Girls Behavior

Girls Behavior
Fallen.



Kasino terlihat lebih meriah dari sebelumnya. Itu dikarenakan seorang wanita berbikini berkilau tengah memegang kartu ditangannya. Dengan senyum genit gadis itu membelai bokong Louis yang disambut dengusan dari pria itu.


Malam ini Evie menjadi pusat perhatian karena dia mempertaruhkan semua uang hasil penjualan saham yang ia lakukan secara sembrono. Dia berani melakukannya karena merasa masih memiliki Justine sebagai pohon uang yang manjakan dirinya. Oleh karena itu ia tidak perlu khawatir, terlebih saat ini dia ditemani dua pria panas bertelanjang dada. Ditambah banyak pujian dan sorakan yang mendukung dirinya menambah keyakinannya untuk mempertaruhkan semua uangnya.


"Apa anda ingin menambah taruhan lagi, Miss? "


"Cukup, aku tidak membawa uangku. "


"Silakan buka kartunya. "


Evie membuka kartunya, dan yang mengejutkan adalah kartunya sangat buruk. Bisa dilihat jika gadis ini adalah amatir yang ingin menghamburkan uang.


"Maaf anda kalah. "


"Oh, ya sudah. "


Evie bersikap seolah tidak menganggap tumpukan uang yang menghilang di meja judi. Dia bangkit dan meninggalkan kasino sambil mengangkat kepalanya.


Dari situlah para pengunjung kasino berdecak kagum padanya.


"Wah ternyata putri milyuner, pantas saja tidak bingung karena kalah. "


"Wow gadis kalangan atas ya. "


"Siapa gadis kaya itu. Luar biasa, dia bisa menghabiskan uang sebanyak itu tanpa merasa sedih. "


Segala pujian itu membuat Evie merasa puas. Inilah yang ia inginkan, menjadi pusat perhatian dimanapun. Josh dan Louis mengangkat bahu dan mengikuti Evie dari belakang.


.


.


.


Dalam perjalanan pulang, Evie tersenyum senang. Malam ini dia menikmati segala sanjungan dari Josh dan Louis. Itu membuatnya seolah menjadi ratu.


Pintu mansion Wood terlihat. Tetapi penjaga masih tidak bergeming dari pos penjaganya.


Tiin


Tiiin


Tiiiiin.


Karena masih tidak digrubis, Evie turun dan menghampiri pos jaga yang berada di balik jeruji pagar.


"Apa kau tuli?! aku sudah membunyikan klakson dari tadi... tapi kau masih diam seperti patung. Cepat buka pintu gerbang. "


Penjaga itu hanya memandang malas wanita arogan ini. Dia kemudian mengambil koper baju yang berukuran cukup besar dan menyerahkan pada Evie.


"Atas perintah tuan Justine, anda sudah tidak diterima di kediaman ini lagi. Jadi tolong pergi dengan baik-baik. "


"Apa! ''Pekik Evie karena terkejut.


"Ini tidak mungkin, aku akan bicara dengan Justine. Dan setelah itu aku akan menyuruhnya memecatmu!"


Penjaga itu masih diam tak bergeming. Baginya Justine adalah atasan sesungguhnya.


Tut tut tut...


Evie merasa kesal karena Justine tidak bisa dihubungi. Dengan wajah kesal Evie mengambil koper dan menaruhnya ke mobil. Ia kemudian pergi menuju hotel. Evie tidak mungkin kembali ke kediaman White karena ia menjual rumah itu dua tahun yang lalu.


.


.


.


Justine mendengar secara seksama laporan dari mata-mata yang bertugas mengawasi Evie. Ternyata wanita itu bermain judi dan kalah. Padahal uang yang ia buat taruhan adalah hasil penjualan sahamnya.


"Dasar wanita bodoh. "


"Sekarang kau tidak ada gunanya. Jadi aku tidak membutuhkanmu lagi. "


Matanya memandang dingin teleponnya yang bergetar. Disitu tertulis nama Evie yang memanggil.


"Saat ini Cerry lebih menguntungkan diriku daripada kamu, jika aku berhasil menguasai saham Cerry maka aku bisa memilikinya sepuas yang ku mau. Setelah bosan aku bisa membuangnya sepertimu. "


lanjutan ada di *******