GEEKY GIRL

GEEKY GIRL
Memulai Rencana



Hari ini Nesya telah siap menjalankan kehidupan barunya. Dengan penampilan yang jauh berbeda dengan dirinya yang asli.


Rambut kepang dua, dengan kacamata bulat yang menghiasi wajahnya. Tak lupa bulatan kecil hitam yang menempel di pipi kirinya, persis seperti tompel.


Inilah rencana yang akan Nesya lakukan itu. Meski awalnya Papa dan Mama tidak setuju, namun demi tujuan Nesya mereka menyetujui.


Nesya melakukan semua ini untuk mencari pengalaman kerja sebagai karyawan. Tanpa melihat status dan derajat kekayaan keluarganya.


Dan niat yang kedua, Nesya ingin dipertemukan dengan seorang pria yang mampu menerima dia apa adanya. Bukan karena kekayaan ataupun karena wajah dan parasnya.


"Sayang, kamu yakin dengan rencana ini?" tanya Mama yang nampak khawatir dengan putrinya.


Mama takut Nesya mendapatkan perilaku tidak baik dari orang-orang di sekitarnya nanti. Karena dengan kehidupan berbeda seperti itu, tentu Nesya harus mulai dari awal untuk beradaptasi dan mencari teman.


"Mama percayakan sama Nesya? Nesya akan berhasil menjalankan peran ini. Papa saja setuju Ma." Ujar Nesya untuk membuat sang mama berhenti khawatir padanya.


Akhirnya Mama mencoba percaya dan tak lagi mengkhawatirkan putrinya lagi.


"Sya, lagian kenapa kemarin kamu tak mencari kekasih saat kuliah?" tanya Papa pada anaknya.


"Papa kan tahu, Nesya kemarin fokus buat selesain kuliah. Pada saat itu, Nesya juga masih trauma dengan kejadian bersama Vero. Nesya takut terulang lagi kejadian itu. Pa."


Papa yang mendengar perkataan Nesya memaklumi apa yang dirasakan putrinya. Dengan mengusap lembut pucuk kepala Nesya dengan lembut, papa berujar.


"Semoga kelak kamu dipertemukan dengan pria baik yang akan menerima kamu apa adanya Sya."


"Aamiin" tutur Nesya dan Mama bersamaan.


Mama dan Papa mengantar Nesya ke rumah kostnya. Tepatnya rumah itu sudah di beli oleh Nesya, demi melancarkan peran culunnya.


"Mama dan Papa pulang dulu, Sayang. Hati-hati, kalau ada apa-apa kabarin kita ya. Mama khawatir." Tutur Mama berpamitan pada putrinya.


Begitupun juga Papa yang memeluk anaknya, sebagai perpisahan sementara. Rasanya berat meninggalkan Nesya sendirian, padahal hanya dekat.


Namun karena mereka hanya berkumpul beberapa hari saja, membuat Papa dan Mama rasanya masih tak rela. Apalagi dengan penampilan baru Nesya, yang rasanya akan sulit. Bagi orang lain untuk menerima kehadiran anaknya.


"Iya Mama, Papa. Nesya akan baik-baik di sini. Nanti hari libur, Nesya pasti akan pulang kok." Jelas Nesya.


Akhirnya Mama dan Papa pulang. Wajah mereka yang tak asing di kalangan masyarakat, membuat mereka harus segera meninggalkan kostan Nesya saat ini. Karena takut orang lain akan mengetahui identitas asli Nesya.


Kemarin Nesya juga sudah mendapatkan penerimaan sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar. Nesya sebenarnya tak berminat di perusahaan besar, namun apalah daya.


Sang papa yang mengatur semuanya. Bahkan identitas dirinya juga sudah dipalsukan dengan sangat apik oleh papanya itu. Membuat Nesya merasa jalannya mulus untuk menjalankan rencana-rencananya.


Tok tok tok


Saat sedang sibuk menyusun baju-baju barunya yang sederhana. Tentu saja sederhana, supaya sandiwaranya semakin mendukung. Nesya mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya.


"Sebentar!" Ujarnya menyahuti ketukan itu.


Krekk


"Maaf mengganggu mbak. Saya hanya ingin mengajak berkenalan saja, sepertinya mbak baru di sini. Jadi saya ingin menjadi teman mbak." Jelas wanita itu dengan sopan.


Sebenarnya wanita itu memilki tujuan lain pada Nesya. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dirinya juga ingin berteman dengan Nesya. Maklum, kehidupannya yang hanya biasa-biasa saja, membuatnya tak banyak memilki teman.


Dirinya hanya memilki teman baik dua, namun mereka sama-sama berada di luar kota. Membuat nya kesepian dan butuh teman curhat.


"Boleh kok mbak. Saya juga merasa asing di sini, maklum baru pindah ke sini." Ujar Nesya menanggapi wanita itu.


Akhirnya mereka berlanjut mengobrol setelah saling berkenalan nama. Bahkan rupanya Nesya dan wanita itu yang bernama Teira bekerja di tempat yang sama tanpa di duga.


Setelah cukup lama bercengkrama, Teira mencoba jujur dengan niat dia sesungguhnya.


"Nesya, sebelumnya maaf ya. Niat ku sebenarnya selain ingin berteman, tapi juga ingin menawarkan sesuatu." Tutur Teira takut-takut.


"Katakan Ra, aku mau mendengarkan alasan itu." Dengan berlapang dada, Nesya tak mempermasalahkan niat terselubung Teira.


Karena Nesya tahu, Teira sebenarnya wanita yang baik. Meski Nesya belum tahu niat itu apa sebenarnya.


"Di perusahaan yang akan kau masuki besok, sebenarnya aku diminta untuk mencari sekretaris baru." Jelas Teira dengan tertunduk.


"Bukannya kau sekretarisnya, kenapa harus mencari yang baru? Apa kau membuat kesalahan Ra?" Tanya Nesya yang nampak tak paham.


"Bukan begitu, tapi kekasihnya yang meminta aku di ganti Sya. Kalau aku tak mendapat pengganti, maka aku akan dipecat." Jelas Teira dengan sedih.


Sebenarnya Teira merasa tak enak dengan permintaanya pada Nesya. Namun bagaiman lagi, jika dia dipecat dari perusahaan besar itu. Bisa-bisa hidupnya tak akan terjamin lagi.


Jelas secara ekonomi, dirinya akan menderita. Apalagi dirinya masih memilki tanggungan seorang adik yang sedang berkuliah di luar kota.


Nesya mencoba memahami perkataan Teira. "Memang kekasihnya ada masalah apa sama, sampai harus diganti?"


"Kekasihnya itu posesif, dia cemburu terhadapku. Padahal aku sudah memilki kekasih, lagi pula aku juga tak akn berani mendekati atasanku. Aku cukup tahu diri, Sya." Jelas Teira dengan jujur.


"Emm kekasihnya itu juga menjelaskan kriteria pengganti yang harus dipenuhi. Dan saat melihat mu, sepertinya kau cocok dengan kriteria kekasihnya itu ... Emm maaf Sya, aku ak bermaksud." Jelas Teira lagi.


Nesya tersenyum, dirinya sama sekali tak merasa sakit hati atau apalah. Karena dengan ini, Nesya menjadi yakin kalau sandiwaranya ini terbukti berhasil.


"Santai aja Ra, aku tak masalah. Justru aku bersedia untuk menggantikan mu. Besok kita berangkat bersama saja." Ajaknya pada Teira.


Selain sudah menyiapkan tempat tinggal, Nesya juga sudah menyiapkan motor untu dirinya bekerja. Supaya tak perlu repot untuk menaiki angkutan umum, Nesya juga tak terlalu suka. Takut waktunya kurang efektif.


Setelah itu, Nesya mempersiapkan semua pakaian an perlengkapan yang akan dirinya pakai besok. Semua alat make-up, pakaian, dan yang lain-lain sudah Nesya ganti dengan yang biasa.


Karena tidak mungkin dirinya menggunakan barang lama. Selain karena tak mungkin mendukung sandiwaranya, Nesya juga tak akan mungkin menggunakan segala barang branded miliknya. Karena akan membuat orang lain curiga.


"Pa, besok Nesya akan ganti penempatan Pa. Nesya sudah mendapatkan jabatan lain di perusahaan itu Pa. Jadi Papa tolong cabut lamaran kerja Nesya yang kemarin ya Pa." Jelas Nesya lewat sambungan telepon.


Next .......