
Keesokan harinya, Nesya sudah bersiap dengan setelah kerjanya. Tak lupa dengan tampilan samarannya sebagai Nesya Maharani. Dengan hati-hati Nesya mengeluarkan motornya dari dalam rumah. Kemudian tak lupa mengunci rumahnya.
Nesya sudah memposisikan diri untuk segera melajukan kendaraannya. Namun sekilas pikirannya mengingatkan tentang Teira. Hampir saja dirinya lupa bahwa dirinya akan selalu berangkat bersama temannya itu.
Nesya akhirnya turun kembali dari kendaraannya dan melangkah untuk menghampiri Teira.
Tok tok tok
"Ra, mari berangkat ke kantor." Teriak Nesya dengan keras supaya Teira mendengar perkataannya.
Namun Nesya tak kunjung mendapatkan jawaban. Hingga dirinya mengulangi memanggil-manggil nama temannya itu. Namun masih saja tak ada sahutan dan Teira. Dan Nesya pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi lewat telepon.
Nesya terus menghubungi Teira, karena rupanya Teira juga tak mengangkat panggilan darinya. Hingga pada panggilan kelima akhirnya Teira mengangkat panggilannya.
"Kau di mana? Aku menunggumu di depan." Ujar Nesya langsung saat sambungan terhubung.
"Astaga Sya, aku bangun kesiangan. Aku belum pulang ke rumah." Jawab Teira di seberang sana dengan wajah panik.
Dan jawaban Teira itu membuat Nesya menghembuskan nafas lega. Karena Nesya pikir terjadi sesuatu pada temannya itu. Hingga kini dirinya bisa tenang bahwa Teira rupanya baik-baik saja.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja. Aku pikir kau di didalam, dan terjadi sesuatu padamu." Tutur Nesya mengatakan pemikirannya.
Teira terkekeh di seberang sana. Hingga menjelaskan keadaannya dan di mana dirinya sedang menginap sekarang.
Teira juga meminta tolong pada Nesya untuk mengizinkan dirinya pada atasannya. Namun meskipun begitu, Teira juga nanti akan meminta izin sendiri.
Setelah selesai mengobrol dengan Teira lewat sambungan seluler, akhirnya Nesya memutuskan untuk berangkat bekerja. Jangan sampai dirinya terlambat. Bisa-bisa akan akan bulan-bulanan atasannya yang menyebalkan itu.
Hingga akhirnya Nesya sampai di parkiran dan segera masuk ke dalam bangunan elit itu. Dan memasuki ruang ceo, yang mana juga ruangannya. Sedikit aneh dalam pikiran Nesya, namun segera Ia tepis karena merasa pemikirannya belum tentu benar adanya.
Nesya mendudukkan dirinya di kursinya. Rupanya Nicko yang menjabat sebagai atasannya itu tampak tak ada di mejanya. Sepertinya memang belum datang. Nesya pun bersikap bodo amat, atasan memang bebas mau terlambat atau tidak.
Hingga selang beberapa menit, akhirnya Nicko datang. Namun rupanya tak sendirian, di belakangnya ada wanita cantik yang merupakan kekasih pria itu. Nesya bangkit sejenak untuk menyapa mereka, kemudian kembali duduk untuk fokus pada pekerjaannya.
Karnia terkejut bukan main kala melihat meja kerja sekretari culun kekasihnya itu berada di dalam ruangan yang sama dengan Nicko.
"Sayang, kenapa mejanya ada di sini?" tanya Karnia yang merasa tak terima.
Meski menurutnya tampang Nesya tak ada apa-apanya dibanding dirinya. Apalagi dirinya juga yakin, kekasihnya tak akan mungkin tergoda oleh sekretaris baru kekasihnya itu. Karena bukan tipe Nicko sama sekali.
Namun meskipun begitu, Karnia merasa tidak terima karena bisa saja Nesya akan memanfaatkan kesempatan. Bisa saja wanita udik itu akan menjebak Nicko supaya bisa dekat dengan kekasihnya itu.
"Kau tak perlu mencampuri urusan tentang pekerjaan ku lagi." Tegas Evan berucap datar.
Mulai sekarang NIcko tak lagi akan mengalah jika Karnia berbuat semena-mena. Karena sang mami, yang menjadi alasan dirinya hanya dapat diam saja selama ini. Karena takur membuat maminya kecewa.
Kini ibunya sudah memberikan izin untuk membawa wanita yang dirinya cintai. Itu berarti Mami tak lagi memaksa dirinya untuk menerima Karnia lagi. So saat ini dirinya menjadi terbebas dari segala keribetan yang wanita itu ciptakan.
Karnia yang mendengar kalimat tegas yang Nicko ucapkan merasa geram. Dirinya tak terima mendapat penolakan seperti ini. "Nick aku akan adukan ini pada Mami." Ancam Karnia tersenyum sinis pada pria itu.
Dan hal itu membuat Karnia semakin geram. Mengingat Nicko yang tak lagi takut pada ancamannya sejak kemarin. Lalu ucapan calon mertuanya yang memintanya memahami Nicko, demi kebahagiaan pria itu.
Karnia semakin marah, batinnya berteriak tak terima dengan apa yang saat ini tengah terjadi. Demi meluapkan amarahnya, Karnia mendekati meja Nesya dan menarik wanita itu dengan kasar. Hingga Nesya akhirnya jatuh ke lantai.
"Aw ..." teriak Nesya terkejut sekaligus sakit.
Bagaimana tak terkejut jika saa dirinya fokus padaa pekerjaannya. Lalu tanpa aba-aba ditarik dengan kasar oleh kekasih atasannya itu. Nesya menjadi kesal dalam batinnya.
Bagaimana tidak, jika wanita di depannya itu telah berbuat semena-mena padanya. Padahal Nesya merasa tak memiliki salah apapun.
Bukan hanya Nesya yang terkejut dengan perbuatan Karnia. Rupanya Nicko juga sama terkejutnya dengan perbuatan nekat yang Karnia lakukan.
"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Nicko merasa habis kesabaran menghadapi Karnia.
Karnia yang awalnya tersenyum sinis melihat Nesya yang tampak terduduk di lantai. Kini wajahnya berubah menjadi sedih kala mendengar bentakan dari Nicko, sang kekasih.
"Kau membentak ku?" tanya Karnia berkaca-kaca.
Karena selama ini Nicko tak pernah melakukan hal ini padanya. Ini kali pertama Nicko membentak dirinya. Karnia merasa marah sekaligus sedih, hingga airmatanya perlahan membasahi pipinya.
Namun segera Ia usap, karena setelahnya Ia kembali menatap Nesya yang mulai bangkit dari posisinya. "Kau puas, karena mu kekasihku sampai membentak ku. Kau memang pantas untuk diberi pelajaran." Marah Karnia pada Nesya.
Hingga tangannya terangkat untuk memberi tamparan pada wanita di depannya itu. Namun untungnya Nesya berhasil mencegah tindakan Karnia yang akan melukai pipi mulusnya.
Nesya memegang erat tangan wanita itu dengan tatapan tajam yang Ia layangkan. Tanpa sadar Nesya memperlihatkan jati dirinya sebagai Nicolas.
Dan tatapan Nesya itu berhasil membuat Karnia merasa terintimidasi. Hingga dengan kasar Karnia melepaskan tangannya dari genggaman Nesya. Dan dengan marah meninggalkan ruangan Nicko.
"Kau tak apa?" tanya Nicko setelah kepergian Karnia.
Nesya menggeleng pelan, tanda bahwa dirinya baik-baik saja. "Seharusnya Tuan tak melakukan hal itu. Karena dia akan salah paham dan merasa Tuan begitu tega dengan membentaknya." Ujar Nesya merasa tak etis dengan perbuatan atasannya.
"Aku pernah katakan, aku tak mencintainya. AKu tak peduli apa yan dia pikirkan tentang aku." Ujar Nicko membela diri.
"Kalau tak mencintai, mengapa bisa menjadi kekasih. Benar-benar tak dapat dipercaya." Gumam Nesya pelan namun tak jelas.
"Kau mengatai ku?" tanya Nicko yang tak mendengar dengan jelas perkataan Nesya.
"Tidak Tuan." Jawab Nesya.
Hingga Nicko hanya dapat menggeram tertahan. Bagaimana mungkin dirinya tak bisa berbuat kasar pada wanita culun di depannya itu. Bahkan Nicko baru mengenalnya, juga tak mungkin karena memiliki rasa.
Seratus persen Nicko yakin, perasaannya telaah seratus persen Ia berikan pada Nesya Nicolas. Wanita pujaannya.
Next .......