Girls Behavior

Girls Behavior
Game



Cerry mulai berpikir. Dia yang mendapat kabar kalau proposal nya di tolak Scott sangat kecewa. Harapannya untuk mendapat bantuan Scott menguap begitu saja. Padahal ia yakin kalau proposal ia susun dengan sangat rapi. Jadi Cerry berpikir kalau apapun yang ia lakukan maka Scott tidak mau membantunya.


"Lebih baik aku memikirkan cara agar bisa pergi sini?" guman Cerry.


Pasti akan ada cara lain untuk membuat Justine membayar perbuatannya. Cerry akan memikirkan hal itu setelah pergi dari sini. Walau berat tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.


"Cerry... Akan lebih baik kalau kita bicara baik-baik," ucap Scott.


Pria itu terdengar tak bergerak. Entah dia hanya duduk di ranjang atau hanya berdiri. Dia dalam lemari Cerry tidak bisa melihat apa pun karena gelap.


'Apa yang harus kulakukan?' tanya Cerry dalam hati.


"Cerry, aku masih menunggu mu," ucap Scott. Nada suaranya sudah terdengar tak sabar.


Akhirnya Cerry mulai mengatakan apa yang ada di benaknya.


"Urusan kita sudah selesai Tuan Scott. Apalagi yang kau inginkan?" tanya Cerry. Dia harus menjawab pria itu agar ia tidak mendobrak lemari.


"Yang kau maksud proposal mu? Apa yang kau tulis sangat beresiko. Aku tidak ingin menciptakan musuh hanya karena kau memintanya Cerry."


Cerry begitu marah."Jika demikian, maka tidak ada yang bisa kita bicarakan. Aku sudah tidak memiliki urusan denganmu. "


Scott sangat kesal dengan ucapan Cerry. Beraninya gadis itu mengatakan hal itu. Scott tidak percaya kalau Cerry mengabaikan perintahnya. Suara telepon mengalihkan perhatian Scott.


"Halo?"


"Scott, ada yang membuat keributan di club. Datanglah..." ucap Louis dari telepon.


"Kenapa kau menggangguku hanya karena hal kecil Louise?!" geram Scott. Saat ini ia ingin menyelesaikan urusan dengan Cerry tapi justru muncul gangguan lainnya.


"Jika saja orang yang membuat rusuh adalah orang biasa maka aku tidak akan menghubungimu. Dia anak pemimpin Blacksnake. "


Scott menghela nafas berat. Ternyata situasi lebih serius. Bukannya ia takut dengan kelompok itu akan tetapi mereka sudah lama hidup berdampingan secara damai. Jadi ia harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Akan tetapi kalau mereka meminta perang maka ia tidak keberatan menunjukkan perang pada mereka.


Scott menutup teleponnya. Dia menatap lemari tempat Cerry bersembunyi. Sorot matanya penuh dengan emosi yang tak terbaca.


"Baiklah, kali ini kau lolos Cerry. Tapi kita harus bicara. Jangan sampai kau membuatku marah lagi."


Scott meninggalkan kamar Cerry dengan wajah muram. Setiap kali gadis itu memalingkan wajah darinya, ia merasa sangat kosong. Sebuah perasaan yang sangat mengerikan.


Cerry hanya diam. Tidak mungkin ia mau muncul di hadapan Scott lagi setelah jawaban barusan. Dia bukan gadis yang mudah larut dengan rayuan atau janji seorang pria. Dirinya terlalu sibuk untuk urusan melankolis.


"Aku harus menyusun rencana untuk melarikan diri dari sini. Aku harus mencari jalan lain untuk mencapai tujuan ku."


Perlahan Cerry keluar dari lemari. Ia bernafas lega. Sungguh hidup dalam satu atap dengan Scott serasa mengerikan. Dia seolah duduk di samping singa yang siap menerkam.


"Tsk aku lapar. Lebih baik aku ke dapur. Mumpung Scott pergi."


.


.


.


.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi."


"Kakak kan seperti orang tak berdaya tapi kenapa ada kiriman seperti ini..."


Evie mulai bertanya-tanya apakah kakaknya sudah normal atau belum. Dia juga khawatir kalau kakaknya sudah sembuh. Itu akan menjadi ancaman baginya.


Justine yang mendengar teriakan Evie keluar kamar mandi. Ia hanya dengan mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dia tahu kalau Evie selalu menyusahkan tapi ia tidak mengira kalau sampai seperti ini.


"Ada apa Evie? " tanya Justine. Dia sangat malas dengan tingkah tunangannya yang histeris ini. Dia malas dengan segala hal yang berkaitan dengan Evie.


'Kenapa gadis ini tidak sepandai kakaknya?' gerutu Justine.


"Ce-cerry. Dia mengirimkan kotak itu padaku. " Evie berkata seperti sudah melihat monster. Wajahnya memucat dan tubuhnya bergetar.


Justine mengambil kotak yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Tangannya terjulur pada kertas bertuliskan tinta merah. Wajahnya juga mengeras kala membaca tulisan itu.


"Cerry... " lirihnya.


Tangannya mengepal meremas kertas itu hingga tak berbentuk.


'Jika dia kembali maka rencanaku bisa gagal. Tidak, aku harus mencegahnya muncul karena namanya masih terdaftar dalam ahli waris perusahaan White.'


Grep...


Evie memeluk Justine karena takut. Dia memanfaatkan momen ini untuk bermanja pada Justine. Pria ini sudah lama tidak bersikap romantis padanya. Selama itu pula ia sangat frustasi.


''Jangan khawatir, aku akan menyelidiki siapa yang mengirimnya. Cerry sudah di nonaktifkan, okey. " Justine menghibur Evie. Tangannya membelai surai gadis ini dengan lembut. "Jiwanya sudah tidak normal. Ini pasti perbuatan orang lain yang ingin membuat kita tidak tenang," lanjut Justine.


Evie mengangguk. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain percaya pada Justine. Namun ia tidak tahu kalau Justine mengernyit tidak suka. Dia sama sekali tidak ingin bersama Evie.


'Tsk, Andai aku tidak membutuhkanmu, kau sudah kutendang dari sini. '


Justine sama sekali tidak mencintai Evie. Dia hanya ingin menguasai harta warisan Evie melalui proses pernikahan. Sayangnya Evie selalu mengundur pernikahan karena alasan tidak siap.


"Ini yang membuatku mencintai mu Justine. "


"Begitu pula aku Evie. "


Rayuan Justine sudah membutakan nurani Evie hingga jauh ke dasar kegelapan. Perasaan irinya pada sang kakak karena memiliki semua yang dibutuhkan seorang gadis membuatnya membenci Cerry hingga ke tulang. Dia benci kakaknya yang cantik, ia benci kakaknya yang brilian dalam melakukan sesuatu. Dia benci kakaknya yang menjadi kebanggaan ayahnya karena bisa mengelola perusahaan dengan baik.


Meskipun ia tau jika orangtua nya memperlakukan sama dan tidak pilih kasih pada Cerry tetap saja ia benci melihat sorot pandangan memuja pada mata orang tuanya.


Lalu seorang pangeran datang menawarkan cinta padanya. Memberikan pandangan memuja yang selama ini ia inginkan. Tapi melihat Justine menindih Cerry waktu itu membuatnya lebih membenci Cerry. Dia tidak ingin mendengar apapun pembelaan Cerry karena tidak ingin hatinya terluka. Ia terlalu mencintai Justine yang menjadi orang pertama memuja dirinya.


Oleh karena itu ia rela menusuk kakaknya dari


belakang. Namun kematian orang tuanya sama sekali tidak pernah ia perkirakan. Apalagi Justine berubah sejak saat itu. Pria itu suam-suam kuku padanya. Ada kalanya ia lembut dan manis tapi ada pula momen ia mengabaikan Evie. Semua ini membuatnya frustasi.


tbc