
Byur...
Ah...
Cerry menikmati harinya di pantai. Disini ia bisa menghirup udara dan memandang lautan lepas dengan perasaan ringan.
"Aku lihat kau sepertinya sangat bahagia...coba ku tebak, pasti karena Evie sudah tamat, Kan? "
Cerry mendudukkan bokongnya pada Sunchair yang tertata rapi di sepanjang pantai. Salah satu dari mereka terdapat pria bertelanjang dada dan mengamati papan surfing berwarna gelap.
"Kau benar, " jawab Cerry. 'Tetapi aku merasa ada kehampaan di hatiku, seolah aku tidak memiliki tujuan hidup. "
Scott meletakkan papannya, dia memandang tajam gadis yang menatap kosong hamparan laut yang sepi. Dia memang sengaja membawa Cerry ke pulau pribadinya. Dengan demikian mereka tidak perlu ragu jika ingin berenang meskipun dalam keadaan telanjang.
Scott menjulurkan jari-jarinya, menyisir helaian rambut goldenpink di tengkuk Cerry. Lalu mencium menurunkan bibirnya pada bibir pink Cerry.
Cerry tidak terkejut dengan ulah Scott yang selalu mengejutkan dirinya dengan tindakannya yang tiran dan menuntut. Tetapi inilah Scott dengan segala pesona dan sikapnya yang mendominasi. Cerry tidak akan pernah bosan atau mengeluh sebab dia sangat terbiasa dengan ini.
"Tujuan hidupmu sekarang adalah menemaniku seumur hidup dan melahirkan anak-anak yang cantik untukku. "
"Oh Scott, aku sangat membencimu. Kenapa kau mengatakan hal itu dengan cara yang begitu seksi sehingga aku tidak pernah bisa marah atau menolakmu. "
"Jika demikian, aku akan membuatmu semakin membenciku karena keseksianku yang lain. " Goda Scott setelah membelai bibir Cerry dengan ibu jarinya. Rasanya lembut dan kenyal, sangat menyenangkan untuk dinikmati. Kemudian jarinya yang lain mulai melepas pakaian pantai yang dikenakan Cerry satu persatu.
"Apa yang akan kau lakukan pada Justine?" tanya Cerry seakan tidak terusik dengan tindakan Scott yang menelanjanginya sedikit demi sedikit.
"Membuatnya pusing dan membiarkan dia berakhir di jalanan, " jawab Scott. Tangannya berhasil membawa Cerry dalam pelukannya. "Kau akan menyaksikan pertunjukan bagus nanti, dan sekarang aku ingin menikmati pantai ini bersamamu, Cerry. "
"As your wish sir. " jawab Cerry. Setelah semuanya berlalu kini ada tujuan baru di hidupnya. Meskipun tujuan itu ditentukan oleh pria dominan yang menggendongnya tapi dia bisa menerimanya. Lebih tepatnya sangat menerimanya.
Kali ini Cerry yakin jika hidupnya akan berubah dan yang terbaik tujuan itu bukan berisi hal yang negatif.
Di tengah pantai yang indah mereka berdua terjalin untuk membentuk tujuan yang baru.
.
.
.
"Mengapa semua karyawan mogok kerja!? " Justine berteriak kepada direktur lapangan yang melapor. Berita tentang mogok kerja oleh para pekerja membuat Justine kebingungan, bagaimanapun proyek ini harus selesai bulan depan sesuai dengan kontrak. Namun ketika dalam tahap finishing para pekerja mogok karena masalah upah.
"Kami tidak tau, entah mengapa mereka meminta upah double dari kesepakatan awal. ''
Kepala justine berdenyut nyeri karena memikirkan hal ini. Jika dia menyetujui tuntutan karyawan maka keuntungan dari Anderson tidak akan menakjubkan lagi. Sehingga semua hal yang dia lakukan akan sia-sia. Namun jika tidak menyetujui tuntutan mereka maka keterlambatan proyek akan menyebabkan perusahaannya harus membayar denda.
Ini sesuai dengan kesepakatan awal mereka. Anderson inc. sanggup memberikan keuntungan luar biasa jika perusahaannya bisa menyelesaikan proyek pembuatan hotel dan club juga kasino di dalamnya. Tetapi jika proyek itu mengalami penundaan maka dia harus membayar denda pada Anderson inc.
Berita lain datang dari direktur perencanaan. Dia melaporkan jika bahan yang diperlukan untuk membangun proyek telah habis. Dan mereka tidak bisa menemukan industri lain yang memproduksi bahan-bahan yang dipilih Anderson untuk membangun hotelnya.
"Pasti ada yang bermain di sini..." Justine memutar otak agar masalah ini segera diatasi.
"Segera cari informasi, pasti ada yang berusaha menjatuhkan kita. Lalu segera atasi masalah ini, cukup turuti permintaan pekerja dan cari bahan untuk proyek bagaimanapun caranya. " Justine memerintahkan pada mereka semua.
"Baik. "
Para direktur itu meninggalkan kantor Justine. Mereka tau jika perusahaan dalam kondisi kritis. Jika proyek ini gagal maka bos mereka harus membayar kerugian padahal untuk proyek ini Justine sudah menggunakan sumber dayanya.
.
.
.
Louis menggelengkan kepalanya. Dia merasa jika cara Josh benar-benar licik.
"Jadi... semua masalah yang timbul di pihak perusahaan Wood adalah ulahmu? " tanya Louis.
"Hei aku hanya menjalankan rencana Scott. Dari awal dia yang mengendalikan semuanya. "
"Bajingan itu memang mengerikan. "
"Lalu, apa rencana selanjutnya? "
"Membeli saham White, untuk membayar denda dia harus menjual saham Evie yang ia kuasai. Jadi tugasmu untuk membelinya. "
"Huh, akhirnya aku turut mengambil bagian dari rencana Bajingan itu. "
"Ayolah..."
"Baik, baik. Demi persahabatan dan masa-masa menyenangkan aku di club ini. "
Mereka berdua naik ke lantai atas. Saatnya memanjakan mata para wanita di club dengan keseksian mereka. Josh yang dulu acuh tak acuh sekarang mulai ikut tertular Louis. Dia berpikir jika menyisihkan waktu untuk bersenang-senang tidak ada ruginya.
Tapi hal yang masih belum dia lakukan adalah mencicipi para wanita itu untuk berada di atas ranjang. Pemikirannya yang konservatif cukup bisa diandalkan agar keperjakaannya tetap terjaga.
Tanpa Josh sadari jika Morren tengah memperhatikan mereka berdua dengan penuh minat, lebih tepatnya pada pria bertampang polos yang mencoba bersenang-senang.
Morron adalah wanita dominan. Dia adalah Scott versi wanita. Jadi melihat pria dengan wajah seolah ingin ditindas bisa membangkitkan jiwa predatornya.
"Mengapa aku sekarang lebih tertarik pada pria imut sepertinya... Ugh ini menarik, " ucap morren dengan mata coklat madunya yang menatap lapar Josh.
"Saatnya makan daun hijau..."
Morren menghentakkan pinggulnya menuju dua pria yang tengah bersenang-senang diantara lautan wanita yang mengelilinginya. Hal itu membuat Josh dan Louis bergidik karena ngeri.
Tbc.