
Hari ini Nesya sudah memutuskan untuk mendatangi Nicko bersama Teira. Mereka akan mengundurkan diri secara baik-baik. Karena setelah meminta Papa nya untuk mengecek status nya sebagai pegawai Nicko di perusahaan. Rupanya mereka masih terdaftar, Nicko belum memecat mereka.
Teira juga akan ikut serta mengundurkan diri karena Nesya akan mendikan sahabat nya itu sebagai sekretaris nya di kantor. Karena Nesya akan mengambil alih perusahaan.
"Aku benar benar merasa gelisah dengan kenyataan yang akan ku terima." Tutur Nesya ketika mereka masih dalam perjalanan menuju perusahaan Brown.
"Tenanglah Sya, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin Nicko bukan orang yang plin plan." Ujar Teira mengutarakan pendapatnya.
Meskipun begitu, Nesya masih belum bisa merasa tenang dari rasa gelisah nya. Hingga tanpa sadar akhirnya mereka telah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi itu.
Mereka bergegas masuk ke ruangan Nicko setelah mendapatkan izin. Dengan hati was-was dan jantung berdetak tak beraturan. Nesya melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan itu.
Tampak seorang pria tengah duduk di kursi kebesaran nya dengan membelakangi Nesya dan Teira. Nesya yang merasa lebih banyak melakukan kesalahan segera mendekat pada pria itu.
Namun gerakannya terhenti kala pria yang tengah duduk membelakanginya itu mengangkat tangan nya. Dan memintanya untuk kembali duduk.
"Bicaralah, tak harus mendekat ke arahku. Kalian yang akan mengundurkan diri bukan?" tanya pria itu dengan nada datar.
"Iya benar Tuan." jawan Teira, karena Nesya hanya mampu terdiam membisu. Wanita itu tampak syok dengan sikap yang Nicko tunjukkan. Sepertinya berita itu benar, Nicko telah berpaling dari menyukai dirinya.
"Kalian sudah boleh pergi dari ruangan ku. Status kalian sebagai pegawai perusahaan, akan segera diurus. Karena kedatangan kalian, urusan kalian untuk resign sudah selesai." Ujar pria itu dengan tegas.
Akhirnya Teira memutuskan untuk keluar dari ruangan atasan nya itu. Namun tidak dengan Nesya. Wanita itu tak ingin diajak keluar oleh Teira. Nesya tetap kekeh untuk berbicara pada Nicko terkait hubungan mereka.
"Apa kau masih ada keperluan lain?" tanya pria itu tanpa mau membalikkan kursi atau tubuhnya sekalipun untuk menghadap Nesya.
"Ya. Aku ingin menanyakan kebenaran tentang berita itu. Apa kau benar benar berpaling dari ku, dan dekat dengan wanita itu?" Tanya Nesya dengan tegas.
Nesya berusaha bersikap tegas dan datar supaya tak terpancing emosi, jika kenyataan yang akan dirinya dapati menyakitkan. Nesya tak ingin kembali terpuruk karena seorang pria.
"Berita itu benar, dan aku mencintai wanita itu." Tegas pria itu berujar.
Deg
Jantung Nesya seketika terasa seakan berhenti berdetak. Mendengar ucapan pria di hadapan nya itu yang begitu tegas tanpa keraguan sedikitpun. Membuat mata Nesya perlahan tampak panas. Dalam hitungan detik, buliran air dari matanya tentu akan menetes jika Nesya tak menahannya dengan sekuat tenaga.
"Jadi ucapan mu selama ini, yang mengatakan mencintaiku dan menungguku bertahun-tahun. Itu semua hanya omong kosong saja?" tanya Nesya dengan bibir bergetar.
Sekuat tenaga, Nesya berupaya supaya air matanya tak terjatuh. Dan suaranya dapat tetap terdengar tegas. Namun jawaban yang diberikan oleh pria itu benar-benar membuat Nesya ingin menerjang pria itu dan membunuhnya.
"Aku tak merasa pernah mengatakannya." Tutur pria itu dengan santai nya.
"Kau ..!" Geram Nesya sampai tak tahu lagi ingin mengatakan apa.
Nesya menatap pria di depannya dengan berusaha tetap tenang. Jangan sampai terbawa emosi. Di sini memang dirinya yang bersalah pada Nicko. Jadi mari akui kesalahan dan perbaiki semuanya.
Tapi bagaimana, pria itu mengatakan dengan tegasnya bahwa mencintai Stella William. Lalu apa yang dirinya harapkan lagi sebenarnya, jika pria itu saja sudah beralih ke lain hati.
Tapi sungguh Nesya tak rela melepaskan Nicko untuk siapapun. Jadi mari perbaiki semuanya. Tanyakan apa mau Nicko agar hubungan ini dapat diperbaiki.
"Aku memang bersalah telah melakukan itu. Tapi bukan berarti dengan kabur ku, aku tak memiliki perasaan. Aku ... aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Aku minta maaf atas semua kesalahan ku yang memilih kabur. Semua itu ku lakukan hanya karena tak ingin menikah segera, aku belum siap." Jelas Nesya dengan tertunduk. Menunjukkan bahwa dirinya benar benar merasa bersalah.
"Itu hanya alasan mu. Semuanya sudah terlambat, aku akan menikahi wanita yang ada dalam berita itu." Ujar pria itu dengan tegas.
"Apa yang bisa ku lakukan untuk memperbaiki kesalahan ku? Aku tak ingin kau menikah dengan nya." Ujar Nesya bertanya.
Tampak seringai tipis di bibir pria itu, namun setelahnya pria itu kembali pada ekspresi datarnya. "Melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini?" tanya nya.
Nesya menggeleng tak setuju. Nesya belum siap untuk menikah. "Tak adakah yang lain? Aku benar benar belum siap untuk menikah. Beri aku waktu setahun, dan kita akan menikah." Tutur Nesya bernegosiasi.
"Wanita ini." geram pria itu dalam hati. Keras kepalanya Nesya mampu membuat otaknya bekerja keras.
"Ck sebaiknya kau keluar dari ruangan ini. Kekasih ku akan datang sebentar lagi." Ujar pria itu dengan datar.
"What?!"
Hal itu membuat Nesya begitu murka. Bisa-bisanya Nicko membahas wanita lain di hadapannya. Ini tak bisa dibiarkan. Nicko harus diberi pelajaran.
Nesya mulai melangkahkan kakinya mendekati kursi yang pria itu duduki. Namun saat kian mendekat, dirinya dibuat terkejut dengan kedatangan seseorang dari pintu masuk.
Stella William, Nicko tak berbohong pada ucapannya. Wanita itu benar datang sekarang. Dan wanita itu tanpa tau malu melewati Nesya dengan tersenyum begitu manisnya. Hingga sampailah di dekat pria itu, dan apa-apa ini?!
Wanita itu dengan tidak tahu dirinya duduk di pangkuan Nicko? Nesya semakin murka, hingga tanpa berpikir lagi segera melangkah untuk menarik rambut wanita itu dan berniat memberi pelajaran.
Namun tindakannya tak terlaksana kala pemandangan di depannya saat ini membuat seluruh tubuhnya tampak kaku. Kedua insan di hadapannya itu tampak saling bertukar saliva dan saling berciuman dengan mesranya.
"Nick .. Nicko kau ...?" ucapan Nesya tak selesai dengan baik. Karena airmatanya lebih dulu bertindak dibanding bibirnya dalam berucap.
Nesya masih dapat mendengar dengan jelas suara cecapan dari adegan kissing mereka. Nesya terisak pelan, merasa gagal lagi kali ini untuk tak tersakiti oleh pria. Dan yang kali ini justru lebih sakit dan menghinakan dirinya.
Nesya tak lagi mampu menahan berat badannya, karena syok dan merasa sakit secara bersamaan. Hingga tubuhnya oleng dan hampir jatuh ke lantai, kalau saja tak ada sebuah lengan yang menopangnya.
Lengan?
Next .......