
Karnia yang merasa begitu geram pada sekretaris culun kekasihnya itu. Kini dengan penuh kemarahan melajukan mobilnya menuju tempat di mana wanita itu berada.
"Kau pikir wanita udik sepertimu, bisa membuat Nicko melirik mu?!" gumam Karnia tertawa sinis.
Karnia begitu meremehkan Nesya yang tampang dan penampilannya dibawahnya itu. Bagaimana pun juga, Karnia merasa dirinya lebih segala-galanya dibandingkan Nesya. Bukan hanya wajah saja, namun kekayaan juga dirinya lebih dari Nesya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, Karnia telah sampai di perusahaan Nicko. Tanpa berbasa-basi lagi, dirinya segera naik ke lantai paling atas. Guna menemui wanita yang sudah berani merayu kekasihnya itu.
Hingga sampai di ruangan Nicko, Karnia segera membuka pintu dengan cukup kencang. Sontak hal itu membuat dua manusia yang berada di depannya merasa terkejut bukan main.
"Kau!" tegur Nicko merasa Karnia telah kelewatan melewati batas.
Tanpa memperdulikan Nicko, Karnia yang sudah diliputi amarah segera menghampiri Nesya. Tanpa banyak kata, tangannya melayangkan sebuah tamparan di pipi Nesya sebelah kanan.
PLAK
Tamparan yang cukup membuat Nesya menoleh ke samping. Juga membuat Nicko mendengarnya dengan terkejut dengan tindakan Karnia itu.
Tak hanya Nicko, Karnia pun juga sama terkejutnya dengan Nicko. Nesya yang tahu apa-apa, tiba-tiba mendapat serangan mendadak seperti itu. Jelas saja akan merasa terkejut bukan main.
"Aku peringatkan, jangan pernah dekati kekasihku lagi. Apalagi sampai berniat merebut hati calon mertuaku. Lebih baik kau bercermin, dan lihat bagaimana dirimu. Apa pantas melakukan semua hal itu?!" Marah Karnia dengan nada meremehkan.
Nesya menahan gemuruh dalam hatinya, namun tak kuasa untuk meluapkan. Karena saat ini dirinya masih dalam posisi Nesya Maharani, yang harus terlihat lemah dan seperti apa yang wanita itu pikiran.
"Karnia!!" Bentak Nicko merasa Karnia sudah benar-benar kelewatan.
Bagaimana mungkin, tepat di depannya wanita itu kembali berlaku kasar pada sekretarisnya. Dan tanpa Nicko sadari, ada susut hatinya yang merasa sakit melihat Nesya diperlakukan seperti itu.
"Dia pantas mendapatkan nya Nick. Dia berusaha menggoda mu juga mengambil hati Mami. Betapa tak tau dirinya wanita udik ini?!!" Ujar Karnia kala Nicko ingin meluapkan kemarahannya.
"Keluar dari ruangan ku!" Tegas Nicko dengan nada keras.
"Kau keluar dari ruangan kekasihku." Titah Karnia pada Nesya. Ia pikir Nicko meminta Nesya yang keluar.
"Kau keluar dari ruangan ku!" Tegas Nicko Kembali, dengan menunjuk tepat ke arah Karnia.
Dan hal itu membuat Karnia menahan geram, karena rupanya dirinya lah yang sedang diusir. "Kau akan lihat akibatnya jika meremehkan perintahku." Ingatnya pada Nesya dengan berbisik pelan. Takut Nicko akan mendengarnya.
Hingga setelahnya, Karnia berlalu pergi membawa kemarahan dalam dirinya atas pengusiran dari Nicko. Nesya seketika terduduk diam di tempatnya bekerja selama ini.
Nesya diam bukan karena merasa lemas atau takut dengan ancaman Karnia. Melainkan karena berusaha meredam gemuruh yang sejak tadi bersarang di dadanya.
"Wanita itu benar-benar." Gumam Nesya dalam hati.
"Are you okey?" suara Nicko membuyarkan segala pemikiran Nesya.
Sejak tadi Nicko mencuri pandang untuk melihat respon Nesya ada hal yang Karnia lakukan. Namun melihat Nesya yang tampak diam setelah Karnia melayangkan tamparan.
Membuat Nicko segera mengusir wanita itu, supaya tak lagi berbuat kasar atau hal lain pada Nesya.
"Ya, aku baik-baik saja Tuan." Jawab Nesya dengan formal, menempatkan diri sebagai seorang sekretaris.
Bagaimana mungkin tetap mengklaim hal milik, sedangkan dirinya saja sama sekali tak dianggap oleh Nicko sebagai kekasihnya. Terlebih wanita itu juga rupanya memiliki pria lain di belakang Nicko.
Nesya hanya dapat menyingkirkan segala pemikiran pemikiran tak bermutu nya. Lebih baik baginya untuk tetap fokus pada misi yang harus dirinya selesaikan.
"Apa kau perlu waktu untuk istirahat, atau mungkin pulang lebih awal?" Ujar Nicko yang tampak khawatir tanpa dirinya sadari.
Ya, responnya berlebihan sekali. Dan itu sama sekali tak Nicko sadari. Hingga sedetik kemudian pikirannya menyadarkan dirinya.
"Emm sebagai bentuk permintaan maaf ku atas kelakuan Karnia, juga sebagai atasanmu. Aku memberikan kompensasi itu untukmu." Jelas Nicko agar Nesya tak salah paham dengan sikapnya.
Nesya yang awalnya merasa aneh juga dengan respon Nicko yang berlebihan. Seketika juga merasa lega kala Nicko menjelaskan alasannya merespon berlebihan seperti itu.
"Tidak Tuan, aku cukup kuat. Lagi pula Nona Karnia juga tak terlalu keras melakukannya." Tutur Nesya meyakinkan bahwa dirinya memang baik-baik saja. Tak perlu istirahat atau bahkan pulang lebih awal.
"Baiklah jika begitu." Ujar Nicko sebelum kembali fokus pada pekerjaannya kembali.
...*******...
Saat Nesya dan Nicko tenaga fokus pada pekerjaan masing-masing. Suara dering ponsel sedikit menganggu konsentrasi mereka. Rupanya ponsel Nicko yang tengah berdering.
Saat dilihat, rupanya Nathan yang tengah menghubungi dirinya. Nicko pun segera menggeser tanda hijau untuk mengangkat panggilan dari adiknya itu.
"Ada Apa Nath?" tanah Nicko to the point.
"Aku sudah mendapatkan sedikit jalan untuk menemukan wanita yang kau cari." Jelas Nathan dari seberang.
Sontak hal itu membuat Nicko terkejut sekaligus bahagia, bahkan hatinya juga ikut merasakan kelegaan yang begitu besar. Akhirnya wanita yang Ia cintai akan segera dirinya temukan. Nicko akan sesegera mungkin menjadikan wanita itu miliknya.
Karena sedari awal wanitanya itu memang miliknya. "Lalu di mana lokasinya sekarang?" tanya Nicko dengan tanpa sabar. Dirinya memang setakterkendali itu jika menyangkut wanita yang dicintainya itu.
"Ck aku baru mengatakan menemukan sedikit jalan. Bukan aku sudah menemukannya." Ujar Nathan yang terdengar kesal, di seberang sana.
Mendengar perkataan adiknya, Nicko menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Ck berani sekali kau padaku. Hubungi aku jika sudah benar-benar menemukannya." Tutur Nicko yang tak kalah kesal dengan kelakuan adiknya itu.
Padahal dirinya sudah teramat senang dan bahagia, tapi semuanya seolah sirna. Nicko seakan hanya diberi sebuah harapan palsu. Hingga perasaannya yang kesal membuat gerakan tangannya langsung mematikan sambungan telepon mereka.
"Setidaknya dia menemukan sedikit jalan. Kemampuannya memang tak diragukan." Gumam Nicko mengakui keahlian Nathan dalam mencari jejak seseorang.
Padahal selama ini, orang-orang nya banyak Ia kerahkan. Namun sampai saat ini tetap tak ada titik temu yang mereka dapatkan. Bahkan sudah sejak lama mereka mencari dan menyelidiki.
"Sebentar lagi aku akan menemukan mu girl." Gumam Nicko dengan tersenyum tipis. Membayangkan akan bertemu wanitanya membuat hatinya serasa berbunga-bunga.
Sementara Nesya yang berada di ruangan yang sama, merasa sedikit aneh dengan kelakuan atasannya itu. Namun Nesya sama sekali tak mendengar gumaman apa yang diucapkan oleh atasannya itu.
Toh dirinya juga tak peduli dengan urusan atasannya itu. Karena segala urusan apapun terkait Nicko sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya.
Tanpa sadar, Nesya telah melupakan sesuatu. Wanita yang selama ini dicari oleh atasannya, jelas berhubungan erat dengannya. Karena orang itu adalah dirinya.
Next .......