
Cerry meraba kertas proposal yang tergeletak kerja di meja. Perlahan ia membalik lembaran demi lembaran kertas yang berisi semua rencana pengembangan yang ia susun. Seharusnya proposal ini ia kirimkan untuk memenangkan tender pemerintah. Sebagai asisten ayahnya dulu, Cerry cukup konsisten dalam menanganinya. Di usia yang sebenarnya menginjak dua puluh tahun Cerry bertugas mengevaluasi beberapa proyek perusahaan. Dia bahkan terjun sendiri ke lapangan untuk survei agar memperoleh bahan dan yang menguntungkan perusahaan.
Suasana tenang malam ini menguatkan kesunyian di hati Cerry. Dia bangkit dari tempat duduk menuju cermin besar yang terletak di sudut ruangan. Wajah tanpa make up membuat orang mengira jika usianya masih delapan belas tahun. Tidak mengherankan jika Scott menolak proposalnya. Pasti pria itu menganggap dirinya gadis kecil yang tidak berguna sama sekali.
"Wajah yang sama namun sangat kesepian. Sangat berbeda dengan diriku beberapa bulan yang lalu. "
Cerry mengeratkan cengkeraman tangannya pada kertas yang ia pegang.
Proposal yang ia pegang ini adalah bukti nyata kemampuannya. Cerry ingin membuktikan jika dia mampu menganalisis trategi maupun bertanggung jawab, intinya ia ingin membuktikan jika dirinya mampu.
Mengambil nafas dan menghembuskan nafas besar, Cerry melangkah menuju ruang kerja Scott. Tidak pernah ia duga sebelumnya jika mengirimkan proposal ini membuatnya terasa berada diantara hidup dan mati.
Setiap langkah yang ia ambil seperti ada batu besar yang terikat pada kakinya.
"Semoga saja Scott tertarik dengan proposal ini. "
Cerry memutar knopi pintu kerja Scott. Sayang sekali pintunya terkunci, jadi Cerry hanya bisa menyisipkan proposalnya di bawah pintu.
Di ruang bernuasa suram Scott tidak menyadari jika sebuah map berada di bawah pintu ruang kerja. Matanya sibuk melihat kupu-kupu yang berada di balik dinding kaca. Membawanya kembali pada ingatan ketika pertama kali bertemu dengan Cerry. Saat itu ia sangat manis. Rumah juga menjadi ceria setelah kedatangan gadis itu di sini. "
"Bagaimana menurutmu Josh? Apa proposal itu layak?" tanya Scott
"Apapun itu yang terpenting tidak merugikan anda, tuan. "
Sudut mata Josh melirik ke bawah pintu. Dia menangkap map yang bergerak untuk masuk ke dalam ruangan.
Sudut bibir Scott kembali bergetar, " Ambil itu. "
Josh mengangguk, map merah segera berada di tangan Scott.
"Gadis itu mencoba yang terbaik untuk memaksaku mengulurkan tangan untuk membantunya."
Scott menyerahkan proposal yang sudah ia baca ke Josh.
"Apa pendapat mu? "
Josh sebagai pemegang kursi CEO perusahaannya di dunia nyata merasa takjub dengan lembaran kertas di tangannya. Sebagai orang yang menjalankannya bisnis di bawah nama Scott, dia tau jika proposal di tangannya merupakan hasil pemikiran yang mendalam dan riset yang matang.
"Ini bisa memenangkan tender pemerintah yang sedang berlangsung. Aku bahkan tidak berani menulis angka ini karena pertimbangan untung rugi. Rupanya gadis itu sudah menemukan sumber daya untuk memecahkan masalah defisit jika kita mematok harga murah. "
"Bagaimana dengan perusahaan pesaing yang ingin memenangkan proyek itu?"
"Menurut penyelidikanku, kita bisa menang mutlak. "
Kursi Scott berderit ketika ia menyandarkan tubuhnya. "Aku benci harus mengakui kemampuannya. "
"Apa langkah anda selanjutnya. "
"Memang bagus jika seorang wanita itu cerdas, tapi kecerdasan yang ia miliki akan membuatnya mampu menumbuhkan sayap untuk terbang. Jelas aku tidak menginginkan hal itu. "
"Jadi anda menolak untuk membantunya? "
"Tidak juga. Bagaimanapun harus ada bayaran atas proposal yang menguntungkan ku ini."
'Jadi anda membantunya atau tidak? kenapa harus berputar - putar hanya untuk menjawab ya atau tidak. '
Josh menghela nafas, dia tidak mengerti jalan pikiran atasannya ini.
"Datanglah ke pesta Justine, dan lakukan apa yang aku instruksikan nanti. "
''Baik. "
.
.
.
Malam ini Cerry sengaja tidak tidur di ranjang. Dia menebak Scott akan menemuinya jadi ia memutuskan untuk bersembunyi.
Cerry bersembunyi di lemari yang cukup besar. Setelah mengotak-atiknya sebentar lemari itu bisa menjadi tempat persembunyian yang bagus.
Sesuai dugaan Cerry, pria menyebalkan itu datang ke kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Cerry. Mengambil telepon pintar ia seperti memeriksa sesuatu.
Scott tiba-tiba tertawa geli.
"Kenapa kau bersembunyi Cerry. Bisakah kita bicara?" tanya Scott.
Suara Scott seperti alunan guntur yang menyakitkan telinga Cerry.
"Bukankah kau ingin aku membantumu? jadi bisakah kau keluar agar kita bisa bicara. "
Cerry terdiam sejenak. Dia benar-benar tidak bisa menebak apa yang pria itu pikirkan. Kenapa dia meminta untuk bicara sedangkan ia berniat menolak membantunya.
...
Di sisi lain, pesta yang diadakan Justine dan Evie berjalan dengan lancar. Mereka sangat puas dengan kehadiran para tamu undangan. Tentunya ini bisa menguntungkan perusahaan dalam menjalin kerja sama dengan orang yang berpengaruh.
Pusat perhatian mereka saat ini adalah CEO dari Anderson Inc. Pria yang terdengar jenius dalam berbisnis. Dan juga memiliki pendukung di bali bayangan.
Justine merapikan sedikit jas lalu meraih tangan Evie. Dia berniat mendekati Josh yang terkesan menyendiri.
"Perusahaan investasi di bawah kendali mr Josh sangat kuat. Kita bisa memperoleh manfaat jika berhasil menjalin hubungan dengannya. "
"Apakah yang kau maksud itu pria yang berdiri di pojok sana? "
Justine mengangguk.
"Desas desus yang tersebar jika CEO perusahaan Anderson memiliki pendukung berbahaya. Jadi jangan sampai menyinggungnya, " Bisik Josh.
Josh merasakan jika ada yang mengawasi dirinya. Ketika ia menoleh ternyata tuan rumah pesta sedang berjalan ke ayahnya.
'Jika tidak salah adik dari nona Cerry adalah wanita yang disamping mr Justine. '
"Tapi kenapa ia terlihat lebih tua?'
Benar saja, Justine dan Evie menyapa dirinya. Percakapan tidak penting, basa basi dan segala pujian mengalir dari bibir kedua orang tersebut. Josh dengan tenang menanggapinya. Yang terpenting ia sudah melakukan perintah Scott.
"Sayang sekali aku mempunyai beberapa kepentingan. Aku harus pamit Mr Justine dan Miss Evie. Pestanya luar biasa. "
Senyum melebar di bibir mereka berdua. Tanggapan positif dari Josh memberik mereka angin segar untuk mengembangkan perusahaan lebih besar lagi. Justine dan Evie saling melirik. Senyum mereka menandakan jika mereka sangat puas.
Setelah Josh meninggalkan pesta, Evie mulai menyapa undangan yang lain.
.
.
.
Di dalam mobil Josh mengirim pesan singkat pada Scott.
Perintah sudah dilaksanakan, Sir.
Evie segera beristirahat di kamar. Melepas gaun digantikan dengan baju tidur tipis dilanjutkan dengan menghapus riasan berat. Matanya melihat sebuah kotak berwarna pink yang tergeletak di ranjang. Evie mendengus karena warna pink mengingatkan dirinya pada rambut sang kakak.
Matanya melebar setelah membuka kotak kado itu.
Aku kembali imutku...
Deg
*Cerry...
Tbc*