makasih.”


Aileen segera merogoh buku kecil dengan cover coklat yang biasa digambari dengan hal-hal yang ia temukan di dalam mimpinya. Mimpi tadi malam cukup membantunya dalam ujian praktek ini, ia segera menggerakan jari lentiknya untuk menduplikasi gambar yang sebelumnya telah dibuat menjadi lebih besar. 


Gadis itu mencoba tetap fokus pada lukisannya saat melihat teman-temannya berangsur-angsur pergi karena telah menyelesaikan lukisannya. Ia tidak peduli lagi dengan waktu, imajinasinya seakan liar menorehkan karya luar biasa pada sebuah kanvas besar. Makna yang mendalam tentang arti kehidupan, tidak terbatas, dan tetap berjalan menelusuri waktu. 


Suasana kelas sudah sepi, menyisakan Aileen dan pak Daniel yang menaruh penasaran pada lukisan yang sedang gadis itu kerjakan. Bahkan ia merelakan waktu berharganya sekedar menunggu Aileen menyelesaikan kumpulan objek berarti yang coba ia terka-terka makna dibalik semuanya. 


Aileen menggerak-gerakan jarinya saat rasa pegal mulai ia rasakan. Bahkan lukisan itu baru mencapai 25%, namun dengan telaten ia terus mengikuti permainan imajinasi tidak terbatas. 


“Fraktal,” ucap pak Daniel pada Aileen.