
Sehebat inilah Scott dalam menguasai permainan. Tidak ada bukti fisik yang tertinggal untuk memberinya masalah dengan kepolisian. Meskipun Cerry yakin mereka tidak bisa berbuat banyak jika berhasil mendapatkan bukti. Scott akan dengan mudah menghilangkan bukti beserta yang memegangnya.
Masuknya Scott di penthouses milik Justine menimbulkan ketakutan tersendiri bagi Cerry. Tanpa sadar ia mundul untuk menghindari pria yang datang mendekat padanya. Terlihat jelas jika wajah cantik itu memucat karena ketakutan.
"Kau takut padaku, Cerry? "
Scott maju dan duduk di sofa yang tadinya hampir menjadi tempat percintaan panas Cerry dengan Justine. Hampir saja Scott menyalahkan cerutu sebelum melihat alat pemadam kebakaran otomatis yang berada di langit-langit penthouses.
'Hanya orang yang tidak waras yang tidak takut padamu. '
"Aku tidak bisa menjawabnya, jika yang kau tanyakan apakah aku kecewa maka dengan jelas aku katakan jika aku sangat kecewa. "
Cerry menjawab sehalus mungkin. Sungguh merupakan ide yang buruk jika menyinggung pria yang duduk santai di sofa itu. Itu bahkan lebih buruk dari pada menjadikan seratus Justine sebagai musuhnya.
Scott melihat dengan jelas ketakutan di mata Cerry. Hatinya mendadak berdenyut sakit melihat reaksinya terutama pada kakinya yang terus mundur seolah enggan berdekatan dengannya.
"Mengapa kau terus mundur, apa kau lebih suka berada di luar?"
Pikiran Cerry mendadak gelap. Ia mengira jika Scott ingin melemparnya dari lantai ini.
Matanya memerah disusul air mata yang menggenang di pelupuk iris kehijauan Cerry.
'Aku belum membalaskan dendam pada Justine dan Evie. Aku tidak boleh mati terlebih dahulu. '
Reaksi ketakutan Cerry menyadarkan Scott jika gadis ini salah paham padanya. Salah paham yang buruk. Ia lupa jika tidak pernah memperlakukan Cerry secara manusiawi. Jadi tidak mengherankan jika dia menjadi paranoid.
Scott mengusap rambutnya frustrasi. Perasaannya bertambah buruk dengan air mata yang siap tumpah dari iris indah itu.
"F*ck. "
Scott semakin frustrasi. Ini bukan hal yang ia harapkan. Bahkan niatnya yang ingin menghukum gadis itu hilang tak berbekas di gantikan perasaan rindu yang menggila. Benar, ia bisa gila jika berpisah dengan Cerry.
Scott belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. memikirkan hidup tanpa gadis beriris hijau itu seperti memaksanya untuk hidup di neraka.
'Bagaimana mana caranya untuk menjelaskan padanya jika aku tidak akan menyakitinya?'
"Aku__tidak pernah ingin membuatmu takut. "
Kau memperlakukan aku seperti seks doll dan sekarang berkata tidak ingin membuatku takut?
"Aku hanya ingin menjemputmu, tidak ada niat yang lainnya. "
Aku sudah kehilangan kepercayaan dan harapan di tempat itu. Sekarang kau menginginkan aku kembali ke tempat di mana aku hidup seperti binatang?
''Kembalilah padaku. "
"Tidak, " jawab Cerry, tegas. "Aku harus menyelesaikan dendamku meskipun tanpa bantuanmu Scott, " lanjutnya.
"Aku akan membantumu membalas dendam. Jadi kembalilah denganku ke markas. "
Sayang sekali hati Cerry terlalu terluka untuk menerima kebaikan Scott.
"Aku tidak bisa kembali ke tempat dimana aku tidak diperlakukan seperti manusia. Aku tidak membutuhkanmu untuk membalas dendamku, Scott. Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. " Kalimat yang cukup berani. Bahkan ia-- Cerry sendiri cukup terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
lanjutan ada di *******