Girls Behavior

Girls Behavior
Live and Love.



Katakan sesuatu, apa yang harus aku lakukan saat ini. Pada hari yang sempurna dengan pengantin priaku berbalut jas putih berdiri di sana, teman-temanku yang tersenyum dan taburan kelopak bunga mawar yang tiada henti. Tetapi perutku terasa mual, kehamilan yang kedua bulan sangat menyiksaku.


"Bayiku tenanglah... kita bisa melewati ini. "


Scott meraih tanganku saat ayah Morron menjadi waliku. Dia hampir menangis karena terharu. Baginya ini juga latihan saat Louis dan Morron akan menyusul kami secepatnya.


"Kau terlihat pucat, Sayang. " Scott melirik ke arahku.


"Aku agak mual... "


Scott bertindak heroik dengan meminta pernikahan dipercepat. Dengan wajah pucat, sang pendeta mengangguk.


Akhirnya semua sudah berlalu, dari semua tindakan yang bisa aku lakukan. Aku lebih memilih ke toilet untuk meredakan rasa mualku.


Tentu saja Scott menemaniku, seperti bodyguard profesional dia tidak meninggalkan diriku sedetikpun. Bahkan tamu wanita yang kebetulan berada di toilet harus di usir oleh anak buahnya.


"Ini berlebihan, " gumanku.


Tetapi ada satu orang yang sepertinya tidak menurut. Dia bersembunyi di salah satu bilik. Aku melototi Scott, akhirnya ia bersedia mengalah dan menunggu ku di luar.


''Keluarlah, " perintahku pada orang yang bersembunyi di balik toilet.


Gadis berwajah manis berambut agak merah yang mewarisi mata coklat ayahku keluar dari bilik itu.


"Evie... Aku senang kau datang. "


Dia mulai bergetar lalu menangis tersedu-sedu. Aku sudah tau apa yang ia lakukan beberapa bulan ini. Dia tampak seperti seseorang yang terlahir kembali. Aku bahkan diam - diam melihat kegiatannya di panti asuhan. Caranya merawat anak -anak dan senyum kebahagiaan yang ia tunjukkan pada makhluk kesayangan Tuhan itu.


"Maaf, maafkan aku kak... "


"Aku sudah memaafkanmu. Sepertinya kau yang belum bisa memaafkan dirimu sendiri. "


"Aku tidak bisa melupakan kebodohanku, ayah... ibu... hik semua hancur karena aku. "


"Kembalilah padaku, kau bisa menata hidupmu kembali bersamaku. "


Evie menggeleng. "Aku merasakan ketenangan saat bersama dengan anak-anak itu. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka. "


Ada sorot mata tulus yang aku tangkap dari matanya. Seandainya ayah dan ibu melihat hal ini, mereka pasti akan bahagia.


"Datanglah mengunjungi aku dan calon sepupumu jika kau ada waktu luang. Aku juga akan mengunjungimu. Oh, apa kau ingin menemui kakak iparmu? "


"Tidak," jawab Evie cepat. Dia terlihat tidak ingin berhadapan dengan Scott, tentu saja dia tidak ingin bertemu dengan orang yang mengetahui betapa memalukan dirinya saat itu. Aku juga mengetahui peristiwa itu.


"Baiklah, aku harus kembali pada Scott atau dia akan merobohkan toilet ini. "


"Selamat kak. Semoga kau bahagia. "


Akhirnya ganjalan di hatiku terasa ringan. Musuhku telah musnah, saudariku sudah memilih jalan kebaikan. Memang hal itu tidak menjamin jika aku terus aman mengingat kehidupan Scott yang berkutat dengan dunia bawah. Setidaknya aku tau jika musuhku bukanlah saudaraku.


.


.


"Apa kau menginginkan sesuatu, katakan... Suamimu akan memberikan untukmu."


"Tidak ada. "


Dia terdiam, aku bahkan tidak tega melihat matanya yang penuh harap.


"Baiklah, aku ingin es krim rasa durian. "


Dengan begini dia akan pusing menyuruh para koki itu membuatkan es krim aneh permintaanku.


"Tentu saja. " Dia melesat dengan penuh semangat. Aku bahkan tidak yakin jika dia akan mendapatkan buah itu dalam waktu dekat.


Morron datang, dia sedikit terkikik.


"Kau mempermainkannya... "


"Dia yang menginginkan hal itu. "


"Jadi kau belum mengalami fase ngidam? "


"Tidak. "


"Baiklah nyonya muda... semoga kau bisa memakan es krim eksotis itu. "


Aku mendengus dan sedikit menyeringai, "Tentu saja yang akan menghabiskan es krim itu adalah Scott. Dia tidak mungkin berani menolak. "


"Kau ibu hamil yang kejam. "


"Hahaha ini permintaan bayi. "


Dan malam itu Scott berhasil membawa sekotak penuh es krim rasa durian. Dia merasa bangga karena bisa memenuhi keinginan bayinya yang tanpa ia sadari jika dirinya yang harus menghabiskan es krim itu.


"Satu suapan lagi Scott... "


"Sudah cukup... aku tidak tahan. "


"Ayolah Scott. Please. Demi bayi kita... "


Scott akhirnya menuruti perintah Cerry. Mulai saat itu dia tidak lagi berani bertanya keinginan Cerry. Dia takut kejadian memakan es krim durian itu terulang lagi.


End.


Uda waktunya end. Trims ya dukungannya. Aku browsing n nemu chara ini nih. Semoga bisa mewakili Scott and Cerry. Minggu depan aku publis cerita baru n tentu rate M wkekwkwk