
"Terserah apa yang Tuan katakan. Saya di sini hanya untuk bekerja bukan untuk mencampuri kehidupan orang lain. Apalagi merusak kebahagiaan seseorang." Tutur Nesya masih teguh dengan pendiriannya.
"Hem baiklah. Jika kau tak ingin melakukannya sendiri, aku yang akan menarik mu." Ujar Nicko tersenyum smirk.
Nesya hanya mampu terdiam dengan kebingungannya sendiri, merasa tak memahami perkataan atasannya itu.
Hingga pada akhirnya, mereka segera menyantap menu yang telah terhidang di hadapan mereka dengan diam membisu. Nesya menikmati dengan kebingungannya yang masih tersisa.
Sedangkan Nicko menikmati makanannya dengan segala akal licik yang mulai tersusun di otaknya. Misi menghancurkan hubungannya sendiri, juga membuat Karnia pergi dari kehidupannya dengan segera.
Dan tentu pastinya dengan memanfaatkan kehadiran Nesya, sekretaris udiknya itu. Yang Karnia percayai tak akan mampu membuat dirinya tergoda, namun Nicko akan membalikkan fakta itu.
Mereka kini sudah kembali ke kantor, Nicko segera kembali ke ruangannya. Sedangkan Nesya pergi ke ruangan Teira untuk menjalankan perintah atasannya, meminta Teira mengantarkan berkas yang harus segera Nicko cek.
"Sayang, kamu makan siang di luar? Padahal aku membawakan makan siang untukmu." Ujar Karnia dengan manja, yang telah lama menunggu nicko di dalam ruangan pria itu.
"Aku sudah makan, jadi pergilah dari ruanganku." Usir Nicko yang merasa risih dengan kehadiran wanita yang berstatus kekasihnya itu.
"Kamu makan siang bersama sekretaris barumu?" sungut Karnia yang merasa tak suka. Bukan karena cemburu, tapi karena iri karena Nicko lebih memilih makan siang dengan orang lain.
"Hmm" Jawab singkat Nicko.
"Mengapa justru makan di luar bersamanya, sedangkan kekasihmu ini menunggumu begitu lama di sini?" tanya Karnia merasa tak terima.
"Kau cemburu padanya?" tanya Nicko meremehkan.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan lebih segala-galanya dibandingkan dia. Lagipula, aku yakin kau juga tak akan pernah tergoda padanya." Tutur Karnia dengan angkuhnya.
Nicko hanya menyeringai tanpa membalas ucapan wanita itu. Bahkan matanya masih tetap fokus pada layar di depannya. Karena baginya tak ada manfaatnya menanggapi perkataan wanita yang mengaku sebagai kekasihnya itu.
Karnia yang merasa diabaikan oleh Nicko, mencoba membujuk Nicko supaya melihat ke arahnya. Kemudian mencoba merayu kekasihnya supaya mau menemani dirinya shoping, demi membuat mereka semakin dekat.
Karena selama ini, kebersamaannya dengan Nicko dapat dihitung dengan jari. Pria itu sangat sulit untuk ditaklukan. Jika bukan karena bantuan calon mertuanya, dirinya yakin tak akan pernah menjadi kekasih Nicko.
"Apa kau tak lihat aku sedang sibuk?" tanya Nicko dengan nada datar. Lama-lama dirinya juga merasa geram sendiri.
Ingin rasanya membentak dan berbuat kasar untuk mengusir wanita di depannya itu. Namun hal itu tak mungkin untuk dilakukan. Pasti Karnia akan mengadu pada ibunya.
"Sayang, bukankah di bulan-bulan ini kita belum pernah menghabiskan waktu bersama?" tanya Karnia masih mencoba merayu.
"Pergilah bersama ibuku, bukankah kalian sangat dekat." Jawab Nicko tampak tak peduli dengan rengekan kekasihnya.
"Menyebalkan, aku akan mengadukan semua ini ke Mami." Ancam Karnia namun tak ditanggapi oleh pria itu sama sekali.
Sementara Nicko menyenderkan tubuhnya di kursinya dengan menekan pelan pangkal hidungnya. Ia pasti akan mendapat ultimatum dari sang ibu saat pulang nanti. Atas apa yang baru saja Ia lakukan pada wanita kesayangan ibunya.
Dirinya juga tak ingin jika harus menuruti setiap keinginan wanita itu. Mengapa sang ibu tak pernah mau mengerti dengan perasaannya yang tak bisa dipaksakan.
Sebenarnya ibunya mengizinkan untuk mengakhiri hubungan dengan Karnia jika memang terbukti Karnia tidak layak untuk dirinya. Dan dirinya juga harus membawa calon menantu yang pastinya harus lebih baik dari Karnia, wanita pilihan ibunya.
Selama ini Nicko sudah berusaha untuk menjelaskan bahwa perasaannya telah jatuh pada seorang wanita. Namun sang ibu tak percaya karena Nicko sampai saat ini belum bisa membawa wanita itu ke hadapan ibunya.
Hingga membuat sang ibu berpikir bahwa Nicko hanya beralasan saja supaya bisa memutuskan hubungan dengan Karnia. Padahal Nicko berucap sesuai faktanya.
Hingga dering ponsel membuyarkan segala lamunan pria itu. Seperti dugaannya, pastilah sang ibu yang menghubungi. Dan Karnia telah mengadukan segala sikapnya pada ibunya itu.
"Mi, bukankah Nicko sudah katakan dari awal? Nicko tak bisa memaksakan perasaan Nicko Mi."Tutur Nicko setelah sang ibu mengomelinya dari seberang sana.
"Masih ingat dengan syarat Mami? Bawa wanita yang memang kamu cintai, supaya Mami bisa tenang. Dan Karnia juga akan mengerti Sayang." Jelasnya pada putranya itu.
Sebenarnya juga tak tega melihat Nicko tak merasa bahagia sama sekali selama ini. Padahal sebagai ibu dirinya yakin Karnia anita yang baik untuk menjadi pendamping putranya.
Namun hingga sampai saat ini, putranya sama sekali tak bisa membuktikan ucapannya yang katanya telah memiliki wanita yang dicintai. Hingga dirinya masih tetap membiarkan Karnia berusaha untuk memenangkan hati Nicko.
Nicko yang mendengar perkataan sang ibu serasa mendapat angin segar. Mengapa kali ini ibunya berubah pikiran, tak lagi memaksa dirinya untuk menerima Karnia dan mencoba belajar mencintai wanita itu.
Nicko mulai memikirkan ide-ide liciknya, sepertinya dia bisa menyelesaikan dua misi sekaligus dengan bantuan sekretaris barunya itu. Dengan keberanian yang dimiliki sekretaris barunya itu, akan membuatnya tak akan mudah dihadapi oleh Karnia.
Karena selama ini, ketika akan memanfaatkan wanita-wanita yang berada di sekitarnya. Saat Nicko baru saja akan mengajak mereka bekerja sama, pasti mereka akan menyerah terlebih dahulu setelah mendapat ancaman dari Karnia.
Terlebih Karnia selalu berdiri di belakang nama ibunya yang sangat menyayangi wanita itu ketimbang anaknya sendiri.
"Baiklah Mi, Nicko akan mempertemukan dia dengan Mami minggu depan. Tapi dia sedikit berbeda, jadi Nicko harap Mami tak akan memandangnya dengan sebelah mata." Jelas Nicko meminta waktu.
Tentu tak akan mudah membuat sekretarisnya itu mau dipertemukan dengan orangtuanya. Apalagi jika diminta untuk berpura-pura menjadi kekasihnya, pasti Nesya akan menolak dengan keras.
"Baiklah, Mami tunggu kedatangannya." Jawabnya di seberang.
Setelah menutup panggilan, mami menatap lurus ke depan. Di mana cuaca yang tampak terlihat cerah. Ia baru saja memutuskan keputusan yang tepat, dengan memberikan ruang kebahagiaan untuk putranya.
Sebulan yang lalu, dirinya dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan calon menantu yang dirinya idam-idamkan tengah berpelukan dengan seorang pria. Mami masih berpikir positif dan mungkin mereka saudara atau hanya teman biasa.
Namun semakin dilihat, interaksi mereka tampak tak biasa jika hanya teman atau saudara. Hingga akhirnya Mami meminta seseorang untuk menyelidiki apa hubungan calon menantunya dengan pria itu. Dan akhirnya informan itu memberitahukan jawabannya.
Next .......