GEEKY GIRL

GEEKY GIRL
Lari Sejenak



Pada saat Nesya memaksa untuk pulang sendiri, namun tak di izinkan oleh Mami. Tampak Nathan berjalan melewati mereka. Tentu hal itu menjadi sebuah jawaban atas perdebatan mereka.


Apalagi sudah sejam lebih sepertinya, Mami menahan Nesya untuk tak boleh pulang sendiri. Di minta menunggu Nicko katanya. Kan Nesya jadi tak tahan menungggu nya.


"Nathan, antarkan Kak Nesya untuk pulang ke rumah nya.'' Titah Mami meminta putra bungsu nya itu mengantar calon menantunya.


"Mi, bukankah ada Kak Nicko? Biarkan dia saja." Ujar Nathan bermaksud menolak apa yang Maminya perintahkan.


"Tak usah Mi, Nesya bisa pulang sendiri." Timpal Nesya yang juga menolak.


"Baiklah, Mami akan katakan pada Papi tentang pacar baru mu." Ancam Mami mengungkit tentang pacar Nathan


Jelas hal itu membuat Nathan menjadi ketar ketir dan tak lagi bisa menolak. Bisa hancur hubungannya dengan sang pacar bila Maminya sampai mengadu.


"Baiklah Nathan antarkan." Putus Nathan dengan malas nya.


Nesya berpamitan pada Mami, kemudian pulang diantar oleh Nathan. Sementara Nicko tak tahu di mana pria itu saat ini. Lagi pula Nesya juga tak begitu perduli, meski ada sedikit rasa penasaran.


Apa pria itu marah pada dirinya terkait pembahasan mereka tadi. Atau itu hanya kekhawatirannya saja, dan mungkin dirinya yang terlalu berpikiran macam macam.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Nesya sampailah di kediaman orang tuanya. Nathan menghentikan laju kendaraannya.


"Terimakasih Nathan." Ucap Nesya tersenyum dengan manis.


"Sama-sama Kak." Jawab lelaki remaja itu kemudian berlalu pergi setelah pamit.


Nesya melangkahkan kakinya dengan perlahan. Menikmati setiap langkah dan udara yang begitu khas di area rumah orang tuanya. Hingga langkahnya tertahan, kala sebuah pemandangan aneh menganggu penglihatannya.


Pria itu? Nesya mengusap-usap matanya berkali-kali untuk memastikan penglihatannya. Namun apa yang matanya saksikan benar adanya. Nesya tak salah lihat. Nicko benar-benar ada di rumahnya, rumah kedua orangtuanya.


Dan terlihat begitu akrab dengan Papa dan Mama nya. Ini tak mungkin bukan? Apa Nesya tengah bermimpi saat ini. Hingga lamunannya lenyap kala sebuah suara menginterupsi kelakuannya.


"Sayang, apa kabar? Mama merindukan kamu." Ungkap Mama memeluk Nesya dengan erat.


"Baik Ma, Nesya juga merindukan Mama dan Papa." Ucapnya, dan mereka melepas pelukan itu.


Nesya menatap heran ke arah Nicko yang tampak menyeringai ke arahnya. Ekspresi itu begitu menyebalkan menurutnya.


"Nicko sudah menjelaskan semuanya. Kekasih mu ini ingin menikahi kamu bulan depan." Tutur Mama mengatakan sebenarnya.


Sontak hal itu membuat Nesya syok, terlihat matanya membulat dengan sempurna. Tak menyangka akan secepat itu gerak atasannya yang paling menyebalkan.


Nicko memang sudah menceritakan semuanya terkait keinginan dirinya juga kedua orangtua nya untuk menikahkan Nesya dan Nicko. Tragedi di villa juga tak urung Nicko jelaskan. Serta segala penantian, pencarian, dan penyamaran Nesya pun juga Nicko jelaskan.


Oleh sebab itu, Tuan dan Nyonya Nicholas langsung memberikan restu pada Nicko. Apalagi Tuan Nicholas mengenal dengan baik putra dari Tuan Brown itu.


Bagaimana tidak, jika bisnis yang dulunya digeluti oleh Tuan Brown sebagai partner nya. Kini sudah beralih ke Nicko. Jadilah mereka mengenal dengan baik sebagai rekan bisnis.


Selain merasa lengket, Nesya juga tak ingin melihat wajah menyebalkan Nicko.Terlalu malas dengan segala permasalahan rumit yang Nicko ciptakan dalam hidupnya.


Sementara Nicko hanya dapat melihat punggung Nesya yang semakin menjauh dengan seringai tipis. Pria itu merasa senang bisa membuat Nesya tak lagi dapat berkutik dengan keputusannya.


Memang setelah dibuat marah dengan perkataan Nesya yang tak memiliki perasaan terhadapnya. Nicko segera menghubungi Tuan Nicholas untuk membicarakan hal penting. Dan pembahasan untuk menjadikan putrinya pendampingnya.


Nicko sengaja membuat Nesya jera untuk menolak dirinya lagi. Maka dengan segera menemui kedua orang tau Nesya supaya Nesya tak bisa menolak. Hubungan kekerabatan yang terjalin diantara Brown dan Nicholas rupanya berdampak bagus untuk melancarkan aksi nya.


"Girl, kau akan menjadi milikku selamanya." Gumam Nicko dalam hati.


...***...


Sementara di dalam kamar, Nesya tampak menggerutu selama melakukan apapun kegiatannya. Merasa sebal dan kesal dengan segala tingkah Nicko yang di luar akal sehat.


"Lihat saja apa yang bisa ku lakukan. Kau sala h berurusan dengan ku."


Akhirnya Nesya memutuskan membersihkan dirinya dari pada terus sibuk menggerutu. Setelah berganti pakaian Nesya memutuskan untuk pergi lagi. Tentu saja untuk menghindari pria itu sekaligus mengurus sesuatu.


Nesya melewati pintu belakang, karena tak ingin Nicko mengetahui bahwa dirinya sedang keluar dari rumah. Nanti urusannya akan semakin rumit, pasti Nicko tak akan membuatnya tenang.


Hingga setelah mengendap-endap sejenak, akhirnya Nesya lolos dari melihat wajah pria itu. Nesya terpaksa menaiki taksi karena tak ingin orang rumah juga mengetahui kepergiannya.


"Huh selamat" Gumamnya.


Nesya akan pergi ke rumah yang dirinya tempati selama ini. Nesya akan mengemasi barang-barangnya untuk dibawa pulang ke rumah orang tuanya. Karena tak ada gunanya lagi dia sana.


Penyamarannya sudah terbongkar, ada seorang pria yang begitu terobsesi memilikinya. Pastilah tak akan mungkin dirinya dapat melanjutkan misi nya selama ini. Nicko tentu tak akan membiarkan dirinya bebas.


Itung-itung juga untuk bersembunyi sejenak dari pria yang sedang merecoki hidupnya itu. Bisa saja nanti dirinya akan menginap di rumah Teira. Karena bisa ditebak kalau Nicko tahu di mana keberadaannya. Apalagi pria itu pernah menjemputnya di rumah mungil itu.


"Nesya!" Teriak seseorang saat melihat kedatangan Nesya. Siapa lagi jika bukan Teira, si gadis riang sahabat Nesya.


"Kau kemana saja? Aku menunggu mu seharian di kantor." Omel Teira.


Memang benar apa yang Teira katakan, bahwa wanita itu menunggu Nesya begitu lama. Hingga sampai menjelang malam, barulah wanita itu menyerah dan segera pulang. Mungkin Nesya sudah pulang terlebih dahulu, pikirnya.


Namun sampai di rumah, rupanya masih tak melihat batang hidung temannya itu. Sudah dihubungi berkali-kali namun tak mendapat respon dari Nesya. Ya sudahlah, Nesya sudah dewasa pasti bisa menjaga diri dengan baik.


Nesya merasa bersalah pada Teira. Ponselnya memang mode silent. Dan keadaan hari ini benar-benar membuatnya tak sempat mengecek ponsel lagi. Hingga pesan atau panggilan dari wanita itu, Nesya sama sekali tak tahu.


"Sorry Ra, aku benar-benar sibuk seharian ini." Alibinya pada Teira, supaya wanita itu tak lagi banyak bertanya.


Namun nanti akan Nesya ceritakan semua kebenaran siapa dirinya. Juga tentang rencana pernikahan dirinya dan salah satu keturunan Brown yang begitu berambisi memilikinya itu. Tapi saat Nesya siap, dan waktunya tepat.


Next .......