Girls Behavior

Girls Behavior
Chapter One



Sosok gadis berdiri dalam kerapuhan, tenggelam dalam putus asa berhias sakit hati. Air mata bening mulai mengalir di pipinya yang memerah. Bibirnya bergetar karena tidak tahu memulai pembelaan atas apa yang ia dituduhkan padanya.


Andai saja ada kalimat yang sanggup mewakili apa yang Cerry rasakan, pasti kata itu lebih buruk dari hancur. Sebab tak hanya hatinya yang terluka tapi jiwanya juga seakan remuk redam. Ia dijebak seseorang dan ayahnya menangkap bukti di dalam lemarinya.


Saat ini, di depan ayahnya Cerry mendapat tuduhan tak masuk akal. Evie mengatakan ada seseorang yang melaporkan kalau uang yang hilang dari perusahaan di pakai Cerry, untuk membeli berlian yang saat ini ditemukan di lemarinya. Padahal ia sama sekali tidak tahu keberadaan uang itu. Dia juga tidak tahu apapun tentang perhiasan yang ada di lemarinya.


"Jika kau ingin membeli perhiasan, kau tinggal bilang sama ayah. Tidak perlu menggelapkan uang perusahaan seperti ini Cerry!" maki Diego White.


Yang lebih menyakitkan ayahnya tidak percaya dengan pembelaannya.


"Aku bersungguh-sungguh Ayah. Entah kenapa perhiasan itu ada di lemariku. Aku tidak tahu apapun. Tolong percaya padaku Ayah," ucap Cerry sambil terisak.


Diego menepis tangan Cerry sehingga gadis itu jatuh berlutut.


"Aku kecewa padamu Cerry. Untuk sementara jangan keluar kamar." Diego memijit kepalanya pusing. Sangat jelas ia sangat kecewa dan marah.


Dana yang hilang ternyata ada di lemari putrinya dalam bentuk perhiasan kalung berlian. Jika sampai hal ini terdengar oleh pemegang saham maka akan terjadi keributan di kantor. Dia pun keluar kamar dengan marah.


Sementara itu, Evie--adik kandung Cerry berdiri di depan pintu. Ia diam-diam menyeringai senang. Namun ia segera memasang wajah malaikat agar kakaknya tidak curiga. Dia pun maju ke arah kakaknya dan memberi pelukan.


"Kakak, jangan sedih. Pasti ini kesalah- pahaman semata. Ayah pasti tahu jika kakak tidak mungkin melakukan hal buruk itu," hibur Evie.


Cerry yang tidak melihat senyum kejam dari adiknya hanya balas memeluk sang adik. Dia begitu hancur karena fitnah yang menerpa.


'Kakak bodoh, sebenarnya yang menaruh kalung berlian itu adalah aku. Ini adalah rencanaku dan Justine agar kau tersingkir dari perusahaan,' ucap Evie dalam hati. 'Lalu kami akan menguasai perusahaan.'


Saat ini, ia hanya menahan kebencian pada kakaknya yang selalu terlihat sempurna. Apalagi ayahnya akan menunjuk Cerry sebagai penggantinya untuk memimpin perusahaan. Dia tidak suka kakaknya selalu bersinar di mata semua orang. Jadi jalan satu-satunya agar ia bisa mengalahkan kakaknya adalah dengan menghancurkan nama baiknya.


"Jangan menangis lagi Kak."


***


Sementara itu, dentuman musik menggema di club malam yang dipenuhi ribuan manusia untuk menghanyutkan diri dalam hiburan. Membaur dalam kegilaan yang terbukti membunuh sedikit kepenatan yang menumpuk.


Beragama manusia dengan problema hidup bisa ditemui di sini. Mulai dari masalah percintaan, ekonomi atau hanya ingin melepaskan hasrat tanpa status atau one stand nigth. Tidak ada yang mustahil. Semua sah -sah saja di dalam dunia malam.


Dari sekian banyak pengunjung yang mendatangi club ini, di ruang VIP seorang pria berambut hitam legam bermata biru sedang menikmati cosmos yang ada ditangannya. Dia memejamkan mata menikmati rasa getir minuman mengalir ke dalam kerongkongan namun memberikan sensasi menyenangkan.


"Ah, " desah Scott setelah mengenggak cosmosnya.


Louise adalah pria yang mampu menebak uneg-uneg Scott. Jadi ia melangkah ke arah Scott dan duduk di sisinya.


"Ada apa dengan wajah bosan mu Scott? jangan bilang kau bosan berada di sini?'' tanya Louise. Dia adalah kanan Scott yang mengurus semua bisnis di dunia bawah. Pria yang memiliki surai pirang bermata biru yang berotot kekar itu juga salah satu idola di club ini. Satu hal yang bisa mengambarkan Louise yaitu tampan dan berbakat. Sayangnya ia juga seperti Cassanova di club ini.


"Aku hanya merasa hampa," ucap Scott.


Mulut Louise membentuk huruf O besar. Demi mr crap ia tidak percaya kata kalau bos sekaligus sahabatnya ini akan mengatakan kata-kata melankolis. Ini seperti keajaiban dan perlu dirayakan.


"Kau yakin tidak demam? atau otak mu terbentur sesuatu?" tanya Louise.


"Apa maksudmu?" tanya Scott sambil mengernyit.


"Jelas aku terkejut, kau kan makhluk yang bisa dikatakan sama seperti robot. Kau bahkah tidak tergerak bahkan oleh anak kecil menangis di depanmu karena minta permen," jawab Louise blak-blakan. Terlalu blak-blakan seperti kran bocor. Jadi Scott berpikir apakah ia perlu menutup mulut Louise dengan sepatunya agar dia diam.


"Sepertinya sepatu ku cocok untuk mulutmu ya?" ancam Scott.


Melihat wajah Scott yang menggelap, Louise mulai panik. Dia mengangkat tangannya karena tidak mau terjadi hal tidak diinginkan. Bisa saja Scott yang marah akan menguncinya di kamar mandi bersama kaum jeruk makan jeruk. Oh sungguh, dia tidak akan sanggup membayangkannya.


"Ja- jangan marah okey? Aku cuma bercanda he he he."


"Sudahlah."


Scott kembali murung. Dia bertanya-tanya apakah ada hal yang bisa ia lakukan untuk mengusir rasa hampa di benaknya.


"Cinta..."


Scott menoleh pada Louise yang mengatakan kata 'Cinta'. Matanya bertanya akan maksud Louise yang mendadak mengucapkan kata itu.


"Kurasa kau perlu cinta untuk menutupi kehampaan dalam hati mu."


"Jangan konyol, aku tidak akan jatuh cinta. "


Karena sebal Scott meninggalkan Louise. Dia memilih pergi karena sudah tidak tahan dengan aroma club. Saat ini ia hanya ingin ketenangan.


"Yang benar saja. Mana mungkin aku mau jatuh cinta. Perasaan itu hanya membuat laki-laki menjadi bodoh."


tbc