Girls Behavior

Girls Behavior
Planning.



Cerry Pov.


Tak hanya Justine. Evie, adik ku yang manis. Berwajah tanpa dosa tapi memiliki beribu rencana di otaknya. Jelmaan sempurna serigala berbulu domba. Dengan tega ia menghancurkan keluarga bahagia hanya demi pria yang mengincar perusahaan kami.


Justine, pria yang mendekatiku sekaligus adikku. Mengadu kami dalam permainan cintanya. Menjerat hati adikku agar mereka membenci ku dan orang tua kami.


Tiada yang mengira jika ia berhasil. Adikku jatuh dengan rayuannya saat upayanya tidak mempan pada ku. Lalu menurutku mencoba merayunya dan membuat drama seolah akulah yang berusaha mengambil keuntungan. Dia memutar balik fakta dan menempatkan aku dalam posisi bersalah.


Dua tahun yang lalu...


"Aku sangat mencintaimu Cerry. Tolong terima cintaku..."


"Tidak mungkin Justice. Aku tidak bisa! "


Cerry tak mengira kalau penolakan saat itu akan menjadi bumerang. Saat itu ia tahu kalau Evie menyukai Justine jadi ia menolak Justine.


"Aku tahu kau juga tertarik padaku. Jangan bohongi dirimu sendiri."


"Justine, adikku menyukaimu. Tolong terima perasaannya."


Justine membeku tak percaya jika gadis yang ia inginkan justru menyuruhnya bersama gadis lain.


"Kenapa, yang membuat dadaku berdetak adalah dirimu."


"Maaf Justine."


Cerry meninggalkan Justine setelah meminta maaf. Dia tidak bisa membiarkan adiknya melihat Justine mengatakan perasaanya padanya. Dia tidak ingin perasaan adiknya tersakiti. Apalagi dirinya juga tidak mencintai Justine.


Sayangnya Evie melihat semuanya. Dia sangat marah melihat Justine mengatakan cinta pada sang kakak. Dia tidak terima dan kebenciannya pada sang kakak pun semakin besar.


"Tidak masalah kalau kau menyukai kakakku. Lama lama kau akan menyukai ku."


Evie mendekati Justine. Dia tersenyum manis dan menyatakan cintanya pada pria itu.


"Aku... menyukaimu. Aku sangat menyukai mu. "


Justine tidak menyangka kalau Evie akan menyatakan cinta tepat setelah ia ditolak kakaknya. Jadi ia menerima cinta Evie. Lagi pula ia juga tujuannya juga untuk menguasai perusahaan White.


'Cerry, karena kau menolak ku maka aku akan menguasai perusahaan mu dengan menghancurkan mu dan keluargamu.'


Mulai saat itu Justine memperlakukan Evie dengan baik. Dia tidak seperti pernah menyimpan perasaan pada Cerry. Hal itu membuat Cerry merasa lega. Namun siapa yang menyangka kalau itu adalah keheningan sebelum badai. Justine berhasil mencuci otak Evie untuk menjebak Cerry. Itu untuk menghancurkan nama baik Cerry.


Cerry tak akan melupakan apa yang mereka lakukan. Kini, dengan hadirnya Scott, Cerry bersumpah akan membalaskan dendam pada Justine dan adiknya yang manis. Membuat mereka merasakan dilempar ke luar dan tidak berdaya.


.


.


.


Scott berkutat dengan laporan keuangan di kasino. Dia menyeringai melihat grafik presentasi keuntungan dari Kasino dan Club malam.


"Ada undangan dari pengusaha muda, kalau tidak salah namanya Justine Wood. "


"Sepertinya tidak begitu penting? bukankah dia pemula. "


Scott menyesap minuman di tangannya. Dia sangat enggan datang karena ingin berbincang dengan Cerry. Dia ingin melihat seperti apa celoteh gadis itu nanti.


Louis yang hafal tindak tanduk temannya mengerutkan keningnya.


"Kau jatuh cinta...?"


Scott memberi pelototan sebal pada Louise. Cinta tidak akan pernah menjadi bagian dari hidupnya dan Louise tahu benar akan hal itu. Tapi ia justru mengira Scott jatuh cinta.


"Jangan konyol."


"Oh jangan membohongi ku. Aku tahu benar kalau tingkahmu hari ini aneh. Kau juga melamun. Jadi gadis seperti apa yang kau suka, eh? "


Scott tahu kalau Louise bisa menebak keanehan dalam dirinya.


"Bukan gadis. Lagipula aku memang tidak jatuh cinta. "


"Kalau begitu boleh aku mencobanya? "


"Kau harus melewati peluruku lebih dahulu. "


"Ck, seperti biasa kau pria yang beruntung. "


"Tsk kau terlalu banyak bicara. Aku akan pergi dan kau tetap bersenang-senang di sini dan awasi club. "


Scott dan Louise memandang club yang tak pernah sepi. Sangat menyenangkan melihat pelanggan yang terus datang.


"Ow, sebenarnya aku ingin berhenti. Tapi melewatkan kesenangan seperti ini akan membuatku serasa dikutuk. "


"Yah teruslah membual, huh aku bosan. Aku pergi sekarang. "


Louis tertawa terbahak sebenarnya ia sangat penasaran dengan gadis yang mampu membuat Scott tidak fokus pada pekerjaan. Pasti gadis itu sangat istimewa. Jika ada waktu, Louise juga ingun bertemu dengan gadis itu.


.


.


.


"John panggil Cerry.. "


"Baik."


Tanpa Scott sadari gadis itu adalah orang yang pertama kali ia sebut. Dia juga orang yang ada di pikiran Scott sejak pagi sampai malam. Entah apa yang membuat gadis itu mampu menempel di otaknya, Scott sendiri tidak mengerti.


"Tuan, nona sedang dalam perjalanan ke sini. Dia ada di taman dan jalan-jalan."


"Baiklah. Suruh langsung ke ruanganku. Bilang kalau aku sedang penat."


"Baik."


John sendiri tahu kalau Scott lebih membutuhkan psikolog dari pada perawat. Namun pria itu dengan keras kepala justru meminta perawat. Beruntung kali ini ada perawat yang bisa membuat suasana hati Scott membaik.


tbc