
Louis Side.
Bagaimana aku bisa mendeskripsikan pengaruh Cerry pada hidup Scott. Dia datang seperti badai yang memporak-porandakan jati diri Scott. Dari hari ketika sahabatku bertemu dengan makhluk bermata polos yang ia asosiasikan sebagai jelmaan Malaikat, aku tau dia tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Sebelumnya kami hanya hidup untuk bersenang-senang, lebih tepatnya hidup untuk bersenang-senang, berkelahi, membunuh dan bersikap mengintimidasi seolah sedang melundungi teritorial kami. Wanita, ranjang, minuman, darah, senjata akan mengelilingi kami layaknya planet yang mengelilingi Matahari. Berlangsung secara kontinue dan tidak terputus.
Itulah makna hidup bagiku dan aku yakin Scott juga berpikir sama denganku. Setidaknya dalam beberapa tahun ini aku seolah bisa membaca pikirannya dan mengetahui apa yang dibenaknya. Jika salah satu hal dari mereka terputus maka aku yakin akan menjadi salah satu penyebab kematian kami.
Namun semua berubah, aku serasa melihat pria lain saat Scott mendatangi kantor bawah tanah kami setelah pertama kali bertemu gadis bernama Cerry. Aku tidak lagi mencium aroma darah dari pria yang berhati dingin namun bertindak panas dan menghanyutkan. Ada obsesi lain di matanya. Seolah sedang mendapatkan mainan baru yang berharga.
Awalnya aku mengira semua akan kembali setelah beberapa saat ketika dia sudah bosan. Nyatanya aku salah, dia justru semakin terperosok dan semakin jatuh dalam pesona yang tidak ia sadari. Pesona wanita yang menyebabkan dia jatuh cinta.
Hal bodoh yang juga aku alami.
"Babe, apa yang kau lamunkan? "
Sekarang aku dalam masa tersulit dalam hidupku. Hal ini lebih sulit daripada sekedar baku tembak antara aku dan geng lawan kami. Atau menghindari petugas saat memulai penyelundupan senjata ke negara berkonflik. Hari aku akan melamar Morron.
"Tidak, ada. Hanya mengingat masa lalu kami yang kacau, " jawabku tenang. Jika saja Morron melihat lebih detail ke arah tanganku maka mata coklat madunya yang indah akan melihat sedikit keringat di sana...baiklah banyak keringat.
"Lalu...? "
"Kami adalah **** yang beruntung karena mendapatkan wanita yang hebat seperti kalian. "
"Benarkah? " Dia terkekeh dan memerah, sangat menawan. wanita yang sebenarnya sangat polos namun bersikap kuat.
Baiklah, sekarang waktunya.
Deg
Deg
Deg
"Morron, A-aku sudah--"
Drrt Drrt
Scott Calling...
Wtf!
Mengapa sahabatku ini menggangguku pada saat genting seperti ini!?
"Hallo"
"... "
"Kau telepon hanya untuk bilang aku merindukanmu? Berhentilah bersikap konyol Scott! "
Tut.
Aku harus menarik nafasku untuk menstabilkan kembali suasana hatiku. Demi apapun aku ingin mengirim bom dan meledakkan Scott.
"Ehem, baik... sampai dimana kita? "
"Sampai kau bilang 'aku sudah--" jawabnya. Oh aku tidak bisa tidak mengagumi mata indah itu. Cahaya lilin yang khusus aku persiapkan untuk makan malam romantis terpantul pada matanya yang cantik.
"Okey, aku rasa kita perlu minum saat ini. "
Aku menuangkan sampanye ke gelasnya, dentingan gelas kami menandakan jika kami akan meminum sampanye itu. Setidaknya benda cair beralkohol itu mampu sedikit mengembalikan mood lamaran ini.
"Baiklah Morron, aku telah memikirkan ---"
What The Hell...
Josh is Calling...
"Hallo!?" Tanpa sadar nadaku sedikit meninggi. "
"*Hei sabar teman, bagaimana lamaranmu? Apa kau sukses!? *"
"Semua akan sukses jika kau tidak menggangguku untuk malam ini! "
Tut.
Aku mengusap wajahku agar tidak terlihat mengerikan di depan Morron. Rasanya aku butuh samsak saat ini atau menghajar Scott dan Josh di atas ring tinju.
"Ada yang salah? " Morron bertanya, aku langsung tersenyum padanya.
"Tidak ada, Scott dan Josh menelepon dan mengajukan pertanyaan konyol. Oh lihat, hidangannya sudah tiba. "
"Kau benar, terima kasih atas makan malam yang indah ini. "
"Tidak seindah dirimu Morron. Semua nampak kabur di depanmu. "
"Perayu yang manis. "
"Kau terlalu indah untuk dirayu, Sayang. "
Kami makan dengan santai, aku memperhatikan makanan di atas piring menghilang di bibirnya yang seksi, merah dan basah. Rasanya aku tidak tahan untuk meraihnya.
'Baiklah ini waktunya. '
Drrt Drrt
Aku butuh granat sekarang, aku bersumpah akan meledakkan orang yang telepon ini.
Tapi aku menarik kembali sumpahku saat tau jika yang menelepon adalah Cerry. Dia salah satu wanita yang berharga untukku. Aku seolah mendapatkan kasih sayang keluarga darinya. Dia bisa memberikan perasaan hangat dan diperhatikan, hal yang aku rindukan selama bertahun-tahun.
"Halo ibu hamil?"
"*Louis, aku merasa ingin memegang rambut pirangmu. *"
"Apa? Oh tidak, Scott akan membunuhku. "
"*Hei, ini keinginan bayiku. Dan entah kenapa aku berharap rambut bayiku pirang, bukan goldenpink atau hitam seperti Scott. *"
Baiklah, sindrom ibu hamil. Segala permintaannya adalah perintah raja.
"Aku akan kesana sebentar lagi. "
Tut.
"Morron, aku tidak akan basa basi lagi. "
Aku meraih kotak beludru berwarna merah dan menyodorkan pada Morron. "Menikahlah denganku? "
Sial... kemana hilangnya puisi yang aku hafalkan tadi?
"Hehehe baiklah, aku akan menikahimu. "
"Iyes. "
Tanpa sadar aku menangkupkan tinjuku dan meraihnya. Aku mencium dan memutar tubuhnya yang ada di dalam gendonganku.
Louis Pov End.
Normal Pov.
Ketiga orang tengah tertawa terbahak -bahak sambil menatap monitor yang didalamnya menampilkan Louis dan Morron yang bergembira.
"Baiklah, bereskan ini. Aku tidak ingin dia menghajar kalian karena mengacaukan lamarannya dengan telepon. " Cerry berkata sambil mengelus perut buncitnya.
"Kita harus bersiap menjadi pihak pengantin laki-laki, Sayang," ucap Scott.
"Benar, dan kau Josh bawa istrimu. Okey? "
"Baiklah. Tenang saja. " Josh memerah karena malu. Dia sebenarnya sering bertindak bodoh jika dihadapan istrinya. "
End
My fake husband uda di publis ya... cek di akunku. Ga kalah hot hihihi