
Belum pernah Scott merasa semurka ini dalam hidupnya. Rasanya ia ingin menghancurkan setiap hal yang ia temui di perjalanan menuju rumah sakit.
Scott meringis melihat kondisi Cerry yang dipenuhi lebam dan biru di sekujur tubuh Cerry. Bengkak di pipinya nampak buruk.
"Bajingan itu, " desis Scott.
.
.
Markas Scott kali ini di biarkan terbuka. Di lantai bawah, Justine dalam keadaan terikat dan terluka. Tulang-tulangnya patah di sana sini. Josh dan Louis sangat ahli dalam mematahkan tulang seseorang.
"Bunuh aku sekarang, tolong... "
Grrr Grrr
Mata Justine membola saat samar-samar ia mendengar suara mengerikan ini. Dari kegelapan dia bisa melihat sorot bercahaya mata binatang buas yang kelaparan.
'Serigala? '
"Tolong, lepaskan aku! "
Justine tidak bisa menahan rasa takut. Keringat bercampur darah membasahi tubuhnya semakin menarik hewan yang memiliki indra penciuman yang tajam ini.
Grrr grrr...
"Tolooong Ahk jangan mendekat hus hus... "
Grrr grrr...
Mimpi buruk Justine pun dimulai. Dia harus merasakan dagingnya dikoyak sedikit demi sedikit oleh taring tajam serigala itu. Rasa sakit, perih sangat menyakitkan. Yang lebih buruk lagi dia tidak langsung mati namun masih harus merasakan rasa sakit yang lain akibat dagingnya yang dikoyak serigala.
Malam itu jeritan Justine tidak pernah berhenti. Jeritan memilukan dan minta tolong Justine menjadi suara satu-satunya yang bisa di dengar di markas milik Scott.
.
.
.
Sementara itu, Louis sekarang sedang menjenguk Morron yang sudah sadar. Gadis itu nampak terluka walau terlihat tegar.
"Kau baik-baik saja? " tanya Louis. Dia iba melihat gadis yang mendapatkan pengalaman pertama seksual dengan cara menyedihkan seperti itu.
"Huh, apa kau ingin menertawakan keadaanku. Memangnya apa yang terjadi pada diriku? hanya kehilangan selaput sialan yang menjadi simbol ketidakadilan kaum hawa, " jawab Morron, dia mengigit bibirnya yang pucat.
"Sudahlah, disini tidak ada orang lain. Kau bisa menangis di depanku. " Entah Louis kerasukan roh darimana. Pria ini membelai wajah Morron dan menariknya ke pelukannya yang hangat.
Tak lama kemudian, tubuh kecil di dekapan Louis bergetar seiring isak tangis lirih yang keluar dari bibirnya. Ternyata Louis benar, gadis ini hanya berpura-pura kuat. Dia membutuhkan seseorang untuk berbagi perasaannya. "Aku benar-benar tidak berniat menyakiti Cerry, aku hanya-hik ingin menakutinya. Aku tidak menduga jika Justine membajakku. "
"Kami sudah tau hal itu. Anak buahmu juga di paksa diam saja ketika dia berbuat bejat. Di tubuh mereka terdapat bom yang pemicunya ada di tempat kalian ditawan. "
"Hik aku takut. Waktu itu sangat mengerikan. Aku ingin hal itu berhenti tapi dia tidak mendengar teriakanku... hik. "
"Aku tau, hal itu sudah berlalu. Itu hanya mimpi buruk. "
"Hik..." Morron mengeratkan cengkramannya pada pakaian Louis. "
"Jangan khawatir, aku akan menunjukkan padamu rasa sesungguhnya dari bercinta. ''
"Apa? " wajah Morron tiba-tiba cemberut dan berkata, " Aku habis diperkosa dan kau ingin mengajakku bercinta? Apa kau gila?! "
"Hei, kau tidak ingin merasakan traumakan? cara terampuh untuk itu adalah membuatmu merasakan esensi yang sebenarnya dari bercinta sayang. "
Morron agak tertarik, tetapi bayangan itu kembali menakutinya.
"Tidak, a-aku... "
Louis tidak pernah mendapatkan penolakan, dengan cepat ia membungkam bibir Morron dengan bibirnya yang tipis.
Di luar pintu, Mike melihat keadaan mereka berdua. Awalnya ia ingin masuk dan memaki Morron karena bertindak bodoh. Beruntung Scott melupakan hal yang terjadi dan memaafkan Morron yang kekanakan. Tetapi melihat kedua anak muda yang sedang bercumbu itu membuatnya urung mengintrupsi kegiatan mereka.
"Aku tidak perlu ikut campur urusan anak muda," desah Mike. Pria tua itu mundur dan meninggalkan pintu kamar rawar inap Morron. Sepertinya dia juga perlu menyuruh anak buahnya berjaga-jaga di pintu depan agar tidak mengganggu proses penyembuhan Morron dari trauma pemerkosaan.
.
.
.