
Aileen membuka pintu apartemen, terlihat dua orang sahabatnya tertidur dengan pulas dengan posisi berseberangan. Dengan hati-hati, gadis itu melangkahkan kakinya untuk meminimalisir suara yang berpotensi membangunkan dua insan tersebut.
Gadis itu kembali mendekat dengan dua selimut di tangannya dan segera menyelimuti kedua sahabatnya tersebut dengan perlahan. Suara bel dan ketukan pintu yang cukup kencang di tengah keheningan malam itu seolah menghancurkan usaha Aileen. Sontak kedua sahabatnya tersebut terbangun dengan kesadaran minimal, berbagai sumpah serapah dan makian meluap dari hati Aileen kepada sang pembunyi bel tanpa mengetahui siapa dalang dibalik semua itu.
Aileen berjalan dengan kesal menuju pintu seakan ingin menggerebek perselingkuhan yang terjadi antara pasangan suami istri. Dengan cepat, gadis itu membuka pintu dengan gaya bertolak pinggang bak andalan orang-orang yang ingin meluapkan kekesalan dalam dirinya.
“Paket atas nama Aileen Ramesha?.”
Aileen menatap tajam orang tersebut sebelum mengambil paket dan mengucapkan terima kasih seadanya.
“Siapa Leen?,” tanya Ara.
Aileen menunjukan sebuah paket dengan resi masih tertempel di atasnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia melemparkan paket tersebut dan beralih menuju kamarnya. Ara melihat paket tersebut, tertera nama tante Nia disana.
“Leen, ini dari tante Nia. Pasti kado nih, nggak mau liat dulu?”
“Nggak tertarik. Buka aja.”
“Btw, kenapa dia nggak ngasih langsung kadonya?”
“Mau tidur di kamar atau di sana aja sama Evin?” teriak Aileen dari ruangan yang berbeda demi mengalihkan pembicaraan.
Ara segera berlari mendekat dan memeluk Aileen, “Sama kamu dong, Evin ngorok, males.”
Kedua gadis tersebut terbaring dengan mata yang tidak ingin terpejam karena berbagai hal yang terlintas dalam pikiran mereka layaknya kendaraan yang lalu lalang di tengah-tengah kemacetan kota. Mereka hanya terus menatap langit-langit tanpa berkata, hingga menimbulkan kecanggungan diantara keduanya.
“Mmm, Leen.”
“Kenapa?”
“Nggak kerasa ya kita udah masuk kuliah, sebentar lagi kita bakal nikah nih, aku bisa bayangin sih ntar anak kamu sama Kei bakal kayak gimana”
“Tidur deh, ngawur banget.”
Ara tertawa melihat Aileen yang menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Ia menyadari bahwa sahabatnya tersebut tengah tersipu malu.
“Anakmu dengan Kei, pasti cantik dan ganteng,” bisik Ara mencoba kembali menggoda Aileen.
“Nggak denger.”
“Mau aku kencengin biar Evin denger? Atau biar tetangga sebelah denger?”
“Rese banget calon istrinya Evin,” ucap Aileen dengan intonasi yang sengaja tinggi.
“Dih, ngaco banget calon istrinya Kei,” teriak Ara tidak mau kalah.
Kedua sejoli itu pada akhirnya saling melempar tawa dan tanpa sadar masing-masing membayangkan hal itu terjadi.
“Leen?”
“Hmm?”
“Kita keterima di Universitas yang berbeda, kuharap kita tidak pernah berpisah dan tetap bersama. Kau bisa janji?”
Ara menunjukan jari kelingkingnya pada Aileen, hal itu membuatnya teringat pada Auris, seorang sahabat yang ia percaya dan mengatakan janji yang sama, selalu bersama dan tidak akan pergi. Seperti yang sudah terjadi, janji itu hanya sebatas ucapan.
“Ya! Aileen! Janji!”
Ucapan tulus Ara membuat Aileen kembali tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya pada sahabatnya tersebut. Namun kini, perasaannya berubah, kepercayaan itu tidak sepenuhnya ada. Kepercayaan Aileen sudah hancur hampir sepenuhnya pada kata harap dan tetap tinggal.
“Terima kasih,” hanya itu kata yang sanggup diucapkan oleh Aileen saat ini. Setidaknya, ia memiliki teman, kesepian benar-benar membuatnya terpuruk. Kehadiran Ara dan orang-orang yang menyayanginya sanggup membuat keterpurukan itu lepas bak putri malu yang terkena sentuhan, menunjukan keindahan daunnya dan menjadi ketertarikan banyak orang untuk menyentuhnya. Ia telah menyadari semua permainan itu.
Ara menguap begitu kencang membuat Aileen terkejut sehingga keluar dari lamunannya.
“Aku tidur dulu, mimpi indah Leen.”
“Mimpi indah juga.”
“Omong-omong, berdasarkan pengalaman roommate aku, di pertengahan tidur, aku suka kentut, apalagi abis dingin-dinginan tadi.”
“Jorok.”
“Aku bilang supaya siap-siap aja.”
“Jauh-jauh sana.”
Ara tersenyum lebar sambil memeluk guling yang ada di sampingnya. Beberapa saat kemudian, ia tertidur pulas. Aileen memandang sahabatnya tersebut dan tersenyum tulus ke arahnya.
“Kau lebih polos dariku, aku harap kau tidak mudah dibodohi sepertiku,” lirih Aileen sambil menutupi tubuh sahabatnya tersebut agar tidak terkena dinginnya angin malam.
“Tapi ada kalanya kau lebih pintar dariku. Atau sering? Ah, iya. dia memang lebih pintar dariku,” sambung Aileen.
Aileen menutup matanya, membiarkan imajinasi berdatangan dengan giat.
Kei, Liam, dan kedua orangtua Aileen.
Sontak gadis itu membuka matanya, ia bisa paham jika Kei dan kedua orangtuanya hadir dalam benaknya saat ini. Namun Liam? Lelaki itu bahkan tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya semenjak kejadian penculikan yang mengancam nyawanya. Sekali lagi, Aileen mencoba menutup matanya, namun Liam tetap menjadi fokusnya saat ini. Sosoknya seakan tidak mengizinkan gadis itu untuk sekedar tidur dengan tenang.
Kenapa harus Liam?
Aileen berusaha mengalihkan pikirannya dengan memainkan ponsel tanpa tujuan yang jelas. Ia hanya terus bolak-balik membuka menu utama ponselnya. Sesekali melihat pesan namun tidak ada hal yang perlu dibalas, hanya broadcast dari grup atau pesan dari layanan kartu prabayar. Ia mengalihkan atensinya pada galeri, jarinya berhenti seketika saat melihat foto kedua orang tuanya, ia tersenyum tipis menyadari betapa bahagia kehidupannya dulu. Ketika menggeser layar, ia terkejut melihat foto Liam disana, meskipun ia tau bahwa foto itu sengaja diambil oleh Liam menggunakan ponselnya. Seketika ingatan bersama lelaki itu kembali muncul.
“Leen, bisa pinjam ponselmu?”
“Untuk apa?”
“Aku kehilangan benda itu saat menyelamatkanmu dan aku terlambat pulang. Ibuku pasti khawatir.”
Aileen tertawa menyadari bahwa Liam merupakan anak mami, hal tersebut tentu tidak cocok bagi tampangnya yang tengil -menurutnya- itu.
“Udah beres?”
“Udah.”
“Ko lama sih?”
“Nggak ada kuotanya.”
“Huh? Masa sih? Kenapa nggak bilang? Sini aku lihat.”
Aileen terkejut saat melihat wallpaper ponselnya berubah menjadi foto Liam yang sedang menopang dagu sambil tersenyum tipis. Menggemaskan, jika boleh jujur, itu yang kesan pertama Aileen pada foto tersebut. Lelaki itu memang dengan cara sederhana bisa membuat gadis mana saja tersenyum, tidak terkecuali Aileen. Namun rasa gengsi dalam diri gadis itu mengalahkan segalanya.
Aileen menatap tajam lelaki dihadapannya yang kini sedang tersenyum lebar.
“Kau mungkin akan merindukanku,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Apa?”
“Dekatkan telingamu.”
Liam mendekatkan telinganya tepat di hadapan Aileen.
“TIDAK AKAN PERNAH!” teriak Aileen yang mampu membuat gendang telinga Liam berdengung, sontak lelaki itu menutup telinganya.
Senyum bahagia terpancar di wajah kedua insan tersebut, bukan saat berpapasan, tapi ketika tidak melihat wajah masing-masing lagi.
Unik, itulah kesan yang ditujukan Aileen pada Liam. Lelaki sederhana yang berhasil mengukir senyuman dalam waktu yang singkat. Meskipun ia pergi menyisakan kekecewaan, namun Aileen yakin, Liam adalah lelaki yang baik. Ia hanya bekerjasama dengan om Barack karena ingin menyelamatkan keluarganya, Aileen menyadari itu.
Ponsel Aileen seketika berdering dengan nama Kei tertera pada layar utama ponsel tersebut. Aileen membiarkan ponselnya berdering sembari memikirkan dan menerka-nerka hal yang ingin dibicarakan oleh Kei di sepertiga malam. Hingga ponsel tersebut berhenti berdering, notifikasi muncul di atas layar ponsel, karena gugup, Aileen tidak sengaja membuka dan membaca pesan itu.
Kei
Apa kau sudah benar-benar tidur?
Jelas kau belum
Kei segera mengirimkan pesan kedua setelah mengetahui Aileen langsung membaca pesannya. Aileen lagi-lagi menyesali perbuatannya setelah kembali membaca pesan kedua Kei yang datang ke ponselnya.
^^^“Kenapa?”^^^
“Apa kau mengantuk?”
^^^“Belum.”^^^
“Bisa kita bicara?”
Aileen tidak membalas pesan tersebut, seketika ponselnya kembali berdering dengan panggilan Kei. Entah apa yang terjadi pada jari gadis itu, ia langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari Kei.
“Leen?”
Suara Kei membuat Aileen terkejut untuk kesekian kalinya, ia segera keluar kamar agar tidak mengganggu sahabatnya yang sedang tertidur. Ia kembali dibuat terkejut oleh suara ngorok Evin yang terdengar seperti makhluk yang berbicara di sebuah gua dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh ahli. Ia segera menggeser pintu kaca yang mengantarkannya menuju balkon apartemen. Kei menyadari suara tersebut dan mengikuti jejak Aileen untuk menuju balkon apartemennya.
Malam itu, benar-benar suatu kejutan yang tidak dipersiapkan oleh siapapun. Aileen kembali harus dikejutkan dengan sosok lelaki yang menelponnya berdiri di balkon sebelah dan melambaikan tangan dengan senyum manis terukir indah di wajah tampannya.
Raut wajah panik Aileen terlihat dengan jelas, namun tampak menggemaskan bagi Kei.
“Apa yang membuatmu belum tidur?,” tanya Kei pada sambungan telepon sambil menatap Aileen dengan pandangan yang dalam.
“Mmm, ya? Kenapa?” Aileen menggigit bibirnya tanda gugup.
Kei terkekeh dengan kelakuan gadis di hadapannya, “Apa kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?”
“Huh?”
“Terima kasih sudah hadir di hidupku, Aileen,” lirih Kei.
Aileen mendengar semua itu dengan samar, namun ia tidak ingin terlalu percaya diri, sontak ia menanyakan pembicaraan yang dimaksudkan oleh Kei.
“Maaf membuatmu tidak nyaman tentang pembicaraan di rooftop.”
“Tidak apa-apa, kau tidak salah.
“Akhirnya kau menjawab sesuai dengan yang aku tanyakan. Aku menjadi sedikit tidak khawatir menyadari kau seorang mahasiswa.”
“Ya! Apa maksudmu?”
Kei terkekeh gemas, “Bajumu terlalu tipis, masuklah dan istirahat.”
Aileen segera menutupi tubuhnya karena pajamas tipis yang tertiup angin malam, ia masuk ke dalam apartemen dengan raut wajah was-was.
“Mesum.”
Kei tertawa sembari menatap punggung Aileen yang perlahan menghilang tertutup kaca dan gorden.
“Tidur yang nyenyak.”
Aileen mengulum senyum sambil menjauhkan ponselnya, ia seakan ingin meledak karena rasa bahagia yang baru saja ia rasakan. Kebahagiaan yang ingin selalu ia lihat setiap hari saat menyadari hari sudah dimulai atau akan berakhir berganti hari baru.
“Leen?”
“Ah, ya, tidur yang nyenyak juga Kei,” ucap Aileen sambil berjalan dengan senyum terpancar di wajah cantiknya.
“Semangat kuliahnya besok, meski nggak ada aku.”
“Pede banget.”
“Tidur gih, udah malem.”
“Aku matiin ya teleponnya.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Ribet, nggak ada kuburan khusus telepon.”
“Nggak lucu.”
“Ya udah maaf.”
“Dah Kei.”
“Dah.”
“Eh Kei.”
“Ya?”
“Semangat juga kuliahnya.”
Aileen segera menutup sambungan telepon, ia meletakan ponselnya tersebut dengan hati-hati, sementara membantingkan tubuhnya ke kasur dengan rasa bahagia. Ia menggerak-gerakan kakinya tanda bahagia dan menenggelamkan kepalanya di atas bantal, membiarkan rona pipinya menghangat. Suara yang tidak asing hasil pengolahan biologis tubuh Ara terdengar sangat jelas membuat Aileen menutup hidung dan pergi menjauh.
“Kau tidak bercanda soal itu, huh!?” maki Aileen pada Ara yang sedang tertidur pulas.
Gadis itu pada akhirnya memutuskan kembali memejamkan matanya dan tertidur nyenyak pada sebuah sofa lembut di kamarnya. Namun sayang, tidur nyenyak itu hanya sebentar karena mentari perlahan mulai menunjukan eksistensinya.
Imajinasi Aileen seolah ingin menimpuk mentari yang menunjukan senyum dengan gigi putih rapi terukir dan sebuah kaca mata hitam yang dikenakan untuk menyembunyikan matanya yang hanya bergaris lengkung dua seperti ujung gunung yang digambar anak kecil pada umumnya. Timpukan itu akan memutar kembali mentari sehingga tenggelam di ufuk sebelah barat dan membuat kacamata hitam itu terbanting ke pluto hingga menampakan garis-garis lurus vertikal di lekungan mata matahari yang tampak seperti jarum dengan imajinasi tertekan mengubahnya menjadi tampak seperti bulu mata. Gadis itu lalu tertawa puas karenanya, namun, kenyataan tidak membiarkan semua hal berjalan demikian. Gadis itu terbangun dengan rambut berantakan dan nyawa yang berusaha kembali ia kumpulkan untuk menyambut hari baru, namun ia memutuskan untuk bermusuhan dengan matahari.