
Enam bulan berlalu, Nesya yang telah mengabdikan dirinya diperusahaan Nicko. Sedikit banyaknya, membawa dampak kemajuan yang begitu pesat. Keahlian Nesya tampaknya tak dapat diragukan lagi.
"Aku mengucapkan banyak terimakasih atas kemajuan perusahaan karena kerja kerasmu." Tutur Nicko berujar dengan tulus. Bahkan tatapannya tak luput menatap lekat sekretarisnya itu.
Saat ini mereka tengah berada di ruang rapat, karena baru selesai mengadakan rapat penting untuk evaluasi kinerja para pegawainya. Nesya yang berada tepat di samping Nicko merasa getaran aneh, saat mendengar perkataan atasannya itu.
Hatinya terasa berdebar keras dan kencang. Nesya tak mengerti dengan jelas penyebabnya apa, namun itulah yang dirinya rasakan. Nesya tampak sedikit malu dengan perkataan atasannya itu. Apalagi tatapan Nicko yang menatapnya dirinya begitu intens.
Selama sebulan terakhir ini, Nesya dan Nicko memang terlihat semakin dekat dan akrab. Namun mereka tetap berusaha profesional untuk tidak menunjukkan kedekatan itu. Supaya tak mengundang pikiran pikiran buruk pada pegawai yang lain.
Nesya sedikit mulai menyadari kemungkinan dirinya mulai tertarik dengan atasannya itu. Namun dirinya yakin perasaannya itu bukanlah perasaan cinta. Melainkan hanya perasaan suka dan tertarik.
Namun Nesya meyakini Nicko tak merasakan hal yang sama dengan apa yang dirinya rasakan. Karena Nicko tengah mencintai wanita yang saat ini tengah dicarinya. Meski dirinya mengetahui wanita yang Nicko cari adalah dirinya.
Namun Nesya sepenuhnya menyadari bahwa yang Nicko cinta adalah dirinya versi yang asli. Sedangkan dalam tampilannya yang saat ini, Nicko belum tentu menerima dirinya.
Padahal selama ini tujuannya berpenampilan seperti saat ini, untuk mencari pria yang rela menerima dirinya dengan apa adanya. Bukan dari visualnya ataupun kekayaan yang dimiliki keluarganya.
Nesya berusaha menetralkan degup jantungnya yang tampak tak beraturan. Netranya Ia beranikan untuk membalas tatapan yang Nicko tujukan untuk dirinya.
Deg
Jantungnya terasa berhenti berdetak kala melihat netra tajam pria di depannya itu. Kenapa dirinya menjadi gugup setelah menatap netra milik pria yang menjadi atasannya itu.
Nesya merasa lidahnya kelu untuk mengucapkan balasan atas ucapan terimakasih yang Nicko ucapakan. Hingga keadaan mereka saat ini terlihat tampak hanya saling menatap satu sama lain. Seolah tengah menyelami kedalaman di dalam mata satu sama lain.
Hingga akhirnya Nicko tersadar dan mengalihkan tatapannya dari Nesya. Begitupun dengan Nesya yang menjadi salah tingkah setelah mengalihkan tatapannya dari pria didepannya itu.
Nicko juga merasa salah tingkah, tak jauh berbeda dengan apa yang sedang terjadi pada Nesya. Namun bedanya, Nicko menjadi heran sendiri dengan apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa jantungnya terasa berdebar setelah saling menatap mata indah sekretaris nya itu.
"Emm Tuan tidak perlu berterima kasih kepada Saya. Karena semua kemajuan perusahaan juga tidak hanya hasil kerja saya Tuan. Lagipula saya hanya menjalankan apa yang seharusnya saya lekukan Tuan." Jelas Nesya dengan sopan. Tanpa berani menatap wajah atasannya itu.
"Memang benar kau melakukan apa yang seharusnya kau kerjakan. Tapi jika kemampuan mu tak memadai, hasilnya juga tak akan seperti saat ini. Semua kemajuan perusahaan memang atas jeri payah mu." Ujar Nicko dengan berucap yakin pada Nesya.
Nicko dan Nesya yang masih salah tingkah sama-sama merasa untuk harus segera meninggalkan ruangan di mana mereka berada saat ini.
"Kita harus menemui klien setelah ini. Siapkan berkas-berkas yang kita butuhkan untuk pertemuan nanti." Titah Nicko setelah berhasil menguasai dirinya yang sempat salah tingkah.
Nesya berlalu meninggalkan ruang rapat meninggalkan Nicko sendirian. Sumpah demi apapun, Nesya benar-benar seperti tak mengenali siapa dirinya. Nesya tak pernah merasa segugup ini kepada pria manapun. Ketika saat bersama Vero dulu pun, Nesya tak pernah merasakan hal seperti ini.
Apa benar dirinya hanya menyukai Nicko atau sekedar tertarik? Namun mengapa dirinya sampai segugup ini, apa benar dirinya telah jatuh pada pesona Nicko? Jika benar begitu, lalu apa yang harus dirinya lakukan?
Nesya melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan Nicko, yang juga merupakan ruangannya. Setelah sampai di dalam, Nesya mendudukkan dirinya di kursinya. Ia diam sejenak dengan menyentuh dadanya. Demi menormalkan detak jantungnya kembali seperti semula.
"Pria itu benar-benar membuat jantung ku ingin meledak. Oh my God Nesya, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Mungkinkah aku telah jatuh cinta ..?" Gumam Nesya berujar pelan.
Namun segera Ia tepis pemikiran itu. Jangan sampai dirinya jatuh cinta pada pria itu. Kalaupun iya, harus Nicko terlebih dahulu yang mencintai dirinya bukan dirinya. Nesya terlalu gengsi jika menyangkut tentang perasaan.
Karena setelah kejadiannya bersama Vero beberapa tahun yang lalu. Nesya membuat prinsip untuk dirinya sendiri. Bahwa tak akan bergantung terlalu dalam pada seorang pria. Apalagi harus mengemis cinta pada seorang pria. Nesya harus mengangkat tinggi harga dirinya.
"No, aku tak boleh terlalu jauh tertarik pada pesonanya. Sebaiknya aku mulai menjaga mataku untuk tak terlalu sering menatapnya." Lanjut Nesya bergumam pelan.
Hingga setelah merasa jantungnya tenang dan berdetak normal. Nesya akhirnya mempersiapkan apa yang Nicko perintahkan tadi. Menyiapkan segala berkas-berkas penting yang akan digunakan untuk mereka menemui klien di luar.
Sementara Nicko yang sedang berada di dalam ruang rapat. Juga tampak mencoba menangkan perasaannya, yang entah mengapa serasa tak normal. Nicko menatap ke arah pintu di mana Nesya yang baru keluar dari benda itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa terlalu merindukan wanita ku yang sampai saat ini belum ku temukan, hingga melihat Nesya membuat ku merasa seperti melihat nya?" Gumam Nicko bertanya pada dirinya sendiri.
Lama Nicko berkutat dengan pemikirannya sendiri. Hingga pintu ruang rapat yang tadinya tertutup, kini nampak terbuka dari luar. Dapat dipastikan bahwa yang datang adalah sekretaris nya. Wanita yang sejak tadi berada dalam pikirannya.
Nicko segera menegakkan tubuhnya seolah dirinya tak sedang melamun memikirkan wanita yang baru datang itu. "Apa sudah kau cek kelengkapannya?" tanya Nicko mengalihkan pikirannya.
"Sudah Tuan, semua yang Tuan butuhkan untuk bertemu klien sudah lengkap." Jawab Nesya menatap Nicko, berusaha untuk tetap profesional pada pekerjaannya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Lebih baik kita menunggu lebih awal, untuk makan siang terlebih dahulu." Ujar Nicko bangkit dari posisi duduknya.
Nesya mengangguk menyetujui perintah atasannya itu. Kemudian mengikuti langkah Nicko di belakangnya. Hingga kemudian mereka meninggalkan perusahaan menggunakan kendaraan milik Nicko.
Meski selama ini mereka tampak lebih dekat dan akrab. Namun hubungan mereka hanya sebatas seorang teman, bukan hubungan spesial selayaknya seorang pasangan. Namun sepertinya percikan percikan perasaan cinta mulai tumbuh pada kedua insan yang tak menyadarinya itu.
Next .......