GEEKY GIRL

GEEKY GIRL
Persiapan



Hari ini Nesya diminta sang Mama tercinta untuk tetap diam di dalam rumah. Tidak diperbolehkan keluar kemanapun. Karena mengikuti budaya nenek moyang katanya. Nesya selain menurut bisa apa, hingga dirinya harus menahan diri untuk tak mengumpat karena kesal.


Karena besok adalah acara pernikahan dirinya dan Nicko. Hari ini keempat sahabat nya yang seharusnya menemani dirinya di rumah, malah kelayapan bersama-sama lagi. Mereka justru asik berbelanja untuk tampil di acara nya besok.


Tentu saja hal itu membuat Nesya merasa kesal bukan main. Bukannya menemani dirinya, malah asik dengan kesenangan mereka sendiri. Apalagi keempat orang itu memiliki perasaan masing-masing. Jadilah kesempatan ini juga dijadikan ajang untuk bermesraan.


Hingga kebosanan Nesya akhirnya terhempas kala mendapati panggilan dari pria nya. Rupanya Nicko cukup peka dengan dirinya yang tengah kesepian ini. Jika begini, Menjadi makin suka pada pria itu.


"Ada apa Nick?" tanya Nesya berbasa-basi.


"Aku merindukan mu. Mami melarang ku untuk menemui mu. Aku tak sabar untuk hari besok." Ujar Nicko di seberang sana.


Rupanya Nicko memiliki masalah yang sama dengan nya. Apa mereka memang sudah merencanakan ini, jika benar betapa teganya.


"Iya, Mama juga melarang ku. Aku rasanya ingin kabur dan mengelilingi kota." Jawab Nesya dengan kesalnya.


Karena merasa dikurung seharian ini, Nesya menjadi geram dan rasanya ingin keluar dan mengelilingi kota nya itu. Supaya tak merasa penat dan bosan seperti ini lagi.


"Baiklah, tak perlu membahas hal-hal yang akan membuat kita semakin bosan." Tutur Nicko dengan bijak.


"Ya, kau benar." Jawab Nesya.


"Aku ingin mendengar mu memanggil ku dengan panggilan kesayangan." Titah Nicko pada Nesya.


Membuat Nesya melebarkan matanya dengan sempurna. "Untuk apa?" tanya nya.


"Aku ingin kita membiasakan nya Sayang." Jawab Nicko memulai terlebih dulu.


"Ya baiklah, Sayang." Ujar Nesya dengan malu-malu.


Sudah lama tak menjalin hubungan dengan seorang pria, membuat Nesya merasa kaku dengan panggilan panggilan sayang seperti itu.


Dan panggilan Nesya itu membuat Nicko tersenyum senang. Namun masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


"Ada yang ingin ku tanyakan padamu, Girl." Tutur Nicko memberitahu.


"Tanyakan lah." Ujar Nesya tak keberatan.


Nicko terdiam sejenak untuk mengutarakan isi pikiran nya. "Saat kau bersama mantan kekasih mu. Apa alasan mu yang sebenarnya, sehingga kau mau dia menggenggam tangan mu." Ujar Nicko dengan wajah mengintimidasi.


Tatapan seperti itulah yang membuat Nesya merasa gugup bila Nicko bertanya padanya. Tak bisakah Nicko menatap nya dengan biasa saja, kan dirinya menjadi gugup bila seperti itu.


"Bisakah tatapan mu tak setajam itu? Aku menjadi takut untuk menjawabnya." Tutur dengan jujur.


"Baiklah." Nicko menurut dan merubah caranya menatap Nesya menjadi biasa saja.


"Waktu itu aku sengaja tak menolak nya karena aku tau kau menyuruh seseorang untuk mengikuti ku. Karena sebab itu, aku sengaja melakukan nya. Supaya kau melihat dan menjadi ilfil. Hingga membuat keputusan untuk menunda menikah dengan ku segera." Jelas Nesya berusaha jujur.


Nicko mendengarkan dengan baik dan seksama. Pria itu tampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang Nesya jelaskan. Jadi bukan karena Nesya masih ada perasaan. So, tak mengapa meskipun alasan nya untuk membuat dirinya ilfil.


"Baguslah Girl, aku pikir kau masih memiliki perasaan kepada nya." Tutur Nicko tampak lega.


...***...


Saat kepergian kedua pria itu yang akan memesan makanan, tertinggal lah Teira dan Sidy saja. Teira yang merasa harus menyatukan Sidy dan Aaron itu memulai aksinya.


"Sidy, apa kau tak tertarik sama sekali pada Aaron?" tanyanya pada Sidy.


Sidy yang mendapati pertanyaan aneh itu tiba-tiba, menjadi heran. Dahinya nampak mengernyit merasa heran juga penasaran apa maksud perkataan sahabat nya itu.


"Maksudmu?" tanya Sidy yang nampak tak paham.


"Ya Aaron tampan, baik, juga bertanggung jawab. Apa kau rela jika dia dimiliki orang lain suatu hari nanti." Tutur Teira mengompori.


Sidy tersentak dengan pertanyaan itu. Tak pernah terpikirkan dalam benak nya, kalau Aaron akan dimiliki orang lain. Karena mereka selama ini hanya tahu menghabiskan waktu berdua dan bersama-sama.


"Aku tak paham maksud mu." Ujar Sidy menampik segala pemikiran nya.


"Benarkah? Kalau begitu, coba kau perhatikan. Mereka para wanita yang ada di sana nya sangat tertarik pada Aaron. Apa kau rela jika salah satu dari mereka akan memiliki Aaron?" tanya Teira lagi.


Sidy menatap pada sekumpulan wanita yang memang terlihat memperhatikan Aaron dan Justin. Sepertinya mereka memang begitu tertarik dengan kedua pria itu.


"Mereka juga memperhatikan Justin, apa kau rela?" tanya Sidy membalikkan pertanyaan nya.


Teira justru tertawa mendengar perkataan Sidy. "Tentu saja tidak. Tapi aku tak khawatir karena Justin sudah menjadi milik ku sekarang." Jawab Teira dengan yakin.


"Jadi kalian?" tanya Sidy tak percaya.


"Iya, karena aku tak ingin kehilangan pria hebat dan baik hati seperti nya." Tutur Teira menyaksikan Justin yang sedang mengantri bersama Aaron.


"Kau benar. Tapi aku tak bisa seperti mu." Ujar Sidy berucap jujur.


"Mengapa?" tanya Teira.


"Karena kita berbeda. Dalam kisah kalian, Justin menyukai mu. Sementara kami, Aaron aku rasa tak memiliki ketertarikan seperti itu." Tutur Sidy dengan sendu.


"Kau salah, justru aku melihat dengan jelas. Bahwa Aaron memiliki perasaan yang besar padamu. Kau saja yang tak peka pada perasaan nya." Ujar Teira memberikan petuah.


"Benarkah? tapi aku tak yakin." Keluh Sidy pada Teira.


"Aaron menunjukkan nya dengan begitu terlihat. Mengapa kau tak bisa melihat nya? Apa alasan Aaron tak memiliki kekasih selama ini? Itu pasti karena kau Sidy." Ujar Teira yang mulai kesal sendiri.


"Aku pikir Aaron tak memiliki kekasih karena sibuk dengan pekerjaan nya. Aku tak berpikir bahwa dia menyukai ku." Tutur Sidy.


"Lalu sekarang apa? Kau masih mau berpura-pura tak tahu." Ujar Teira bertambah kesal.


"Lalu aku harus apa?" tanya Sisy benar benar tak mengerti.


Hingga pembicaraan mereka harus terhenti karena kehadiran kedua pria yang sejak tadi sibuk mengantri. "Mari kita makan." Seru Justin dengan bersemangat.


Apalagi yang membuat pria itu bersemangat, kalau bukan karena diterimanya nya pernyataan cinta nya oleh Teira. Dan hal itu membuat Teira tersenyum dengan wajah bersemu merah. Justin sungguh selalu ingin membuat nya tertawa dan tersenyum.


"Sebaiknya kita segera pulang, sebelum Nesya mengamuk karena kira tinggal sendirian." Tutur Aaron dengan bijaknya. Dan mereka tertawa mendengar hal itu.


Next .......