
Seminggu setela kejadian Nesya menerima tugas yang Nicko berikan. Saat ini Nesya tampak sedang berdandan untuk datang ke acara makan malam yang Mami Valen adakan.
Nesya tetap mempertahankan penyamarannya. Tak ingin sampai lupa hingga membuat rencananya akan gagal. Setelah selesai, Nesya menunggu Nicko yang akan datang menjemput dirinya.
Saat asik menunggu NIcko dengan bermain ponsel, terdengar Teira datang ke rumahnya.
"Wah wah kau mau kemana Sya?" tanya Teira yang melihat Nesya berdandan tak seperti biasanya. Tampak ada polesan make up di wajahnya.
"Menjalankan tugas dari atasan kita." Jawab Nesya dengan jujur.
"What, tugas apa yang harus seperti ini?Apa kencan?" tanya Teira bercanda.
"Berhentilah menggodaku Ra. Aku hanya perlu ikut makan malam dengannya. Lalu tugasku selesai." Jawabnya pada Teira.
"Aku tak percaya ada tugas sekretaris seperti itu. Lebih baik kau jujur padaku, atau aku akan terus menggoda mu." Ancam Teira yang menjadi khawatir pada temannya itu.
"Sudahlah, nanti kalau aku sudah menyelesaikannya. Aku janji akan menjelaskan semuanya. Dan satu lagi, ini bukan tugas yang sepert dalam pikiranmu." Tutur Nesya yang merasa malas menjelaskan untuk saat ini.
Hingga tak lama kemudian, akhirnya Nicko datang untuk menjemput Nesya. Nicko dan Teira sama-sama terkejut saat mata mereka saling bertemu.
"Tuan ..." sapa Teira pada Nicko, dirinya tak tahu kalau atasannya itu yang akan menjemput temannya.
"Kalian bertetangga rupanya." Tutur Nicko menanggapi sapaan Teira.
"Benar Tuan." Balas Teira seramah mungkin.
"Aku berangkat dulu Ra, jangan tunggu aku. Besok saja aku jelaskan semuanya." Pamit Nesya diiringi bisikan diujung kalimatnya.
Dan ditanggapi jempol oleh Teira. "Hati-hati." Ucap Teira pada mereka.
Nicko melajukan mobilnya meninggalkan tempat tinggal Nesya.
"Kalian rupanya tinggal berdekatan. Aku pikir kalian dekat karena berteman, tapi kalian juga tetangga rupanya." Ujar Nicko memulai pembicaraan.
"Ya, kami berteman karena bertetangga. Bahkan saat baru pindah ke sana, Teira langsung menawari menjadi sekretaris si perusahaan mu." Ujar Nesya menanggapi ucapan Nicko.
"Jadi kau juga baru pindah ke sana? Sebelumnya kau tinggal di mana?" tanya Nicko yang membuat Nesya kebingungan menjawab.
"Semula aku tinggal di kota inilah, hanya saja lokasinya jauh dari tempat tinggal ku sekarang." Jawab Nesya dengan jujur.
Karena selama ini dirinya memang tinggal bersama kedua orangtuanya di rumah mereka.
"Kau masih memiliki orangtua?" tanya Nicko yang penasaran.
Karena biasanya wanita yang memilih tinggal terpisah dari orangtuanya, kebanyakan sudah tak memilikinya. Atau bisa jadi mereka adalah perantau, yang mengharuskan tinggal jaug dari orangtua mereka.
"Masih, hanya saja aku memilih untuk mencoba mandiri." Jelas Nesya.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah Nicko. Kedua orangtuanya sudah menunggu di ruang makan bersama Nathan serta.
"Mi, Nicko datang." Ujar Nicko saat sampai di ruang makan.
Kemudian Nicko dan Nesya kut duduk dan makan bersama mereka. Mereka menikmati makan tanpa ada suara oran yang mengobrol. Karena yang terdengar hanya bunyi mereka saat makan.
Nesya tak merasakan gugup atau perasaan serupa lainnya. Hanya saja dirinya takut jika kebohongan yang Nicko perintahkan, Nesya tak dapat memerankan dengan baik. Hingga akan membuat mereka menjadi ketahuan telah melakukan sandiwara.
"Siapa sayang namamu?" tanya Mami bertanya pada Nesya setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.
"Nesya, nama yang bagus. Boleh ikut Mami sebentar, kita mengobrol berdua supaya mereka tidak menguping." Ajak Mami pada Nesya, supaya calon menantunya itu mau ikut dengannya.
Nesya melirik pada Nicko untuk meminta persetujuan, dan diangguki oleh Nicko. Tanda bahwa dirinya lebih baik segera ikut kemana yang Maminya inginkan.
Setelah kepergian mereka, kini Nicko yang sedang ditatap oleh dia pria beda generasi dengannya.
"Kenapa Pi? Kau lagi anak kecil, untuk apa menatapku seperti itu?" ucap Nicko yang tak merasa nyaman mendapati tatapan seperti itu oleh kedua orang di hadapannya.
"Nesya kekasihmu?" tanya Papi menatap putra sulungnya.
"Iya Pi, mengapa kalian seperti tidak percaya?" protes Nicko nampak mulai gugup. Sepertinya Papi dan adiknya itu tampak curiga.
"Kami tahu seleramu itu. Jadi kau pasti berbohong kan pada Mami? Apalagi kau kemarin memintaku mencari keberadaan seorang wanita." Tutur Nathan mengutarakan kecurigaannya.
"Sok tahu kau. Dia memang kekasihku." Jawab Nicko dengan datar.
"Kau sedang mencari keberadaan seorang wanita?" tanya Papi yang mendengar perkataan putra bungsunya.
"Iya Pi, itu pasti kekasihnya yang asli." Ujar Nathan yang mendapati tatapan tajam dari Nicko. Mengapa adiknya itu ember sekali punya mulut.
"Benarkah Nick? Bukankah kekasihmu adalah Karnia? Lalu mengapa ada dua wanita lain lagi?" tanya Papi yang menatap tajam putranya itu.
Meski selama ini Papi tak pernah ikut campur dalam urusan percintaan putra-putranya jia sudah cukup usia. Namun dirinya tak akan pernah diam jika putranya bertindak di luar batas. Seperti mempermainkan wanita, atau melakukan pengkhianatan.
"Pi, bukankah Papi juga pasti tahu tentang Karnia yang bermain di belakangku? Jadi wajar saja jika Nicko mencari kekasih yang memang layak untuk nIcko cintai." Tutur Nicko membela diri.
"Tentu Papi tahu. Tapi lebih baik akhiri hubungan kalian terlebih dahulu, baru mencari yang lain. Lalu yang Nathan katakan, siapa wanita yang sedang kau cari? Apa kekasihmu juga?" Tanya Papi menginterogasi Nicko.
"Baiklah Nicko akan segera mengakhirinya. Soal Nicko yang mencari seseorang, itu hanya teman Pi. Nicko hanya penasaran mengapa dia menghilang dan sulit untuk dicari." Elak Nicko yang tak mau ketahuan tentang kebohongannya.
Papi yang mendengar ucapan Nicko hanya menatap lekat wajah putranya. Dan di sana Ia melihat semua kebohongan itu. Papi akan melihat sampai mana Nicko bisa terus menutupi kebohongannya itu.
"Nat, kau sudah putus dengan gadis itu?" tanya Papi berganti menatap putra bungsunya.
"Be .. belum Pi." Jawab Nathan dengan gugup dan takut.
Papi menghela nafasnya berat kala mendengar jawaban putranya. Mengapa sulit sekali mengatur Nathan, sangat berbeda dengan Nicko dan Noah yang begitu penurut menuruti perintahnya.
"Apa perlu Papi datangi Tuan Jhonson untuk melamar putrinya?" tanya Papi dengan bumbu-bumbu ancaman.
Tuan Jhonson adalah salah satu rekan bisnisnya yang memiliki seorang putri yang masih gadis. Dan gadis itu yang saat ini sedang dipacari oleh putranya. Papi juga tahu bagaimana Tuan Jhonson begitu menyayangi putrinya.
Maka dari itu Papi takut akan mengecewakan rekannya itu. Bila sampai putranya akan merusak anak gadisnya. Karena sepanjang yang dirinya tahu, Nicko telah banyak melakukan kenakalan yang melampaui batas.
Dan semua itu tak luput karena pergaulan putranya itu yang menyebabkan Nathan menjadi begitu bandel. Apalagi sampai saat ini pun Nathan masih saja tak mau meninggalkan teman-teman pergaulannya itu.
"No Pi, Nathan tak mau merusak masa depan Viola. Nathan juga tak akan membuat anak gadis orang rusak Pi." Kekeh Nathan dengan keputusannya.
"Boleh saja kalian tetap pacaran. Tapi tinggalkan teman-temanmu yang membawa pengaruh buruk itu." Tawar Papi pada Nathan.
Membuat Nathan bimbang untuk memilih. Teman-temannya yang saat ini bersamanya. Meskipun mereka nakal, tapi Nathan merasa mereka yang paling mengerti dengan perasaan Nathan. Tak seperti orang lain.
Next .......