
Cerry memilih tinggal di apartemen miliknya sendiri. Dia tidak bisa tinggal di properti milik Scott karena akan menimbulkan kecurigaan Justine. Beruntung Scott tidak membuat keributan terkait keputusannya.
Cerry tidak memilih cara keras untuk menghukum Evie. Tetapi dia ingin menggunakan pria yang sangat ia cintai untuk menghancurkannya.
Jangan salahkan jika dirinya begitu kejam. Semua yang nantinya Evie terima adalah hal yang ia tabur jadi dia harus menerima hasilnya.
Cerry mengambil telepon dan menghubungi Justine. Sudah saatnya memecah belah mereka.
"*Halo, *" suara Justine terdengar dari ujung telepon.
"I-ini aku. Justine bagaimana kabarmu, apakah kau marah padaku? "
Menyadari jika pihak lain tidak menjawab, Cerry membuat suara sedih.
"Justine, beberapa waktu terakhir hidupku sangat sulit. Beberapa pihak hampir memanfaatkanku. Aku bahkan kesulitan untuk mengisi perutku dengan makanan. Jadi aku takut...hik hik. "
"*Hei, aku tidak marah padamu. Tetapi aku terkejut kau meminta hakmu dari Evie.* "
"Aku hanya ingin memenuhi kebutuhanku, bagaimanapun aku tau jika perusahaan masih bergantung padamu untuk mengelolanya. Yakinlah aku akan mendukungmu."
Di sana, Justine terkejut sekaligus senang dengan pernyataan Cerry. Dengan begini, siapapun yang memegang saham, tetap saja adik kakak itu dalam kekuasaannya.
"Aku senang kau menyadarinya. Aku juga berharap kau juga memikirkan tentang perasaanku. "
Cerry butuh wastafel sekarang. Kata-kata seorang bajingan sepertinya membuat perutnya bereaksi.
"Justine... aku takut. Evie begitu mencintaimu. Jika dia tau kita bersama maka aku yakin dia akan menyakitiku. Padahal... "
"Sayang, aku pasti akan melindungimu. Jangan khawatir tentang Evie. "
"Aku ingin tau bagaimana caramu melindungiku. "
"Tenang saja, percayalah padaku. "
"Baik. "
Cerry menutup teleponnya. " Bukan kau saja yang bisa bersikap seolah tidak bersalah Evie. Kita akan bertemu besok, " guman Cerry.
"Kucingku sudah menunjukkan cakarnya? " Suara Scott mengejutkan Cerry. Cerry menoleh, tersenyum dan mendekat ke alat penghasil klimaks itu.
"Kau mengejutkanku, " ucap Cerry. Dia mendudukkan diri di pangkuan Scott.
"Dan kau membuatku gila, " balas Scott.
"Hm, sesuai dugaan. Kau sangat hebat dalam hal merayu, " Cerry berkedip nakal.
"Hei, bukankah aku lebih hebat jika berada di atasmu? "
"Dasar mesum. "
Jari Scott mengarah ke dagu Cerry, membelainya sekilas dan memberikan ciuman yang menggoda.
Cerry merasakan aroma mint dan sedikit alkohol ketika lidah Scott mesuk ke mulutnya. Cerry menyukai aroma jantan itu.
"Scott biarkan Justine kembali. Aku harus membuatnya masuk ke dalam perangkap yang aku buat. "
Ciuman panjang itu berakhir. Cerry harus mengutarakan niatnya jika ingin segalanya berjalan sempurna.
"Mengapa kau tidak memintaku menghancurkan dua perusahaan itu Cerry. Katakan dan aku akan melakukannya. Aku tidak tahan melihatmu bersama bajingan itu. "
"Kita sudah membahasnya, Scott. Tolonglah. Aku hanya ingin melihat Evie merasakan rasanya dikhianati orang yang ia sayangi. Setelah itu, aku mengijinkan mu melakukan apapun pada Justine, okey? "
"Baiklah. "
Sesuai permintaan Cerry, Justine memperoleh kesempatan kembali ke kota ini. Proyek besar dari Anderson yang sedang ditangani Justine memang membuat Justine bersemangat. Dia bahkan lupa dengan kebiasaannya untuk menyelidiki para kolega yang bekerja sama dengannya. Justine sama sekali tidak curiga dan tidak sadar jika sudah disetting Josh.
Memanfaatkan kesempatan, Justine segera mendatangi penthouse yang ia berikan pada Cerry. Malam ini dia ingin merasakan tubuh gadis yang sempat membuatnya meneteskan air liur.
"Cerry, apakah kau disitu? "
Justine berkeliling mencari Cerry di Penthouse miliknya. Karena dia tidak mendapatkan Cerry di ruang tengah dan dapur, Justine mencarinya di kamar.
Bravo.
Pemandangan yang mengejutkan. Cerry memakai topeng Cat Women dengan cambuk di tangannya. Dia nampak liar, nakal dan seksi. Cerry ingin tampil lebih menggoda sehingga ia memilih mengenakan kostum berupa bikini hitam.
"Kau suka hadiahku Justine? " Cerry menyibakkan rambut golden pinknya yang panjang. Lalu dengan sensual dia mengigit bibir bawah yang terpoles warna merah memikat.
"Aku seolah berada di surga, Baby, " jawab Justine. Dia benar - benar merasa melayang dan mengeras.
"Kalau begitu kau pasti sudah siap dengan permainan selanjutnya, Justine? "
Ctarr.
Cerry mencambuk udara kosong sehingga mengeluarkan bunyi yang menggema. Hal itu justru menambah gairah Justine yang menggebu-gebu. Langsung saja Justine menarik Cerry ke dalam pelukannya. Tetapi Cerry menghindar dengan senyum yang menggoda.
"Tidak semudah itu Justine. Hari ini aku yang bermain. " Cerry mengeluarkan borgol bulu dari laci. Kemudian penutup mata.
"Apa yang akan kau lakukan dengan barang-barang itu Baby? Aku sudah tidak tahan. "
"Baiklah kita mulai. "
Cerry mendorong Justine hingga terlentang di ranjang. Kemudian dia menyatukan tangan Justine dan memborgolnya di kepala ranjang.
"Woah, aku suka gayamu, " ucap Justine.
Cerry duduk di perut Justine. Kain yang ia bawa segera menutupi mata Justine sehingga dia tidak bisa melihat.
"Dari dahulu aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bentuk otot indahmu di balik kemeja sialan ini. "
Cerry merobek pakaian Justine kemudian celana panjang yang ia kenakan. Kini Justine dalam keadaan polos dengan kejantanan yang berdiri tegak.
"Kau merusak pakaian mahalku Baby, tapi jangan khawatir, " ucap Justine.
"Tentu saja. Siap menikmati malam ini Justine? "
"Aku tidak sabar Baby. "
Muncullah wanita yang memakai baju yang sama dengan Cerry. Warna rambut dan dandanannya ia buat sama persis dengannya.
Wanita itu adalah jalang yang ia sewa. Dia akan menggantikan dirinya untuk bermain dengan Justine.
"Lakukan yang terbaik. Emme. " Bisik Cerry dan keluar menuju kamar sebelah. Di sana ia tahu jika Scott menunggunya.
"Serahkan padaku, " jawabnya lirih.
Emme melakukan keahliannya dengan baik. Justine yang mengira tengah bercinta dengan Cerry memuji wanita itu berkali-kali.
tbc