
“Fraktal,” ucap pak Daniel pada Aileen.
Aileen menjatuhkan kuas yang sedang ia genggam saat menyadari muka pak Daniel tepat berada di sampingnya dan berjarak hanya beberapa senti dengan wajahnya.
“Kau tidak bisa menyelesaikan ini dalam waktu singkat.”
“Maaf membiarkan bapak menunggu.”
“Tidak masalah.”
“Aku akan segera menyelesaikan lukisan ini.”
“Jangan gegabah, tetap perhatikan setiap detailnya.”
Mentari yang bersinar sudah menyiratkan sinar terakhirnya pada hari itu. Aileen dengan kanvas dan kuas yang terus ia mainkan, serta rasa pegal hasil proses metabolisme anaerob yang menemaninya, tetap berusaha menyelesaikan lukisan pada sebuah kanvas.
Pak Daniel dengan bolpoin dan kertas di tangannya telah usai menilai semua hasil karya kreatif para mahasiswa baru. Tidak jarang ia terkagum pada hasil karya muridnya, tidak terkecuali lukisan Evin yang menggambarkan satu dinosaurus dengan tema raja purba.
Detik terus berlalu, Aileen sudah menyelesaikan lukisannya. Namun ia dihadapkan dengan pemberian makna, gadis itu kebingungan dalam mencari judul yang sesuai bagi hasil karyanya yang jika ditelaah lebih dalam akan mengandung arti besar akan kehidupan.
Posisi pak Daniel tepat berada di belakang gadis itu. Kini, dua pandangan itu saling berpapasan, membuat mata Aileen membulat.
“Kenapa?”
“Maaf pak, sebentar lagi.”
Aileen segera menuliskan kehidupan tak terbatas sebagai judul dengan makna ketidakterbatasan dalam menjalani kehidupan, dimana meskipun setiap langkah membawanya dekat pada tujuan, namun ia tidak pernah benar-benar mencapai akhir, dan dia tidak mengetahui kapan semuanya akan berakhir. Ketidakterbatasan itu membawa pada suatu simbol tidak terhingga, dimana menggambarkan hubungan, toleransi, dan koneksi antar sesama manusia. Kalimat itu tiba-tiba tertuang saat dalam keadaan mendesak.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Pakaian dan raut wajah yang kusut tercermin pada Aileen yang sedang berkeliaran pada bangku yang ditempati oleh Kei. Atensi lelaki itu berpusat pada raut wajah gadis tersebut yang tampak kosong tanpa mengatakan sepatah katapun. Kuku pada jari lentik yang sedari tadi ia gigit memancing kekhawatiran Kei, sontak lelaki tersebut menghentikan langkah kaki Aileen dengan merentangkan tangan kirinya.
“Fraktal,” gumam Aileen, mendadak hening.
Kei mengerutkan kening, tanda bingung. Sementara Aileen menggerakan kepala dengan cepat menatap serius lelaki tersebut.
"Apa arti kata tersebut?" ucap Aileen yang terdengar lebih yakin dibanding gumaman nya sebelum ini.
Aileen menepis tangan Kei yang masih tertahan di udara dan mendorong tubuh lelaki tersebut hingga terdapat cukup ruang untuk gadis itu duduk di sebelahnya, tanpa menghiraukan kursi kosong yang terletak di sekelilingnya. Atensi Aileen kembali menatap dalam mata Kei dan mengucapkan kata yang terselip dalam benaknya setelah kata tersebut menyapa pendengaran gadis tersebut melalui dosennya.
“Fraktal.”
Kei menghela nafas, membiarkan Aileen menyusun pertanyaan yang muncul dalam benaknya secara utuh.
“Apa yang kamu ketahui tentang itu?,” sambung Aileen.
“Kenapa?”
“Aku memimpikan kepingan salju koch dan melukiskannya dalam sehelai kanvas, dan kau tau apa? dosenku yang seperti orang sariawan itu berkata “fraktal”, tanpa mengatakan kata selanjutnya.”
Aileen menghela nafas dan meminum minuman Kei sambil mengatur emosinya.
“Hanya satu kata namun membuatku berpikir seharian.”
“Apa kau tidak mengenal internet?”
“Kau benar, internet.”
Aileen meraih ponselnya, namun Kei mengambil alih ponsel tersebut dari tangan Aileen.
“Kau tidak memerlukan ini jika berada di dekatku.”
“Kenapa?”
“Apa kau baru saja mengenalku? Kau tau siapa orang paling pintar di dunia?”
Aileen memutarkan bola matanya menyadari sikap percaya diri dari Kei, “Yang pasti bukan kau.”
Kei menaikan sebelah alisnya dan menatap tajam Aileen, “Apa itu artinya tidak membutuhkan bantuanku?”
“Tidak, cukup kembalikan saja ponselku.”
Kei membulatkan mata setelah ekspektasinya salah, “Apa kau bersungguh-sungguh tidak membutuhkan bantuanku?” tanya Kei dengan penegasan pada perakhiran kalimat.
Aileen menganggukan kepala dan mengambil dengan mudah ponselnya dari tangan Kei.
“Kau tau? Internet mempermudah semuanya.”
Kei hanya mengedikan bahu dan menyeruput minuman yang ada di hadapannya. Sementara Aileen terus menggulirkan layar ponsel untuk mendapatkan gambaran mengenai kata yang menyelip di benaknya tanpa sedikitpun informasi pendamping setelahnya. Ia segera menyadari sesuatu setelah melihat gambar yang mirip dengan mimpinya. Namun Aileen tetaplah gadis yang minim literasi, ia kebingungan saat membaca kata demi kata yang membingungkan pada beberapa website.
“Aish, Brainaileen tidak siap untuk semua ini,” erang gadis itu sambil menggebrak meja hingga keseimbangan tumpuan tangan Kei yang pada meja hilang. Minuman yang ia genggam seketika masuk ke dalam saluran pernapasannya tanpa direncanakan, membuat nafasnya tersedak.
“Tapi aku menyadari suatu hal, aku bisa memaknai lukisan tersebut dengan benar!” ucap Aileen dengan antusias sedangkan Kei hanya menatapnya datar.
“Wow, selamat.”
“Kau tau apa kelebihanku?”
Kei hanya mengedikkan bahunya.
“Tidur, bermimpi, dan melukis.”
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Kei melajukan mobilnya, di samping lelaki itu ada Aileen yang tetap setia menemani. Malam itu, ia ingin membawa Aileen ke suatu gedung yang akan disukai gadis itu, tempat dengan banyak bintang yang terlihat jelas di tengah sunyinya malam setelah menempuh perjalanan panjang dan ruang waktu. Sesampainya disana, Aileen melihat pak Daniel, tentu gadis itu mengenali tiap detail dari dosennya tersebut.
Aileen terus memperhatikan lelaki tersebut hingga seorang wanita dengan penampilan yang modis menggandeng mesra tangan lelaki tersebut, sontak Aileen terkejut.
“Apa itu pacarnya?”
Kei mencoba mengikuti arah pandang Aileen dan berhasil menyorot pak Daniel serta seorang wanita.
“Kau mengenalnya?”
“Pria bertubuh kekar itu, dosenku.”
“Ada masalah?”
“Huh? Tentu saja tidak, masalah apa? Ha ha. Ayo ke atas, naik lift kan?” ucap Aileen sambil menarik lengan Kei.
Aileen tidak mengetahui dengan jelas mengapa gelagatnya begitu aneh, namun satu hal yang ia sadari, dia menginginkan pak Daniel bersama dengan tantenya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Tempat yang begitu indah, hamparan rumput terbentang di bawah hitamnya langit yang dihiasi rasi bintang yang terukir dengan jelas menyempurnakan tempat tersebut. Tempat yang mungkin dipersiapkan untuk menjernihkan pikiran atau sekedar mencari ketenangan.
“Kau menyukainya, apa tebakanku benar?”
Aileen tersenyum lebar dan mengangguk yakin, ia menggenggam tangan Kei dan menariknya mendekati teleskop untuk melihat bintang lebih jelas lagi. Hanya menatap gadis itu bahagia cukup membuat Kei tersenyum tulus memperhatikannya.
“Sini Kei, kau harus melihat bintang ini.” Aileen mendekatkan tubuh Kei pada teleskop yang telah ia atur menyorot suatu bintang agar lelaki itu dapat melihatnya dengan jelas.
“Apa kau melihatnya?”
“Iya.”
“Itu adalah bintang dengan cahaya paling terang di langit malam. Namanya, Sirius atau Syi’raa, itu yang dikatakan mendiang papahku.”
Kei menatap gadis disampingnya itu, “Apa yang membuatmu yakin itu adalah bintang Sirius?”
“Ikuti rasi bintangnya, ia merupakan bintang paling terang pada konstelasi Canis Major, dan bintang ini akan terlihat pada musim panas.”
“Kau bisa menemukannya dengan cepat diantara ribuan bintang lainnya.”
“Yup, papaku yang mengajarkannya.”
Dua insan tersebut saling bertatapan dan mengumbar senyum sebelum sepasang kekasih di samping mereka menghancurkan semuanya. Aileen kembali dikejutkan saat pria itu adalah pak Daniel.
“Kau benar-benar tidak mengenakan baju yang aku berikan?!” teriak wanita itu.
“Karen, jangan disini.”
“Kenapa?! Kau malu punya pacar kaya aku?!”
“Bukan, maksudku-”
“Udahlah, aku cape. Kalo emang nggak suka aku beliin baju bilang, jangan kayak gini!”
Wanita itu pergi diikuti dengan Daniel. Meskipun sudah cukup jauh, suara wanita itu cukup terdengar di tengah keheningan malam.
“Aku bener-bener cape loh sama hubungan ini.”
“Jadi apa maksudmu?”
“Kita putus.”
Daniel menyunggingkan senyum, “Kau pasti bercanda, benarkan?”
“Sama sekali tidak.”
“Hanya karena baju? Come on. Kita udah pacaran 7 tahun, dan kau tau aku tidak mudah untuk melepaskan seseorang.”
“Oh ya, dan mudah untuk menerima seseorang.”
“Apa maksudmu?”
“Siapa wanita ini?” ucap Karen sambil menunjukkan foto Daniel dengan Nia di atas ranjang klinik yang dikirimkan oleh ibunya.
“Huh? Dari mana kau mendapatkan ini? Itu jelas tidak benar.”
“Lalu ini?!” ucap Karen dengan nada tinggi sambil menunjukan foto Daniel dengan tante Nia yang terlihat mesra bercengkrama di koridor kampus.
Daniel terkekeh karena prasangka kekasihnya tersebut, “Jangan gila. Apa kau menyangka aku selingkuh dengan wanita ini? Hanya karena foto-foto sialan itu?”
“Kita putus.”
Karen meninggalkan Daniel yang masih mematung dan tidak menyangka akan anggapan kekasihnya tersebut.
Wanita itu, dokter gila itu, benar-benar membawa kekacauan, bahkan sejak pertama bertemu.
“Arght!!” geram Daniel sambil menendang angin.