
Liam berjalan mendekati Aileen tanpa menatapnya. Lelaki itu memberi jarak antara Aileen dengan empat orang siswi di hadapannya. “Bahkan perilakumu sangat buruk untuk ukuran remaja yang memiliki orang tua.” ucap Liam dengan penekanan di kata terakhir. Liam berkata dengan senyuman tipis di wajahnya, namun senyuman itu tidak terlihat ramah sama sekali.
Aileen menatap punggung Liam yang berdiri di hadapannya, ia menyentuh bahu Liam meminta agar lelaki tersebut memberikan ruang untuk dirinya bertatapan langsung dengan Angel. “Menyedihkan melihat seorang ketua osis melakukan perundungan seperti ini,” ucap Aileen. Ia menatap para murid yang berkerumun menonton mereka seolah hal tersebut adalah sebuah pertunjukkan yang menarik. “Apa kau akan melaporkan dirimu sendiri?” tanya Aileen sambil tersenyum semanis mungkin.
“Menyingkir!” Aileen mendorong bahu siswi yang menghalangi jalannya dan berjalan menjauh. Liam yang melihat hal tersebut tersenyum lebar, ia melirik Angel yang terkejut karena sikap Aileen. “See? Kau salah sudah melawan gadis gila itu.” Liam menepuk bahu Angel lalu sedikit berlari untuk mengejar Aileen.
Liam menarik lengan Aileen yang sedikit terkejut dengan perlakuan lelaki itu. Dalam hati Aileen bersyukur bisa terbebas dari situasi tersebut, meski telinganya masih bisa menangkap omongan orang-orang yang penasaran terhadap dirinya dan Liam.
Liam menghentikan langkahnya saat berada di depan pintu UKS. Tangan gadis itu terasa sangat dingin. Ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut setelah diizinkan oleh penjaga UKS.
“Permisi, ada siswi yang sakit.”
“Bawa siswi itu masuk”
Tindakan lelaki itu membuat Aileen bingung dan lebih memilih untuk tetap berdiri di daun pintu.
"Apa yang kau lakukan disitu?" Liam menaikan alisnya dan menarik Aileen untuk masuk.
"Apa kau gila?" Teriak Aileen membuat penjaga UKS mendekat.
"Jadi ini temanmu yang sakit?" tanya penjaga UKS pada Liam diikuti dengan anggukan dari lelaki tersebut.
Penjaga UKS segera mengantarkan Aileen menuju kamar UKS tanpa menghiraukan tolakan dari gadis itu. Dokter segera memeriksa Aileen yang sedang berbaring di ranjang UKS tersebut.
"Kau mengalami hipotensi, sebaiknya kurangi stress dan istirahat yang cukup." Dokter itu segera pergi setelah mendiagnosis. Aileen sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan dokter, namun terkejut karenanya. Gadis itu beranjak dari tidurnya dengan raut wajah begitu panik.
Liam memasuki kamar UKS dan mendapati Aileen menatapnya penuh kekhawatiran. "Kenapa?" tanya Liam sambil memperhatikan sesuatu yang salah dari tubuhnya.
Aileen menatap Liam dan mengatakan bahwa ia mengidap hipotensi dengan intonasi yang lambat dan raut wajah yang dramatis membuat Liam terdiam dan menatap gadis itu datar. "Wow," ucap Liam sembari mendekati gadis tersebut.
Liam menempelkan tangannya pada dahi gadis yang berada di sampingnya. "Istirahatlah," ucap lelaki itu sambil duduk di kursi yang berada di samping Aileen.
Aileen segera berbaring setelah meminum air mineral cukup banyak. Tingkah gadis itu membuat lelaki di sampingnya gemas.
"Aku mengidap hipotensi." Aileen berucap lagi dengan dramatis sambil menatap langit-langit UKS.
Liam tidak bisa berkata-kata lagi dan menatap datar Aileen. Gadis itu menghela nafas dan menatap Liam dengan raut wajah seakan kehilangan harapan. "Apa hidupku tidak lama lagi?" Pertanyaan Aileen membuat lelaki itu mendengus lelah.
"Woa, yang benar saja. Bukankah kau berteman dengan siswi cerdas di kelas kita?" Menyadari ekspresi yang berubah dari Aileen, membuat lelaki itu dipenuhi rasa bersalah. "Ah.. mungkin tidak lagi," sambungnya.
Dua remaja itu saling bertatapan, namun raut wajah Aileen tidak berubah sama sekali. "Tapi, cobalah untuk berteman denganku. Meski sekarang kau dangkal, kau akan tertular kepintaranku," ucap Liam dengan percaya diri.
"Tapi jangan terlalu dekat, kau akan jatuh cinta padaku " bisik Liam.
Aileen memutarkan bola matanya. "Kau tau? Selama aku masih bernafas, hal itu tidak akan pernah terjadi."
Liam tersenyum sarkas dan segera beranjak dari duduknya, "Istirahatlah, kau tidak perlu khawatir. Hipotensi tidak seburuk yang kau pikirkan, tekanan darah rendah akan membaik jika kau menerapkan pola hidup sehat." Lelaki itu segera pergi dan membiarkan Aileen beristirahat sementara waktu.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Kei mendengar seseorang mengetuk pintu apartemennya. Namun tubuhnya terlalu lemas hanya untuk bersuara, apalagi jika ia harus berjalan untuk membuka pintu. Ia hanya bisa pasrah dengan tubuh yang terasa membeku akibat demam yang ia derita sejak kemarin malam, bahkan beberapa kali ia terbatuk.
Tidak lama ketukan tersebut menghilang. tergantikan oleh suara pintu yang seolah dibuka paksa. Kei terlalu pening untuk mengira-ngira apakah itu seorang perampok atau hanya halusinasinya saja.
Pintu kamar Kei terbuka, bayangan dua pria dewasa disusul dengan bayangan seorang wanita tampak samar baginya. Lelaki itu bahkan tidak bisa membuka mata lebih lebar lagi.
"Suhu badannya sangat tinggi, segera bawakan perlengkapan di mobil," ucap wanita tersebut.
Wanita itu segera mengecek keadaan lelaki di hadapannya dan melakukan infusi pada tangan lelaki itu. Keadaan Kei benar-benar kacau, pikiran yang terus mendorongnya untuk terus memutar otak membuatnya tidak memerhatikan lagi kondisi fisiknya, bahkan untuk sekedar menjaga kadar air dalam tubuh.
Perlahan lelaki itu membuka matanya. Ia menghela nafas berat dan terbatuk. Dua pria yang tidak asing baginya mendekat dan memberikan lelaki itu sarapan. Kei segera beranjak dari tidur saat menyadari kedua pria tersebut adalah orang yang menggantungnya dari rooftop beberapa bulan lalu.
Kekacauan terjadi, Kei dengan kondisi fisiknya yang belum stabil berusaha melarikan diri. Namun kedua pria tersebut menahannya dan dengan lembut memaksanya makan, membuat Kei semakin ketakutan. Kei memakan makanan bergizi tersebut dengan gemetar, dua pria berbadan kekar itu terus memperhatikannya dengan senyuman hingga suapan terakhir.
Suara derap langkah kaki wanita terdengar, membuat ingatan Kei kembali pada kejadian itu. Bahkan hingga saat ini ia masih merasakan jantungnya hampir copot dalam ketinggian dan kegelapan. Dugaannya benar, tante Nia dengan wibawanya datang mendekat.
"Kau boleh saja membiarkan tubuhmu tidak bernyawa, tapi tidak saat kontrak kita belum berakhir," ucap tegas tante Nia.
Wanita unik, begitulah cara dunia memandangnya. Ia lulus dengan pujian sebagai seorang dokter bedah berkompeten. Namun lingkungan mendorongnya lebih dari itu. Gelimang harta yang ia miliki sedari lahir seakan tidak berarti sejak anggota keluarganya berangsur-angsur pergi. Kini, ia hanya memiliki Aileen, gadis manis berhati lembut, buah hati dari pernikahan kakak gadisnya. Wanita lajang itu berkewajiban menjaga gadis itu dalam kondisi apapun.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
"Kei Kendrick," ucap pasien VVIP yang membuatnya harus bolak-balik menuju Swiss.
Wanita itu menatap heran pria yang kini berbaring di hadapannya. "Asistenku melakukan kesalahan besar, ia memberitahu keadaanku saat ini padanya. Aku mengenal anakku dengan baik, tunda operasi ini, selamatkan dia. Aku ingin melakukan operasi di negeri anakku berada." Ucapan dari pria itu membuat tante Nia terkejut dan segera menolak perintahnya.
Kondisi ayah Kei sudah hampir kritis, jika tidak segera ditangani dengan baik ia mungkin kehilangan nyawanya. Namun, pria itu keras, ia menolak dengan tegas tindakan operasi jika tidak sesuai keinginannya.