
Josh Edvans, sebut aku pria berkualitas yang menggenggam puncak kekuasaan perusahaan Anderson. Seseorang yang dikenal menjadi penggerak roda Anderson Media atau Anderson industri. Pria biasa yang menjelma menjadi tangan besi yang melakukan segala hal demi kesempurnaan perintah.
Itulah yang ada di benak setiap orang dan memang itulah aku sekarang.
Gambaran yang begitu berbeda jika menelisik masa lalu. Aku dulu hanya mahasiswa miskin cupu, berkacamata tebal yang selalu di ejek teman-teman sekampus. Pria putus asa dan tanpa harapan yang mati-matian mempertahankan nilai demi beasiswa penuh. Hari-hari ku lalui dengan penuh perjuangan, bully, hinaan, kesulitan ekonomi menjadi makanan yang ku terima. Pelajar seperti kami hanya dipandang sebelah mata oleh orang lain, tapi tidak oleh Scott Anderson.
Pria yang selalu berada dalam kegelapan dan hanya sesekali menghadiri kelas ternyata menyoroti diriku yang terlupakan.
Aku meyakini jika itulah awal keberuntunganku. Suatu hari, dosen memberikan rekomendasi untuk magang di perusahaan Anderson Inc. Di sana aku seolah digembleng dan di didik secara keras oleh pihak managemen di sana. Jatuh bangun aku lewati tapi aku tidak ingin menyerah. Aku yakin seorang Anderson tidak melakukan sesuatu tanpa alasan. Itulah yang menjadi tekadku untuk bertahan.
Semua berbuah manis, Scott mendatangiku dan menunjukku menjadi asistennya. Awalnya untuk hal yang kecil, lama-lama aku seperti tangan yang bertindak untuknya. Setelah sertifikat kelulusan dan wisuda, aku resmi bekerja di Anderson industri. Menancapkan cakarku dibawah perlindungan Scott dan mengubah statusku menjadi pria yang diperhitungkan.
Melihat bosku, Scott Anderson dan Louis yang bersenang - senang membuatku menggelengkan kepala. Mereka berdua lambang godaan sensual yang luar biasa namun hidup dalam kekacauan. Seharusnya mereka berkeluarga dan mempunyai anak-anak yang cantik. Bukannya mengumbar barangnya demi memuaskan wanita-wanita liar itu.
Hingga suatu hari aku melihat gadis memakai piyama datang ke club Scott untuk menjemput temannya. Dia nampak lucu dengan piyama teddy bear berwarna pink.
Aku mengamati gerak geriknya, barulah aku tau jika temannya membuat lelucon untuk menariknya dari tempat tidur.
Bibir pinknya mengerucut lucu, belum pernah aku lihat ekspresi wajah natural tanpa makna lain yang tersembunyi seperti kebanyakan wanita disini.
"Yang benar saja. " Aku mengumpat ketika menangkap temannya memasukkan sesuatu di minuman gadis itu. Lalu tanpa curiga gadis itu meminumnya. Sesuai harapan dia langsung ambruk seperti orang mabuk.
Temannya memberi isyarat pada dua pria dibelakangnya. Mereka membawa gadis berambut gelap yang tidak sadarkan diri itu.
Rasa kemanusiaan mengusikku. Aku mengikuti mereka dan menghajar dua pria itu. Kemudian aku mengisyaratkan pada dua penjaga club untuk mengunci teman gadis di kamar club.
"Lakukan apa yang akan kalian lakukan pada wanita yang menyuruh kalian. Anak buahku mengawasi kalian."
Setelah mendengar suatu teriakan baru aku meninggalkan mereka.
"Rasakan itu, Bic**"
Aku membawa gadis dalam gendonganku menuju penthouse milikku.
Aku membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia kemudian merangsek ke arahku dan memelukku.
Normal Pov.
Josh bagai mengalami sambaran petir. Dia merasa kaku dan tidak bisa bergerak. Terlebih ketika gadis itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Ugh... panas. "
Josh sudah sangat hafal dengan reaksi ini. Obat legendaris penghancur kewarasan namun memberikan kenikmatan tiada tara hanya untuk sesaat.
"Obat itu bereaksi, Eh? "
Josh melepas jasnya, melonggarkan dasi dan kemeja yang ia kenakan. Napasnya memburu melihat pemandangan di depannya.
"Ingat, aku terpaksa melakukan ini. "
Deg
Deg
Deg
"Kau tidak boleh marah padaku. Ini juga pertama kali bagiku. "
"Salahkan temanmu yang membiusmu. "
"Panas, " desis gadis itu.
"Bersiaplah. "
Set.
"Ah, akhirnya... "
Gadis itu terbaring di bathup yang penuh air dingin. Josh duduk di sebelahnya dan masih menyiram tubuh gadis itu dengan shower. Josh sangat lega karena berhasil menyelamatkan gadis itu dari pengaruh obat bius.