
Hembusan angin menerbangkan rambut pirang yang sedikit pink milik gadis yang pasrah saat adiknya mengajaknya jalan-jalan. Dia tidak menaruh curiga ketika sang adik menyuruhnya menutup mata.
"Memangnya apa yang akan kamu tunjukkan pada ku Evie ?" tanya Cerry. Terkadang ia agak seram dengan ulah adiknya yang aneh. Namun sebagai kakak ia hanya memaklumi dan menurut.
"Tutup dulu matanya Kak. Setelah ini kakak tidak akan menderita lagi."
Cerry tersenyum. Dia mengira kalau adiknya berhasil menyelesaikan kesalah pahaman yang saat ini mengarah padanya.
"Baiklah. "
Evie menyuruhnya duduk di depan. Setelah itu dia melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah jembatan dekat sungai.
"Nak kakak aku hanya mau mengatakan kalau akulah yang sudah menaruh kalung itu di lemari. Dan Justine yang mengambil uang perusahaan dengan tanda tangan kakak."
Ucapan Evie mengejutkan Cerry. Dia buru-buru membuka menutup matanya. Namun sebelum ia membuka mata, pintu mobil terkunci. Cerry juga merasakan mobil nya bergerak.
Penutup mata berhasil lepas. Mata hijaunya yang jernih dan bulat memandang horor pada Evie dan Justine yang saat mendorong mobilnya.
"Evie! kenapa kamu melakukan ini!?" teriak Cerry. Akan tetapi Evie justru tertawa dipelukan Justine. Mereka kemudian pergi meninggalkannya yang saat ini berjuang keluar dari mobil yang akan tenggelam.
Hanya ucapan minta tolong yang bisa Cerry katakan. Dia mengedor-ngedor kaca mobil. Namun itu tidak bertahan lama. Semakin lama kepala Cerry pusing. Dia ingat kalau Evie tadi memberinya minuman. Sekarang Cerry begitu mengantuk, pandangannya pun mulai menggelap.
...
Beberapa hari sudah berlalu. Cerry tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Ada banyak hal yang terjadi selama ia di rumah sakit.
Ketika ia sadar, suara percakapan-- samar-samar terdengar di telinganya. Cerry mengira kalau itu adalah suara ayah dan ibunya. Ternyata ia salah, suara itu ternyata milik Evie dan kekasihnya, Justine.
"Kenapa dia masih hidup. Bagaimana kalau ia sadar dan melaporkan kita ke polisi?" ucap Evie yang nampak gusar.
"Tenang saja, kita juga akan menyingkirkan dia sebelum ia sadar. Aku akan menyuruh seseorang untuk melakukannya."
Mereka bercakap-cakap tanpa menyadari kalau Cerry sudah sadar. Gadis itu berpura-pura pingsan agar mendengar semua percakapan mereka. Cerry ingin tahu sekejam apa adiknya dan selicik apa Justine.
"Kakak..."
Cerry merinding mendengar suara Evie. Apalagi dia mengusap surainya dengan lembut. Rasanya ia sedang dibelai oleh dewa kematian.
"Akan lebih baik kalau kamu berkumpul dengan ayah dan ibu. Aku tidak menyangka kalau mereka akan pergi meninggalkan kita, jadi kau pasti berterima kasih padaku karena menyatukan mu dengan mereka. "
Cerry menggigit pipi dalamnya agar tidak menangis. Kabar yang diucapkan Evie begitu mengerikan.
'Apa kau yang mencelakakan mereka Evie?' tanya Cerry dalam hati.
Justine menyeringai melihat betapa mudah Evie dia kendalikan. Gadis yang buta karena cinta itu bahkan tidak bersedih saat orang tuanya meninggal.
'Benar-benar gadis yang kejam, ' kata Justine. 'Mana mungkin aku mau menikahi gadis yang bahkan tega dengan keluarganya sendiri. Saat perusahaan White jatuh ke tanganku maka aku akan membuatmu mengikuti mereka juga, ' lanjut Justine dalam hati.
Justine memindai Cerry yang terpejam. Dia juga menyatakan penyesalan terhadap kondisi gadis itu. 'Padahal aku menyukai mu dari pada adik mu.'
Tak lama kemudian terdengar ketukan sepatu pada lantai. Justine segera memperingatkan Evie akan hal itu.
"Evie ada yang datang, " peringat Justine.
Evie mengira kalau pengacara yang datang untuk memeriksa kondisi Cerry. Ia pun kembali berakting.
"Hiks kakak... kenapa kau menyakiti dirimu sendiri karena rasa bersalah. Seharusnya kau tak perlu melakukan hal itu hiks." Evie berteriak lebay agar orang yang ada di balik pintu bangsal Cerry mendengar. Dia harus membuat orang-orang berpikir Cerry bunuh diri karena malu sudah menggelapkan dana perusahaan.
"Permisi..." ucap perawat.
Evie menghentikan tangisannya saat tahu kalau yang datang adalah perawat. Padahal ia akan lebih senang kalau yang datang adalah pengacara keluarganya yaitu Mr Aston.
"Tsk, sia-sia aku menangis seperti orang tidak waras, " guman Evie. Dia memajukan mulutnya karena cemberut.
"Bagaimana kondisinya Suster?'' tanya Justine. Satu-satunya kabar yang ingin ia dengar adalah kesehatan Cerry memburuk.
"Kondisinya stabil. Aku yakin kalau dia akan segera sadar," jawab suster tadi. Ia mengira kalau jawabannya akan membuat kedua orang yang menunggu Cerry akan senang, tapi yang ia lihat justru kebalikan. Mereka nampak tidak suka dan wajah mereka malah tegang.
"Ada yang aneh dengan sikap mereka berdua," guman perawat tadi. Ia mulai menaruh curiga dengan tingkah mereka. Jadi ia mengusir kedua orang ini dengan halus.
"Maaf, alangkah baiknya kalau membiarkan pasien sendiri. Apalagi jam besuk sudah lewat."
Evie dan Justine saling bertatapan. Meteka kemudian mengangguk paham. "Ya sudah. Tolong jaga kakakku ya Suster. Aku sangat mencintainya. Dia adalah satu-satunya keluargaku."
"Tentu saja."
Setelah keduanya pergi, Cerry perlahan membuka matanya. Dia melihat sekeliling dan menemukan suster tadi juga menutup pintu untuk pergi.
"Aku harus pergi dari sini. Mereka akan menyingkitkanku kalau aku tidak segera pergi."
Perlahan Cerry beranjak dari ranjang. Dia mencabut selang infus dan mulai berjalan ke arah pintu. Di otaknya hanya ada balas dendam pada kedua orang itu. Hanya saja ia harus keluar dari tempat ini lebih dulu sebelum mencari cara menghukum keduanya.
tbc